Dari Cupu Jadi Ratu

Dari Cupu Jadi Ratu
Musim Ke Tiga Bag 9


__ADS_3

 


 


Laju mobil Maureen dan Rayen terus melau membelah  jalanan ibukota malam itu. Perjalanan yang


cukup jauh dan melelahkan bagi Maureen. Biasanya walaupun Maureen bepergian jauh,


bahkan berhari - hari di New York, tak pernah dia merasakan capek seperti ini. Apakah


ini adalah akibat dari kehamilannya?


Memang kata orang orang dan dari artikel yang sering dibaca


Maureen, katanya sih yang namanya orang lagi mengandung apalagi hamil muda,


sering merasakan capek. Maureen baru merasakan bahwa tugas seorang ibu itu


sangat berat.


Maureen teringat pada sosok ibunya yang telah tiada. Sungguh


suatu perjuangan yang sangat besar, tidak akan bisa dinilai oleh berapapun


harga yang akaan dibayar oleh seorang anak.


Sesampai di rumah, mereka langsung berganti pakaian dan


bersiap siap menuju kamar. Ketika tiba tiba Bi Minah datang dan mengatakan


bahwa makan malam sudah siap.


“Tuan, Nyonya, makan malam sudah siap. Silahkan Tuan Rayen


dn Nyonya Maureen makan malam dulu sebelum tidur” kata Bi Minah.


“Maureen masih kenyang Bi, biar Rayen saja yang makan ya?”


kata Maureen merasa bahwa dirinya sudah kenyang.


“Eh, tidak baik lo Nyonya untuk kesehatan ibu yang lagi


hamil, jika terlambat makan. Lebih baik nyonya makan dulu. Jaga yang ada di


kandungan Nyonya. Walaupun Bibi ini orang desa, Bibi juga pernah hamil, jadi


tahu bagaimana rasanya kalau lagi hamil muda” kata Bi Minah sambil tersenyum


cegengesan.


“Iya betul kata Bi Minah, Bun. Ayo kita makan dulu. Sedikit tidak


apa apa, yang penting sudah terisi perutnya. Biar nanti tidurnya nyenyak” kata

__ADS_1


Rayen


“Maureen kayaknya males deh. Bawaannya pengin mual saja


melihat makanan.” Kata Maureen merajuk manja pada Rayen.


“Memang bawaan orang hamil muda selalu begitu kebanyakan Nyonya.


Susah kalau mau makan. Tapi kalau tidak dipaksa sedikit sedikit, ya kasihan


yang ada di perut, kan belum bisa nyari makanan sendiri. Masih ngandelin


makanan dari ibunya” kata Bi Minah ikut membujuk Maureen.


“Bi Minah ini kayak dokter spesialis kandungan saja kalau


ngomong. Iya deh, iya. Maureen akan makan” kata Maureen sambil melangkah ke


ruang makan diikuti oleh Rayen.


Bi Minah hanya geleng geleng kepala melihat apa yang


diperbuat majikannya.


Malam itu, walaupun agak ogah ogahan, namun Maureen terus


memaksakan diri untuk makan. Bi Minah benar, jika bukan dari Maureen,lalu


darimana bayinya bisa mendapatkan makanan? Resiko jadi ibu kali ya, tapi pasti


ceria.


Setelah selesai makan malam, rayen dan maureen bergegas


menuju ke kamar. Sudah larut malam, waktu sudah menunjukkan pukul 22.00. namun


Maureen belum merasakan ngantuk.


“Sudah ngantuk Ray? Kalau sudah ngantuk tidurlah dulu. Biar Maureen


tidur sebentar lagi. Maureen belum mengantuk” kata Maureen.


“Ah,belum kok Bun. Udara dingin di sepanjang perjalanan tadi


telah mengusir rasa kantuk” kata Rayen.


“O, ya? Kalau  begitu


boleh aku tanya sesuatu Ray?”tanya Maureen.


“Ada apa bunda sayang. Tanya saja, siapa tahu ayah bisa


membantu” kata Rayen.

__ADS_1


“Aku ingin minta pendapat kamu tentang apa yang kita lihat


di sepanjang perjalanan tadi pagi” kata Maureen memulai pembiaraan.


“Maksudmu tentang anak anak yang kurang beruntung di pinggir


jalan tadi?” tanya Rayen.


“Iya Ray. Aku ingin berbuat sesuatu untuk mereka. Walaupun tidak


semua,tapi paling tidak siapa tahu bisa membantu mereka untuk sedikit


meringankan beban mereka”  kata Maureen.


“Wah, ide bagus tuh Bun. Kalo saya sangat mendukung sekali. Apalagi


jika nantinya ada program sinergi untuk siswa tidak mampu yang prestasinya


bagus, bisa kita pekerjakan di perusahaan kita.jadi mereka tidak usah bingung


mencari lapangan pekerjaan. Bagaimana Bun?” kata Rayen sangat bersemangat


dengan ide brilian dari istrinya, Maureen.


“Iya sih Ray. Aku juga mikirnya kayak gitu. Rencana sih


sudah ada.  Bagaimana kalo besok kita ke


kantor ayah Tito. Kita bicarakan ini. Aku yakin ayah selalu punya ide cemerlang


yang bisa menolong mereka” kata Maureen.


“Ok, besok agak sore saja Bun. Pagi aku masih harus


menyelesaikan kontrak kerja dengan rekanan bisnis. Nanti aku langsung ke kantor


Bunda saja. Kita pake satu mobil saja besok” kata Rayen


“Baiklah Ray, sekarang sudah malam, ayo kita tidur” kata


Maureen.


“Ya,Bunda harus banyak istirahat”kata Rayen.


“Peluk aku dong Ray, aku ingin tidur dalam dekapanmu”


Malam pun berjalan perlahan mengiringi dua insan yang tengah


memadu kebahagiaan. Maureen tertidur pulas didekapan suaminya.


Dan malam itu, mereka memimpikan sesuatu yang luar biasa.


.

__ADS_1


.


__ADS_2