Dari Cupu Jadi Ratu

Dari Cupu Jadi Ratu
Musim Ke Dua Bag 13


__ADS_3

 


 


Krusial dan penuh dengan ketegangan. Itulah yang dialami Maureen,


sekretaris Zhang dan awak pesawat yang ada di pesawat pribadi Maureen di Minggu


siang ini. Jika tidak ada badai taifun yang melanda daratan Jepang dan Korea


hari ini, harusnya Maureen sudah tiba di Jakarta sore nanti. Tapi entahlah jika


situasinya seperti ini.


Kondisi cuaca makin tidak menentu. Pilot masih berusaha


mempertahankan ketinggian pesawat untuk menghindari efek badai yang ada di


bawah pesawat Maureen. Sementara copilot masih sibuk mencari signal radio


komunikasi untuk bisa terhubung dengan bandara terdekat dari posisi pesawat


saat ini.


Beberapa kali radio menerima signal dari bandara, namun


masih belum bisa dijangkau signal yang memungkinkan untuk berkomunikasi.


Semua yang ada di pesawat nampak pasrah dengan keadaan. Apalagi


Maureen, dia yang pikiran dan hatinya masih diliputi kekalutan, nampak makin


berfikir keras. Beberapa kali sekretaris Zhang nampak berada di dekat Maureen. Sekretaris


Zhang nampaknya sangat kawatir dengan keadaan Maureen.


Maureen sendiri juga merasakan kegundahan itu, iya ingat


akan suaminya, ayahnya dan orang orang terbaik disekitarnya. Dia tidak tahu,


apakah dia bisa melewati badai ini.


Lebih daripada itu, ada satu hal lagi yang menghantui


pikirannya. Walaupun dia adalah bigboss, Presdir perusahaan raksasa KSM Group,


tapi dia juga wanita. Dia juga seorang istri dari suaminya Rayen. Ada yang


rutin hadir di kehidupan wanita setiap bulan. Dan harusnya 5 hari yang  lalu sudah datang, tapi sampai saat ini belum


juga ada tanda tanda akan muncul. Apakah Maureen hamil? Ataukah hanya karena


Maureen terlalu banyak pikiran?


Pertanyaan itu dari kemarin menghantui pikirannya. Namun Maureen


belum berani menyimpulkan. Mau cek tes kehamilan, mana ada di pesawat? Biarlah Maureen


menyimpan kegalauan hatinya kali ini. Maureen hanya berharap, ada keajaiban


yang mampu menolong pesawatnya untuk mendarat dengan aman. Terlebih lagi jika


memang ada benih cinta Rayen yang ada didalam kandungannya, Maureen berharap,


Tuhan memberikan jalan agar dilepaskan dari belenggu badai yang sedang


mengganas di udara Jepang kali ini.


Di tengah keputusasaan copilot mencari signal radio, tiba


tiba terdengar suara dari radio komunikasi di pesawat. Nampak dalam bahasa


Jepang ada suara memanggil SOS untuk darurat ke pesawat Maureen. Rupanya keberadaan


pesawat Maureen terdeteksi radar sebuah bandara kecil di selatan pusat kota


Kobe, Perfektur Hyogo, Jepang. Nampak pengarah navigasi dari Kobe Airport


memberikan arahan kali ini dalam bahasa Inggris, mungkin setelah agak dekat,


mereka mulai mengenali bahwa yang ada disitu bukan penerbangan domestic Jepang.


Dan bandara ini ternyata juga merupakan bandara yang berada diatas laut. Didirikan


diatas pulau buatan oleh pemerintah Jepang.

__ADS_1


Nampak copilot dan pengarah navigasi dari Kobe Airport terus


berkomunikasi, memastikan semua aman untuk pendaratan dan juga tentunya


mempertimbangkan pengaruh dari badai taifun yang melanda hampir separuh wilayah


Jepang.


Meski di daratan tidak terlalu berdampak, namun untuk


penerbangan sangat besar sekali pengaruhnya, karena badai kali ini berada di


1000 m dari permukaan laut.


Setelah berkomunikasi intensif dan mengikuti arahan dari


pihak Kobe Airpot, akhirnya pilot bersiap untuk mendaratkan pesawat di bandara ini.


Bagi Maureen, yang penting terhindar dari taufan dulu. Masalah melanjutkan


perjalanan bisa dipikirkan nanti.


Lima belas menit di udara Kobe Airport, akhirnya pesawat


berhasil mendarat dengan lancar.


Maureen kemudian meminta tolong sekretaris Zhang untuk


mempersiapkan segala keperluan. Maureen ingin beristirahat dulu di Kobe, sambil


menunggu badai berlalu.


Sekretaris Zhang kemudian memesan hotel VVIP untuk Maureen dan


3 kamar lain, satu kamar untuk sekretaris Zhang dan dua kamar yang lain untuk


pilot dan copilot pesawat Maureen.


