Dari Cupu Jadi Ratu

Dari Cupu Jadi Ratu
Musim Ke Empat Bag 5


__ADS_3

jangan lupa simak chanel youtube BHARATA FM TRENGGALEK, like, komen dan subscribe ya. terima kasih


Suasana hati Rayen malam itu bercampur aduk tidak


karuan.disatu sisi dia tidak ingin melukai hati istrinya. Namun disisi lain,


kontrak ini sangat diperlukan oleh perusahaannya dan juga keluarganya tentunya.


Rayen tidak yakin, meski dalang dari raibnya uang KSM Group terungkap, orang


yang dicurigai nanti mampu mengembalikan semua yang telah dibawanya. Itu jika


terungkap, jika tidak? Padahal keuangan KSM Group dalam bulan ini sudah harus


ditopang oleh Putra Company. Ini karena biaya untuk pengobatan  dari Tuan Besar Tito juga tidak sedikit. Jika


kondisi ini tidak segera diatasi, bisa jadi KSM Group akan benar benar pailit. Dan


itu tidak boleh terjadi.


Sebenarnya jika opsi kedua ini bisa dipilih, tentu resikonya


tidak akan terjadi. Yaitu jika Rayen pergi tanpa Vivi, tapi ini tentu akan


berpengaruh pada kontrak tersebut. Bisa jadi mereka akan membatalkan kontrak


jika Vivi tidak ikut bersama Rayen ke Mexico.


Ribet kan? Mau tidak mau, suka tidak suka, yang harus


menahan ego dan rasa cemburu adalah Maureen. Karena sebagai seorang wanita,


rasa cemburu jika suaminya bepergian bersama wanita lain pasti ada, apalagi


saat ini Maureen sedang mengandung di usia kehamilan yang sudah tua dan


mengandung anak pertama. Mitosnya sih, di saat seperti ini rasa cemburu seorang


wanita adalah yang paling besar.


.


Rayen tidak ingin menyia nyiakan waktu, pagi ini dia


memutuskan untuk berangkat ke Mexico. Dia mengambil penerbangan agak pagi untuk


menghemat waktu. Meski berat sebenarnya meninggalkan seorang istri yang sedang


hamil tua dan ditambah dengan harus mengurusi dua perusahaan sekaligus, tapi


semua dilakukan demi masa depan mereka.


Maureen mengantarkan suaminya sampai di bandara, sementara


Vivi sudah lebih dulu sampai di bandara pagi itu. Nampak Maureen terlihat berat


melepas kepergian Rayen,entah apa yang ada di pikiran Maureen saat itu,


nampaknya ada kekawatiran yang amat sangat terhadap suaminya. Apakah ini karena


saking besarnya rasa cinta Maureen sama Rayen? Ataukah ada firasat lain yang


merupakan isyarat dari si jabang bayi yang dikandungnya? Ah, author kayak


paranormal ya sekarang? Hihihi…….


Meski berat melepas kepergian Rayen, namun Maureen tetap


mengijinkan suaminya untuk ke Mexico, demi anaknya, demi perusahaannya, dan


demi kebanggaan suaminya akan keberhasilan bisnisnya.

__ADS_1


Pesawat yang ditumpangi Rayen dan Vivi pun sudah take off,


melayang menuju ke angkasa raya, diiringi dengan air mata Maureen yang tidak


terasa menetes di pipinya yang indah. Pak Jay yang mengantar Maureen tidak bisa


berbuat banyak. Dia menunggu sampai Maureen mengajaknya pulang. Sampai akhirnya……


“Pak Jay, mari kita pulang” kata Maureen setelah pesawat itu


hilang ditelan awan pagi.


“Iya Nyonya” kata Pak Jay sambil berjalan dibelakang Maureen


menuju ke mobil.


Mobil melaju perlahan meninggalkan bandara Soekarno-hatta pagi


itu. Di dalam mobil, Maureen kelihatan lebih banyak diam. Pak Jay pun tidak


berani berkata banyak. Dia mengarahkan mobilnya menuju ke jalan utama.


“Kita kemana Nyonya, apakah langsung ke kantor atau pulang


dulu kerumah?” Tanya Pak Jay.


“Kita ke rumah saja Pak Jay, hari ini saya ingin


beristirahat, biar nanti saya telepon sekretaris saya saja sama Silvi untuk


mengatur jadwal hari ini. Mungkin saya ke kantor besok saja” kata Maureen meminta


Pak Jay untuk mengarahkan mobilnya pulang.


