
Saat itu ruangan menjadi hening sesaat. Semua masih menanti
apa yang akan dikatakan oleh Pak Tito. Dalam hati kecil Maureen dan Rayen
memang membenarkan apa yang dikatakan oleh Pak Tito. Tidak semua anak mau
diangkat menjadi anak angkat, apalagi jika beberapa diantaranya harus berpisah
dengan orang tuanya. Ditambah dengan beban administrasi yang tentu akan menjadi
sangat berbelit jika berurusan dengan birokrasi yang kadang yang mudah pun bisa
jadi sulit.
Setelah menghela nafas sebentar, Pak Tito melanjutkan
perkataannya. “Rayen dan kau anakku, menurut ayah, lebih baik kalian
menggandeng LSM yang berkompeten untuk hal hal seperti ini. Coba cari mereka
yang jiwa sosialnya tinggi, dan mampu menata mereka. Apakah akan diberikan rumah
singgah, atau pondok belajar terbuka bagi yang belum mampu bersekolah. Nanti kalian
bisa back up dari belakang, agar tidak membuat mereka manja karena merasa
diperhatikan perusahaan besar. Tujuan kalian mendidik mereka untuk mandiri dan
berusaha merubah keadaan. Bukan membuat mereka malas dan hanya menengadahkan
tangan. Termasuk kita, tidak ada yang menjamin kita akan tetap diatas, meski
sekarang semua kita punya”
Panjang lebar Pak Tito memberikan pemahaman terhadap Maureen
__ADS_1
dan Rayen. Dan memang apa yang dikatakan Pak Tito itu benar adanya. Beberapa anak
perusahaan KSM Group saat ini sedang pailit.
“Benar ayah, saran ayah Maureen kira sangat masuk akal, karena
selain rencana tadi, Maureen juga ingin mendengar pendapat ayah, tentang
beberapa perusahaan di KSM Group yang saat ini neraca perdagangannya sedang
defisit” kata Maureen.
Maureen kemudian menceritakan kondisi KSM Group yang
sekarang. Dan Pak Tito sangat memahami itu. Sebenarnya rencana Maureen untuk
merolling beberapa pipmpinan anak perusahaan ada benarnya, namun menurut Pak
Tito itu akan bisa menimbulkan efek berantai.
Sampai menjelang malam mereka berdiskusi tentang banayk hal,
terutama rencana kedepan. Termasuk apa yang akan dilakukan Maureen terhadap KSM
Akhirnya diambilah keputusan jika Maureen dan Rayen
berencana mencari LSM yang bergerak di bidang social yang dapat dipercaya,
untuk membantu meringankan beban anak anak jalanan dan anak anak terlantar. Sementara
Rayen diminta fokus untuk membesarkan Putra Company biar bisa mandiri. Sedangkan
KSM Group nanti tetap dipegang oleh Maureen, dibantu oleh sekretaris Wang, dan
beberapa asisten yang nanti akan ditunjuk oleh Pak Tito dan Maureen. Ini dilakukan
agar tugas Maureen tidak terlalu berat.
Lega rasanya hati Maureen mendengar keputusan ayahnya. Maureen
__ADS_1
berharap dengan demikian, dia bisa istirahat dan fokus untuk menjadi ibu rumah
tangga yang baik dan ibu untuk buah hatinya, tanpa harus mengorbankan
perusahaannya.
Setelah semua dirasa cukup, Maureen dan Rayen berpamitan
pada Pak Tito. Sepanjang perjalanan mereka masih ngobrol soal apa saja yang
telah diputuskan bersama Pak Tito. Mereka sangat kagum dengan sosok yang satu
ini. Ayah sekaligus guru yang mengajari tentang makna kehidupan. Ayah sekaligus
guru yang mampu membimbing dengan halus dan penuh kasih sayang. Mereka bangga
punya ayah yang luar biasa.
.
.
Menjelang jam Sembilan mereka sudah sampai di rumah. Perasaan
lega dan haru masih meyelimuti Maureen. Ia ingin secepatnya melaksanakan apa
yang menjadi keinginannya. Maureen ingin melihat beberapa diantara anak anak
yang kurang beruntung itu tersenyum, meski sesaat. Setelah makan malam, mereka
pun berangkat tidur. Suasana yang hangat dan penuh cinta meyelimuti mereka
berdua. Ah, semoga kebahagiaan ini selalu abadi, semoga kasih sayang ini bisa
berjalan sepanjang masa. Maureen ingin selamanya berada disisi Rayen sampai
saat ajal menjemput. Ingin kebahagiaan yang sempurna dengan buah nati tercinta.
Maureen terlelap dalam tidur di dekapan perkasa Rayen, suami tercinta. Mereka tenggelam
__ADS_1
dalam mimpi mimpi indah tentang mereka berdua. Mimpi yang berharap jadi mimpi
yang sempurna.