
Waktu berjalan demikian cepat. Tidak terasa, Tuan Besar Tito
sudah menjalani kemotherapy sebanyak dua kali. Dan dokter menyatakan bahwa
penyakit kanker yang diderita Tuan Tito sudah sembuh. Ya, mudah mudahan apa
yang dikatakan dokter benar. Karena sel kanker adalah sel ganas yang walaupun
dalam kondisi mati, sewaktu waktu masih bisa hidupo dan berkembang sangat cepat
jika ada sedikit pemicu.
Tuan Besar Tito sudah sudah beraktivitas seperti biasa. Maklum,
prinsip seorang bisnisman, waktu adalah uang. Apakah readers setuju dengan
prinsip Tuan Tito ini? Bagi author, prinsip itu ada benarnya. Karena waktu
adalah sangat penting dan berharga. Waktu itu digambarkan dengan sebuah jam dengan
satuan terkecil detik. Jarum jam akan selalu bergerak kekanan. Sekali bergerak,
tidak akan pernah ada kata mundur atau berhenti. Jika mundur berarti jamnya
rusak. Jika berhenti maka dikatakan jam nya mati. Demikian juga waktu, jika
berharap kemarin bisa terulang pada hari ini, itu mustahil. Peristiwanya bisa
saja terulang mirip. Tapi waktunya akan selalu berbeda. Tapi apakah uang beli
membeli waktu? Waktu adalah uang, tapi sebanyak apapun uang kita tidak akan
bisa membeli waktu, karena dalam hidup yang tidak bisa dibeli adalah waktu dan
kebahagiaan.
Pagi ini cuaca Jakarta diguyur hujan yang cukup deras,
beberapa sudut kota nampak banyak genangan air yang memaksa pengendara mobil,
motor dan pejalan kaki melambatkan perjalanannya, demikian juga halnya dengan
Rayen dan Maureen. Hari ini mereka berencana untuk menjenguk Chika yang menurut
kabar yang Maureen dengar, Chika sudah melahirkan. Tentu akan sangat
membahagiakan, melihat si kecil yang baru berumur beberapa hari, Maureen seakan
tidak sabar ingin segera tiba di rumah Chika.
Lagi lagi genangan air di jalan. Jika saja Maureen bisa
terbang, tentu dia ingin secepatnya terbang dan menuju rumah Chika.
“Ray, apakah tidak ada alternative lain untuk dilewati, di depan
kelihatannya terhalang banjir lagi?”Tanya Maureen.
“Sabar bunda, cuaca saat ini memang sedang tidak bersahabat.
Kelihatannya banjir didepan itu tidak terlalu dalam, masih banyak mobil yang
bisa melewati genangan air itu. Jadi bunda sabar dulu ya, jangan terlalu banyak
cemas. Nanti adik kecil di perut bunda ikut cemas juga” kata Rayen
Memang benar apa yang dikatakan Rayen. Beberapa mobil
terlihat melintas di jalanan yang dipenuhi air itu. Walaupun beberapa diantara
sepeda motor itu terpaksa harus didorong. Hujan yang mengguyur Jakarta beberapa
hari terakhir memang intensitasnya cukup tinggi. Hampir sama dengan beberapa
bulan yang lalu. Namun bedanya kalau yang beberapa bulan kemarin tidak
berlangsung lama, tapi kalau beberapa hari ini berlangsung cukup lama.
Setelah melewati perjalanan yang agak lama dan melelahkan,
akhirnya mereka sampai di rumah Chika. Nampak suasana yang cukup ramai. Beberapa
saudara dan juga orang tua Rakha dan Chika nampak berkumpul disana. Semua mengulaskan
senyum kebahagiaan.
“Hallo selamat siang, sang princesku datang. Wah sudah besar
__ADS_1
nih adik yang ada di perut kamu Ren?”sapa Chika yang keluar dari dalam rumah
setelah melihat kedatangan Maureen dan Rayen.
“Hai, selamat ya Chika. Wah benar benar lengkap kebahagiaan
kalian. Udah punya momongan sekarang” kata Maureen sambil langsung menyambut
dengan ciuman cipika cipiki ala mereka berdua.
Sementara Rayen yang melihat mereka berdua bertingkah ala
ala abg tersenyum sendiri. Ah, perempuan kalau udah ketemu, dimana mana
bawaanya heboh melulu. Ya pasti donk. Dunia akan sepi jika tanpa kehadiran
seorang wanita. Makanya hawa diciptakan untuk adam, gitu ceritanya barangkali. Hihihi….
Ngarang aja nih ceritanya.
“Yuk masuk…. Kita ke kamar saja. Aku sambil jagain bayiku
soalnya. Maklum nih keluarga jauh pada dateng. Jadi ibu sama bapak lagi sibuk
menyambut mereka. Jadi aku harus jagain si kecilku sendiri” kata Chika.
“Ok, aku udah nggak sabar nih, pengin tahu anak kamu. Kira kira
wajahnya mirip siapa ya?” kata Maureen.
“Ah, yang pasti bukan mirip kamu lah Reen. Hahaha…. “ kata
Chika sambil ketawa.
“Belum tentu donk. Kan kamu dari dulu paling ngefans sama
aku Chik. Jadi kalo anak kamu milik idola ibuknya siapa tahu? Hihihi… “ tawa
mereka pun lepas. Ya dua sahabat ini memang sedari kecilsudah selalu berama. Dan
bahkan disaat berumah tangga pun kebetulan dia mendapat jodoh orang yang dekat
dengan suaminya.
