
Viona masih menatap mobil Maureen yang sudah melaju jauh meninggalkan dia mematung diparkiran minimarket, dia sangat membenci Maureen dan berfikir untuk menyingkirkan Maureen dari kehidupannya, dia merasakan sedikit takut dengan ancaman Maureen.
Sementara itu didalam mobil Maureen masih menyetir dengan tenang, sedangkan Abellia tertawa terbahak-bahak mendengar kata-kata Maureen.
"Bell, kenapa kamu tertawa?".
"Ha ha ha ha, Kamu tadi hebat banget main gertak aja tu sibibir doer,".
"Siapa tu bibir doer?,".
"siapa lagi kalau bukan Viona, tunangan Rayen,".
" (tersenyum) Aku hebat kan Bell, bukan cuma itu saja aku bisa hancurkan dia dan keluarganya (sambil fokus menyetir),".
" Benar Reen, aku lihat kamu begitu Woow gitu, tapi kamu yakin banget sih bisa hancurin usaha keluarganya,".
" Jelas Bell, Investor terbesar dari Perusahaannya adalah Perusahaanku jadi jika aku tarik investasi perusahaanku, maka mau tidak mau dia akan jatuh bangkrut!".
"bih, bih, bih kereeen sekali Reen,!"
__ADS_1
Perbincangan mereka terhenti ketika mereka memasuki gerbang rumah Maureen, Maureen memasukkan mobilnya kedalam Garasi, kemudian dia memanggil beberapa orang pelayan untuk mengangkat belanjaanya dan membawa ke taman belakang, Maureen melihat mobil yang tidak asing dihalaman rumahnya, ya itu adalah mobil Rayen, "Pasti Chika dan Rakha yang mengundang" batinnya. Maureen mengandeng tangan Abellia masuk, dan langsung menuju ke taman belakang. "Aku pulang" teriak Maureen. Maureen meilihat 6 orang disana, Ada Ayahnya, Pak Doni, Chika, Rakha , Azar dan Rayen tentunya.
"Hallo, Zar Ray, kalian udah lama nyampeknya" tanya Maureen.
"belum Kok," Jawab Rayen.
"Ya Udah tunggu sebentar semuanya, aku mandi dulu. Kamu mau ikut mandi Bell?".
"Kamu duluan aja aku disini dulu nanti gantian, lgain tubuh kamu bau si bibir doer itu ha ha".
"Sialan kamu Bell, awas sampai cerita macam macam". jawab Maureen sambil berlalu pergi.
"yakin kalian penasaran takutnya kena stroke jik dengar" kata Abellia.
"Apa yang terjadi, kenapa kamu ga segera ceritakan kepadaku" ketus Chika.
"Baiklah baiklah, tadi waktu aku belanja sama Maureen di Minimarket, kami ketemu sama bibir doer, eh maksudku Viona tunangannya Rayen" kata Abellia.
"terus"!!!
__ADS_1
"yakin Rayen ga marah jika lanjut cerita!"
"Don't worry," jawab Rayen.
"Kalian tau tadi itu Viona hina Maureen dengan serendah rendahnya, tetapi Maureen hebat dia membalas seluruh perlakuan Viona dengan lebih perih, dia membayar belanjaan dengan kartu Golden Vip , bukankah itu tidak masuk akal jika tidak berniat pamer. Bayar Goceng pakek Golden Card Vip. Dan Parahnya lagi Viona ngaku ngaku mobil Maureen itu adalah miliknya, semuanya terjadi begitu saja" kata Abellia menjelaskan.
Sedangkan yang lain ternganga mendengar kata kata Abellia, sampai dibuyarkan oleh Tito. "Sudah sudah Maureen memang hebat, kalian lanjutkan saja partynya om harus keluar kota urusan bisnis, jadi tolong sekalian nanti bilang sama Maureen" kata Tito yang langsung pergi disusul oleh Pak Doni dibelakangnya.
Maureen melihat mobil ayahnya yang telah meninggalkan halaman rumahnya, tentu itu hal yang biasa untuknya, menjadi putri seorang pengusaha memang tidak mudah, apalagi sekarang P Doni harus mengantarkan ayahnya kemanapun ayahnya pergi. Maureen melanjutkan langkah kakinya menuju taman belakang, saat dia membuka pintu semua mata tertuju padanya. Termasuk Rayen.
Maureen mengacuhkannya dia mendekati Abellia.
"Bell, jangan bengong buruan sana mandi,?"
"Kamu Cantik bangett Reen, mau kemana!" sahut Abellia.
"Mau godaain Azar, habis Azar punya pacar ga mau mandi kan bau!"
"Hei, Reen jangan gitu, aku pergi mandi sekarang."
__ADS_1
Kata Abellia sambil berlalu pergi meninggalkan mereka.