Dari Cupu Jadi Ratu

Dari Cupu Jadi Ratu
Musim Ke Empat Bag 1


__ADS_3

 


 


Waktu berjalan demikian cepat. Tidak terasa, Tuan Besar Tito


sudah menjalani kemotherapy sebanyak dua kali. Dan dokter menyatakan bahwa


penyakit kanker yang diderita Tuan Tito sudah sembuh. Ya, mudah mudahan apa


yang dikatakan dokter benar. Karena sel kanker adalah sel ganas yang walaupun


dalam kondisi mati, sewaktu waktu masih bisa hidupo dan berkembang sangat cepat


jika ada sedikit pemicu.


Tuan Besar Tito sudah sudah beraktivitas seperti biasa. Maklum,


prinsip seorang bisnisman, waktu adalah uang. Apakah readers setuju dengan


prinsip Tuan Tito ini? Bagi author, prinsip itu ada benarnya. Karena waktu


adalah sangat penting dan berharga. Waktu itu digambarkan dengan sebuah jam dengan


satuan terkecil detik. Jarum jam akan selalu bergerak kekanan. Sekali bergerak,


tidak akan pernah ada kata mundur atau berhenti. Jika mundur berarti jamnya


rusak. Jika berhenti maka dikatakan jam nya mati. Demikian juga waktu, jika


berharap kemarin bisa terulang pada hari ini, itu mustahil. Peristiwanya bisa


saja terulang mirip. Tapi waktunya akan selalu berbeda. Tapi apakah uang beli


membeli waktu? Waktu adalah uang, tapi sebanyak apapun uang kita tidak akan


bisa membeli waktu, karena dalam hidup yang tidak bisa dibeli adalah waktu dan


kebahagiaan.


Pagi ini cuaca Jakarta diguyur hujan yang cukup deras,


beberapa sudut kota nampak banyak genangan air yang memaksa pengendara mobil,


motor dan pejalan kaki melambatkan perjalanannya, demikian juga halnya dengan


Rayen dan Maureen. Hari ini mereka berencana untuk menjenguk Chika yang menurut


kabar yang Maureen dengar, Chika sudah melahirkan. Tentu akan sangat


membahagiakan, melihat si kecil yang baru berumur beberapa hari, Maureen seakan


tidak sabar ingin segera tiba di rumah Chika.


Lagi lagi genangan air di jalan. Jika saja Maureen bisa


terbang, tentu dia ingin secepatnya terbang dan menuju rumah Chika.


“Ray, apakah tidak ada alternative lain untuk dilewati, di depan


kelihatannya terhalang banjir lagi?”Tanya Maureen.


“Sabar bunda, cuaca saat ini memang sedang tidak bersahabat.


Kelihatannya banjir didepan itu tidak terlalu dalam, masih banyak mobil yang


bisa melewati genangan air itu. Jadi bunda sabar dulu ya, jangan terlalu banyak


cemas. Nanti adik kecil di perut bunda ikut cemas juga” kata Rayen


Memang benar apa yang dikatakan Rayen. Beberapa mobil


terlihat melintas di jalanan yang dipenuhi air itu. Walaupun beberapa diantara


sepeda motor itu terpaksa harus didorong. Hujan yang mengguyur Jakarta beberapa


hari terakhir memang intensitasnya cukup tinggi. Hampir sama dengan beberapa


bulan yang lalu. Namun bedanya kalau yang beberapa bulan kemarin tidak


berlangsung lama, tapi kalau beberapa hari ini berlangsung cukup lama.


Setelah melewati perjalanan yang agak lama dan melelahkan,


akhirnya mereka sampai di rumah Chika. Nampak suasana yang cukup ramai. Beberapa


saudara dan juga orang tua Rakha dan Chika nampak berkumpul disana. Semua mengulaskan


senyum kebahagiaan.


“Hallo selamat siang, sang princesku datang. Wah sudah besar

__ADS_1


nih adik yang ada di perut kamu Ren?”sapa Chika yang keluar dari dalam rumah


setelah melihat kedatangan Maureen dan Rayen.


“Hai, selamat ya Chika. Wah benar benar lengkap kebahagiaan


kalian. Udah punya momongan sekarang” kata Maureen sambil langsung menyambut


dengan ciuman cipika cipiki ala mereka berdua.


Sementara Rayen yang melihat mereka berdua bertingkah ala


ala abg tersenyum sendiri. Ah, perempuan kalau udah ketemu, dimana mana


bawaanya heboh melulu. Ya pasti donk. Dunia akan sepi jika tanpa kehadiran


seorang wanita. Makanya hawa diciptakan untuk adam, gitu ceritanya barangkali. Hihihi….


Ngarang aja nih ceritanya.


“Yuk masuk…. Kita ke kamar saja. Aku sambil jagain bayiku


soalnya. Maklum nih keluarga jauh pada dateng. Jadi ibu sama bapak lagi sibuk


menyambut mereka. Jadi aku harus jagain si kecilku sendiri” kata Chika.


“Ok, aku udah nggak sabar nih, pengin tahu anak kamu. Kira kira


wajahnya mirip siapa ya?” kata Maureen.


“Ah, yang pasti bukan mirip kamu lah Reen. Hahaha…. “ kata


Chika sambil ketawa.


“Belum tentu donk. Kan kamu dari dulu paling ngefans sama


aku Chik. Jadi kalo anak kamu milik idola ibuknya siapa tahu? Hihihi… “ tawa


mereka pun lepas. Ya dua sahabat ini memang sedari kecilsudah selalu berama. Dan


bahkan disaat berumah tangga pun kebetulan dia mendapat jodoh orang yang dekat


dengan suaminya.


