
Pagi itu suasana rumah mewah milik keluarga Maureen sudah
kelihatan sibuk. Nampak beberapa pembantu rumah tangga sedang mempersiapkan
perlengkapan yang akan dibawa oleh Maureen. Rayen juga sudah bersiap siap. Rencananya
setelah mengantarkan maureen dan ayahnya ke bandara Soekarno Hatta, Rayen akan
langsung ke kantor.
Nampak sekretaris Zhang juga sudah ada disitu dari pagi
tadi. Maureen sengaja menyuruh Zhang untuk datang lebih awal, karena ada tugas
perusahaan yang harus dikerjakan. Sekaligus juga untuk memadukan antara
pemikiran Zhang dan Rayen. Karena selama maureen berada di Nevada, kendali
perusahaan akan diserahkan kepada Rayen, dibantu oleh sekretaris Zhang. Maureen
ingin fokus untuk pengobatan ayahnya, Tuan Besar Tito Tirta kusuma. Hari itu semua disibukkan oleh pekerjaannya masing
masing. Semua berharap akan baik baik saja.
Lepas pukul 07.00 mobil maureen bergerak meninggalkan rumahnya, untuk menjemput Tuan Tito
di rumahnya.....
.
.
Sementara itu, di kediaman Tuan Besar Tito, nampak pengacara
Whang dan Dr. Albert tengah berbincang bincang. Mereka sedang mempersiapkan
segala keperluan yang disiapkan untuk keperluan di Nevada nanti.
Direncanakan, yang akan mengikuti Pak Tito ke Nevada, selain
Maureen, nanti akan dibantu oleh pengacara Whang dan Dr. Albert. Sementara Dr.
John dan Dr. Himawan tidak ikut ke Nevada karena harus menangani pasien lainnya
yang ada di Jakarta.
Perbincangan yang cukup serius antara Dr. Albert dan
pengacara Whang terhenti ketika sebuah mobil mewah memasuki halaman rumah Tuan
Tito. Semua sudah kenal dengan pemilik mobil itu, dialah putri semata wayang
sekaligus pewaris tunggal KSM Group, Maureen Tirta Kusuma.
“Selamat pagi Tuan Rayen dan Nyonya Maureen” sapa Dr. Albert
dan pengacara Whang hampir bersamaan.
“Selamat pagi Dokter, selamt pagi pak Whang” kata Rayen.
“Selamat pagi Dokter, selamt pagi pak Whang. Maaf sudah
__ADS_1
menunggu lama” kata Maureen sambil masuk ke dalam rumah, di ikuti oleh Rayen.
“Tidak apa apa Nyonya, sekalian ini tadi kami ngobrol
tentang kondisi Tuan Besar Tito. Kami meminta pihak rumah sakit untuk
memprioritaskan pengobatan Tuan Tito. Jadi nanti sampai disana setelah
observasi awal, nanti akan langsung untuk operasi pada penyakitnya. Mudah mudahan
semua berjalan sesuai rencana” kata Dr. Albert.
“Terima kasih Dokter dan juga Pak Whang atas bantuan nya
pada keluarga kami, semoga ayah segera sembuh” kata Rayen.
Mereka segera masuk ke dalam rumah. Nampak Pak Tito sedang
duduk di kursi roda. Tadi pagi, Pak Tito kembali mengeluhkan kondisinya. Pak
Tito merasakan sakit kepala yang amat sangat. Hampir saja Dr. Albert
membatalkan keberangkatan Pak Tito. Namun setelah kondisinya stabil, akhirnya
rencana itu tetap dilanjutkan. Itulah kenapa walaupun sebenarnya bisa saja Dr.
Albert tidak ikut dealam perjalanan ini, namun mengingat kondisi Pak Tito yang
belum stabil, Maureen dan pengacara Whang meminta Dr. Albert untuk ikut dalam
perjalanan ini, paling tidak sampai Pak Tito mendapat penanganan dari dokter di
Nevada.
