
Pak Rehan meraih gagang telepon yang tadi terjatuh karena Maureen
tak sadarkan diri. Telepon itu ternya belum terputus.
“Ha;lo, halo….. “
Terdengar suara di seberang telepon. Dan akhirnya Pak Rehan
pun menjawab telepon itu.
“Halo, Pak pengacara ya? Saya Rehan Pak, orang tuanya Rayen,
mertuanya Maureen. Maaf pak, kalau boleh tahu ada apa ya pak?” Tanya Pak Rehan
“Oh, maaf Pak Rehan. Nyonya Maureen nya kemana ya?” Tanya seseorang
di seberang telepon yang dari Bi Minah Pak Rehan tahu bahwa namanya adalah
pengacara Wang.
“Maaf Pak, Maureen sekarang sedang pingsan. Masih ditolong
sama ibunya” kata Pak Rehan
“Oh, iya pak. Maaf, saya tadi mungkin ngasih kabarnya
terlalu mendadak. Karena memang ini tadi kejadiannya barusan saja sekitar
setengah jam yang lalu.” Kata pengacara Wang
“Kalau boleh tahu ada apa ya Pak?” Tanya Pak Rehan
“Maaf Pak, begini. Tadi sore sekitar pukul 19.30, Tuan Besar
Tito kondisinya menurun drastic. Jadi saya langsung membawa Tuan Besar Tito ke
IGD. Sekarang saya sedang berada di rumah sakit. Kondisi Pak Tito masih kritis”
kata pengacara Wang
“Apa? Pak Tito kritis? Baiklah pak, kami akan segera kesana”
kata Pak Rehan sambil menutup pembicaraan telepon setelah sebelumnya tidak lupa
mengucapkan terima kasih atas informasi yang diberikan oleh pengacara Wang.
Pak Rehan kemudian menoleh ke arah Maureen. Dan nampaknya
menantunya itu sudah mulai sadar.
“Bi, tolong panggilkan Pak Jay ya?” kata Maureen pada Bi
Minah.
Untung saja hari itu masih agak sore. Pak Jay yang tadi
sedianya akan pulang, belum jadi pulang karena masih ada pekerjaan yang
diselesaikan di belakang.
“Baik Nyonya” kata Bi Minah sambil permisi untuk memanggil
Pak Jay, sopir keluarga Maureen.
Ibu Kim Nana kemudian mengelus rambut menantunya dengan
perasaan sayang. Kemudian dia bertanya pada Maureen.
“Apakah Nak Maureen akan ikut ke rumah sakit malam ini?” Tanya
Ibu Kim Nana
“Iya Bu. Ayah hanya punya keluarga aku satu satunya. Maureen
tidak ingin terjadi apa apa pada diri ayah” kata Maureen
“Baiklah Nak, jika begitu keinginanmu, tidak apalah. Yang penting
kamu bisa kuat dan sabar menerima cobaan. Ayah dan Ibu akan mendampingi kamu”
kata Ibu Kim Nana.
Dan sebentar kemudian, Pak Jay sudah datang dan siap untuk
berangkat menuju rumah sakit.
.
.
.
Sementara itu, Rayen yang berada di pesawat sangat kaget
ketika bangun dan mendapati tubuhnya telah bersandar di pundak Vivi.
Ah, Vivi. Gadis cantik yang ada disampingnya. Memang cantik.
Pandai dan juga sederhana. Sungguh idaman setiap pria.
Walah, walah, walah ternyata tidur toh……
Pantesan saja ketika kepala Rayen menindih pundaknya, dia
diam saja.
__ADS_1
Rayen kemudian membetulkan tempat duduknya. Penerbangan mereka
sudah hampir sampai. Pesawat sudah hampir mendarat di Jakarta.
Dan kelihatannya Vivi sudah menggeliat. Dan terbangun.
“Sudah bangun Vi?” Tanya Rayen
Vivi gelapapan. Dia tidak ingat kalau saat ini sedang berada
di pesawat bersama Rayen. Yang dia ingat sepanjang tidurnya dia sedang mimpi
indah. Indah sekali.
“Eh, maaf Pak Presdir. Saya ketiduran. Maaf sekali lagi maaf
Pak” kata Vivi
“Tidak apa apa Vi, saya saja juga baru saja bangun kok” kata
Rayen
“Iya, Pak. Kita hampir sampai ya?” Tanya Vivi
“Iya Vi. Kita sudah hampir sampai di Jakarta. Eh, Vi? Kamu ulang
tahunnya kapan?”
Kenapa ya Pak Rayen pake nanya ulang tahun segala? Apa mau
kasih kado buat Vivi? Ah, apa mau ntraktir Vivi? Apa , apa dan apa? Bingung ah,
Pak Rayen ini ada ada saja.
“Ada apa ya Pak, kok nanya ulang tahun Vivi. Kok Vivi jadi
bingung?” Tanya Vivi
“Ada deh….. ada yang special ingin saya katakan sam kamu Vi.
Dan itu adalah kejutan untuk kamu di hari ulang tahunmu.” Kata Rayen
“Kejutan, kejutan apa to Pak, saya jadi bingung? Bingung sekali”
Tanya Vivi makin kebingungan
“Ya yang namanya kejutan masa dikatakan sekarang. Kan kamu
sudah dewasa, sudah waktunya berumah tangga. Itu saja bocorannya. Nah, ulang
tahunmu kurang berapa hari?” Tanya Rayen
Vivi makin bingung. Kejutan? Waktunya berumah tangga? Hari ulang
tahun? Apa Pak Rayen betul betul suka sama dia ya?
kata Rayen sambil menyenggol pundak Vivi, karena gadis itu melongo saja ketika
ditanya.
