
Rayen menyambut Pengacara Wang dengan hati yang berdebar-debar, ia belum tau pasti apa tujuan pengacara Wang datang kerumahnya, tetapi dia menutupi kegugupannya dengan baik sehingga tidak terdeteksi oleh pengacara Wang.
Ilustrasi Pengacara Wang (Photo Dari Google)
Setelah mempersilahkan pengacara Wang duduk Rayen memanggil pembantunya untuk membuatkan dua cangkir kopi dan menghidangkan beberapa cemilan untuk pengacara Wang dan dirinya.
Tak lama kemudian Bi Minah datang dengan sebuah nampan berisi dua cangkir kopi dan dua toples makanan ringan/camilan.
" Silahkan diminum kopinya tuan-tuan, dan silahkan dinikmati cemilannya!" ucap Bi Minah sambil meletakkan kopi dan cemilan diatas meja.
" Terima kasih bi!" sahut Rayen.
" Terima Kasih bu!" sahut pengacara Wang.
Bi Minah tersenyum kemudian dia pamit kembali bekerja, Rayen menatap wanita paruh baya itu sampai menghilang dibalik pintu dapur sebelum dia memulai pembicaraan.
" Pengacara Wang Silahkan dinikmati kopinya. Dan ada hal penting apa yang membuat Pengacara Wang datang berkunjung kemari? dan jika berkaitan dengan istri saya dia sedang tidak ada dirumah " tanya Rayen sambil menjelaskan jika Maureen tidak berada dirumah dengan hati berdebar-debar takut ada masalah serius.
" Terima kasih tuan Rayen!" ucap Pengacara Wang sebelum menyeruput kopinya.
" Dan untuk masalah ini bukan masalah serius karena berkaitan dengan rumah tangga tuan dan nyonya, saya pribadi sebenarnya cukup sungkan untuk menanyakan masalah ini tetapi karena ini berkaitan dengan pekerjaan saya sebagai pengacara nyonya Maureen maka saya menginginkan tuan menjawab ini dengan sejujur-jujurnya?, dan ini perintah langsung dari nyonya Maureen!." lanjut pengacara Wang menjelaskan.
" Kamu tau dimana dia?" tanya balik Rayen kepada pengacara Wang.
" Tentu saya tau tuan, tapi mohon maaf nyonya melarang saya mengatakan keberadaanya kepada anda. Tapi kesimpulannya nyonya baik-baik saja!" jawab pengacara wang dengan nada formal khas pengacara.
" Baiklah, syukur kalau dia baik-baik saja!" ucap Rayen sambil menyeruput kopinya.
" Tuan Rayen apa hubungan anda dengan sekertaris Vivi?" pertanyaan pengacara Wang yang membuat Rayen membulatkan matanya lebar-lebar, 'jadi ini masalahnya!' batin Rayen.
__ADS_1
" Tidak ada, dulu hanya rekan kerja saja sekarang sudah bukan siapa-siapa!" jawab Rayen dengan nada santai.
" Apakah anda tidak berdusta tuan? lalu apa alasan anda menggandeng nona Vivi dimall xx pada waktu itu?" pertanyaan pengacara Wang dilontarkan begitu saja tanpa imbuhan apapun.
" Tentu saja tidak!. Malam itu aku berencana untuk membelikan hadiah untuk Maureen mengajak sekertaris Vivi karena dia perempuan jadi mungkin lebih mengerti selera wanita, karena jalannya sekertaris Vivi begitu lambat aku menarik tangannya supaya lebih cepat, karena memang keadaan mall cukup padat." Jawab Rayen berharap dapat memuaskan pengacara Wang, baginya Maureen memberikan kesempatan sudah cukup bagus walaupun hanya lewat pengcaranya jadi dia tidak ingin menyia nyiakan kesempatan ini.