“Ibu Presdir, apakah perlu kita menghubungi staf perusahaan


dan Putra Company bahwa kita terpaksa mendarat darurat di Jepang dan belum bisa


meninjau perusahaan hari senin ini?”, Tanya sekretaris Zhang.


“Saya rasa tidak perlu sekretaris Zhang, saya tidak ingin


kan belum memberitahu ayah, bahwa saya mau bertolak ke Jakarta. Jadi ayah


tahunya saya masih di New York. Biarlah nanti setelah sampai Jakarta, saya yang


akan kasih tahu ayah tentang hal ini”, kata Maureen.


“Baiklah Ibu Presdir, segala keperluan sudah saya


persiapkan. Silahkan Ibu Presdir beristirahat, karena menurut berita dari NHK


World, penerbangan baru akan benar benar aman setelah besuk sore. Jadi kita


beristirahat disini sekitar 20 jam”, jelas sekretaris Zhang.


“O iya, baiklah. Kita tunggu sampai semuanya benar benar


aman, baru meneruskan perjalanan”


.


.


.


Sementara itu, di rumah Vivi. Gadis cantik itu masih


memikirkan apa yang terjadi hari ini. Apa sebenarnya maksud Maureen? Kenapa hari


Senin disuruh masuk kantor, kemudian hari itu juga diharuskan melaporkan neraca


keuangan perusahaan. Setelah semuanya dipersiapkan dengan susah payah, ternyata


Maureen tidak hadir.


Apakah Maureen masih memendam rasa sakit hati karena Rayen


menggandeng tangan Vivi waktu di mall. Ya, memang wajar jika Maureen sakit


hati, pikir Vivi. Bukankah mereka berdua adalah bigboss di perusahaan tempat

__ADS_1


Vivi bekerja, bahkan Maureen adalah pemilik dari beberapa perusahaan yang


tergabung dalam KSM Group. Tentu aneh, bagaimana bisa suaminya Tuan Rayen


Brilliant Putra menggandeng wanita sederhana yang notabenenya hanyalah


sekretarisnya, di mall, kepunyaan Maureen lagi.


Vivi terus berusaha berfikir. Apa penyebab Maureen tidak


muncul siang tadi. Namun semakin menduga, Vivi justru semakin tidak menemukan


jawabannya.


.


.


Kita tinggalkan Vivi ditengah kegalauannya. Yang tidak kalah


bingungnya siapa lagi kalo bukan Rayen. Ya, sang istri tercinta bertolak dari


New York hari sabtu, harusnya minggu sore sudah sampai Jakarta. Tapi hari ini


sampai dengan senin malam, Maureen masih belum tentu rimbanya. Antara bingung,


sedih, campur aduk jadi satu. Dalam hatinya bertanya Tanya, apakah Maureen belum


memaafkan kesalahannya.


Ada satu hal lagi yang membuat Rayen sedih. Ya, hari ini


adalah ulang tahun Maureen. Kado special sudah dipersiapkan. Tapi dimana


Maureen. Tak ada satupun teman yang mengetahui keberadaannya.


Bingung dan bingung, pusing dan pusing. Ingin dia meneguk


anggur untuk melupakan segalanya. Tapi apakah justru tidak akan memperkeruh


keadaan.


Sunyi dirasakan Rayen. Rumah semegah ini, dia serasa


bagaikan patung hidup, yang tidak berguna. Sepi tanpa kehadiran sesosok Maureen


menghiasi rumah ini.


Memang kadang Rayen berfikir bahwa akan bahagia jika


memiliki istri yang punya waktu untuk mengurusi rumah tangga. Memasak untuknya,


membuatkan sayur kesukaannya. Menata rumahnya. Bukan yang super sibuk dengan


perusahaannya.


Tapi segera ditepisnya perasaan itu. Tidak dapat dipungkiri,


Maureen adalah sosok yang sempurna dengan kejeniusannya dalam mengelola


perusahaan dan juga menyayanginya. Memang tidak ada seorang manusiapun yang


tidak mempunyai kelemahan. Saking sibuknya mengurus perusahaan, Rayen dan


Maureen kadang hanya bertemu saat malam hari. Itupun belum tentu lama. Kadang pulang


kantor, jam 9 malam baru sampai di rumah. Lalu jam 5 sudah bersiap lagi. Belum jika


keluar kota, belum jika keluar negeri. Itulah kehidupan manusia. Kadang yang


ndak punya pekerjaan pengin punya pekerjaan, yang sudah punya pekerjaan kadang bingung


terlalu sibuk membagi waktu.


.


.


Jangan lupa ikut vote untuk dukung cerita ini ya…


Terima kasih, ditunggu kelanjutan kisah Maureen dan Rayen


episode selanjutnya.


Selamat pagi, selamat beraktivitas, semoga sukses menyertai

__ADS_1


pembaca yang budiman.


__ADS_2