Nervous kali ya Vi. Eh nerves. Tau apalah itu, si Vivi emang
ndeso pol.
“Eh, Iya Pak. Kurang 10 hari lagi.”
“O. ya? Siap siap ya Vi, mudah mudahan kamu suka dengan apa
yang akan saya berikan special sama kamu.” Kata Rayen.
Special? Ah, apa benar Pak Rayen akan menyatakan cinta sama
Vivi ya?
Vivi ingin sekali mendesak Rayen untuk mengatakan tentang
apa kejutan yang akan diberikan pria tampan idaman setiap wanita bos besar dari
Putra Company ini.
Namun belum sempat Vivi bertanya, terdengar suara suara pramugari
yang mengatakan sebentar lagi pesawat akan segera tiba di landasan mohon
penumpang mempersiapkan diri.
“Ingat ya Vi, kamu adalah orang special di hidupku dan di
perusahaan Putra company. Jadi kejutan ini special untuk orang yang saya pilih”
kata Rayen
Special di hidup Pak Rayen? Apakah menggantikan posisi Ibu
Maureen? Ataukah jadi istri kedua Pak rayen? Kalau boleh memilih, mendingan
jadi istri kedua saja ya kali, kan Ibu Maureen tetap pada posisinya saja. Ah nanti
saja lah kalau sudah turun dari pesawat, biar Vivi Tanya lagi sama Pak Rayen,
apa maksudnya orang special dalam hidupnya, pikir Vivi.
.
Pesawat yang ditumpangi Rayen dan Vivi mendarat dengan mulus
di bandara Soekarno Hatta Jakarta pada dini hari menjelang subuh itu. Vivi berjalan
dibelakang Pak Rayen sambil senyum senyum sendiri. Ah, pesawat ini penuh dengan
__ADS_1
kenangan yang sangat manis. Manis sekali bagi hidup Vivi. Bagaimana tidak,
seumur hidup dia belum pernah merasakan pacaran, tapi di pesawat itu, orang
tampan yang dia kagumi selama ini menyandarkan kepala dipundaknya, walaupun
secara tidak sadar karena sedang tidur. Belum lagi, orang yang dia kagumi itu
mengatakan bahwa dia adalah orang yang istimewa dalam hidupnya. Ah, Vivi. Tidak
mimpikan dirimu pagi ini?
Vivi ingin sekali bertanya pada Rayen, dia ingin mendesak
apa sebenarnya maksud Rayen.
Namun baru saja dia akan berbicara. Tiba tiba ponseldi saku
Rayen bordering. Eh nada deringnya pake gending Jawa pula. Mungkin hasil
download dari youtube nya BHARATA FM TRENGGALEK kali ya? Hahaha….. author mah
senang bercanda……
Rayen meraih ponsel yang ada disakunya. Tertulis disana ‘MY
WIFE’
Astaga, dia lupa member tahu kalau hari ini dia sudah pulang
pada istrinya. Rayen, Rayen. Baru sukses sedikit saja sudah lupa sama istrimu
sendiri. Gimana sih kamu ini?
Ditekannya gambar gagang telepon warna hijau, dan dari
seberang telepon nampak suara wanita, tapi bukan Maureen.
Lalu siapa ya wanita yang ada di ujung telepon itu?
“Ini Ibu nak, berkali kali Ibu telepon kamu, tapi handphone
kamu tidak aktif. Ini tadi ibu coba berkali kali baru kamu angkat sekarang”
kata wanita yang ada di seberang telepon yang ternyata adalah Ibu Kim Nana. Ibunya
Rayen sendiri.
Rayen, Rayen. Kenapa sih sama suara ibumu sendiri saja
sampai lupa.
“Ya Bu, maaf bu. Kemarin saya lupa member kabar ke rumah
kalau saya sudah pulang. Sekarang saya ada di bandara bu.” Kata Rayen
“Di bandara?” Ibu Kim Nana kelihatannya kaget.
“Iya bu, saya sudah sampai di Jakarta. Ada apa ya Bu,
kelihatan nya penting sekali.” Tanya Rayen
Beberapa saat lamanya Ibu Kim Nana menghela nafas panjang.
“Kamu cari taksi saja ya Ray, dan langsung ke rumah sakit
XXX dulu. Soalnya situasi sedang gawat. Pak Tito sedang kritis” kata Ibu Kim
Nana terus terang karena sudah bingung mau berkata apa.
“Apa, ayah kritis? Baiklah Bu, saya segera kesana” kata
rayen sambil menutup telepon.
Sementara Vivi yang amu bertanya tentang apa kejutan
untuknya dari Pak Rayen, Cuma melongo saja.
“Vi, tolong kamu cari taxi sendiri ya, kamu langsung pulang
dulu saja. Setelah itu nanti kamu ke kantor, bawa berkas berkas saya ke ruangan
saya. Saya akan langsung ke rumah sakit. Jika nanti saya belum sempat ke kantor
nanti kamu saya hubungi, ayah sedang kritis, saya harus segera kesana” kata
rayen nyerocos tak teratur. Dia tidak peduli Vivi tahu maksudnya apa tidak. Yang
penting dia harus segera sampai di rumah sakit.
Sementara Vivi masih melongo……
Pak Rayen, ah aneh betul harinya pagi ini…..
Tapi sudahlah, apa perintah Pak Presdir laksanakan,
kejutannya din anti saat sudah berulang tahun saja ya Vi……..
.
.
Terima kasih untuk readers yang telah berkenan member Vote
untuk cerita ini. Semoga readers makin penasaran dengan nasib Vivi dan Rayen di
cerita ini
Selamat pagi
__ADS_1