Sambil melangkah menuju kamar Chika, Maureen dan Chika tak


henti hentinya saling bercanda. Mereka yang saat ini jarang bertemu karena


tangga, sedangkan Maureen harus menjalankan perusahaan dengan suaminya.


.


“Wah, anakmu cowok ya Chik,ganteng sekali. Tampan seperti


bapaknya.” Kata Maureen.


Maureen dan Rayen megamati bayi yang masih merah yang berada


di tempat tidur bayi di kamar Chika. Mereka kagum melihat anak Chika. Sungguh tampan,


mereka berharap anaknya kelak juga akan setampan anak Chika.


“Iya nih Reen. Aku bersyukur dikaruniai anak yang tampan. Mudah


mudahan nanti jadi anak yang saleh dan bisa membanggakan orang tua” kata Chika.


“Pasti Chik. Kami turut berdoa. Kamu temanku yang paling


baik. O, iya, Rakha kemana nih kok belum kelihatan?”Tanya Rayen


“O, mas Rakha masih belanja untuk keperluan si kecil. Soalnya


besok mas Rakha juga sudah harus mulai kerja. Ijinnya Cuma 3 hari dan itu sudah


kepake saat masa persalinan kemarin di rumah sakit” kata Chika.


“o, gimana nih rasanya melahirkan Chik. Aku penasaran banget


deh? Apa sangat sakit ya Chik?” Tanya Maureen.


“Wah, takut ya? Hahaha…. Nggak kok Reen. Namanya melahirkan


itu sudah kodrat wanita. Jadi tak ada istilah sakit. Rasa sakit yang timbul


sebentar dan kita rasakan saat melahirkan itu akan hilang dan tak sebanding


ketika kita sudah menyaksikan si kecil lahir ke dunia. Jadi Maureen ku, princes


ku tidak usah kawatir” kata Chika.


Itulah sifat Chika. Dia paling tahu bagaimana memahami orang

__ADS_1


lain. Chika tahu jika Maureen sebenarnya takut dan kawatir dengan kehamilannya


dan persalinannya. Chika faham itu dari raut muka Maureen. Itulah kenapa Chika


sengaja tidak mengatakan dengan detail bagaimana rasanya orang yang sedang


melahirkan.


.


Saat mereka sedang asyik ngobrol kesana kemari, muncullah


Rakha sambil membawa bungkusan yang besar. Maureen dan Rayen sudah bisa


menebak, itu pasti peralatan untuk si kecil. Wah, Rayen harus mulai belajar


nih, tinggal dua bulan lagi, Rayen sudah harus bisa menjadi seorang ayah.


“Hai, sudah lama kalian? Maaf ya, aku tinggal mencari  perlengkapan buat anakku tadi” kata Rakha sambil


bersalaman dengan Rayen dan Maureen. Setelah itu dia menghampiri istrinya,


dikecupnya mesra dahi istrinya dengan penuh kasih sayang. Setelah itu dia duduk


di samping istrinya,


“Ya, udah agak lama  sih. Ini nanti sebentar lagi harus pamit pulang Rakha. Mumpung sudah


reda hujannya. Takut kalau nanti hujan turun lagi, banjir lagi malah tidak bisa


pulang. Hahaha…..” kata Rayen


“Tidak bisa pulang yan menginap disini saja, tapi maaf


tempatnya seadanya. Itu keluarga dari jauh Cuma gelar tikar di ruang tamu. Maklum


rumahnya sempit” kata Rakha.


“Wah, rumah sempit gini malah suka aku Kha. Enak buat


nyantai” kata Maureen.


“Iya sih. Tapi kalau Nyonya Presdir sama Tuan Presdir ya


tidak disini tempatnya. Hahaha…..” Chika meledek mereka berdua.


Mereka pun terlibat obrolan seru. Seputar anak pertamanya


Chika tentunya. Ah, kenapa Chika tidak minta dicarikan baby sister saja ya. Kan


nanti ada yang mengurus bayinya. Pertanyaan it uterus membayangi pikran Maureen.


Ah Tanya aja ya kali. Kan bisa buat pengalaman besok saat Maureen melahirkan.


“Reen, sebenarnya mas Rakha sudah menawarkan itu kemarin,


saat belum lahiran. Tapi aku bilang, kita lihat saja nanti mas, sebenarnya aku


ingin merawat anakku dengan tanganku sendiri. Jadi biar merasakan tanggungjawab


seorang ibu sepenuhnya. Toh aku kan tidak bekerja. Nanti jika sekiranya repot


sekali baru kita cari. Dan mas Rakha setuju usulku itu. Jadi nanti kita mencari


satuorang untuk membantu mencuci dan memasak saja”kata Chika.


Aduh Chika, pengalaman kamu luar biasa. Tiap kali Maureen ketemu


kamu, selalu saja ada banyak pengalaman baru yang sangat berharga yang mampu


memberikan wawasan dan pengetahuan bagi Maureen.


Mereka terus ngobrol dengan topic yang beraneka ragam. Tapi Rakha


dan Chika sengaja tidak menyinggung soal perusahaan. Karena mereka tahu, di


perusahaan Maureen sedang menghadapi masalah. Untunglah perusahaan Rayen sudah


berkembang pesat dan mampu menopang kerugian KSM Group. Jika tidak, entah apa


yang akan terjadi pada perusahaan milik keluarga besar Maureen ini.


Menjelang sore mereka pamit pulang. Sepanjang perjalanan, Maureen


tidak henti hentinya menceritakan anak pertama Chika. Ah, pasti anak mereka


nanti akan seumuran.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2