
Laju mobil Maureen dan Rayen terus melau membelah jalanan ibukota malam itu. Perjalanan yang
cukup jauh dan melelahkan bagi Maureen. Biasanya walaupun Maureen bepergian jauh,
bahkan berhari - hari di New York, tak pernah dia merasakan capek seperti ini. Apakah
ini adalah akibat dari kehamilannya?
Memang kata orang orang dan dari artikel yang sering dibaca
Maureen, katanya sih yang namanya orang lagi mengandung apalagi hamil muda,
sering merasakan capek. Maureen baru merasakan bahwa tugas seorang ibu itu
sangat berat.
Maureen teringat pada sosok ibunya yang telah tiada. Sungguh
suatu perjuangan yang sangat besar, tidak akan bisa dinilai oleh berapapun
harga yang akaan dibayar oleh seorang anak.
Sesampai di rumah, mereka langsung berganti pakaian dan
bersiap siap menuju kamar. Ketika tiba tiba Bi Minah datang dan mengatakan
bahwa makan malam sudah siap.
“Tuan, Nyonya, makan malam sudah siap. Silahkan Tuan Rayen
dn Nyonya Maureen makan malam dulu sebelum tidur” kata Bi Minah.
“Maureen masih kenyang Bi, biar Rayen saja yang makan ya?”
kata Maureen merasa bahwa dirinya sudah kenyang.
“Eh, tidak baik lo Nyonya untuk kesehatan ibu yang lagi
hamil, jika terlambat makan. Lebih baik nyonya makan dulu. Jaga yang ada di
kandungan Nyonya. Walaupun Bibi ini orang desa, Bibi juga pernah hamil, jadi
tahu bagaimana rasanya kalau lagi hamil muda” kata Bi Minah sambil tersenyum
cegengesan.
“Iya betul kata Bi Minah, Bun. Ayo kita makan dulu. Sedikit tidak
apa apa, yang penting sudah terisi perutnya. Biar nanti tidurnya nyenyak” kata
__ADS_1
Rayen
“Maureen kayaknya males deh. Bawaannya pengin mual saja
melihat makanan.” Kata Maureen merajuk manja pada Rayen.
“Memang bawaan orang hamil muda selalu begitu kebanyakan Nyonya.
Susah kalau mau makan. Tapi kalau tidak dipaksa sedikit sedikit, ya kasihan
yang ada di perut, kan belum bisa nyari makanan sendiri. Masih ngandelin
makanan dari ibunya” kata Bi Minah ikut membujuk Maureen.
“Bi Minah ini kayak dokter spesialis kandungan saja kalau
ngomong. Iya deh, iya. Maureen akan makan” kata Maureen sambil melangkah ke
ruang makan diikuti oleh Rayen.
Bi Minah hanya geleng geleng kepala melihat apa yang
diperbuat majikannya.
Malam itu, walaupun agak ogah ogahan, namun Maureen terus
memaksakan diri untuk makan. Bi Minah benar, jika bukan dari Maureen,lalu
darimana bayinya bisa mendapatkan makanan? Resiko jadi ibu kali ya, tapi pasti
ceria.
Setelah selesai makan malam, rayen dan maureen bergegas
menuju ke kamar. Sudah larut malam, waktu sudah menunjukkan pukul 22.00. namun
Maureen belum merasakan ngantuk.
“Sudah ngantuk Ray? Kalau sudah ngantuk tidurlah dulu. Biar Maureen
tidur sebentar lagi. Maureen belum mengantuk” kata Maureen.
“Ah,belum kok Bun. Udara dingin di sepanjang perjalanan tadi
telah mengusir rasa kantuk” kata Rayen.
“O, ya? Kalau begitu
boleh aku tanya sesuatu Ray?”tanya Maureen.
“Ada apa bunda sayang. Tanya saja, siapa tahu ayah bisa
membantu” kata Rayen.
__ADS_1
“Aku ingin minta pendapat kamu tentang apa yang kita lihat
di sepanjang perjalanan tadi pagi” kata Maureen memulai pembiaraan.
“Maksudmu tentang anak anak yang kurang beruntung di pinggir
jalan tadi?” tanya Rayen.
“Iya Ray. Aku ingin berbuat sesuatu untuk mereka. Walaupun tidak
semua,tapi paling tidak siapa tahu bisa membantu mereka untuk sedikit
meringankan beban mereka” kata Maureen.
“Wah, ide bagus tuh Bun. Kalo saya sangat mendukung sekali. Apalagi
jika nantinya ada program sinergi untuk siswa tidak mampu yang prestasinya
bagus, bisa kita pekerjakan di perusahaan kita.jadi mereka tidak usah bingung
mencari lapangan pekerjaan. Bagaimana Bun?” kata Rayen sangat bersemangat
dengan ide brilian dari istrinya, Maureen.
“Iya sih Ray. Aku juga mikirnya kayak gitu. Rencana sih
sudah ada. Bagaimana kalo besok kita ke
kantor ayah Tito. Kita bicarakan ini. Aku yakin ayah selalu punya ide cemerlang
yang bisa menolong mereka” kata Maureen.
“Ok, besok agak sore saja Bun. Pagi aku masih harus
menyelesaikan kontrak kerja dengan rekanan bisnis. Nanti aku langsung ke kantor
Bunda saja. Kita pake satu mobil saja besok” kata Rayen
“Baiklah Ray, sekarang sudah malam, ayo kita tidur” kata
Maureen.
“Ya,Bunda harus banyak istirahat”kata Rayen.
“Peluk aku dong Ray, aku ingin tidur dalam dekapanmu”
Malam pun berjalan perlahan mengiringi dua insan yang tengah
memadu kebahagiaan. Maureen tertidur pulas didekapan suaminya.
Dan malam itu, mereka memimpikan sesuatu yang luar biasa.
.
__ADS_1
.