Dari Cupu Jadi Ratu

Dari Cupu Jadi Ratu
Episode Ke Empat Bag 23


__ADS_3

 


 


Waktu berjalan cukup lambat, itulah yang dirasakan Maureen saat


ini. Dia berharap pagi segera datang, tak sabar rasanya dia ingin mendengar


tangisan sang buah hati yang saat ini dalam rahimnya. Dan meskipun perasaan Maureen


masih cukup berat untuk melahirkan dengan cara Caesar, namun jika ini adalah


pilihan terbaik, maka Maureen akan terima dengan keiklhasan hati.


Sepanjang malam itu, perasaan Maureen sangat gelisah. Dalam hati


kecilnya, dia sangat mengharap keajaiban datang untuknya. Dalam batinnya dia


berdoa, semoga bayinya dapat berubah posisi, dan bisa lahir dengan kelahiran


normal.


Maureen terus berdoa, dan berdoa. Ia ingin hari esok menjadi


hari yang membanggakan bagi dirinya dan keluarganya. Tak sabar Maureen ingin


segera melihat mentari menyembul di ufuk timur esok hari nanti.


Maureen terus berdoa, sampai tidak terasa matanya terpejam, Maureen


terlelap dalam tidurnya, terlelap dalam mimpinya. Mimpi mimpi indah seorang ibu


yang ingin segera menimang buah hatinya.


.


.


Pagi itu, suasana di tempat Maureen dirawat sangat sejuk. Sang


surya yang malu malu kucing semburat menerobos jendela kamar ruang pasien ibu


hamil. Cahayanya yang temaram membuat semua mata ingin melihat keindahan yang


ada.


Maureen bangkit dari pembaringan. Dia duduk diatas dipan


tempat dia tidur. Selang infuse masih menggantung di sebelah kanannya. Di dekatnya


nampak Ibu Kimnana sedang membereskan beberapa potong pakaian Maureen dan


perlengkapan sehari harinya. Ibu Kimnana sudah menganggap Maureen seperti anak


kandungnya sendiri. Demikian juga Maureen, dia juga sudah menganggap Ibu


Kimnana sebagai ibu kandungnya sendiri. Bahkan, walaupun mereka jarang bersama


karena banyaknya pekerjaan, namun kedekatan mereka sangat terasa. Terlebih Maureen

__ADS_1


sudah sejak kecil ditinggal oleh sosok seorang ibu. Dan kini dia juga


ditinggalkan oleh sosok ayah yang menjadi pelindung dirinya. Maka kedekatan


mereka terasa makin tidak bisa dipisahkan.


Beberapa saat kemudian, nampak seorang perawat datang


menemui Maureen, sambil membawa sebuah buku catatan pasien


“Selamat pagi Nyonya Maureen?” sapa suster itu dengan santun


“Selamat pagi, suster” kata Maureen sambil tersenyum


“Maaf Nyonya Maureen, pagi ini jadwalnya adalah tes posisi


janin terakhir sebelum dilakukan operasi nanti siang. Ini dilakukan untuk


memastikan operasinya berjalan lancar” kata perawat itu


“Apakah masih ada kemungkinan saya melahirkan secara normal


suster?” Tanya Maureen.


“Semua bisa saja terjadi Nyonya Maureen. Karena kondisi


Nyonya sekarang keadaannya adalah bayi sudah siap dilahirkan. Ini berbeda


dengan janin yang mengalami masalah dalam kandungan, yang pasti harus


dioperasi. Tapi jika dalam USG nanti ternyata bayi sudah dalam posisi yang


Nyonya Maureen banyak berdoa saja. Banyak kok kasus seperti Nyonya yang pada


akhirnya juga tidak perlu operasi karena bayinya sudah dalam posisi normal”


kata suster itu memberi penjelasan pada Maureen.


“Baiklah suster. Semoga keajaiban Tuhan terjadi. Saya sudah


siap, apapun yang terjadi suster. Kalau misalkan harus dengan operasi Caesar saya


pun sudah siap, seandainya bisa lahir secara normal, tentu itu yang selalu


diharapkan oleh setiap wanita” kata Maureen


“Tentu Nyonya, itulah sebenarnya letak kebesaran hati


seorang ibu, yang tak kan bisa digantikan oleh seorang anak, walaupun sang anak


merawat orang tuanya sampai akhir hayatnya. Ibarat kata pepatah kasih ibu


sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah. Kita tidak akan mampu membalas


kasih sayang dan perjuangan seorang ibu sekalipun sekuat tenaga kita” kata


suster muda yang ternyata juga sangat tinggi pengetahuannya ini


Maureen sangat bersyukur, karena dia banyak dipertemukan

__ADS_1


dengan orang orang yang banyak memberikan tambahan pengalaman yang sangat


berharga, hingga dia dapat berbesar hati dengan apa yang terjadi pada dirinya.


Dalam hati dia terus berdoa, semoga keajaiban datang di saat


yang krusial seperti ini.


.


Perawat itupun kembali melanjutkan tugasnya menuju pasien


yang lain. Sementara itu, Ibu Kimnana yang tadi diam saja mendengarkan


pembicaraan Maureen dan seorang perawat tadi, perlahan mendekati Maureen.


“Apakah perlu memanggil Rayen untuk kesini anakku? Tadi malam


Rayen pamit akan menengok rumah sebentar katanya” kata Ibu Kimnana membuka


percakapan


“Tidak usah Bu, nanti saja kalau sudah selesai di USG, Maureen


masih berharap ada keajaiban dalam hidup Maureen, sehingga anak ini berubah


posisi dan bisa lahir normal” kata Maureen.


“Benar anakku. Banyak sekali yang mengalami seperti itu,


mudh mudahan kamu juga salah satu yang akan menerima mukjizat itu. Kita tunggu


saja nanti ya?” kata Ibu Kimnana


”Iya Bu” kata Maureen sambil berbenah untuk segera menanti


suster yang akan membawanya ke ruang USG.


Ibu Kimnana pun juga sangat mengharap, agar menantunya dapat


segera melahirkan. Apalagi saat ini pemberitaan di televise cukup santer,


tentang wabah korona yang disinyalir sudah masuk ke Indonesia. Dia tidak ingin


berlama lama di rumah sakit.


Setengah jam kemudian, dua orang perawat datang sambil


membawa kursi roda. Kemudian Maureen duduk diatasnya dan sebentar kemudian


sudah dibawa menuju ke ruang USG. Ibu Kimnana berjalan di belakangnya sambil


terus berdoa dan berharap keajaiban datang pada diri menantunya…..


.


.


Bersambung……

__ADS_1


__ADS_2