
Vanno menjalankan mobilnya, ia mengemudi di tengah lalu lalang nya jalan ibu kota, suara bising kendaraan tidak terdengar di telinganya. Tentu saja, super car vanno telah dilengkapi dengan peredam suara.
Sesampainya di depan mall yang tujuan Vanno menghentikan mobilnya, ia membuka kaca jendelanya dan melihat ayahnya tengah duduk di bumper mobil...
Maureen membuka pintu mobil Vanno dan keluar, begitu juga dengan Vanno, anak semata wayang Maureen dan Rayen itu ikut keluar. Ia mencium punggung tangan ayahnya, kemudian bersandar di mobilnya.
"Vanno habis ini kamu mau kemana nak?" tanya Maureen.
"Tidak kemana mana bun, mau pulang saja sambil mau mikir dimana aku mau kuliah dan jurusan apa yang harus ku ambil."
"Haha... jadi anak tunggal tidak lah gampang Vanno, kamu harus mewarisi bisnis keluarga yang sudah turun temurun ini."
"Iya ayah Vanno tau, tapi vanno ingin menjadi dokter."
"Haha... sudahlah nak, sebaiknya kamu pikirkan dulu baik-baik Ayah sama bunda akan tetap mendukung mu."
Tawa kecil dari Rayen, wajah tampannya sudah beralih ke Vanno sementara ia sudah mulai tumbuh kerutan-kerutan di wajahnya. Rayen melepas kacamatanya kemudian mengusap matanya yang berair, ia kembali mengenakan kacamata itu dan menatap anak tunggalnya itu.
"Sudahlah, kalau kamu mau pulang, pulanglah! ayah sama bunda ada urusan sebentar, tunggu kami pulang nanti kami akan membantumu berfikir."
__ADS_1
"Kenapa terburu-buru sekali ayah.. ada apa?"
"Semakin cepat semakin baik anakku."
"Baiklah ayah, Kalau begitu aku akan pulang dulu."
Vanno berpamitan untuk pulang, setelah mencium punggung tangan kedua orang tuanya Vanno bergegas masuk kedalam mobilnya. Ia mengemudikannya dengan kecepatan sedang kembali menuju kediaman nya.
sepanjang perjalanan Vanno masih memikirkan bagaimana keputusan nya, apakah dia ingin kuliah di USA atau Inggris, tetapi ia tidak ambil pusing, karena jalanan semakin gelap ia menambah sedikit laju mobilnya dengan harapan cepat sampai ke rumah nya.
Masih di jalan, jalanan yang sepi membuat Vanno dengan leluasa mengemudikan mobilnya, tetapi ia sangat terkejut ketika sesosok gadis tiba-tiba berlari dari sebrang tepat di depan mobilnya, dengan cekatan Vanno membanting stir ke kanan dan alhasil mobilnya menabrak trotoar.
"Maaf, ucap gadis itu gemetar."
"Tidak apa-apa, kenapa kamu terburu-buru sekali?" tanya Vanno.
"Ayah ku masuk rumah sakit, kena serangan jantung mendadak saat mengetahui perusahaan kami hampir bangkrut sekarang dibawa ke rumah sakit, aku tergesa-gesa karena jalan ini yang paling dekat dari rumah sakit." ucap gadis itu sambil menunduk.
"Tapi tidak baik seperti itu, jika saja tadi aku menabrakmu maka kamu akan menyusul ayahmu masuk rumah sakit."
__ADS_1
"Terima kasih perhatian mu tuan, tapi saya harus segera pergi."
"Panggil saja saya Vanno, jika begitu kenapa tidak pergi bersamaku karena rumah sakit searah dengan rumahku."
Gadis itu berbinar-binar, nampak sorot mata penuh harapan bahwa Vanno benar benar ingin memberinya tumpangan. Vanno segera membuka pintu mobilnya kemudian mempersilahkan gadis itu masuk, kemudian gantian dengan dirinya yang kembali ke kursi kemudinya.
ia duduk di sebelah, sebelum mengundurkan mobilnya ia menanyakan siapa nama gadis itu,
"Siapa namamu?"
" Zanna Kirania Ming, biasa dipanggil Zanna."
"Ya sudah Zanna jangan membuang waktu mari kita berangkat."
"Terima kasih tuan."
Vanno mengundurkan mobilnya yang sempat menabrak trotoar itu, kemudian ia segera melajukan nya menuju rumah sakit. Karena rumah sakit di area itu cuma ada satu, jadi Vanno sudah menebak ke rumah sakit mana tanpa harus bertanya kembali.
.
__ADS_1
.