
Suasana kantor STAR KSM yang berada di New York saat itu sedang
sepi. Para staf dan karyawan Cuma sebagian kecil yang hadir. Maklum pada hari
ini memang ada kebijakan khusus yang diberikan oleh STAR KSM untuk mengambil
libur jelang akhir pekan dan Valentine Day. Dan mereka sepakat mngambil itu
seminggu sebelum perayaan Valentine Day digelar.
Beberapa karyawan terlihat sibuk melaksanakan tugas mereka
masing masing. Tak terkecuali Yurhiko Asisten Manager STAR KSM. Setelah mempersiapkan
segala keperluan terkait keberangkatan Rayen kembali ke Jakarta, Yurhiko
langsung menemui Rayen yang sedang beristirahat di ruang vvip kantor Maureen di
STAR KSM.
“Selamat siang, Pak Rayen.”
“Iya, selamat siang Pak Yurhiko. Apakah sudah saatnya kita
berangkat?” Tanya Rayen.
“Betul Pak Rayen. 45 menit lagi pesawat Bapak sudah take off
dari bandara. Mari saya antar menuju bandara, mobil sudah siap didepan”.
“Terima kasih Pak Yurhiko, kalau begitu lebih baik kita
segera berangkat”.
“Baik Pak”.
Rayen mengikuti Yurhiko menuju kea rah mobil yang sudah
disiapkan staf karyawan untuk mengantar Rayen menuju ke bandara. Di dalam
mobil, Yurhiko sekilas menjelaskan tentang kemajuan yang dialami oleh STAR KSM.
Perusahaan yang dulu hampir gulung tikar sebelum ditangani Maureen itu, kini
sudah menjelma sebagai perusahaan bonafide yang keberadaannya sangat
diperhitungkan oleh kolega dan rival bisnis mereka. Bahkan saham STAR KSM sudah
mampu menyamai saham saham perusahaan yang bergerak dibidang yang sama yang
sudah terlebih dahulu ada disana. Sungguh satu kemajuan yang sangat luar biasa.
Bahkan setiap akhir semester, target perusahaan bukan hanya mampu terpenuhi,
tapi bahkan terlampaui.
Setengh jam berlalu mobil yang dikendarai Rayen dan Yurhiko
mulai memasuki pelataran bandara terbesar di New York, John F Kennedy Intl.
Airport. Mobil langsung menuju pintu masuk vvip untuk penumpang vvip.
“Maaf pak Rayen, saya hanya bisa mengantar sampai sini saja.
Selamat jalan, semoga perjalanan bapak lancar”
“Terima kasih Pak Yurhiko, tolong nanti kabari staf
perusahaan di Jakarta, bahwa saya sudah berangkat.”
__ADS_1
“Baik Pak, saya siap melaksanakan tugas, saya permisi
kembali kekantor”, pamit Yurhiko.
Rayen segera melangkah ke peron khusus vvip. Dan tak berapa
lama kemudian seorang pegawai bandara menjemput Rayen untuk menuju pesawat yang
akan dikendarainya. Tak berapa lama, Rayen sudah duduk di ruang vvip pesawat
yang akan membawanya menuju Jakarta.
Dan saat yang ditunggu sudah tiba. Saatnya pesawat yang
ditumpangi rayen take off dari bandara terbesar di New York, John F Kennedy
Intl. Airport menuju ke Jakarta.
Selamat jalan pak Rayen, semoga selamat sampai tujuan.
Sampai jumpa di Jakarta.
.
.
.
Sementara itu Maureen beberapa kali berkonsultasi dengan Dr.
Albert terkait kondisi kesehatan Pak Tito. Ada sesuatu yang serius yang dialami
oleh kesehatan Pak Tito.
“Bagaimana kondisi ayah Dok?” Tanya Maureen.
“Maaf Nyonya, kondisi Tuan Tito memang berangsur membaik. Tapi
ada yang harus kita perhatikan, mengingat usia Tuan Tito yang sudah beranjak
merasa perlu pengobatan lebih lanjut”
“Iya Dok, saya tahu. Terus bagaimana kelanjutannya?”
