Dari Cupu Jadi Ratu

Dari Cupu Jadi Ratu
Musim Ke Tiga Bag 23


__ADS_3

 


 


Sementara itu, di rumah sakit Nevada Amerika serikat, nampak


Maureen sedang termenung sendiri. Dia sengaja duduk di kursi penunggu pasien


seorang diri. Pikirannya menerawang jauh, jauh sekali. Berbagai kenangan


membayang di pikirannya. Maureen sangat takut, takut. Ya, takut sekali


kehilangan salah satu orang yang dicintai, Tuan Besar Tito.


Ingatannya kembali melayang ke masa kecil dia, dimana ibunya


yang seharusnya mengasihi dia harus pergi terlebih dahulu menghadap Sang


Pencipta. Sungguh Maureen tidak sanggup membayangkan jika hal itu akan terjadi


sekarang. Ayahnya, orang yang selama ini menjadi pelindung dia, orang yang berjuang


untuk mewujudkan apapun impian Maureen, hingga saat sekarang bisa mencapai apa


yang menjadi tujuan hidup mereka.


Mungkin bagi sebagian orang, melihat Maureen adalah sosok


yang sudah mendapatkan kebahagiaan sempurna. Bagaimana tidak, apapun bisa


dimiliki oleh putrid semata wayangnya pemilik KSM Group ini. Jangankan Cuma kendaraan


mewah, pesawat pribadipun Maureen punya. Jangankan rumah mewah, jika mau satu kampongpun


sanggup terbeli. Tidak terhitung jumlah harta yang dimiliki keluarga Tirta


Kusuma.


Tapi, ketika sang ayah Tuan Besar Tito Tirta Kusuma


terbaring lemah di bangsal rumah sakit, apa yang bisa dilakukan Maureen? Ternyata


mobil sport limited edition kepunyaannya, pesawat pribadinya tidak berarti apa


apa.


Maureen tercenung. Ternyata mengejar dunia tidak akan pernah


ada habisnya. Selalu kurang, kurang dan kurang. Padahal setelah meninggal, apa


yang bisa dibanggakan? Ah Maureen, kenapa kamu baru sadar setelah ujian berat


menimpa kamu?


Maureen teringat sebuah kisah yang diceritakan oleh dosen


psikologi di kampus dulu, saat itu ada seorang karyawan di sebuah perusahaan


konstruksi. Dia sedang bekerja di lantai bawah bersama kawan kawannya. Sedangkan


sang mandor berada di lantai tiga. Suatu saat, sang mandor ingin memanggil


karyawan ini. Teriakan teriakan dari sang mandor yang dibarengi dengan


bisingnya suara mesin mesin pengaduk semen, membuat tidak terdengar oleh sang


karyawan. Sang mandor berinisiatif melemparkan uang lima puluh ribuan kea rah karyawan


itu, namun apa yang terjadi? Sang karyawan hanya berhenti sebentar dari

__ADS_1


pekerjaannya, lalu memungut uang itu dan bekerja lagi tanpa menoleh kea rah sang


mandor. Diulanginya lagi oleh sang mandor dengan nomimal yang lenih besar,


seratus ribuan. Tapi yang terjadi juga sama dengan yng tadi. Sang karyawan


hanya berhenti untuk memungut uang, lalu bekerja lagi tanpa mempedulikan sang


mandor. Akhirnya sang mandor mengambil batu kerikil. Lalu dijatuhkan tepat diatas


kepala sang karyawan. Sambil mengusap usap kepalanya yang merasa sakit, sang


karyawan mendongak ke atas, dan baru tahu bahwa sang mandor memanggil.


Maureen berfikir, apakah hari ini dia berada di posisi sang


karyawan itu, hingga teguran demi teguran belum mampu membuatnya menoleh ke


Sang Maha Pencipta.


Maureen terus merenung, merenung dan merenung.


.


