
Sementara itu, di rumah sakit Nevada Amerika serikat, nampak
Maureen sedang termenung sendiri. Dia sengaja duduk di kursi penunggu pasien
seorang diri. Pikirannya menerawang jauh, jauh sekali. Berbagai kenangan
membayang di pikirannya. Maureen sangat takut, takut. Ya, takut sekali
kehilangan salah satu orang yang dicintai, Tuan Besar Tito.
Ingatannya kembali melayang ke masa kecil dia, dimana ibunya
yang seharusnya mengasihi dia harus pergi terlebih dahulu menghadap Sang
Pencipta. Sungguh Maureen tidak sanggup membayangkan jika hal itu akan terjadi
sekarang. Ayahnya, orang yang selama ini menjadi pelindung dia, orang yang berjuang
untuk mewujudkan apapun impian Maureen, hingga saat sekarang bisa mencapai apa
yang menjadi tujuan hidup mereka.
Mungkin bagi sebagian orang, melihat Maureen adalah sosok
yang sudah mendapatkan kebahagiaan sempurna. Bagaimana tidak, apapun bisa
dimiliki oleh putrid semata wayangnya pemilik KSM Group ini. Jangankan Cuma kendaraan
mewah, pesawat pribadipun Maureen punya. Jangankan rumah mewah, jika mau satu kampongpun
sanggup terbeli. Tidak terhitung jumlah harta yang dimiliki keluarga Tirta
Kusuma.
Tapi, ketika sang ayah Tuan Besar Tito Tirta Kusuma
terbaring lemah di bangsal rumah sakit, apa yang bisa dilakukan Maureen? Ternyata
mobil sport limited edition kepunyaannya, pesawat pribadinya tidak berarti apa
apa.
Maureen tercenung. Ternyata mengejar dunia tidak akan pernah
ada habisnya. Selalu kurang, kurang dan kurang. Padahal setelah meninggal, apa
yang bisa dibanggakan? Ah Maureen, kenapa kamu baru sadar setelah ujian berat
menimpa kamu?
Maureen teringat sebuah kisah yang diceritakan oleh dosen
psikologi di kampus dulu, saat itu ada seorang karyawan di sebuah perusahaan
konstruksi. Dia sedang bekerja di lantai bawah bersama kawan kawannya. Sedangkan
sang mandor berada di lantai tiga. Suatu saat, sang mandor ingin memanggil
karyawan ini. Teriakan teriakan dari sang mandor yang dibarengi dengan
bisingnya suara mesin mesin pengaduk semen, membuat tidak terdengar oleh sang
karyawan. Sang mandor berinisiatif melemparkan uang lima puluh ribuan kea rah karyawan
itu, namun apa yang terjadi? Sang karyawan hanya berhenti sebentar dari
__ADS_1
pekerjaannya, lalu memungut uang itu dan bekerja lagi tanpa menoleh kea rah sang
mandor. Diulanginya lagi oleh sang mandor dengan nomimal yang lenih besar,
seratus ribuan. Tapi yang terjadi juga sama dengan yng tadi. Sang karyawan
hanya berhenti untuk memungut uang, lalu bekerja lagi tanpa mempedulikan sang
mandor. Akhirnya sang mandor mengambil batu kerikil. Lalu dijatuhkan tepat diatas
kepala sang karyawan. Sambil mengusap usap kepalanya yang merasa sakit, sang
karyawan mendongak ke atas, dan baru tahu bahwa sang mandor memanggil.
Maureen berfikir, apakah hari ini dia berada di posisi sang
karyawan itu, hingga teguran demi teguran belum mampu membuatnya menoleh ke
Sang Maha Pencipta.
Maureen terus merenung, merenung dan merenung.
.