Pengacara Wang mulai menulis semua yang didengarnya didalam laptopnya untuk memberikan laporan kepada Maureen, tak lupa juga dia menaruh alat perekam demi meyakinkan Maureen.
Ilustrasi Sekertaris Vivi (Photo dari Google).
Pengacara Wang masih melanjutkan semua pertanyaannya setelah dirasa cukup memuaskan dia langsung mengirim hasilnya kepada Maureen, tanpa sepengetahuan Rayen.
Pengacara Wang pamit undur diri, dia meninggalkan kediaman Rayen dan Maureen itu dengan ekspresi tenang seperti tidak terjado apa-apa.
***********
Maureen duduk disebuah caffe dengan sekertaris Zhang, Maureen menikmati secangkir coklat panas yang telah dipesankan oleh sekertaris Zhang, sementara sekertaris Zhang sendiri memilih menikmati secangkir kopi.
Ilustrasi Sekertaris Zhang (Photo Dari Google).
Maureen menikmati Coklat panasnya sambil membuka email yang masuk diponselnya, saat membuka yang paling menarik perhatiannya adalah email yang didapat dari pengacara Wang.
Dia membukanya dan membaca isinya yakni berkaitan dengan tugas yang diberikannya, dengan sisipan Audio hasil rekaman percakapan.
Dia menggunakan ear phone untuk mendengarkan percakapan itu, seutas senyum terlintas dibibir mungilnya saat mendengarkan isi dari audio itu. Kemudian dia menanyakan kebenaran perkataan Rayen menurut sekertaris Zhang.
" Sekertaris Zhang, bagaimana menurutmu dengan ini?" tanya Maureen sambil mengulurkan earphonenya.
__ADS_1
Sekertaris Zhang mengambil earphone itu dan menyisipkan ditelinganya sehingga dia dengan jelas mendengar kata-kata Rayen.
" Nyonya Presdir, kedengarannya tuan Rayen jujur!" jawab sekertaris Zhang setelah sepenuhnya mendengarkan rekaman itu.
" Itu artinya aku berdosa telah menuduh sekertaris Vivi dan memecatnya!" ucap Maureen sambil menyangga dagunya dengan sebelah tangannya sementara tangannya yang lain sibuk memainkan ponselnya.
" Mungkin seperti itu nyonya," jawab jujur sekertaris Zhang,
Maureen hanya memainkan ponselnya tanpa melakukan apapun, kemudian dia berinisiatif menghubungi Vivi melalui sekertaris Zhang, dia meminta sekertaris Zhang menyambungkan laptopnya untuk Video call dengan sekertaris Vivi.
" Hallo nona Vivi?" sapa Maureen dengan tersenyum, tetapi dia melihat ketakutan diwajah sekertaris Vivi.
" Nona aku minta maaf karena sudah salah paham, sekarang aku sudah tau jika suamiku memaksamu untuk membantunya memilih hadiah untukku, nona Vivi apakah anda memaafkanku?" imbuh Maureen dengan nada lembut seperti biasa.
" ten-tu presdir!" jawab singkat sekertaris Vivi dengan gugup.
" baiklah jika begitu lusa datanglah ke KSM temui aku!" ucap Maureen sebelum akhirnya menyudahi panggilan Video itu. Maureen bernafas lega karena menyadari jika semua kejadiaan ini hanya sebuah kesalah pahaman semata.
.
.
.
.
.
Saya Pribadi turut berduka atas bencana banjir yang melanda Jakarta dan sekitarnya, semoga saudar-saudari kita yang terdampak diberikan kesehatan, ketabahan dan kekuatan.
Buat Readersku semuanya, musim penghujan telah tiba berhati-hatilah dalam beraktifitas saat hujan, jangan lupa berdoa.
__ADS_1
Mohon maaf juga telat up karena 2 episode yang sy up kemarin rusak jadi saya hapus sebelum berhasil, ini harus nulis lagi jadi maafkan saya jika mengecewakan kalian.