“Betul Nyonya. Jika kondisi badan tidak fit, jangan


paksakan. Biar nanti Tuan Rayen saja yang mengurusi perusahaan. Saat Nyonya


perusahaan. Bahkan kalau tidak salah, Tuan Rayen juga tengah menyelidiki dugaan


kecurangan keuangan di KSM Group, Nyonya” kata Pak Jay menjelaskan bahwa dia


pernah melihat Rayen meneliti neraca keuangan KSM Group.


“Apakah Pak Rehan dan Ibu Kim pernah kesini selama saya


pergi ke Amerika Pak Jay” Tanya Maureen


“O, ayah dan ibu mertua Nyonya to?”Tanya Pak Jay


“Iya Pak, maksud saya ayah dan ibu”


“Wah, belum pernah Nyonya. Kalau tidak salah Pak Rehan dan


Ibu Kim masih di luar negeri. Sudah hampir satu tahun Nyonya” kata Pak Jay.


“O, kenapa Rayen tak pernah cerita ya?”


“Sebenarnya Tuan Rayen ingin bercerita pada Nyonya, tapi Nyonya


sangat sibuk. Jadi Tuan Rayen tidak punya kesempatan untuk bercerita” kata Pak


Jay


“Memang benar Pak Jay, selama ini saya sangat kurang punya


waktu untuk keluarga. Bahkan kadang kadang untuk sekedar ngobrol sama suami


saja sangat jarang. Apakah memang seperti itu jika istri selalu bekerja ya Pak


Jay? Pak Jay enak, istrinya dirumah, ngurus anak. Setiap saat setiap waktu bisa

__ADS_1


berkumpul dan bertemu” kata Maureen.


“Nyonya, kebahagiaan dan kenikmatan itu kita sendiri yang


merasakan. Kita tidak bisa menilai kebahagiaan orang lain dengan melihat dari


sisi luarnya saja. Kalau pepatah jawa mengatakan ‘sawang sinawang’ artinya kita


itu kadang kita melihat orang lain itu terasa lebih enak. Yang miskin merasa


bahwa orang kaya akanselalu bahagia, karena semua kebutuhannya tercukupi. Namun


yang kaya kadang merasa bahwa orang tidak punya lebih bahagia daripada dia,


karena orang miskin setelah kenyang dia akan bisa tidur dimanapun. Kadang diatas


jerami, dibawah jembatan, di kolong truk, tanpa kawatir apapun, sehingga


tidurnya sangat nyenyak. Itulah romantika kehidupan nyonya” kata Pak Jay


panjang lebar.


Maureen terhenyak. Ternyata Pak Jay mempunyai wawasan yang


cukup luas. Maureen teringat akan apa yang dikatakan Chika saat dia berkunjung


ke rumah sederhananya untuk pertama kali. Bahwa setiap manusia punya jalan


cerita kehidupannya sendiri sendiri. Kadang awal kisah hidup mereka bisa saja


sama, tapi ending dari cerita kehidupan mereka sangat berbeda.


“Iya Pak Jay. Terima kasih telah menyadarkan saya. Memang kadang


kita hanya melihat dunia dari sisi kita sendiri. Kita mengharap orang lain mau


mengerti kita. Tapi kita jarang mau mengerti posisi orang lain. Semoga saya


bisa belajar banyak dari Pak Jay” kata Maureen.


“Wah, maaf Nyonya. Bukan maksud saya mau menggurui Nyonya


Maureen. Apalah artinya saya Nyonya. Sekolah SMP saja saya tidak tamat” kata


Pak Jay.


“Bukan begitu Pak Jay. Guru yang paling bijak itu bukan dari


sekolahan atau perguruan tinggi. Tapi dari pengalaman”kata Maureen.


Maureen mendapatkan banyak pengalaman berharga dari seorang


sopir yang selama ini jarang diajak ngobrol. Ternyata manusia tidak boleh


memandang sesama hanya dengan status atau kasta semata. Tuhan Maha Adil. Setiap


manusia pasti punya kelebihan dan kekurangan. Dan itulah gunanya hidup bersama,


agar bisa saling melengkapi.


.


.


.


Jangan lupa dukung  vote untuk author ya


Like, vote juga komen dari readers sangat author perlukan


Tanpa readers apalah artinya tulisan author

__ADS_1


Terima kasih. Selamat malam


__ADS_2