
Krusial dan penuh dengan ketegangan. Itulah yang dialami Maureen,
sekretaris Zhang dan awak pesawat yang ada di pesawat pribadi Maureen di Minggu
siang ini. Jika tidak ada badai taifun yang melanda daratan Jepang dan Korea
hari ini, harusnya Maureen sudah tiba di Jakarta sore nanti. Tapi entahlah jika
situasinya seperti ini.
Kondisi cuaca makin tidak menentu. Pilot masih berusaha
mempertahankan ketinggian pesawat untuk menghindari efek badai yang ada di
bawah pesawat Maureen. Sementara copilot masih sibuk mencari signal radio
komunikasi untuk bisa terhubung dengan bandara terdekat dari posisi pesawat
saat ini.
Beberapa kali radio menerima signal dari bandara, namun
masih belum bisa dijangkau signal yang memungkinkan untuk berkomunikasi.
Semua yang ada di pesawat nampak pasrah dengan keadaan. Apalagi
Maureen, dia yang pikiran dan hatinya masih diliputi kekalutan, nampak makin
berfikir keras. Beberapa kali sekretaris Zhang nampak berada di dekat Maureen. Sekretaris
Zhang nampaknya sangat kawatir dengan keadaan Maureen.
Maureen sendiri juga merasakan kegundahan itu, iya ingat
akan suaminya, ayahnya dan orang orang terbaik disekitarnya. Dia tidak tahu,
apakah dia bisa melewati badai ini.
Lebih daripada itu, ada satu hal lagi yang menghantui
pikirannya. Walaupun dia adalah bigboss, Presdir perusahaan raksasa KSM Group,
tapi dia juga wanita. Dia juga seorang istri dari suaminya Rayen. Ada yang
rutin hadir di kehidupan wanita setiap bulan. Dan harusnya 5 hari yang lalu sudah datang, tapi sampai saat ini belum
juga ada tanda tanda akan muncul. Apakah Maureen hamil? Ataukah hanya karena
Maureen terlalu banyak pikiran?
Pertanyaan itu dari kemarin menghantui pikirannya. Namun Maureen
belum berani menyimpulkan. Mau cek tes kehamilan, mana ada di pesawat? Biarlah Maureen
menyimpan kegalauan hatinya kali ini. Maureen hanya berharap, ada keajaiban
yang mampu menolong pesawatnya untuk mendarat dengan aman. Terlebih lagi jika
memang ada benih cinta Rayen yang ada didalam kandungannya, Maureen berharap,
Tuhan memberikan jalan agar dilepaskan dari belenggu badai yang sedang
mengganas di udara Jepang kali ini.
Di tengah keputusasaan copilot mencari signal radio, tiba
tiba terdengar suara dari radio komunikasi di pesawat. Nampak dalam bahasa
Jepang ada suara memanggil SOS untuk darurat ke pesawat Maureen. Rupanya keberadaan
pesawat Maureen terdeteksi radar sebuah bandara kecil di selatan pusat kota
Kobe, Perfektur Hyogo, Jepang. Nampak pengarah navigasi dari Kobe Airport
memberikan arahan kali ini dalam bahasa Inggris, mungkin setelah agak dekat,
mereka mulai mengenali bahwa yang ada disitu bukan penerbangan domestic Jepang.
Dan bandara ini ternyata juga merupakan bandara yang berada diatas laut. Didirikan
diatas pulau buatan oleh pemerintah Jepang.
__ADS_1
Nampak copilot dan pengarah navigasi dari Kobe Airport terus
berkomunikasi, memastikan semua aman untuk pendaratan dan juga tentunya
mempertimbangkan pengaruh dari badai taifun yang melanda hampir separuh wilayah
Jepang.
Meski di daratan tidak terlalu berdampak, namun untuk
penerbangan sangat besar sekali pengaruhnya, karena badai kali ini berada di
1000 m dari permukaan laut.
Setelah berkomunikasi intensif dan mengikuti arahan dari
pihak Kobe Airpot, akhirnya pilot bersiap untuk mendaratkan pesawat di bandara ini.
Bagi Maureen, yang penting terhindar dari taufan dulu. Masalah melanjutkan
perjalanan bisa dipikirkan nanti.
Lima belas menit di udara Kobe Airport, akhirnya pesawat
berhasil mendarat dengan lancar.
Maureen kemudian meminta tolong sekretaris Zhang untuk
mempersiapkan segala keperluan. Maureen ingin beristirahat dulu di Kobe, sambil
menunggu badai berlalu.
Sekretaris Zhang kemudian memesan hotel VVIP untuk Maureen dan
3 kamar lain, satu kamar untuk sekretaris Zhang dan dua kamar yang lain untuk
pilot dan copilot pesawat Maureen.