Sementara para dokter tengah berjuang untuk mengangkat sel


kanker ganas yang ada di kepala Tuan Besar Tito. Beberapa kali mereka menghela


nafas panjang. Bagaimana tidak, mereka tahu bahwa pekerjaannya kali ini


resikonya sangat tinggi, belum lagi yang ditangani adalah orang paling


berpengaruh di sebuah perusahaan besar yang terkenal di Jakarta bahkan sebagian


dunia.


diinginkan, pasti semua media massa akan memberitakan kejadian ini. Sekarang saja,


sakitnya Pak Tito sudah menjadi trending topic di majalah majalah bisnis baik


di Indonesia, Amerika ataupun di Negara Negara lain. Hal ini wajar, karena


salah satu perusahaan Maureen berada di New York, dan itu juga bukan perusahaan


yang bisa dibilang kecil. Sahamnya juga sangat luar biasa diperhitungkan di


Amerika Serikat.


Mereka, tim dokter ahli yang menangani operasi kanker otak


stadium 4 Tuan Besar Tito terus bekerja. Mereka tahu bahwa yang dipertaruhkan


dalam pekerjaannya kali ini bukan hanya nama baiknya sebagai dokter ahli, namun


juga akan berdampak pada nama baik rumah sakitnya juga. Jika operasi kali ini


berhasil dengan gemilang, pasti mereka akan terkenal dan menjadi sorotan


wartawan wartawan media cetak dan elektronik.


 Sementara itu, Tuan


Tito terbaring dibawah pengaruh obat penenang. Sudah hampir satu jam proses


operasi dari Tuan Tito, namun belum semua sel kanker bisa diangkat. Ini dikarenakan


letak sel kanker ini yang berada agak kedalam diantara otak besar dan otak


kecil, sehingga tim dokter ini harus ekstra hati hati dalam menanganinya. Dan wajar

__ADS_1


jika ini harus diatasi oleh rumah sakit sekelas Nevada. Karena jika di rumah


sakit yang belum dilengkapi dengan alat super canggih yang mampu mendeteksi sel


kanker dengan akurat, akan sangat berbahaya. Karena sel kanker ini jika sudah


diangkat dan tidak bisa terangkat secara sempurna, sisa sel atau kista yang


masih tersisa bisa berkembang berkali kali lipat dari sel induknya.


Setelah hampir dua jam proses pengangkatan kanker dari kepala


Tuan Tito dilakukan, akhirnya selesai juga. Nampak keringat bercucuran di


pelipis dan pipi para dokter tim ahli yang melakukan operasi terhadap Tuan


Tito.


Nampak pengacara Whang tetap setia menunggu detik demi detik


operasi dari Tuan Tito. Memang pengacara ini tanggung jawabnya luar biasa. Itulah


kenapa Pak Tito mempercayakan semuanya pada dia.


.


.


Sudah pukul 17.00 waktu Nevada. Maureen tersentak. Dia terbangun


dan, ah….. ternyata dia termenung di kursi penunggu pasien di dekat kamar


operasi tadi sampai tertidur. Berarti sudah tiga jam sejak Tuan Tito masuk


kamar operasi sampai saat ini. Tapi belum ada tanda tanda ayahnya dibawa


keluar. Sungguh suatu penantian yang sangat panjang. Panjang ya, sangat


panjang.


Maureen merasakan satu keputus asaan yang amat sangat. Kawatir,


takut, gelisah jadi satu. Bagaimana tidak, proses operasi yang dialami oleh


ayahnya ternya memerlukan waktu yang lebih lama dari biasanya. Apakah ada yang


sangat berbahaya dan mengkawatirkan? Berbagai pertanyaan tibul di benak Maureen.


Beberapa saat kemudian nampak pengacara Whang keluar dari


kamar operasi, tapi masih sendiri. Tim dokter belum kelihatan muncul. Memang dari


saran tim dokter yang menangani operasi Tuan Tito, mengharap Maureen tidak ikut


menyaksikan operasi Tuan Tito, mengingat keadaan dia yang sedang mengandung,


dikawatirkan jika Maureen tidak sanggup melihat darah. Itulah kenapa Maureen memandatkan


hak keluarga pada pengacara Whang.


“Bagaimana keadaan ayah Pak Whang” Tanya Maureen tidak sabar


ketika melihat pengacara Whang keluar dari kamar operasi.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2