“Selamat pagi ayah” kata Rayen, sambil mencium tangan ayah
“Selamat pagi ayah, bagaimana ayah apakah sudah siap
berangkat” kata Maureen sambil mencium tangan dan pipi ayahnya dengan penuh
rasa sayang.
“Selamat pagi anak anakku. Maafkan ayah, selama ini membuat
kalian bersedih saja” kata Pak Tito
“Jangan berkata seperti itu ayah. Ayah adalah orang yang
luar biasa dalam hidup kami. Percayalah ayah akan sembuh. Nanti biar Rayen yang
mohon doa dari anak anak yatim yang ada di yayasan, untuk kesembuhan ayah” kata
Rayen
“Jangan Rayen, mereka tidak perlu tahu tentang hal ini.
jangan mengotori niat baik dengan mengharap balasan manusia. Tuhan tahu yang
terbaik bagi kita. Pesanku, selama ayah dan Maureen di Amerika, tolong jaga KSM
Group dengan baik. Selain itu, kembangkan Putra Company dengan semampumu. Ingat,
gunakan kesempatan sebaik baiknya selagi kamu masih diberi kesempatan. Ingat,
kesempatan itu tidak pernah datang untuk kedua kalinya” kata Pak Tito.
__ADS_1
“Iya, ayah. Pesan ayah akan selalu saya ingat” kata Rayen.
“Ayo kita berangkat Maureen. Jangan sampai kita ketinggalan
pesawat hari ini. semoga perjalanan kita lancar. Siapkan peralatan ayah” kata
Pak Tito pada Maureen.
“Iya ayah. Semua sudah siap. Mari Dokter, Pak Whang. Kita berangkat
dalam satu mobil saja. Biar nanti mobil Dr. Albert dan pengacara Whang diantar
sama sopir saja” kata Maureen mempersilahkan mereka untuk naik mobil duluan.
Setelah semua persiapan selesai, mereka pun naik mobil sama
sama untuk menuju ke bandara terbesar di Jakarta. Mereka telah memesan tiket
VVIP dari salah satu maskapai ternama yang berangkat untuk penerbangan pagi ini
dari bandara Soekarno Hatta untuk tujuan Jakarta – New York. Rencananya setelah
sampai di New York, akan dilanjutkan penerbangan menuju kota Nevada.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang menuju ke arah bandara.
Memecah pekatnya udara pagi yang diliputi oleh gerimis yang mengguyur ibukota
pagi ini. suasana jalanan yang cukup padat membuat mobil tidak bisa melaju
kencang. Dan inilah jakarta, yang selalu identik dengan kepadatan dan
kemacetan.
Menjelang pukul 09.00, mobil memasuki ruang parkir bandara,
nampak beberapa petugas bandara segera menghampiri dan membantu mereka untuk
memasuki bandara. Penumpang VVIP memang memiliki jalur khusus sehingga tidak
memakan waktu lama, mereka sudah menuju ke pesawat yang akan membawa mereka
menuju ke New York.
Sementara Rayen, setelah mengantar istrinya dan ayah
mertuanya sampai di pintu bandara, segera bergegas untuk menuju ke kantor. Tugas
berat menanti dia. Tidak hanya memikirkan kemajuan Putra Company, tapi juga
harus mengontrol KSM Group selama Maureen masih berada di Amerika. Sekaligus juga
tentunya memikirkan kesehatan Tuan Besar Tito dan tidak kalah pentingnya lagi
adalah memikirkan sang buah hati dan istri tercinta.
Sungguh suatu beban yang sangat berat bagi seorang Rayen.
..
.
.
Tetap dukung vote author ya readers ku tercinta. Semoga semua
__ADS_1
tetap dalam keselamatan dan berkah serta rahmat Tuhan senantiasa terlimpah pada
kita semua. Amin.