“Maaf Nyonya, saya akan berunding dulu dengan semua dokter
spesialis yang ada disini. Apakah Tuan Tito tetap dirawat disini ataukah perlu
penganganan ke rumah sakit yang lebih canggih, Singapura misalnya, atau ke
Amerika”, kata Dr. Albert.
“Baiklah Dok. Saya menyerahkan sepenuhnya keputusan terbaik.
Lagi pula, saat ini saya juga masih menunggu kepulangan suami saya dari New
York. Lakukan yang terbaik untuk ayah. Saya tidak ingin ayah kenapa kenapa Dok”.
“Saya akan berusaha semaksimal mungkin Nyonya. Mudah mudahan
Tuhan member jalan terbaik” kata Dr. Albert sambil mohon pamit untuk
menyelesaikan pekerjaan yang lain.
Tinggalah Maureen yang masih termenung sendiri memikirkan
kejadian akhir akhir ini yang memang sangat menguras tenaga dan pikiran. Maureen
berharap semuanya akan baik baik saja dan berakhir dengan bahagia.
.
.
__ADS_1
.
Kita lihat yang ada di kantor Putra Company pagi ini. Nampak
beberapa karyawan yang sedang bekerja. Namun kalau diperhatikan dengan seksama,
disela sela mereka bekerja, selalu saja nampak ada yang berbisik bisik.
Mereka belakangan ini memang sering ngegosip. Apalagi kalau
bukan tentang Vivi. Sekretaris Rayen yang sedang digunjingkan terkait dugaan
perselingkuhannya dengan Rayen.
Ada yang setuju, ada yang mendukung, ada yang nyinyir
menyalahkan Vivi.
“ADUH, ENAK YA JADI BU VIVI, BISA DEKAT DENGAN PAK RAYEN
YANG PUNYA PERUSAHAAN INI?”
“KASIHAN YA PAK RAYEN, MUNGKIN KARENA KESIBUKAN BU MAUREEN
KALI YA, SAMPAI SAMPAI PAK RAYEN MENARUH HATI SAMA VIVI. TAPI KOK BISA YA? BU
MAUREEN PUNYA SEGALANYA, APA YANG DIPUNYAI VIVI?”
“AH, VIVI ITU TIDAK TAHU DIUNTUNG YA? BUKANKAH YANG MENGANGKAT
JADI SEKRETARIS DULU ITU IBU MAUREEN, SEKARANG GILIRAN SUDAH SUKSES MALAH
NIKUNG, AH WANITA MACAM APA ITU?”
“KOK BISA YA PAK RAYEN JATUH CINTA SAMA VIVI, APA KARENA
DIRUMAH KURANG KASIH SAYANG DARI ISTRINYA YA?”
“KALO AKU JADI ISTRINYA PAK RAYEN, VIVI ITU SUDAH KUPECAT.
BUAT APA COBA, JIKA DIPELIHARA BISA JADI BENALU YANG AKAN MENGHANCURKAN RUMAH
TANGGA”
Gunjingan demi gunjingan itu kian hari memang kian santer. Apalagi
sejak Rayen mempercayakan urusan perusahaan pada Silvi dan Vivi. Mereka tidak
tahu masalah yang sebenarnya. Yang dia tahu, hari ini Pak Rayen tidak ada di
kantor dan meyerahkan urusan kantor pada Vivi.
Vivi yang mendengar beberapa pergunjingan itu tidak ambil
peduli. Dia tidak ingin memperkeruh suasana. Dalam hatinya dia hanya ingin
bekerja sebaik baiknya pada Putra Company dan menjalankan tugas yang dibebankan
oleh Pak Rayen selama kepergian Pak Rayen ke New York.
Hari itu Silvi dan Vivi bekerja sebagaimana mestinya, tanpa
menghiraukan gunjingan dari para karyawan yang lain yang sebagian ada yang
sampai ke telinganya.
Tugas demi tugas dikerjakan sebaik baiknya, dia tidak ingin
mengecewakan Pak Rayen.
.
.
__ADS_1
.