Sambil melangkah menuju kamar Chika, Maureen dan Chika tak
henti hentinya saling bercanda. Mereka yang saat ini jarang bertemu karena
tangga, sedangkan Maureen harus menjalankan perusahaan dengan suaminya.
.
“Wah, anakmu cowok ya Chik,ganteng sekali. Tampan seperti
bapaknya.” Kata Maureen.
Maureen dan Rayen megamati bayi yang masih merah yang berada
di tempat tidur bayi di kamar Chika. Mereka kagum melihat anak Chika. Sungguh tampan,
mereka berharap anaknya kelak juga akan setampan anak Chika.
“Iya nih Reen. Aku bersyukur dikaruniai anak yang tampan. Mudah
mudahan nanti jadi anak yang saleh dan bisa membanggakan orang tua” kata Chika.
“Pasti Chik. Kami turut berdoa. Kamu temanku yang paling
baik. O, iya, Rakha kemana nih kok belum kelihatan?”Tanya Rayen
“O, mas Rakha masih belanja untuk keperluan si kecil. Soalnya
besok mas Rakha juga sudah harus mulai kerja. Ijinnya Cuma 3 hari dan itu sudah
kepake saat masa persalinan kemarin di rumah sakit” kata Chika.
“o, gimana nih rasanya melahirkan Chik. Aku penasaran banget
deh? Apa sangat sakit ya Chik?” Tanya Maureen.
“Wah, takut ya? Hahaha…. Nggak kok Reen. Namanya melahirkan
itu sudah kodrat wanita. Jadi tak ada istilah sakit. Rasa sakit yang timbul
sebentar dan kita rasakan saat melahirkan itu akan hilang dan tak sebanding
ketika kita sudah menyaksikan si kecil lahir ke dunia. Jadi Maureen ku, princes
ku tidak usah kawatir” kata Chika.
Itulah sifat Chika. Dia paling tahu bagaimana memahami orang
__ADS_1
lain. Chika tahu jika Maureen sebenarnya takut dan kawatir dengan kehamilannya
dan persalinannya. Chika faham itu dari raut muka Maureen. Itulah kenapa Chika
sengaja tidak mengatakan dengan detail bagaimana rasanya orang yang sedang
melahirkan.
.
Saat mereka sedang asyik ngobrol kesana kemari, muncullah
Rakha sambil membawa bungkusan yang besar. Maureen dan Rayen sudah bisa
menebak, itu pasti peralatan untuk si kecil. Wah, Rayen harus mulai belajar
nih, tinggal dua bulan lagi, Rayen sudah harus bisa menjadi seorang ayah.
“Hai, sudah lama kalian? Maaf ya, aku tinggal mencari perlengkapan buat anakku tadi” kata Rakha sambil
bersalaman dengan Rayen dan Maureen. Setelah itu dia menghampiri istrinya,
dikecupnya mesra dahi istrinya dengan penuh kasih sayang. Setelah itu dia duduk
di samping istrinya,
“Ya, udah agak lama sih. Ini nanti sebentar lagi harus pamit pulang Rakha. Mumpung sudah
reda hujannya. Takut kalau nanti hujan turun lagi, banjir lagi malah tidak bisa
pulang. Hahaha…..” kata Rayen
“Tidak bisa pulang yan menginap disini saja, tapi maaf
tempatnya seadanya. Itu keluarga dari jauh Cuma gelar tikar di ruang tamu. Maklum
rumahnya sempit” kata Rakha.
“Wah, rumah sempit gini malah suka aku Kha. Enak buat
nyantai” kata Maureen.
“Iya sih. Tapi kalau Nyonya Presdir sama Tuan Presdir ya
tidak disini tempatnya. Hahaha…..” Chika meledek mereka berdua.
Mereka pun terlibat obrolan seru. Seputar anak pertamanya
Chika tentunya. Ah, kenapa Chika tidak minta dicarikan baby sister saja ya. Kan
nanti ada yang mengurus bayinya. Pertanyaan it uterus membayangi pikran Maureen.
Ah Tanya aja ya kali. Kan bisa buat pengalaman besok saat Maureen melahirkan.
“Reen, sebenarnya mas Rakha sudah menawarkan itu kemarin,
saat belum lahiran. Tapi aku bilang, kita lihat saja nanti mas, sebenarnya aku
ingin merawat anakku dengan tanganku sendiri. Jadi biar merasakan tanggungjawab
seorang ibu sepenuhnya. Toh aku kan tidak bekerja. Nanti jika sekiranya repot
sekali baru kita cari. Dan mas Rakha setuju usulku itu. Jadi nanti kita mencari
satuorang untuk membantu mencuci dan memasak saja”kata Chika.
Aduh Chika, pengalaman kamu luar biasa. Tiap kali Maureen ketemu
kamu, selalu saja ada banyak pengalaman baru yang sangat berharga yang mampu
memberikan wawasan dan pengetahuan bagi Maureen.
Mereka terus ngobrol dengan topic yang beraneka ragam. Tapi Rakha
dan Chika sengaja tidak menyinggung soal perusahaan. Karena mereka tahu, di
perusahaan Maureen sedang menghadapi masalah. Untunglah perusahaan Rayen sudah
berkembang pesat dan mampu menopang kerugian KSM Group. Jika tidak, entah apa
yang akan terjadi pada perusahaan milik keluarga besar Maureen ini.
Menjelang sore mereka pamit pulang. Sepanjang perjalanan, Maureen
tidak henti hentinya menceritakan anak pertama Chika. Ah, pasti anak mereka
nanti akan seumuran.
.
.
__ADS_1
.