Dari Cupu Jadi Ratu

Dari Cupu Jadi Ratu
Musim Ke Empat Bag 20


__ADS_3

 


 


Suasana hari yang terasa sangat terik di siang itu, ditambah


dengan deru lalu lalang kendaraan yang hilir mudik di jalanan depan rumah sakit


ternama itu semakin menambah kacaunya perasaan Rayen Briliant Putra.


Hatinya sangat kalut, pikirannya rancu. Hari ini adalah hari


dimana istrinya Maureen tengah berjuang untuk menghadirkan sang buah hatinya kea


lam dunia. Kata orang, ini adalah perjuangan antara hidup dan mati. Perjuangan yang


sangat berat bagi seorang wanita yang akan menjadi seorang ibu. Perjuangan berat


seorang anak manusia dalam menjalankan fitrahnya di muka bumi untuk


mempertahankan keberlangsungannya di muka bumi. Kita yang sekarang remaja,


seiring perjalanan waktu akan menua dan tiada. Dan tugas wanitalah yang akan


menjadi wadah benih manusia yang kemudian akan lahir di alam dunia. Hari ini, Maureen


akan menghadapi tugas berat itu.


Namun, yang menjadikan salah satu pertanyaan besar adalah,


kenapa Rayen dipanggil oleh dokter. Sepanjang jalan menuju ruang dokter,


pikiran Rayen makin kacau, dan kacau. Ditambah lagi, dia juga masih terbebani


oleh kondisi Vivi yang saat ini masih belum juga sadar dari pingsannya saat


acara pemberian kejutan di hari ulang tahunnya di kantor Putra Company.


Perlahan Rayen membuka pintu ruangan dokter yang menangani


persalinan Maureen. Hatinya berdetak sangat keras, keras sekali, seakan akan


jantung itu serasa mau copot dari tempatnya.  Di dalam ruangan nampak seorang dokter kepala di ruang persalinan tengah


duduk sambil memegang sebuah kertas, yang mungkin saja dugaan Rayen adalah


hasil diagnose kehamilan Maureen.


“O, Tuan Rayen? Silahkan duduk Tuan. Kita perlu bicara” kata


dokter itu sambil mempersilahkan Rayen untuk duduk di kursi yang ada di depan


meja dokter itu.


Perlahan Rayen duduk di kursi itu. Kemudian dokter itu


mengulurkan tangannya ke Rayen untuk bersalaman.


“Perkenalkan nama saya Stefent Geovant Andrews, biasa


dipanggil dokter Ivan, Tuan Rayen. Saya adalah kepala dokter yang menangani


persalinan Nyonya Maureen, istri anda” kata dokter muda yang ternyata bernama


Dokter Ivan memperkenalkan diri.


“ Rayen “ kata Rayen sambil mengulurkan tangannya untuk


bersalaman dengan dokter muda itu. “Bagaimana keadaan istri saya Dok? Kenapa anak


saya belum lahir? Apakah masih lama Dokter?” Tanya Rayen seakan tidak sabar,


karena merasa bahwa proses persalinannya Maureen terasa sangat lama. Ah, Rayen.


Sangat lama, apa karena kamu terlalu dihantui rasa cemas yang teramat sangat?


“Maaf, Tuan Rayen. Ada beberapa hal yang ingin saya

__ADS_1


sampaikan pada Tuan Rayen, sekaligus meminta persetujuan dari pihak keluarga. Sebelum


ada persetujuan dari keluarga, saya belum bisa mengambil tindakan apapun disini”


kata dokter Ivan


“Maaf dokter, apakah kondisi istri saya dalam keadaan


bahaya?” Tanya Rayen tidak sabar.


“Maaf, Tuan Rayen. Nyonya Maureen mengalami kondisi


kehamilan yang juga pernah dialami oleh hampir 5% wanita yang hamil di dunia


ini, yang dikenal dengan kondisi bayi sungsang. Yaitu dimana bayi dalam posisi


bokong ada di bawah sedangkan kepala ada diatas. Sedangkan umumya seharusnya


ketika akan lahir bayi dalam kondisi kepala di bawah, dan siap untuk keluar”


kata dokter Ivan.


