Dari Cupu Jadi Ratu

Dari Cupu Jadi Ratu
Musim Ke Empat Bag 13


__ADS_3

 


 


Sementara itu, di rumah Maureen, Pak Rehan dan Ibu Kim Nana


sedang berbincang tentang isu hangat yang sekarang ini beredar di sekitar


mereka. Salah satunya adalah virus corona. Mereka sangat bersyukur dirinya


tidak sampai terjangkit virus mematikan ini. Dalam beberapa tempat di belahan


dunia memang banyak sekali mewabah penyakit ini. Untunglah Pak Rehan dan Ibu


Kim Nana orangnya super selektif, jadi ketika bepergian atau akan berinteraksi


dengan orang luar, apalagi yang belum diketahui latar belakangnya, mereka selalu


menyiapkan masker dan tidak lupa selalu mengkonsumsi makan dan minuman yang


mengandung gizi serta menambah daya ketahanan dan kekebalan tubuh.


Tidak lama kemudian, Maureen bergabung dengan mereka. Perbincangan


mereka makin seru, banyak hal yang diobrolkan di antara mereka. Memang walaupun


mereka adalah keluarga, namun setelah pernikahan Maureen dan Rayen digelar, Ibu


Kim Nana dan Pak Rehan menetap di Paris. Dia memulai bisnis baru disana,


sedangkan bisnisnya di Jakarta diserahkan ke Rayen. Itulah kenapa mereka bisa


jarang bertemu.


“Rayen apa belum ada kasih kabar kapan pulang, nak Reen?”


kata Ibu Kim Nana


“Belum Bu, mungkin masih sibuk disana. Maklum, untuk proyek


besar kita kan tidak boleh gegabah, mungkin Mas Rayen lagi mempersiapkan


kontraknya. Menurut kabar dari tv tadi pagi, mega proyek ini sudah dalam


pembahasan tahap akhir bu. Mudah mudahan Mas Rayen berhasil mendapatkan kontrak


ini. Siapa tahu rejeki anaknya yang masih di kandungan” kata Maureen


“Amin. Alhamdulillah nak Reen. Semoga apa yang kamu katakana


menjadi kenyataan. Coba deh kamu telepon sekarang. Kan sekarang disana lagi


malam, jadi mungkin suamimu tengah beristirahat” kata Ibu Kim Nana


“Baik Bu” kata Maureen sambil melangkah menghampiri


ponselnya. Dicarinya nomer Rayen suaminya. Namun ketika dihubungi, ‘NOMOR YANG


ANDA TUJU SEDANG TIDAK AKTIF ATAU BERADA DILUAR JANGKAUAN’


Beberapa kali nomer Rayen dihubungi, jawabannya tetap sama.

__ADS_1


“Barangkali suamimu lagi istirahat nak, terus handphonenya


dimatikan. Atau mungkin juga dalam perjalanan pulang” kata Ibu Kim Nana.


“Tapi kenapa kalau pulang tidak kasih kabar dulu ya Bu” kata


Maureen setengah kawatir


“Nak Reen, namanya orang sibuk. Bisa saja Rayen lupa tidak


kasih kabar pulang. Terus baru ingat sudah di pesawat. Kan tetap saja tidak


bisa ngasih kabar pulang kan?” kata Ibu Kim Nana


“Iya juga sih Bu” kata Maureen.


Akhirnya mereka kembali melanjutkan obrolan mereka ke lain


hal. Ibu Kim Nana berkali kali menjelaskan hal hal yang ingin diketahui oleh


menantunya. Maureen banyak bertanya soal bagaimana merawat bayi, bagaimana


rasanya melahirkan dan banyak sekali yang ditanyakan kepada ibu mertuanya itu. Maklum


karena Maureen hanya dibesarkan oleh seorang ayah, tanpa ada ibu yang


mendampinginya. Jadi praktis unutk urusan bidang kewanitaan, eh kayak menteri


saja ya? Urusan soal yang menyangkut perempuan maksud author, sangat minim


sekali yang bisa dicari atau diketahui oleh Maureen.


disuruh menceritakan bagaimana rasanya hamil, bagaimana rasanya melahirkan,


bagaimana caranya menyusui. Karena kan yang menyusui bukan Pak Tito.


Baru saja obrolan mereka sedang asyik asyiknya. Saat itu


menunjukkan pukul 19.00 waktu rumah Maureen, tiba tiba telepon rumah bordering……


Kring…..


Kring…..


Kring…..


Tumben Rayen menelepon di telepon rumah, bukan di handphone


milik Maureen, pikir hati Maureen. Dia menyangka yang menelepon saat ini adalah


Rayen.


Nampak Bi Minah tergopoh gopoh menuju ke tempat telepon


diletakkan.


“Hallo, selamat malam. Dengan siapa pak saya bicara?” kata Bi


Minah. Nampak Bi Minah cukup serius mendengarkan orang yang berada di seberang


telepon. Sebentar kemudian, dia sudah berlari ke tempat Maureen sambil membawa

__ADS_1


telephon werelis yang dipegangnya.


“Siapa Bi?” kata Maureen penasaran. Kelihatannya telepon itu


cukup penting, tapi dari siapa, dan ada kabar apa?


“Anu.. Nyonya. Dari pengacara Wang. Katanya sangat penting,


dan ingin langsung berbicara dengan Nyonya”


“Halo, dengan Maureen disini, ada apa ya pak Wang. Kok malam


malam begini tumben menghubungi saya” Tanya Maureen.


Nampak Maureen kemudian mendengarkan apa yang  dikatakan oleh pengacara Wang. Semua yang ada


di ruangan itu saling pandang, nampaknya persoalan ini sangat serius. Tapi apa?


Pak Rehan, Ibu Kim Nana ataupun Bi Minah tidak bisa mendengar jelas apa yang


dikatakan orang di dalam telepon.


Namun tiba tiba……


“Apa………”


Maureen memekik pelan dan tubuhnya jatuh terkulai. Untung saja


didekatnya ada Pak Rehan. Dibantunya menantunya untuk bangkit, namun ternyata Maureen


pingsan. Dibawanya tubuh menantunya ke atas kasur yang ada di sudut ruangan


itu. Kemudian Ibu Kim Nana dan Bi Minah sibuk mengolesi minyak kayu putih dan


aroma aroma lain agar Maureen cepat sadar


Sementara itu, Pak Rehan meraih gagang telepon. Mereka semua


penasaran, apa kabar yang sangat mengagetkan  itu sehingga sampai membuat Maureen tak sadarkan diri.


.


.


.


Sabar ya readers, Pak rehan lagi terima telephon nih. Nanti kalau


sudah jelas author kasih tahu ya, kabar apa sebenarnya yang membuat Maureen sampai


jatuh pingsan.


Jangan lupa dukung author ya, bantu vote dong readers agar


author makin semangat untuk melanjutkan cerita ini……


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2