
Suasana di kediaman Maureen menjadi sangat ramai. Hadirnya si
kecil yang beru berusaha beberapa hari nampaknya membawa suasana yang sangat
berbeda di rumah itu. Apalagi ditambah dengan keptusan pemerintah untuk
melakukan Pembatasan Sosial Bersklala Besar untuk wilayah Jakarta dan
sekitarnya, yang kemudian memaksa perusahaan untuk melakukan perubahan pola
kerja. Work From Home atau bekerja dari rumah adalah solusi dari masalah
tersebut.
Beberapa ruangan dari rumah megah itu disulap menjadi
ruangan kantor dengan teknologi IT yang mampu menjangkau seluruh akses menuju
anak perusahaan dari KSM Group dan Putra Company. Beberapa anak perusahaan yang
bergerak di bidang konstruksi dengan terpaksa harus menunda pengerjaan
proyeknya sementara waktu. Namun perusahaan perusahaan lain yang menyangkut
hajat hiduporang banyak tetap dibolehkan untuk beroperasi.
Menurut perhitungan kasar, kemungkinan besar omzet dari KSM
Group dan Putra Company akan menurun hingga diatas 30%. Ini akan sangat berpengaruh
pada kondisi karyawan. Dan itulah yang menjadi pemikiran dari Rayen dan Maureen
saat ini. Harus ada solusi yang tepat dan tidak terlalu berimbas pada kehidupan
para karyawan tersebut.
Sementara itu, sekretaris Zhang dan Vivi beserta dengan
ibunya, sudah dua hari ini menempati ruang belakang dari rumah megah itu. Ibu nya
Vivi diminta untuk membantu Bi Minah membersihkan rumah dan memasak untuk semua
anggota keluarga.
Di hari ketujuh dari kelahiran putra pertama mereka, Maureen
dan Rayen berencana akan mengadakan syukuran dengan memberikan sedekah dan
bingkisan kepada anak anak jalanan dan orang yang kurang beruntung di sekitar
panti asuhan dan rumah singgah mereka. Walaupun rumah singgah tempat mereka belajar
belum bisa difungsikan lagi saat ini, tapi mereka tetap bisa saling terhubung
karena setiap beberapa anak dibentuk kelompok berdasarkan tempat tinggal mereka
Sementara itu, untuk anak anak yang tidak mempunyai tempat
tinggal, mereka menumpang di rumah saudaranya atau di pondok rumah singgah. Keluarga
Maureen ingin membagi kebahagiaan mereka dengan orang orang itu. Dan momen yang
dipilih adalah pada tujuh hari kelahiran dari putranya.
Dan saat yang ditunggu pun segera tiba. Ini adalah tujuh
hari sejak kelahiran bayi mungil lucu nan rupawan putra Rayen dan Maureen. Ada sekitar
100 an ojek online yang dimintai tolong untuk mengantar bingkisan dan makanan
langsung ke rumah mereka yang sudah dipilih. Daftar itu Rayen peroleh dari
pengurus yayasan dan anak anak kurang mampu yang sudah terbiasa mendapatkan
santunan dari KSM Group ditambah dengan beberapa dari masyarakat sekitar mereka
yang juga banyak yang tidak bisa bekerja karena efek pandemic ini.
Hampir sehari penuh, mereka mengantar bingkisan ke rumah
__ADS_1
rumah mereka yang membutuhkan. Sore harinya Nampak wajah wajah lelah dari Maureen
dan Rayen karena seharian sibuk mengatur orang orang yang diberi tugas untuk
mengatur acara ini. Pak Rayen, Ibu Kimnana, sekretaris Zhang dan Vivi semua
berkumpul di ruangan besar. Rayen mengundang salah satu pemuka agama untuk
memimpin doa bagi putranya tercinta.
Setelah acara selesai, mereka kemudian kembali ke ruangannya
masing masing. Tidak terkecuali Maureen dan Rayen yang juga sudah berada di
dalam kamar. Nampak kebahagiaan yang sangat besar di wajah Maureen. Betapa tidak,
harapannya untuk menjadi seorang ratu dalam rumah tangga, sebagai istri dari
suaminya dan ibu bagi anaknya selangkah lagi akan terwujud. Memang untuk wanita
karir seperti Maureen hal itu tidaklah gampang, tantangan untuk mendidik
seorang anak adalah tantangan yang sangat berat. Belum lagi nanti akan
dihadapkan pada pekerjaan rutin di kantor yang cukup menyita perhatian.
