
Suasana hari yang terasa sangat terik di siang itu, ditambah
dengan deru lalu lalang kendaraan yang hilir mudik di jalanan depan rumah sakit
ternama itu semakin menambah kacaunya perasaan Rayen Briliant Putra.
Hatinya sangat kalut, pikirannya rancu. Hari ini adalah hari
dimana istrinya Maureen tengah berjuang untuk menghadirkan sang buah hatinya kea
lam dunia. Kata orang, ini adalah perjuangan antara hidup dan mati. Perjuangan yang
sangat berat bagi seorang wanita yang akan menjadi seorang ibu. Perjuangan berat
seorang anak manusia dalam menjalankan fitrahnya di muka bumi untuk
mempertahankan keberlangsungannya di muka bumi. Kita yang sekarang remaja,
seiring perjalanan waktu akan menua dan tiada. Dan tugas wanitalah yang akan
menjadi wadah benih manusia yang kemudian akan lahir di alam dunia. Hari ini, Maureen
akan menghadapi tugas berat itu.
Namun, yang menjadikan salah satu pertanyaan besar adalah,
kenapa Rayen dipanggil oleh dokter. Sepanjang jalan menuju ruang dokter,
pikiran Rayen makin kacau, dan kacau. Ditambah lagi, dia juga masih terbebani
oleh kondisi Vivi yang saat ini masih belum juga sadar dari pingsannya saat
acara pemberian kejutan di hari ulang tahunnya di kantor Putra Company.
Perlahan Rayen membuka pintu ruangan dokter yang menangani
persalinan Maureen. Hatinya berdetak sangat keras, keras sekali, seakan akan
jantung itu serasa mau copot dari tempatnya. Di dalam ruangan nampak seorang dokter kepala di ruang persalinan tengah
duduk sambil memegang sebuah kertas, yang mungkin saja dugaan Rayen adalah
hasil diagnose kehamilan Maureen.
“O, Tuan Rayen? Silahkan duduk Tuan. Kita perlu bicara” kata
dokter itu sambil mempersilahkan Rayen untuk duduk di kursi yang ada di depan
meja dokter itu.
Perlahan Rayen duduk di kursi itu. Kemudian dokter itu
mengulurkan tangannya ke Rayen untuk bersalaman.
“Perkenalkan nama saya Stefent Geovant Andrews, biasa
dipanggil dokter Ivan, Tuan Rayen. Saya adalah kepala dokter yang menangani
persalinan Nyonya Maureen, istri anda” kata dokter muda yang ternyata bernama
Dokter Ivan memperkenalkan diri.
“ Rayen “ kata Rayen sambil mengulurkan tangannya untuk
bersalaman dengan dokter muda itu. “Bagaimana keadaan istri saya Dok? Kenapa anak
saya belum lahir? Apakah masih lama Dokter?” Tanya Rayen seakan tidak sabar,
karena merasa bahwa proses persalinannya Maureen terasa sangat lama. Ah, Rayen.
Sangat lama, apa karena kamu terlalu dihantui rasa cemas yang teramat sangat?
“Maaf, Tuan Rayen. Ada beberapa hal yang ingin saya
__ADS_1
sampaikan pada Tuan Rayen, sekaligus meminta persetujuan dari pihak keluarga. Sebelum
ada persetujuan dari keluarga, saya belum bisa mengambil tindakan apapun disini”
kata dokter Ivan
“Maaf dokter, apakah kondisi istri saya dalam keadaan
bahaya?” Tanya Rayen tidak sabar.
“Maaf, Tuan Rayen. Nyonya Maureen mengalami kondisi
kehamilan yang juga pernah dialami oleh hampir 5% wanita yang hamil di dunia
ini, yang dikenal dengan kondisi bayi sungsang. Yaitu dimana bayi dalam posisi
bokong ada di bawah sedangkan kepala ada diatas. Sedangkan umumya seharusnya
ketika akan lahir bayi dalam kondisi kepala di bawah, dan siap untuk keluar”
kata dokter Ivan.
