Dari Cupu Jadi Ratu

Dari Cupu Jadi Ratu
Musim Ke Dua Bag 14


__ADS_3

 


 


Gemerlap lampu di Kobe Town, sudah mulai menggeliat. Badai yang


melanda sebagian daratan Jepang sudah usai. Masyarakat Jepang sudah mulai


kembali melakukan aktivitasnya. Demikian juga bandara di kota Kobe. Aktivitas sudah


berjalan normal. Maureen dan sekretaris Zhang sudah berkemas untuk melanjutkan


perjalananya menuju Jakarta.


Nampak pilot dan copilot sudah mempersiapkan pesawat untuk


take off. Ya hari senin sore itu Maureen berencana pulang ke Jakarta.


Setelah dirasa cukup, mereka bersiap untuk terbang. Maureen berharap


perjalanan kali ini lancar. Jika perjalanan lancar, maka tengah malam nanti


Maureen sudah sampai di Jakarta.


Tepat pukul 15.15 pesawat mendapat kesempatan untuk take


off. Perlahan pesawat kembali mengangkasa. Dari ruang VVIP pesawat yang memang


dirancang cukup canggih ini nampak view pemandangan kota Kobe yang luar biasa. Tak


terlihat sama sekali bahwa kemarin, disitu terjadi badai yang bisa menghajar


siapapun yang terkena terjangannya. Kobe, sebuah kota kecil dengan bandara yang


dibangun diatas pulau buatan, sungguh menyajikan pemandangan yang sangat luar


biasa. Ya pemandangan asri terpadu antara daratan dan lautan yang sangat luar


biasa.


Angan Maureen menerawang jauh, teringat kenangan bersama Rayen.


Ah, andaikan Rayen ada disini, pasti mereka tidak akan menyia nyiakan indahnya


panorama ini. Sebuah surge panorama yang ada di sebuah kota kecil di Jepang. Maureen


ingat, Rayen sangat senang memanjakan Maureen. Dan sayangnya, itu dulu. Sekarang?


Ya, sekarang Rayen sudah sangat sibuk dengan urusan perusahaannya. Wajar memang,


perusahaan Rayen belakangan ini memang berkembang pesat. Bahkan sangat cepat. Banyak


kolega bisnis baru dan relasi yang menjalin kerjasama dengan Putra Company. Walaupun


itu tidak lepas juga dari peran serta Maureen dalam menyokong Putra Company.


Ya, Putra Company dulu hampir gulung tikar, itulah kenapa

__ADS_1


Maureen menopangnya. Dan hasil kerja keras Rayen membuahkan hasil. Perlahan lahan


Putra Company keluar dari keterpurukan. Dan sejak itulah, Rayen mulai jarang


menunjukkan kasih sayangnya pada Maureen. Ya, Rayen jarang punya kesempatan


untuk berdua dengan Maureen. Ditambah kesibukan Maureen untuk mengontrol KSM


Group dan anak perusahaannya yang cukup banyak. Belum lagi bisnis Maureen yang


dirintis sendiri olehnya di New York juga menunjukkan kemajuan yang cukup


pesat, sehingga perlu perlu penanganan yang lebih serius.


Angan Maureen menerawang jauh. Ingat masa masa kuliah. Ingat


masa masa indah ketika dulu Rayen dulu sangat perhatian terhadap Maureen. Ingat


kala Maureen sering diejek oleh teman teman kuliah. Ah, ingin rasanya dia jadi


Maureen yang dulu. Yang culun, yang cupu tapi bahagia. Lepas dari beban yang


membelenggu setiap langkahnya. Lepas dari beratnya memimpin perusahaan besar


yang demikian kompleks.


Itulah kenapa ayah Maureen tetap menjadi sosok yang paling


diidolakan oleh Maureen. Tetap jadi spirit semangat untuk maju dan maju. Seorang


ayah yang mampu memimpin belasan perusahaan dan berhasil.


menerawang jauh. Sampai tidak terasa, matanya perlahan terpejam. Ya, Maureen tertidur


pulas diruanggan VVIP pesawat pribadinya.


Sejenak wanita cantik itu bisa melupakan semua keluh kesah


kehidupannya, terbuai dalam mimpi indah, meski hanya sejenak.


.


.


.


Kita tinggalkan perjalanan Maureen menuju Jakarta malam ini.


Di rumah Maureen, nampak Rayen yang masih terbelenggu dalam kegelisahan. Sudah lebih


dari lima kali dia meminta Bi Minah untuk membuatkan kopi. Berharap dengan


meneguk secangkir kopi, mampu menjernihkan pikirannya yang sedang kacau. Ya,


semua jadi satu. Pikiran tentang istrinya yang saat ini belum ada kabar


beritanya. Tentang perusahaannya yang hampir saja jatuh karena berita skandal

__ADS_1


perselingkuhannya dengan Vivi. Tentang semua hal yang menyangkut kehidupannya.


Nampak Rayen yang gigih menjalankan bisnisnya, kali ini


sangat beda. Beda dan jauh. Kali ini yang terlihat adalah Rayen yang penuh


dengan kegelisahan, kegalauan. Penuh dengan rasa pesimis. Ia ingin melupakan


semua ini, dengan lari ke minuman. Tapi batinnya berontak. Dia tidak ingin


memperkeruh masalah. Urusan perusahaan, Rayen kemarin sudah member tugas Vivi dan


Silvi  untuk sementara waktu mengcover


semua keperluan perusahaan.


Lelah. Itulah yang dirasakan Rayen saat ini. Lelah badan,


lelah pikiran, lelah semuanya.


Dia masih bertanya Tanya, ada apa sebenarnya. Apa yang


terjadi pada Maureen. Pesawat pribadinya terlambat satu hari dari waktu norma;l


perjalanan New York – Jakarta, tanpa kabar.


.


.


Sementara itu, Vivi dan Silvi, sore itu masih sibuk mengecek


semua komponen Putra Company, mereka berdua ingin memastikan semua aman. Ya,


efek dari trending topic kemarin memang luar biasa. Untunglah, semua itu segera


dapat diatasi, setelah ada klaim tidak benar terkait berita perselingkuhan


Rayen dan Vivi. Jika saja terlambat hal tersebut, Vivi dan Silvi tidak


bisa  membayangkan apa yang akan terjadi……


.


.


Apakah Silvi dan Vivi mampu menstabilkan roda perjalanan


Putra Company?


Apakah rayen akan segera menemukan titik terang hubungannya


dengan Maureen?


Apakah Maureen akan segera menemui Rayen setelah sampai di


Jakarta, dan apakah perjalanan Maureen akan lancar saja sampai di Jakarta?

__ADS_1


Nantikan episode selanjutnya.


Selamat malam.


__ADS_2