
Siang itu di kantor Putra company tengah berkumpul hamper seluruh
staf dari Putra Company, juga Presdir dari KSM Group, Maureen Tirta Kusuma, dan
sekretaris Zhang. Saat mereka sedang menyelesaikan data yang diperlukan oleh
Presdir KSM Group, tiba tiba ada seorang staf yang melapor ke Maureen bahwa ada
berita penting yang berasal dari kantor KSM Group dan ingin disampaikan
langsung kepada Maureen.
Maureen bergegas meraih telepon yang ada di meja kerja
Rayen. Dan segera disambungkan oleh staf ke seseorang di ujung telepon.
“Hallo selamat siang dengan Maureen Tirta Kusuma disini”,
sapa Maureen dengan sopan.
“Maaf Nyonya Maureen. Saya Alfino, pengacara Tuan Tito Tirta
Kusuma ayah anda”, kata seseorang yang ada di tel[pon.
Suara itu memang sudah tidak asing lagi di telinga Maureen. Sudah
beberapa kali ayahnya mempertemukan Maureen dengan pengacara pribadinya itu. Pengacara
Alfino, salah satu pengacara handal yang dipercaya oleh Pak Tito untuk mengurus
keperluan pribadinya dan keluarganya.
“O, iya Pak Tito. Ada apa ya, ada yang bisa saya bantu?” Tanya
Maureen.
“Maaf Nyonya Maureen. Ada sedikit berita tidak mengenakkan. Mohon
maaf sebelumnya, tadi pagi saya baru dapat info kalo Nyonya Maureen ada di
Putra Company. Pagi tadi saya sempat ke rumah Nyonya, sayangnya Tuan Rayen
sudah keduluan berangkat ke New York. Menurut pembantu Nyonya, Tuan Rayen
menyusul Nyonya Maureen, jadi terpaksa baru sekarang saya bisa menghubungi
Nyonya”, kata Alfino.
“Benar Pak, kata sekretaris Pak Rayen, Pak Rayen memang
berangkat ke New York pagi ini. Ada berita penting apa ya pak?” Maureen tidak
sabar ingin tahu berita yang akan disampaikan oleh pengacara ayahnya.
“Maaf Nyonya, ini kaitannya dengan kesehatan ayahanda Nyonya,
Pak Tito”, kata Alfino.
“Apa ? ayah kenapa Pak Alfino ? “
“Maaf Nyonya, tadi pagi Pak Tito pingsan saat baru dari
kamar mandi. Karena saya menghubungi Tuan dan Nyonya tidak tersambung, terpaksa
saya lancing membawa Pak Tito ke rumah sakit, didampingi dokter pribadi beliau.
Sekali lagi saya minta maaf”, kata pengacara Alfino.
__ADS_1
“Ayah pingsan? O, tidak Pak Alfino. Bapak sama sekali tidak
salah, justru saya yang harus berterima kasih pada Bapak, yang telah menolong
ayah saya. Keterangan dokter bagaimana Pak Alfino?” Tanya Maureen.
“Sebaiknya nanti Nyonya bisa langsung menanyakan ke dokter
yang menanganinya. Kami sudah meminta dokter spesialis untuk merawat Pak Tito”.
“Baiklah pak, jika nanti ayah sudah siuman , tolong beritahu
secepatnya saya akan kesana. Saya akan pulang dulu sebentar Pak Alfino”, kata Maureen.
“Baik Nyonya, kami akan berusaha memberikan yang terbaik,
terima kasih. Selamat siang”, kata Alfino menutup pembicaraan.
“Terima kasih pak”, kata Maureen.
Maureen setelah menutup telepon. Kemudian memerintahkan
sekretaris Zhang untuk mempercepat pekerjaan. Selebihnya untuk hal hal yang
terkait dengan sekunder dari perusahaan diserahkan kepada Silvi dan Vivi untuk
koordinasi selanjutnya.
