
Sementara itu, di rumah Maureen, Pak Rehan dan Ibu Kim Nana
sedang berbincang tentang isu hangat yang sekarang ini beredar di sekitar
mereka. Salah satunya adalah virus corona. Mereka sangat bersyukur dirinya
tidak sampai terjangkit virus mematikan ini. Dalam beberapa tempat di belahan
dunia memang banyak sekali mewabah penyakit ini. Untunglah Pak Rehan dan Ibu
Kim Nana orangnya super selektif, jadi ketika bepergian atau akan berinteraksi
dengan orang luar, apalagi yang belum diketahui latar belakangnya, mereka selalu
menyiapkan masker dan tidak lupa selalu mengkonsumsi makan dan minuman yang
mengandung gizi serta menambah daya ketahanan dan kekebalan tubuh.
Tidak lama kemudian, Maureen bergabung dengan mereka. Perbincangan
mereka makin seru, banyak hal yang diobrolkan di antara mereka. Memang walaupun
mereka adalah keluarga, namun setelah pernikahan Maureen dan Rayen digelar, Ibu
Kim Nana dan Pak Rehan menetap di Paris. Dia memulai bisnis baru disana,
sedangkan bisnisnya di Jakarta diserahkan ke Rayen. Itulah kenapa mereka bisa
jarang bertemu.
“Rayen apa belum ada kasih kabar kapan pulang, nak Reen?”
kata Ibu Kim Nana
“Belum Bu, mungkin masih sibuk disana. Maklum, untuk proyek
besar kita kan tidak boleh gegabah, mungkin Mas Rayen lagi mempersiapkan
kontraknya. Menurut kabar dari tv tadi pagi, mega proyek ini sudah dalam
pembahasan tahap akhir bu. Mudah mudahan Mas Rayen berhasil mendapatkan kontrak
ini. Siapa tahu rejeki anaknya yang masih di kandungan” kata Maureen
“Amin. Alhamdulillah nak Reen. Semoga apa yang kamu katakana
menjadi kenyataan. Coba deh kamu telepon sekarang. Kan sekarang disana lagi
malam, jadi mungkin suamimu tengah beristirahat” kata Ibu Kim Nana
“Baik Bu” kata Maureen sambil melangkah menghampiri
ponselnya. Dicarinya nomer Rayen suaminya. Namun ketika dihubungi, ‘NOMOR YANG
ANDA TUJU SEDANG TIDAK AKTIF ATAU BERADA DILUAR JANGKAUAN’
Beberapa kali nomer Rayen dihubungi, jawabannya tetap sama.
__ADS_1
“Barangkali suamimu lagi istirahat nak, terus handphonenya
dimatikan. Atau mungkin juga dalam perjalanan pulang” kata Ibu Kim Nana.
“Tapi kenapa kalau pulang tidak kasih kabar dulu ya Bu” kata
Maureen setengah kawatir
“Nak Reen, namanya orang sibuk. Bisa saja Rayen lupa tidak
kasih kabar pulang. Terus baru ingat sudah di pesawat. Kan tetap saja tidak
bisa ngasih kabar pulang kan?” kata Ibu Kim Nana
“Iya juga sih Bu” kata Maureen.
Akhirnya mereka kembali melanjutkan obrolan mereka ke lain
hal. Ibu Kim Nana berkali kali menjelaskan hal hal yang ingin diketahui oleh
menantunya. Maureen banyak bertanya soal bagaimana merawat bayi, bagaimana
rasanya melahirkan dan banyak sekali yang ditanyakan kepada ibu mertuanya itu. Maklum
karena Maureen hanya dibesarkan oleh seorang ayah, tanpa ada ibu yang
mendampinginya. Jadi praktis unutk urusan bidang kewanitaan, eh kayak menteri
saja ya? Urusan soal yang menyangkut perempuan maksud author, sangat minim
sekali yang bisa dicari atau diketahui oleh Maureen.
disuruh menceritakan bagaimana rasanya hamil, bagaimana rasanya melahirkan,
bagaimana caranya menyusui. Karena kan yang menyusui bukan Pak Tito.
Baru saja obrolan mereka sedang asyik asyiknya. Saat itu
menunjukkan pukul 19.00 waktu rumah Maureen, tiba tiba telepon rumah bordering……
Kring…..
Kring…..
Kring…..
Tumben Rayen menelepon di telepon rumah, bukan di handphone
milik Maureen, pikir hati Maureen. Dia menyangka yang menelepon saat ini adalah
Rayen.
Nampak Bi Minah tergopoh gopoh menuju ke tempat telepon
diletakkan.
“Hallo, selamat malam. Dengan siapa pak saya bicara?” kata Bi
Minah. Nampak Bi Minah cukup serius mendengarkan orang yang berada di seberang
telepon. Sebentar kemudian, dia sudah berlari ke tempat Maureen sambil membawa
__ADS_1
telephon werelis yang dipegangnya.
“Siapa Bi?” kata Maureen penasaran. Kelihatannya telepon itu
cukup penting, tapi dari siapa, dan ada kabar apa?
“Anu.. Nyonya. Dari pengacara Wang. Katanya sangat penting,
dan ingin langsung berbicara dengan Nyonya”
“Halo, dengan Maureen disini, ada apa ya pak Wang. Kok malam
malam begini tumben menghubungi saya” Tanya Maureen.
Nampak Maureen kemudian mendengarkan apa yang dikatakan oleh pengacara Wang. Semua yang ada
di ruangan itu saling pandang, nampaknya persoalan ini sangat serius. Tapi apa?
Pak Rehan, Ibu Kim Nana ataupun Bi Minah tidak bisa mendengar jelas apa yang
dikatakan orang di dalam telepon.
Namun tiba tiba……
“Apa………”
Maureen memekik pelan dan tubuhnya jatuh terkulai. Untung saja
didekatnya ada Pak Rehan. Dibantunya menantunya untuk bangkit, namun ternyata Maureen
pingsan. Dibawanya tubuh menantunya ke atas kasur yang ada di sudut ruangan
itu. Kemudian Ibu Kim Nana dan Bi Minah sibuk mengolesi minyak kayu putih dan
aroma aroma lain agar Maureen cepat sadar
Sementara itu, Pak Rehan meraih gagang telepon. Mereka semua
penasaran, apa kabar yang sangat mengagetkan itu sehingga sampai membuat Maureen tak sadarkan diri.
.
.
.
Sabar ya readers, Pak rehan lagi terima telephon nih. Nanti kalau
sudah jelas author kasih tahu ya, kabar apa sebenarnya yang membuat Maureen sampai
jatuh pingsan.
Jangan lupa dukung author ya, bantu vote dong readers agar
author makin semangat untuk melanjutkan cerita ini……
.
.
.
__ADS_1