Maureen membayangkan tentu akan membutuhkan tenaga yang
ekstra untuk memberikan perhatian bagi putranya nanti. Sementara jika harus
menyerahkan urusan perusahaan sepenuhnya kepada Rayen, tentu bukan sesuatu yang
bijaksana menurut Maureen. Bgaimanapun urursan KSM Group sangat banyak. Belum lagi
yang di Star Company. Perusahaan itu juga harus mendapatkan perhatian yang
ekstra, karena dampak pandemic covid 19 juga sangat terasa di negeri Paman Sam
itu. Tentu jika semua diserahkan kepada Rayen akan sangat menyita waktunya,
sehingga Putra Company yang baru saja merangkak menuju kesuksesan akan
Di sisi lain, dia juga sadar bahwa anaknya harus mendapatkan
porsi kasih sayang yang besar. Walaupun nantinya Ibu Kimnana juga akan membantu
Maureen sebelum anak itu bisa berjalan, tapi tentu membebani orang tua dengan
mengasuh anak adalah hal yang kurang bijaksana. Pun sepenuhnya menyerahkan
pengasuhan anak pada seorang babby sister juga sesuatu yang akan mempengaruhi
psikologis dari putranya.
Ah, ternyata masalah Maureen tidak pernah selesai. Selalu ruwet.
Dan itu kenyataannya. Makin tingi strata social dan jabatan serta kekayaan
seseorang akan makin banyak juga persoalan yang akan dihadapi. Benar kata
sahabatnya Chika, Tuhan Maha Adil dalam membagi kebahagiaan. Kebahagiaan tidak
diukur dari kekayaan dan kedudukan seseorang. Apalagi dari kecantikan atau ketampanan.
Kadang sseseorang yang kita anggap hidupnya sengsara, hidupnya susah, kadang
makan kadang tidak, tidurpun kadang di sembarang tempat. Tapi dia bisa tidur
nyenyak manakala malam telah menyelimuti alam. Sementara yang ada di gedung
megah, hotel mewah, rumah bak istana ketika gelap menyelimuti dunia, dia
teronggok di pojok tempat tidur dan belum tentu satu jam bisa terlelap dengan
nikmat.
“Bunda sedang memikirkan apa, kelihatanya sangat serius” Tanya
Rayen yang ternyata sudah masuk dalam kamar sedari tadi. Entah kapan masuknya,
__ADS_1
tapi seingat Maureen, Rayen tadi masih membantu Bi Surti dan Bi Minah beres
beres di ruangan depan saat dia masuk ke dalam kamar.
“Eh Ayah? Ngagetin aja. Tidak apa apa yah? Bunda Cuma merasa
hari ini sangat bahagia. Impian Bunda sudah hamper semua terkabul. Suami yang
setia, anak yang manis rupawan dan orang orang yang selalu menyayangi Maureen”
kata Maureen sambil matanya berkaca kaca.
Memang kebahagiaan Maureen hari itu tidak bisa dilukiskan
dengan kata kata. Bahagia dan sekaligus juga bangga. Dulu dia sempat sangat
sedih. Sepeninggal ayahnya, yang merupakan keluarga satu satunya setelah
kepergian sang ibu, Maureen merasa akan sangat kesepian. Tapi Tuhan berkehendak
lain. Dia dipertemukan dengan Rayen yang kemudian menjadi suaminya yang sangat
bertanggung jawab. Ditambah dengan kehadiran Pak Rehan dan Ibu Kimnana yang
melengkapi sebagai orang tua kedua, pengganti orang tuanya yang telah tiada.
“bener nih, tidak apa apa? Tapi Ayah perhatikan, Bunda dari
tadi melamun terus, apakah ada yang menjadi ganjalan di pikiran Bunda. Ngomong saja
Bun, semua persoalan bisa kita atasi bersama, percayalah itu” desak Rayen yang
merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Maureen sehingga membuat istrinya
kelihatan bersedih.
“Tidak ayah, Bunda hanya sangat bahagia hari ini. Bunda
berharap bisa membimbing putra kita agar kelak bisa mendapatkan kasih sayang
yang cukup dari kedua orang tua. Meskipun mungkin kita harus membagi waktu
dengan sangat sulit. Tapi aku sudah merasakan hal itu yah. Bunda tidak ingin
kejadian di masa kecil Bunda akan terulang lagi di anak kita” kata Maureen.
“Iya Bun. Itu adalah tanggung jawab kita, bagaimanapun juga,
walaupun mungkin akan sangat sulit membagi waktu, tapi nanti kita akan
mengusahakan ada waktu khusus untuk anak kita setiap hari. Sekarang sudah
malam, sebaiknya kita tidur, Bunda belum pulih betul, harus banyak istirahat”
“Iya Ayah……”
Kemudian mereka merebahkan badannya di kasur empuk, Maureen berbaring
di samping suaminya. Ada rasa yang tidak bisa diungkapkan untuk kebahagiaannya
saat ini.
Diliriknya sang buah hati yang tidur di ranjang bayi
disampingnya. Dia ingin kenbahagiaannya abadi selamanya……..
Mohon maaf untuk readers semua, Dari Cupu Jadi Ratu agak
lama baru bisa up. Dikarenakan banyak kesibukan offline yang menyita waktu.
Jangan lupa untuk menyimak perkembangan terkini berita
seputar trenggalek di youtube Bharata FM Trenggalek, terutama untuk yang masih
di rantau. Tunda mudik dulu ya
Yang dirumah, stayhome, jaga jarak. Jika terpaksa ke luar
rumah bisa menggunakan masker.
__ADS_1
Semoga kita selalu diberi kesehatan. Amin.