Dari Cupu Jadi Ratu

Dari Cupu Jadi Ratu
Episode 250 Teror Pria Misterius


__ADS_3

Senja merayap menutupi mayapada. Cahaya mentari perlahan menghilang dibalik cakrawala. Berganti malam pekat yang dihiasi lampu lampu temaram di sepanjang pantai ini.


Merekapun akhirnya berpisah. Setelah mengucapkan terima kasih kepada Rayen dan Maureen, Rakha dan Chika segera bergegas menuju mobilnya yang diparkir tidak jauh dari tempat itu dan bergegas pulang.


Demikian juga dengan Rayen dan keluarga. Merekapun segera menuju ke mobil mereka dan bergegas untuk pulang.


Dalam perjalanan pulang mereka saling bersenda gurau. Rayen pun sejenak berusaha menghilangkan perasaan yang masih diliputi penasaran karena beberapa peristiwa yang terjadi di sepanjang hari ini.


Dia berusaha focus untuk mengendarai mobilnya, berjalan menuju ke rumahnya. Suasana jalanan yang sedikit lengang membuat  perjalanan Rayen dan Maureen menjadi sedikit lebih cepat.


Setelah mengendarai mobil kurang lebih sekitar dua jam, akhirnya mereka sampai di rumah dengan lancer. Meskipun dalam hati Rayen sempat was was jika saja kejadian tadi terulang kembali, namun nampaknya kekawatiran itu tidak terbukti.


Suasana penat, lelah melanda mereka semua. Sementara si kecil sudah sedari saat di mobil tertidur pulas dalam gendongan ibu Kimnana.


Rayen segera mengarahkan mobil menuju halaman depan, kemudian bergegas keluar mobil terlebih dahulu untuk membukakan pintu bagi Maureen, Ibu Kimnana dan Pak Rayen. Setelah mereka semua turun dari mobil, Rayen segera memarkir mobilnya ke tempat parker yang ada di sebelah barat rumah mewah itu.


Seperti biasa Ibu Kimnana dibantu Bi Minah menyiapkan peralatan untuk si kecil. Setelah selesai, Bi Minah bergegas menuju ke dapur untuk membantu Maureen menyiapkan makan malam untuk semua anggota keluarga.


Setelah selesai mempersiapkan makan malam, mereka segera berkumpul di ruang makan untuk bersama sama makan malam bersama seluruh anggota keluarga.


Di sela sela makan malam Maureen mencoba mengobrol dengan Rayen tentang sosok Ronald Aditya yang sempat dikenalkan oleh Rakha pada mereka.


“Yah, bagaimana menurut pendapat ayah tentang siapa tadi, Ronald? Apakah kira kira dia bisa bekerja di perusahaan kita?” Tanya Maureen di sela sela makan malam hari ini.


“Ayah belum tahu Bun. Tapi bagaimanapun kita sebaiknya member kesempatan dia untuk menunjukkan keahliannya. Apalagi dia merupakan salah satu lulusan universitas di Australia, mudah mudahan prestasinya juga baik” kata Rayen.


“Betul  Rayen, jika melihat kondisinya dan juga keadaannya, ibunya sudah meninggal, kemudian ayahnya sudah tidak bekerja. Tentu dia adalah tulang punggung keluarganya. Dan kondisi seperti saat ini akan sangat sulit sekali untuk mendapatkan pekerjaan, apalagi tanpa pengalaman. Mungkin jika misalnya ada posisi pekerjaan yang bisa diberikan, akan lebih baik jika bisa membantunya,” kata Pak Rehan menambahkan.


Setelah berfikir cukup lama akhirnya diputuskan bahwa mereka akan melihat dulu cv dan riwayat pendidikan dari putra Pak Dirgo itu. Bagaimanapun juga mereka belum mengenal pemuda itu sedikitpun. Bertemupun baru tadi sore. Dan itupun karena secara tidak sengaja Pak Dirgo ingin menemui Rakha, teman Rayen dan Maureen semasa masih kuliah dulu. Tentu terlalu dini jika harus memikirkan keputusan apa yang akan dilakukan oleh mereka berdua.

__ADS_1


Dan yang tidak kalah pentingnya lagi, mereka belum meminta pendapat dari beberapa karyawan inti di perusahaan mereka. Pos pos mana yang kemungkinan cocok untuk diberikan kepada anak muda itu. Jadi mereka memutuskan untuk menunda pembahasan tentang pemuda itu sampai besok ada kejelasan tentang curriculum vitae atau daftar riwayat hidup dan riwayat sekolah dari anak muda itu.