Setelah dirasa cukup, Maureen kemudian mengajak sekretaris
Zhang untuk menuju rumahnya. Maureen ingin memastikan rumahnya baik baik saja,
sebelum menuju ke rumah sakit tempat ayahnya dirawat.
Sampai dirumah, Maureen memerintahkan sekretaris Zhang untuk
ke kantor KSM Group. Sementara Maureen bergegas masuk rumah. Nampak Bi Minah
seperti biasa menyambut di depan pintu. Bi Minah kelihatan kaget melihat
“O, nyonya Maureen sudah pulang to?” Tanya Bi Minah.
“Iya Bi, saya sudah pulang. Rayen kemana Bi?” kata Maureen.
“Ehm anu … Nyonya. Tuan Rayen tadi pagi menyusul Nyonya ke
Amerika. Makanya saya tadi kaget melihat Nyonya datang sendirian. Kok tidak
bersama Tuan”, sahut Bi Minah.
Maureen segera masuk ke rumah. Matanya menyapu seluruh
ruangan, tidak ada yang berubah. Hanya ketika dia memandang kea rah sudut meja
dekat balkon. Matanya tertuju pada bungkusan karton berwarna coklat. Kemudian dia
memanggil Bi Minah.
“Bi….”
“Iya, Nyonya…..”
“Ini bungkusan apa kok ditaruh disini?” Tanya Maureen.
“Kurang tahu Nyonya, apa mungkin punya salah satu pembantu
disini. Nanti saya tanyakan Nyonya”, kata Bi Minah.
“Iya Bi, tolong jangan ditaruh disitu. Bi Minah taruh saja
di kamar BI Minah atau di ruang belakang”, kata Maureen.
__ADS_1
“Baik Nyonya.”
Bi Minah segera meraih bungkusan berwarna coklat, tidak
berat. Cuma sekitar satu atau dua kilogram saja. Meski penasaran, tapi Bi Minah
tidak berani membukanya. Karena Bi Minah belum tahu siapa pemilik barang
tersebut. Bi Minah kemudian mengangkat bungkusan itu, dan baru saja mau
melangkah, Maureen berkata, “Bi, nanti titip rumah ya, saya harus ke rumah
sakit, ayah sakit”.
“Baik Nyonya, saya permisi”, kata Bi Minah.
“Iya Bi, terima kasih”.
Setelah Bi Minah pergi, Maureen segera menuju ke kamarnya. Kamar
dimana Maureen dan Rayen menyimpan semua kenangan. Maureen ingin merebahkan
tubuhnya sebentar, sebelum berangkat ke rumah sakit.
Ponselnya di taruh didekat tempat tidur. Maureen ingin
memastikan ayahnya baik baik saja dan sudah ditangani dokter specialist pribadi
keluarganya.
Beberapa kali Maureen berusaha menghubungi Rayen, walaupun
itu merupakan hal percuma. Karena saat ini Rayen pasti masih dalam perjalanan
menuju New York.
.
.
.
Sementara itu, Rayen tengah dalam penerbangan dari Jakarta
menuju New York. Di sepanjang perjalanan, pikiran Rayen tidak tenang. Dia teringat
Maureen, teringat kenangan indah bersama Maureen dari saat kuliah, saat
perjuangannya meraih cinta Maureen, sampai kemudian Maureen menjadi istrinya.
Sudah sepekan dia tidak bisa menghubungi istri tercintanya
itu. Dia kawatir, sangat kawatir. Rayen ingin secepatnya sampai di New York. Namun
apa daya, Jakarta – New York perlu 25 jam perjalanan. Besuk lusa pagi Rayen
baru akan sampai di New York.
.
.
.
Bagaimana keadaan Pak Tito di rumah sakit?
Apa yang dilakukan Rayen setelah sampai di New York, jika
ternyata mengetahui bahwa Maureen sudah ada di Jakarta?
Temukan jawabannya di episode selanjutnya.
__ADS_1
Jangan lupa dukung vote author agar bisa terus berkarya.
Terima kasih, selamat menyongsong akhir pekan.