“Apakah kondisi seperti ini tidak bisa lahir dengan kondisi
normal dokter?” Tanya Rayen
“Itulah yang ingin saya jelaskan Tuan. Kondisi bayi
sungsang, bisa saja lahir normal, jika sewaktu dilakukan upaya membalikkan
posisi bayi, bisa berhasil. Jika tidak, resikonya cukup tinggi. Bisa saja
terjadi asfiksia bayi atau sesak nafas pada bayi, bisa juga kepala bayi
nyangkut karena pantat dulu yang keluar, ini jarang selamat. Bisa tangannya
nyangkut, cedera syaraf bayi, atau tali pusat kejepit. Jadi resikonya cukup
besar Tuan. Kalau tim dokter hanya bisa menyarankan yang lebih sedikit
“Terus langkah nya bagaimana dokter”
“Jalan yang mempunyai resiko cukup kecil adalah dengan jalan
operasi Caesar. Mungkin ini terasa berat bagi Nyonya Maureen. Tapi saya harap
Tuan nanti bisa berbicara dengan Nyonya Maureen terkait hal ini. Untuk selanjutnya,
nanti saya menunggu keputusan dari Nyonya Maureen dan Tuan Rayen” kata dokter
Ivan
“Apakah saya bisa menemui istri saya sekarang dokter?”
“Silahkan Tuan. Tuan Rayen silahkan berunding dulu dengan
Nyonya Maureen. Pihak dokter kan menanti keputusan dari Tuan Rayen. Hanya saran
kami dari tim dokter agar Tuan Rayen mempertimbangkan untuk melakukan operasi Caesar
saja, untuk memperkecil resiko yang mungkin ada” kata dokter Ivan.
“Baik dok, saya permisi dulu” kata Rayen sambil pamit untuk
menemui Maureen yang sedang dirawat di ruang vvip kamar bersalin.
.
Sampai di kamar perawatan, nampak Maureen sedang rebahan
sambil memgangi perutnya.
“Bagaimana Bunda, apakah masih terasa sakit?” Tanya Rayen
“O, ayah kemana saja, kok dari tadi bunda dibiarkan
sendirian saja?” Tanya Maureen manja.
__ADS_1
“Maaf bunda, ayah tidak bisa menemani bunda disini karena
kata perawat tadi, ayah belum boleh masuk. Baru ini tadi ayah dipanggil dokter
dan diperbolehkan untuk masuk” kata Rayen
“Ah, kirain nunggu si Vivi” sindir Maureen
“Bunda cemburu ya? Kemarin katanya janji tidak cemburu?”
“Iya, iya yah. Bunda tahu kok. Ayah tidak akan setega itu
sama bunda, kan bentar lagi Rayen Briliant putra sudah akan jadi seorang ayah”
kata Maureen sambil memeluk tubuh suaminya yang duduk disamping tempat
tidurnya. Sementara tangan Maureen masih dipasang selang infuse.
“Bun, ada yang ingin ayah bicarakan sama bunda” kata Rayen
memulai apa yang akan disampaikan untuk istrinya. Rayen berusaha semaksimal
mungkin untuk menjaga perasaan Maureen, jangan sampai Maureen terkejut
mendengar apa yang akan disampaikan.
.
“Apa? Operasi Caesar yah? Bunda tidak mau. Bunda ingin jadi
ibu seutuhnya yang merlahirkan anaknya dengan cara yang sesungguhnya, bukan
dengan jalan diangkat dari perut dengan operasi seperti itu” kata Maureen.
Rayen terkejut. Dia tidak menyangka reaksi istrinya akan
demikian. Setelah mendengarkan apa yang dikatakan oleh Rayen kepada istrinya, ternyata
Maureen kurang setuju. Karena Maureen merasa, jika dia menjalani operasi,
berarti dia tidak bisa sempurna menjadi seorang ibu bagi anaknya. Maureen ingin
merasakan bagaimana bahagianya saeorang wanita jika sekuat tenaga melahirkan
dan kemudian mendengar tangis bayinya serta mendekapnya, bukan dioperasi yang
tahu tahu sudah ada di luar tinggal menggendongnya.
Rayen terus berusaha membujuk istrinya, dengan memberikan
semangat untuk istrinya agar tidak berkecil hati. Walaupun dengan jalan
operasi, namun tidak akan mengurangi kebesaran jasa seorang ibu, karena sudah
berjuang mempertaruhkan jiwa dan raganya untuk anaknya tercinta.
Berulangkali Rayen berusaha membujuk istrinya agar mau mengikuti
saran dokter. Namun, sampai detik ini Maureen masih bersikukuh ingin melahirkan
secara normal.
Bagaimana kisah selanjutnya, apakah keputusan yang akan
diambil oleh Maureen? Dan apakah yang akan terjadi pada Vivi? Simak selengkapnya
di lanjutan kisah ini ya
Jangan lupa dukung vote dan like nya
Terima kasih……
.
.
.
__ADS_1