Hari beranjak malam. Sinar sang dewi malam menyeruak menerobos jendela kamar Maureen yang belum sempat ditutup tirainya. Setelah menyusui buah hatinya, seperti biasa, sang Rayen kecil itu lebih sering tidur di pelukan mama mertuanya. Ibu Kimnana.


Malam itu, mereka benar benar merasakan capek yang tak terhingga. Liburan hampir sepanjang hari dan beberapa peristiwa tak terduga membuat hari ini terasa lebih panjang dari biasanya.


Rayen merasakan kegelisahan yang dialami oleh istrinya. Perlahan dia mendekati istrinya itu, kemudian mengecup keningnya dengan lembut. Dia mengharap, dengan kasih sayangnya perasaan Maureen akan menjadi lebih tenang.


Setelah melihat istrinya mulai terlelap, akhirnya Rayen pun merebahkan tubuhnya untuk beristirahat.


Hari yang cukup panjang dan melelahkan


Lupakan sejenak peristiwa hari ini Rayen, tidurlah dengan nyaman, dan sambut hari esok dengan senyum cerah, secerah sang mentari yang tidak akan pernah lelah menyapa kita setiap pagi tiba.


______


Suasana hati yang agak gelisah dan rasa capek yang mendera membuat tidur Rayen menjadi gelisah.


Teriakan Rayen yang sangat keras, membuat Maureen yang sedang tertidur menjadi terbangun. Dia kaget karena Rayen tiba tiba saja berteriak teriak dengan keras.


Maureen segera membangunkan suaminya itu dengan menggoyang goyangkan tubuhnya. Cukup lama hal itu dilakukan oleh Maureen. Sampai kemudian akhirnya Rayen pun terjaga dari mimpinya. Nafasnya terngah engah tidak menentu.


Maureen bergegas mengambilkan air putih yang biasanya selalu disediakan di kamar mereka. Kemudian mengambilnya di gelas dan menyerahkan ke suaminya.


“Minumlah dulu Yah. Biar perasaan Ayah tenang” kata Maureen.


Rayen kemudian meminum air yang diserahkan oleh Maureen. Setelah meminum air tersebut, pikiran Rayen menjadi sedikit lebih tenang.


“Ada apa Yah. Ayah mimpi buruk ya?” Tanya Maureen.

__ADS_1


Setelah sedikit lebih tenang, akhirnya Rayen menjawab pertanyaan Maureen.


“Tidak apa apa Bun. Mungkin Ayah hanya kecapekan karena hari ini banyak peristiwa yang tidak kita duga” kata Rayen berbohong kepada istrinya.


“Sudahlah, tidak apa apa Bun. Sekarang Bunda lanjutkan tidur saja. Terimakasih sudah member perhatian untuk Ayah”


“Apakah Ayah benar benar baik baik saja? “ kata Maureen ingin memastikan kondisi Rayen.


“Iya Bunda. Sekarang tidurlah. Ayah juga akan melanjutkan tidur” kata Rayen.


Maureen kemudian kembali mel;anjutkan tidurnya.


Lain Maureen, lain pula apa yang dialami Rayen. Sebenarnya dia masih sangat kepikiran dengan mimpi yang baru saja dialami. Lagi lagi, pria dengan topi besar yang ditemui di Pantai Anyer kemarin kembali menggoda alam mimpinya. Bahkan suaranya begitu lantang, dia mengancam Rayen.


“Hahaha… sang Presdir yang terhormat. Kau boleh bangga dengan apa yang kau miliki. Tapi ingat, aku akan menghancurkanmu dan seluruh keluargamu… hahaha….”


Suara pria itu menggema dan menggaung sangat menakutkan. Bahkan sampai saat ini, Rayen masih terngiang ngiang kata kata dari lelaki paruh baya itu. Wajahnya memang sepertinya pernah Rayen kenal. Namun sampai saat ini, Rayen masih belum bisa mengingat siapa dia sebenarnya.


Sungguh, mimpi itu benar benar seperti meneror dirinya. Pria misterius itu seakan akan selalu ada di pelupuk matanya. Benar benar sangat menyebalkan.


Rayen sebenarnya ingin menceritakan perihal mimpinya itu kepada Maureen. Namun hal itu diurungkan karena dia tidak ingin membebani pikiran dari istrinya tersebut.


Lama sekali Rayen tidak bisa memejamkan mata. Sampai tidak terasa, dia baru bisa terlelap setelah menjelang fajar menyingsing.


Rayen tertidur tapi masih dalam bayang bayang pria misterius itu…


.


.

__ADS_1


Bersambung . . .


__ADS_2