Sementara para dokter tengah berjuang untuk mengangkat sel
kanker ganas yang ada di kepala Tuan Besar Tito. Beberapa kali mereka menghela
nafas panjang. Bagaimana tidak, mereka tahu bahwa pekerjaannya kali ini
resikonya sangat tinggi, belum lagi yang ditangani adalah orang paling
berpengaruh di sebuah perusahaan besar yang terkenal di Jakarta bahkan sebagian
dunia.
diinginkan, pasti semua media massa akan memberitakan kejadian ini. Sekarang saja,
sakitnya Pak Tito sudah menjadi trending topic di majalah majalah bisnis baik
di Indonesia, Amerika ataupun di Negara Negara lain. Hal ini wajar, karena
salah satu perusahaan Maureen berada di New York, dan itu juga bukan perusahaan
yang bisa dibilang kecil. Sahamnya juga sangat luar biasa diperhitungkan di
Amerika Serikat.
Mereka, tim dokter ahli yang menangani operasi kanker otak
stadium 4 Tuan Besar Tito terus bekerja. Mereka tahu bahwa yang dipertaruhkan
dalam pekerjaannya kali ini bukan hanya nama baiknya sebagai dokter ahli, namun
juga akan berdampak pada nama baik rumah sakitnya juga. Jika operasi kali ini
berhasil dengan gemilang, pasti mereka akan terkenal dan menjadi sorotan
wartawan wartawan media cetak dan elektronik.
Sementara itu, Tuan
Tito terbaring dibawah pengaruh obat penenang. Sudah hampir satu jam proses
operasi dari Tuan Tito, namun belum semua sel kanker bisa diangkat. Ini dikarenakan
letak sel kanker ini yang berada agak kedalam diantara otak besar dan otak
kecil, sehingga tim dokter ini harus ekstra hati hati dalam menanganinya. Dan wajar
__ADS_1
jika ini harus diatasi oleh rumah sakit sekelas Nevada. Karena jika di rumah
sakit yang belum dilengkapi dengan alat super canggih yang mampu mendeteksi sel
kanker dengan akurat, akan sangat berbahaya. Karena sel kanker ini jika sudah
diangkat dan tidak bisa terangkat secara sempurna, sisa sel atau kista yang
masih tersisa bisa berkembang berkali kali lipat dari sel induknya.
Setelah hampir dua jam proses pengangkatan kanker dari kepala
Tuan Tito dilakukan, akhirnya selesai juga. Nampak keringat bercucuran di
pelipis dan pipi para dokter tim ahli yang melakukan operasi terhadap Tuan
Tito.
Nampak pengacara Whang tetap setia menunggu detik demi detik
operasi dari Tuan Tito. Memang pengacara ini tanggung jawabnya luar biasa. Itulah
kenapa Pak Tito mempercayakan semuanya pada dia.
.
.
Sudah pukul 17.00 waktu Nevada. Maureen tersentak. Dia terbangun
dan, ah….. ternyata dia termenung di kursi penunggu pasien di dekat kamar
operasi tadi sampai tertidur. Berarti sudah tiga jam sejak Tuan Tito masuk
kamar operasi sampai saat ini. Tapi belum ada tanda tanda ayahnya dibawa
keluar. Sungguh suatu penantian yang sangat panjang. Panjang ya, sangat
panjang.
Maureen merasakan satu keputus asaan yang amat sangat. Kawatir,
takut, gelisah jadi satu. Bagaimana tidak, proses operasi yang dialami oleh
ayahnya ternya memerlukan waktu yang lebih lama dari biasanya. Apakah ada yang
sangat berbahaya dan mengkawatirkan? Berbagai pertanyaan tibul di benak Maureen.
Beberapa saat kemudian nampak pengacara Whang keluar dari
kamar operasi, tapi masih sendiri. Tim dokter belum kelihatan muncul. Memang dari
saran tim dokter yang menangani operasi Tuan Tito, mengharap Maureen tidak ikut
menyaksikan operasi Tuan Tito, mengingat keadaan dia yang sedang mengandung,
dikawatirkan jika Maureen tidak sanggup melihat darah. Itulah kenapa Maureen memandatkan
hak keluarga pada pengacara Whang.
“Bagaimana keadaan ayah Pak Whang” Tanya Maureen tidak sabar
ketika melihat pengacara Whang keluar dari kamar operasi.
.
.
.
__ADS_1