Dari Cupu Jadi Ratu

Dari Cupu Jadi Ratu
Musim Ke Empat Bag 14


__ADS_3

 


 


Pak Rehan meraih gagang telepon yang tadi terjatuh karena Maureen


tak sadarkan diri. Telepon itu ternya belum terputus.


“Ha;lo, halo….. “


Terdengar suara di seberang telepon. Dan akhirnya Pak Rehan


pun menjawab telepon itu.


“Halo, Pak pengacara ya? Saya Rehan Pak, orang tuanya Rayen,


mertuanya Maureen. Maaf pak, kalau boleh tahu ada apa ya pak?” Tanya Pak Rehan


“Oh, maaf Pak Rehan. Nyonya Maureen nya kemana ya?” Tanya seseorang


di seberang telepon yang dari Bi Minah Pak Rehan tahu bahwa namanya adalah


pengacara Wang.


“Maaf Pak, Maureen sekarang sedang pingsan. Masih ditolong


sama ibunya” kata Pak Rehan


“Oh, iya pak. Maaf, saya tadi mungkin ngasih kabarnya


terlalu mendadak. Karena memang ini tadi kejadiannya barusan saja sekitar


setengah jam yang lalu.” Kata pengacara Wang


“Kalau boleh tahu ada apa ya Pak?” Tanya Pak Rehan


“Maaf Pak, begini. Tadi sore sekitar pukul 19.30, Tuan Besar


Tito kondisinya menurun drastic. Jadi saya langsung membawa Tuan Besar Tito ke


IGD. Sekarang saya sedang berada di rumah sakit. Kondisi Pak Tito masih kritis”


kata pengacara Wang


“Apa? Pak Tito kritis? Baiklah pak, kami akan segera kesana”


kata Pak Rehan sambil menutup pembicaraan telepon setelah sebelumnya tidak lupa


mengucapkan terima kasih atas informasi yang diberikan oleh pengacara Wang.


Pak Rehan kemudian menoleh ke arah Maureen. Dan nampaknya


menantunya itu sudah mulai sadar.


“Bi, tolong panggilkan Pak Jay ya?” kata Maureen pada Bi


Minah.


Untung saja hari itu masih agak sore. Pak Jay yang tadi


sedianya akan pulang, belum jadi pulang karena masih ada pekerjaan yang


diselesaikan di belakang.


“Baik Nyonya” kata Bi Minah sambil permisi untuk memanggil


Pak Jay, sopir keluarga Maureen.


Ibu Kim Nana kemudian mengelus rambut menantunya dengan


perasaan sayang. Kemudian dia bertanya pada Maureen.


“Apakah Nak Maureen akan ikut ke rumah sakit malam ini?” Tanya


Ibu Kim Nana


“Iya Bu. Ayah hanya punya keluarga aku satu satunya. Maureen


tidak ingin terjadi apa apa pada diri ayah” kata Maureen


“Baiklah Nak, jika begitu keinginanmu, tidak apalah. Yang penting


kamu bisa kuat dan sabar menerima cobaan. Ayah dan Ibu akan mendampingi kamu”


kata Ibu Kim Nana.


Dan sebentar kemudian, Pak Jay sudah datang dan siap untuk


berangkat menuju rumah sakit.


.


.


.


Sementara itu, Rayen yang berada di pesawat sangat kaget


ketika bangun dan mendapati tubuhnya telah bersandar di pundak Vivi.


Ah, Vivi. Gadis cantik yang ada disampingnya. Memang cantik.


Pandai dan juga sederhana. Sungguh idaman setiap pria.


Walah, walah, walah ternyata tidur toh……


Pantesan saja ketika kepala Rayen menindih pundaknya, dia


diam saja.

__ADS_1


Rayen kemudian membetulkan tempat duduknya. Penerbangan mereka


sudah hampir sampai. Pesawat sudah hampir mendarat di Jakarta.


Dan kelihatannya Vivi sudah menggeliat. Dan terbangun.


“Sudah bangun Vi?” Tanya Rayen


Vivi gelapapan. Dia tidak ingat kalau saat ini sedang berada


di pesawat bersama Rayen. Yang dia ingat sepanjang tidurnya dia sedang mimpi


indah. Indah sekali.


“Eh, maaf Pak Presdir. Saya ketiduran. Maaf sekali lagi maaf


Pak” kata Vivi


“Tidak apa apa Vi, saya saja juga baru saja bangun kok” kata


Rayen


“Iya, Pak. Kita hampir sampai ya?” Tanya Vivi


“Iya Vi. Kita sudah hampir sampai di Jakarta. Eh, Vi? Kamu ulang


tahunnya kapan?”


Kenapa ya Pak Rayen pake nanya ulang tahun segala? Apa mau


kasih kado buat Vivi? Ah, apa mau ntraktir Vivi? Apa , apa dan apa? Bingung ah,


Pak Rayen ini ada ada saja.


“Ada apa ya Pak, kok nanya ulang tahun Vivi. Kok Vivi jadi


bingung?” Tanya Vivi


“Ada deh….. ada yang special ingin saya katakan sam kamu Vi.


Dan itu adalah kejutan untuk kamu di hari ulang tahunmu.” Kata Rayen


“Kejutan, kejutan apa to Pak, saya jadi bingung? Bingung sekali”


Tanya Vivi makin kebingungan


“Ya yang namanya kejutan masa dikatakan sekarang. Kan kamu


sudah dewasa, sudah waktunya berumah tangga. Itu saja bocorannya. Nah, ulang


tahunmu kurang berapa hari?” Tanya Rayen


Vivi makin bingung. Kejutan? Waktunya berumah tangga? Hari ulang


tahun? Apa Pak Rayen betul betul suka sama dia ya?


kata Rayen sambil menyenggol pundak Vivi, karena gadis itu melongo saja ketika


ditanya.