“Apakah kondisi seperti ini tidak bisa lahir dengan kondisi


normal dokter?” Tanya Rayen


“Itulah yang ingin saya jelaskan Tuan. Kondisi bayi


sungsang, bisa saja lahir normal, jika sewaktu dilakukan upaya membalikkan


posisi bayi, bisa berhasil. Jika tidak, resikonya cukup tinggi. Bisa saja


terjadi asfiksia bayi atau sesak nafas pada bayi, bisa juga kepala bayi


nyangkut karena pantat dulu yang keluar, ini jarang selamat. Bisa tangannya


nyangkut, cedera syaraf bayi, atau tali pusat kejepit. Jadi resikonya cukup


besar Tuan. Kalau tim dokter hanya bisa menyarankan yang lebih sedikit


“Terus langkah nya bagaimana dokter”


“Jalan yang mempunyai resiko cukup kecil adalah dengan jalan


operasi Caesar. Mungkin ini terasa berat bagi Nyonya Maureen. Tapi saya harap


Tuan nanti bisa berbicara dengan Nyonya Maureen terkait hal ini. Untuk selanjutnya,


nanti saya menunggu keputusan dari Nyonya Maureen dan Tuan Rayen” kata dokter


Ivan


“Apakah saya bisa menemui istri saya sekarang dokter?”


“Silahkan Tuan. Tuan Rayen silahkan berunding dulu dengan


Nyonya Maureen. Pihak dokter kan menanti keputusan dari Tuan Rayen. Hanya saran


kami dari tim dokter agar Tuan Rayen mempertimbangkan untuk melakukan operasi Caesar


saja, untuk memperkecil resiko yang mungkin ada” kata dokter Ivan.


“Baik dok, saya permisi dulu” kata Rayen sambil pamit untuk


menemui Maureen yang sedang dirawat di ruang vvip kamar bersalin.


.


Sampai di kamar perawatan, nampak Maureen sedang rebahan


sambil memgangi perutnya.


“Bagaimana Bunda, apakah masih terasa sakit?” Tanya Rayen


“O, ayah kemana saja, kok dari tadi bunda dibiarkan


sendirian saja?” Tanya Maureen manja.

__ADS_1


“Maaf bunda, ayah tidak bisa menemani bunda disini karena


kata perawat tadi, ayah belum boleh masuk. Baru ini tadi ayah dipanggil dokter


dan diperbolehkan untuk masuk” kata Rayen


“Ah, kirain nunggu si Vivi” sindir Maureen


“Bunda cemburu ya? Kemarin katanya janji tidak cemburu?”


“Iya, iya yah. Bunda tahu kok. Ayah tidak akan setega itu


sama bunda, kan bentar lagi Rayen Briliant putra sudah akan jadi seorang ayah”


kata Maureen sambil memeluk tubuh suaminya yang duduk disamping tempat


tidurnya. Sementara tangan Maureen masih dipasang selang infuse.


“Bun, ada yang ingin ayah bicarakan sama bunda” kata Rayen


memulai apa yang akan disampaikan untuk istrinya. Rayen berusaha semaksimal


mungkin untuk menjaga perasaan Maureen, jangan sampai Maureen terkejut


mendengar apa yang akan disampaikan.


.


“Apa? Operasi Caesar yah? Bunda tidak mau. Bunda ingin jadi


ibu seutuhnya yang merlahirkan anaknya dengan cara yang sesungguhnya, bukan


dengan jalan diangkat dari perut dengan operasi seperti itu” kata Maureen.


Rayen terkejut. Dia tidak menyangka reaksi istrinya akan


demikian. Setelah mendengarkan apa yang dikatakan oleh Rayen kepada istrinya, ternyata


Maureen kurang setuju. Karena Maureen merasa, jika dia menjalani operasi,


berarti dia tidak bisa sempurna menjadi seorang ibu bagi anaknya. Maureen ingin


merasakan bagaimana bahagianya saeorang wanita jika sekuat tenaga melahirkan


dan kemudian mendengar tangis bayinya serta mendekapnya, bukan dioperasi yang


tahu tahu sudah ada di luar tinggal menggendongnya.


Rayen terus berusaha membujuk istrinya, dengan memberikan


semangat untuk istrinya agar tidak berkecil hati. Walaupun dengan jalan


operasi, namun tidak akan mengurangi kebesaran jasa seorang ibu, karena sudah


berjuang mempertaruhkan jiwa dan raganya untuk anaknya tercinta.


Berulangkali Rayen berusaha membujuk istrinya agar mau mengikuti


saran dokter. Namun, sampai detik ini Maureen masih bersikukuh ingin melahirkan


secara normal.


Bagaimana kisah selanjutnya, apakah keputusan yang akan


diambil oleh Maureen? Dan apakah yang akan terjadi pada Vivi? Simak selengkapnya


di lanjutan kisah ini ya


Jangan lupa dukung vote dan like nya


Terima kasih……


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2