
Gemerlap lampu di Kobe Town, sudah mulai menggeliat. Badai yang
melanda sebagian daratan Jepang sudah usai. Masyarakat Jepang sudah mulai
kembali melakukan aktivitasnya. Demikian juga bandara di kota Kobe. Aktivitas sudah
berjalan normal. Maureen dan sekretaris Zhang sudah berkemas untuk melanjutkan
perjalananya menuju Jakarta.
Nampak pilot dan copilot sudah mempersiapkan pesawat untuk
take off. Ya hari senin sore itu Maureen berencana pulang ke Jakarta.
Setelah dirasa cukup, mereka bersiap untuk terbang. Maureen berharap
perjalanan kali ini lancar. Jika perjalanan lancar, maka tengah malam nanti
Maureen sudah sampai di Jakarta.
Tepat pukul 15.15 pesawat mendapat kesempatan untuk take
off. Perlahan pesawat kembali mengangkasa. Dari ruang VVIP pesawat yang memang
dirancang cukup canggih ini nampak view pemandangan kota Kobe yang luar biasa. Tak
terlihat sama sekali bahwa kemarin, disitu terjadi badai yang bisa menghajar
siapapun yang terkena terjangannya. Kobe, sebuah kota kecil dengan bandara yang
dibangun diatas pulau buatan, sungguh menyajikan pemandangan yang sangat luar
biasa. Ya pemandangan asri terpadu antara daratan dan lautan yang sangat luar
biasa.
Angan Maureen menerawang jauh, teringat kenangan bersama Rayen.
Ah, andaikan Rayen ada disini, pasti mereka tidak akan menyia nyiakan indahnya
panorama ini. Sebuah surge panorama yang ada di sebuah kota kecil di Jepang. Maureen
ingat, Rayen sangat senang memanjakan Maureen. Dan sayangnya, itu dulu. Sekarang?
Ya, sekarang Rayen sudah sangat sibuk dengan urusan perusahaannya. Wajar memang,
perusahaan Rayen belakangan ini memang berkembang pesat. Bahkan sangat cepat. Banyak
kolega bisnis baru dan relasi yang menjalin kerjasama dengan Putra Company. Walaupun
itu tidak lepas juga dari peran serta Maureen dalam menyokong Putra Company.
Ya, Putra Company dulu hampir gulung tikar, itulah kenapa
__ADS_1
Maureen menopangnya. Dan hasil kerja keras Rayen membuahkan hasil. Perlahan lahan
Putra Company keluar dari keterpurukan. Dan sejak itulah, Rayen mulai jarang
menunjukkan kasih sayangnya pada Maureen. Ya, Rayen jarang punya kesempatan
untuk berdua dengan Maureen. Ditambah kesibukan Maureen untuk mengontrol KSM
Group dan anak perusahaannya yang cukup banyak. Belum lagi bisnis Maureen yang
dirintis sendiri olehnya di New York juga menunjukkan kemajuan yang cukup
pesat, sehingga perlu perlu penanganan yang lebih serius.
Angan Maureen menerawang jauh. Ingat masa masa kuliah. Ingat
masa masa indah ketika dulu Rayen dulu sangat perhatian terhadap Maureen. Ingat
kala Maureen sering diejek oleh teman teman kuliah. Ah, ingin rasanya dia jadi
Maureen yang dulu. Yang culun, yang cupu tapi bahagia. Lepas dari beban yang
membelenggu setiap langkahnya. Lepas dari beratnya memimpin perusahaan besar
yang demikian kompleks.
Itulah kenapa ayah Maureen tetap menjadi sosok yang paling
diidolakan oleh Maureen. Tetap jadi spirit semangat untuk maju dan maju. Seorang
ayah yang mampu memimpin belasan perusahaan dan berhasil.
menerawang jauh. Sampai tidak terasa, matanya perlahan terpejam. Ya, Maureen tertidur
pulas diruanggan VVIP pesawat pribadinya.
Sejenak wanita cantik itu bisa melupakan semua keluh kesah
kehidupannya, terbuai dalam mimpi indah, meski hanya sejenak.
.
.
.
Kita tinggalkan perjalanan Maureen menuju Jakarta malam ini.
Di rumah Maureen, nampak Rayen yang masih terbelenggu dalam kegelisahan. Sudah lebih
dari lima kali dia meminta Bi Minah untuk membuatkan kopi. Berharap dengan
meneguk secangkir kopi, mampu menjernihkan pikirannya yang sedang kacau. Ya,
semua jadi satu. Pikiran tentang istrinya yang saat ini belum ada kabar
beritanya. Tentang perusahaannya yang hampir saja jatuh karena berita skandal
__ADS_1
perselingkuhannya dengan Vivi. Tentang semua hal yang menyangkut kehidupannya.
Nampak Rayen yang gigih menjalankan bisnisnya, kali ini
sangat beda. Beda dan jauh. Kali ini yang terlihat adalah Rayen yang penuh
dengan kegelisahan, kegalauan. Penuh dengan rasa pesimis. Ia ingin melupakan
semua ini, dengan lari ke minuman. Tapi batinnya berontak. Dia tidak ingin
memperkeruh masalah. Urusan perusahaan, Rayen kemarin sudah member tugas Vivi dan
Silvi untuk sementara waktu mengcover
semua keperluan perusahaan.
Lelah. Itulah yang dirasakan Rayen saat ini. Lelah badan,
lelah pikiran, lelah semuanya.
Dia masih bertanya Tanya, ada apa sebenarnya. Apa yang
terjadi pada Maureen. Pesawat pribadinya terlambat satu hari dari waktu norma;l
perjalanan New York – Jakarta, tanpa kabar.
.
.
Sementara itu, Vivi dan Silvi, sore itu masih sibuk mengecek
semua komponen Putra Company, mereka berdua ingin memastikan semua aman. Ya,
efek dari trending topic kemarin memang luar biasa. Untunglah, semua itu segera
dapat diatasi, setelah ada klaim tidak benar terkait berita perselingkuhan
Rayen dan Vivi. Jika saja terlambat hal tersebut, Vivi dan Silvi tidak
bisa membayangkan apa yang akan terjadi……
.
.
Apakah Silvi dan Vivi mampu menstabilkan roda perjalanan
Putra Company?
Apakah rayen akan segera menemukan titik terang hubungannya
dengan Maureen?
Apakah Maureen akan segera menemui Rayen setelah sampai di
Jakarta, dan apakah perjalanan Maureen akan lancar saja sampai di Jakarta?
__ADS_1
Nantikan episode selanjutnya.
Selamat malam.