Nervous kali ya Vi. Eh nerves. Tau apalah itu, si Vivi emang


ndeso pol.


“Eh, Iya Pak. Kurang 10 hari lagi.”


“O. ya? Siap siap ya Vi, mudah mudahan kamu suka dengan apa


yang akan saya berikan special sama kamu.” Kata Rayen.


Special? Ah, apa benar Pak Rayen akan menyatakan cinta sama


Vivi ya?


Vivi ingin sekali mendesak Rayen untuk mengatakan tentang


apa kejutan yang akan diberikan pria tampan idaman setiap wanita bos besar dari


Putra Company ini.


Namun belum sempat Vivi bertanya, terdengar suara suara pramugari


yang mengatakan sebentar lagi pesawat akan segera tiba di landasan mohon


penumpang mempersiapkan diri.


“Ingat ya Vi, kamu adalah orang special di hidupku dan di


perusahaan Putra company. Jadi kejutan ini special untuk orang yang saya pilih”


kata Rayen


Special di hidup Pak Rayen? Apakah menggantikan posisi Ibu


Maureen? Ataukah jadi istri kedua Pak rayen? Kalau boleh memilih, mendingan


jadi istri kedua saja ya kali, kan Ibu Maureen tetap pada posisinya saja. Ah nanti


saja lah kalau sudah turun dari pesawat, biar Vivi Tanya lagi sama Pak Rayen,


apa maksudnya orang special dalam hidupnya, pikir Vivi.


.


Pesawat yang ditumpangi Rayen dan Vivi mendarat dengan mulus


di bandara Soekarno Hatta Jakarta pada dini hari menjelang subuh itu. Vivi berjalan


dibelakang Pak Rayen sambil senyum senyum sendiri. Ah, pesawat ini penuh dengan

__ADS_1


kenangan yang sangat manis. Manis sekali bagi hidup Vivi. Bagaimana tidak,


seumur hidup dia belum pernah merasakan pacaran, tapi di pesawat itu, orang


tampan yang dia kagumi selama ini menyandarkan kepala dipundaknya, walaupun


secara tidak sadar karena sedang tidur. Belum lagi, orang yang dia kagumi itu


mengatakan bahwa dia adalah orang yang istimewa dalam hidupnya. Ah, Vivi. Tidak


mimpikan dirimu pagi ini?


Vivi ingin sekali bertanya pada Rayen, dia ingin mendesak


apa sebenarnya maksud Rayen.


Namun baru saja dia akan berbicara. Tiba tiba ponseldi saku


Rayen bordering. Eh nada deringnya pake gending Jawa pula. Mungkin hasil


download dari youtube nya BHARATA FM TRENGGALEK kali ya? Hahaha….. author mah


senang bercanda……


Rayen meraih ponsel yang ada disakunya. Tertulis disana ‘MY


WIFE’


Astaga, dia lupa member tahu kalau hari ini dia sudah pulang


pada istrinya. Rayen, Rayen. Baru sukses sedikit saja sudah lupa sama istrimu


sendiri. Gimana sih kamu ini?


Ditekannya gambar gagang telepon warna hijau, dan dari


seberang telepon nampak suara wanita, tapi bukan Maureen.


Lalu siapa ya wanita yang ada di ujung telepon itu?


“Ini Ibu nak, berkali kali Ibu telepon kamu, tapi handphone


kamu tidak aktif. Ini tadi ibu coba berkali kali baru kamu angkat sekarang”


kata wanita yang ada di seberang telepon yang ternyata adalah Ibu Kim Nana. Ibunya


Rayen sendiri.


Rayen, Rayen. Kenapa sih sama suara ibumu sendiri saja


sampai lupa.


“Ya Bu, maaf bu. Kemarin saya lupa member kabar ke rumah


kalau saya sudah pulang. Sekarang saya ada di bandara bu.” Kata Rayen


“Di bandara?” Ibu Kim Nana kelihatannya kaget.


“Iya bu, saya sudah sampai di Jakarta. Ada apa ya Bu,


kelihatan nya penting sekali.” Tanya Rayen


Beberapa saat lamanya Ibu Kim Nana menghela nafas panjang.


“Kamu cari taksi saja ya Ray, dan langsung ke rumah sakit


XXX dulu. Soalnya situasi sedang gawat. Pak Tito sedang kritis” kata Ibu Kim


Nana terus terang karena sudah bingung mau berkata apa.


“Apa, ayah kritis? Baiklah Bu, saya segera kesana” kata


rayen sambil menutup telepon.


Sementara Vivi yang amu bertanya tentang apa kejutan


untuknya dari Pak Rayen, Cuma melongo saja.


“Vi, tolong kamu cari taxi sendiri ya, kamu langsung pulang


dulu saja. Setelah itu nanti kamu ke kantor, bawa berkas berkas saya ke ruangan


saya. Saya akan langsung ke rumah sakit. Jika nanti saya belum sempat ke kantor


nanti kamu saya hubungi, ayah sedang kritis, saya harus segera kesana” kata


rayen nyerocos tak teratur. Dia tidak peduli Vivi tahu maksudnya apa tidak. Yang


penting dia harus segera sampai di rumah sakit.


Sementara Vivi masih melongo……


Pak Rayen, ah aneh betul harinya pagi ini…..


Tapi sudahlah, apa perintah Pak Presdir laksanakan,


kejutannya din anti saat sudah berulang tahun saja ya Vi……..


.


.


Terima kasih untuk readers yang telah berkenan member Vote


untuk cerita ini. Semoga readers makin penasaran dengan nasib Vivi dan Rayen di


cerita ini


Selamat pagi

__ADS_1


__ADS_2