“Ibu Presdir, apakah perlu kita menghubungi staf perusahaan
dan Putra Company bahwa kita terpaksa mendarat darurat di Jepang dan belum bisa
meninjau perusahaan hari senin ini?”, Tanya sekretaris Zhang.
“Saya rasa tidak perlu sekretaris Zhang, saya tidak ingin
kan belum memberitahu ayah, bahwa saya mau bertolak ke Jakarta. Jadi ayah
tahunya saya masih di New York. Biarlah nanti setelah sampai Jakarta, saya yang
akan kasih tahu ayah tentang hal ini”, kata Maureen.
“Baiklah Ibu Presdir, segala keperluan sudah saya
persiapkan. Silahkan Ibu Presdir beristirahat, karena menurut berita dari NHK
World, penerbangan baru akan benar benar aman setelah besuk sore. Jadi kita
beristirahat disini sekitar 20 jam”, jelas sekretaris Zhang.
“O iya, baiklah. Kita tunggu sampai semuanya benar benar
aman, baru meneruskan perjalanan”
.
.
.
Sementara itu, di rumah Vivi. Gadis cantik itu masih
memikirkan apa yang terjadi hari ini. Apa sebenarnya maksud Maureen? Kenapa hari
Senin disuruh masuk kantor, kemudian hari itu juga diharuskan melaporkan neraca
keuangan perusahaan. Setelah semuanya dipersiapkan dengan susah payah, ternyata
Maureen tidak hadir.
Apakah Maureen masih memendam rasa sakit hati karena Rayen
menggandeng tangan Vivi waktu di mall. Ya, memang wajar jika Maureen sakit
hati, pikir Vivi. Bukankah mereka berdua adalah bigboss di perusahaan tempat
__ADS_1
Vivi bekerja, bahkan Maureen adalah pemilik dari beberapa perusahaan yang
tergabung dalam KSM Group. Tentu aneh, bagaimana bisa suaminya Tuan Rayen
Brilliant Putra menggandeng wanita sederhana yang notabenenya hanyalah
sekretarisnya, di mall, kepunyaan Maureen lagi.
Vivi terus berusaha berfikir. Apa penyebab Maureen tidak
muncul siang tadi. Namun semakin menduga, Vivi justru semakin tidak menemukan
jawabannya.
.
.
Kita tinggalkan Vivi ditengah kegalauannya. Yang tidak kalah
bingungnya siapa lagi kalo bukan Rayen. Ya, sang istri tercinta bertolak dari
New York hari sabtu, harusnya minggu sore sudah sampai Jakarta. Tapi hari ini
sampai dengan senin malam, Maureen masih belum tentu rimbanya. Antara bingung,
sedih, campur aduk jadi satu. Dalam hatinya bertanya Tanya, apakah Maureen belum
memaafkan kesalahannya.
Ada satu hal lagi yang membuat Rayen sedih. Ya, hari ini
adalah ulang tahun Maureen. Kado special sudah dipersiapkan. Tapi dimana
Maureen. Tak ada satupun teman yang mengetahui keberadaannya.
Bingung dan bingung, pusing dan pusing. Ingin dia meneguk
anggur untuk melupakan segalanya. Tapi apakah justru tidak akan memperkeruh
keadaan.
Sunyi dirasakan Rayen. Rumah semegah ini, dia serasa
bagaikan patung hidup, yang tidak berguna. Sepi tanpa kehadiran sesosok Maureen
menghiasi rumah ini.
Memang kadang Rayen berfikir bahwa akan bahagia jika
memiliki istri yang punya waktu untuk mengurusi rumah tangga. Memasak untuknya,
membuatkan sayur kesukaannya. Menata rumahnya. Bukan yang super sibuk dengan
perusahaannya.
Tapi segera ditepisnya perasaan itu. Tidak dapat dipungkiri,
Maureen adalah sosok yang sempurna dengan kejeniusannya dalam mengelola
perusahaan dan juga menyayanginya. Memang tidak ada seorang manusiapun yang
tidak mempunyai kelemahan. Saking sibuknya mengurus perusahaan, Rayen dan
Maureen kadang hanya bertemu saat malam hari. Itupun belum tentu lama. Kadang pulang
kantor, jam 9 malam baru sampai di rumah. Lalu jam 5 sudah bersiap lagi. Belum jika
keluar kota, belum jika keluar negeri. Itulah kehidupan manusia. Kadang yang
ndak punya pekerjaan pengin punya pekerjaan, yang sudah punya pekerjaan kadang bingung
terlalu sibuk membagi waktu.
.
.
Jangan lupa ikut vote untuk dukung cerita ini ya…
Terima kasih, ditunggu kelanjutan kisah Maureen dan Rayen
episode selanjutnya.
Selamat pagi, selamat beraktivitas, semoga sukses menyertai
__ADS_1
pembaca yang budiman.