
Waktu berjalan cukup lambat, itulah yang dirasakan Maureen saat
ini. Dia berharap pagi segera datang, tak sabar rasanya dia ingin mendengar
tangisan sang buah hati yang saat ini dalam rahimnya. Dan meskipun perasaan Maureen
masih cukup berat untuk melahirkan dengan cara Caesar, namun jika ini adalah
pilihan terbaik, maka Maureen akan terima dengan keiklhasan hati.
Sepanjang malam itu, perasaan Maureen sangat gelisah. Dalam hati
kecilnya, dia sangat mengharap keajaiban datang untuknya. Dalam batinnya dia
berdoa, semoga bayinya dapat berubah posisi, dan bisa lahir dengan kelahiran
normal.
Maureen terus berdoa, dan berdoa. Ia ingin hari esok menjadi
hari yang membanggakan bagi dirinya dan keluarganya. Tak sabar Maureen ingin
segera melihat mentari menyembul di ufuk timur esok hari nanti.
Maureen terus berdoa, sampai tidak terasa matanya terpejam, Maureen
terlelap dalam tidurnya, terlelap dalam mimpinya. Mimpi mimpi indah seorang ibu
yang ingin segera menimang buah hatinya.
.
.
Pagi itu, suasana di tempat Maureen dirawat sangat sejuk. Sang
surya yang malu malu kucing semburat menerobos jendela kamar ruang pasien ibu
hamil. Cahayanya yang temaram membuat semua mata ingin melihat keindahan yang
ada.
Maureen bangkit dari pembaringan. Dia duduk diatas dipan
tempat dia tidur. Selang infuse masih menggantung di sebelah kanannya. Di dekatnya
nampak Ibu Kimnana sedang membereskan beberapa potong pakaian Maureen dan
perlengkapan sehari harinya. Ibu Kimnana sudah menganggap Maureen seperti anak
kandungnya sendiri. Demikian juga Maureen, dia juga sudah menganggap Ibu
Kimnana sebagai ibu kandungnya sendiri. Bahkan, walaupun mereka jarang bersama
karena banyaknya pekerjaan, namun kedekatan mereka sangat terasa. Terlebih Maureen
__ADS_1
sudah sejak kecil ditinggal oleh sosok seorang ibu. Dan kini dia juga
ditinggalkan oleh sosok ayah yang menjadi pelindung dirinya. Maka kedekatan
mereka terasa makin tidak bisa dipisahkan.
Beberapa saat kemudian, nampak seorang perawat datang
menemui Maureen, sambil membawa sebuah buku catatan pasien
“Selamat pagi Nyonya Maureen?” sapa suster itu dengan santun
“Selamat pagi, suster” kata Maureen sambil tersenyum
“Maaf Nyonya Maureen, pagi ini jadwalnya adalah tes posisi
janin terakhir sebelum dilakukan operasi nanti siang. Ini dilakukan untuk
memastikan operasinya berjalan lancar” kata perawat itu
“Apakah masih ada kemungkinan saya melahirkan secara normal
suster?” Tanya Maureen.
“Semua bisa saja terjadi Nyonya Maureen. Karena kondisi
Nyonya sekarang keadaannya adalah bayi sudah siap dilahirkan. Ini berbeda
dengan janin yang mengalami masalah dalam kandungan, yang pasti harus
dioperasi. Tapi jika dalam USG nanti ternyata bayi sudah dalam posisi yang
Nyonya Maureen banyak berdoa saja. Banyak kok kasus seperti Nyonya yang pada
akhirnya juga tidak perlu operasi karena bayinya sudah dalam posisi normal”
kata suster itu memberi penjelasan pada Maureen.
“Baiklah suster. Semoga keajaiban Tuhan terjadi. Saya sudah
siap, apapun yang terjadi suster. Kalau misalkan harus dengan operasi Caesar saya
pun sudah siap, seandainya bisa lahir secara normal, tentu itu yang selalu
diharapkan oleh setiap wanita” kata Maureen
“Tentu Nyonya, itulah sebenarnya letak kebesaran hati
seorang ibu, yang tak kan bisa digantikan oleh seorang anak, walaupun sang anak
merawat orang tuanya sampai akhir hayatnya. Ibarat kata pepatah kasih ibu
sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah. Kita tidak akan mampu membalas
kasih sayang dan perjuangan seorang ibu sekalipun sekuat tenaga kita” kata
suster muda yang ternyata juga sangat tinggi pengetahuannya ini
Maureen sangat bersyukur, karena dia banyak dipertemukan
__ADS_1
dengan orang orang yang banyak memberikan tambahan pengalaman yang sangat
berharga, hingga dia dapat berbesar hati dengan apa yang terjadi pada dirinya.
Dalam hati dia terus berdoa, semoga keajaiban datang di saat
yang krusial seperti ini.
.
Perawat itupun kembali melanjutkan tugasnya menuju pasien
yang lain. Sementara itu, Ibu Kimnana yang tadi diam saja mendengarkan
pembicaraan Maureen dan seorang perawat tadi, perlahan mendekati Maureen.
“Apakah perlu memanggil Rayen untuk kesini anakku? Tadi malam
Rayen pamit akan menengok rumah sebentar katanya” kata Ibu Kimnana membuka
percakapan
“Tidak usah Bu, nanti saja kalau sudah selesai di USG, Maureen
masih berharap ada keajaiban dalam hidup Maureen, sehingga anak ini berubah
posisi dan bisa lahir normal” kata Maureen.
“Benar anakku. Banyak sekali yang mengalami seperti itu,
mudh mudahan kamu juga salah satu yang akan menerima mukjizat itu. Kita tunggu
saja nanti ya?” kata Ibu Kimnana
”Iya Bu” kata Maureen sambil berbenah untuk segera menanti
suster yang akan membawanya ke ruang USG.
Ibu Kimnana pun juga sangat mengharap, agar menantunya dapat
segera melahirkan. Apalagi saat ini pemberitaan di televise cukup santer,
tentang wabah korona yang disinyalir sudah masuk ke Indonesia. Dia tidak ingin
berlama lama di rumah sakit.
Setengah jam kemudian, dua orang perawat datang sambil
membawa kursi roda. Kemudian Maureen duduk diatasnya dan sebentar kemudian
sudah dibawa menuju ke ruang USG. Ibu Kimnana berjalan di belakangnya sambil
terus berdoa dan berharap keajaiban datang pada diri menantunya…..
.
.
Bersambung……
__ADS_1