
Pagi ini cuaca Jakarta cukup cerah. Maureen sudah selesai
membersihkan badannya, tubuh cantiknya sudah kembali berseri. Tidak seperti
biasanya, pagi itu mendadak perutnya terasa mual mual…..
Maureen mengurungkan niatnya untuk keluar kamar. Dia duduk
di meja yang biasanya digunakan untuk bekerja saat dia berada di hotel ini. Sambil
menghadap kaca besar diatas meja. Dia memandangi
wajahnya. Lalu mengelus perutnya. Apakah tanda tanda kemarin jadi
kenyataan? Ya, harusnya dia sudah haid
seminggu yang lalu. Tapi sampai hari ini dia belum dapat. Jika memang apa yang
diharapkan Maureen jadi kenyataan, alangkah bahagianya Rayen bila mendengar
berita ini. Maureen ingin secepatnya memberitahukan pada Rayen. Namun ia ingin
memastikan dulu, positif tidaknya perkiraan dia ini.
Dia sudah meraih ponsel yang ada didekatnya, namun niatnya
untuk memberitahukan hal ini diurungkan. Dia ingin tes kehamilan dulu, dan
memberikan kejutan bahagia untuk Rayen jika seandainya dia benar benar hamil.
Lebih dari itu, dia juga masih ingin memastikan anak
perusahaan KSM Group yang dikelola suaminya berjalan dengan baik. Maka diputuskan
hari ini dia tetap melanjutkan kunjungannya ke Putra Company tanpa menghubungi
Rayen terlebih dahulu.
.
.
Sementara itu, di rumah Maureen, Rayen masih duduk
termenung. Pagi ini dia sudah mempersiapkan keperluannya. Semalam dia sudah
berfikir masak masak, pagi ini dia mau berangkat menyusul Maureen ke New York. Tiket
pesawat sudah di pesan tadi malam oleh staf perusahaan. Sengaja ia menggunakan
penerbangan komersil karena Maureen sudah menggunakan pesawat pribadi. Dia ingin
pulang bersama Maureen. Sampai detik ini pun Rayen belum tahu jika saat ini Maureen
sudah di Jakarta dan bersiap meninjau perusahaannya.
Pukul 07.00 Rayen berangkat menuju bandara, tidak lupa dia
pesan Bi Minah dan pembantu yang lain untuk mengurus rumah. Sementara untuk
urusan kantor diserahkan ke Vivi dan Silvi. Rayen tidak tahu, berapa hari dia
akan pergi.
Sampai di bandara, dia langsung menuju ruang VVIP dan menuju
ke pesawat yang sudah dipesannya. Tidak lama kemudian, pesawat yang ditumpangi
Rayen sudah take off. Meninggalkan Jakarta menuju New York. Mencari keberadaan Maureen
yang tanpa diketahuinya sudah berada di Jakarta.
.
.
__ADS_1
Kita tinggalkan perjalanan Rayen ke New York mencari Maureen
yang sudah ada di Jakarta. Pagi ini di kantor Putra Company, Nampak Vivi sedang
berkoordinasi dengan Silvi terkait masalah perusahaan. Banyak schedule dari
Presdir Putra Company yang harus di re schedule karena kepergian Rayen ke New
York hari ini. Pertemuaan dengan kolega bisnis/relasi termasuk juga rapat rutin
dari perusahaan. Setelah dirasa cukup. Seperti biasa, cewek jika ketemu cewek,
pasti ada saja yang dibicarakan. Mereka masih menerka dan menduga, kemana Maureen
selama ini.
“Silvi, kira kira kemana ya Bu Maureen, sampai hari ini kok
belum menghubungi Pak Rayen?” Tanya Vivi.
“Wah, maaf Bu Vivi. Saya tidak berani menduga. Kalau setahu
saya sih, Bu Maureen itu kalo meninjau perusahaannya di New York tidak pernah
lebih dari sepekan”, kata Silvi.
“Ya, itulah kenapa saya minta pendapat kamu. Apa staf
perusahaan di New York tidak ada pemberitahuan Sil? Telegram mungkin atau via
telepon?” Tanya Vivi.
“Tidak ada Bu.”
Baru saja mereka membicarakan masalah Maureen. Tiba tiba
satpam kantor tergopoh gopoh masuk sambil mengantarkan tamu. Dan betapa
kagetnya Silvi dan Vivi. Ternyata yang datang berkunjung adalah orang yang
selama ini dicari. Ya, Ibu Maureen Tirta Kusuma, Presdir KSM Group.
mereka bias menguasai keadaan. “Maaf bu, Silahkan duduk. Mohon maaf tidak bias menyambut
Ibu. Kami tidak mengetahui jika Ibu akan berkunjung pada pagi ini. Sekali lagi
mohon maaf Bu?” kata Vivi.
“Tidak apa apa Vi, memang saya yang salah. Saya memberitahukan
bahwa hari Senin kemarin akan meninjau perusahaan ini. Tapi kemarin ada sesuatu
yang tidak direncanakan terjadi, sehingga terpaksa baru hari ini saya bisa
kesini. O, iya Vi. Sekalian Ibu minta maaf soal kejadian kemarin, Ibu salah
sangka terhadap kamu. Menyangka kamu yang macam macam dengan Rayen. Tolong maafkan
ibu ya?” kata Maureen kepada Vivi.
“Tidak apa apa bu. Justru saya yang harus berterima kasih
kepada Ibu Presdir. Tanpa Ibu, sya tidak akan jadi apa apa. Bahkan mungkin
tidak akan bisa masuk ke perusahaan sebesar ini dan menjadi bagian dari
perusahaan ini. Maaf Bu, saya belum bisa memberikan yang terbaik untuk Ibu, Pak
Rayen dan Ibu Presdir”, jelas Vivi.
“Tidak apa Vi. Perjuanganmu sudah lebih dari cukup. Ibu bangga,
kamu tidak mengecewakan ibu. Terbukti Putra Company hari ini kemajuannya cukup
pesat. Makanya hari ini saya sengaja datang untuk mengontrol sejauh mana
kemajuan perusahaan ini”, kata Maureen.
“Iya Bu, semua sudah kami siapkan dari kemarin”, kata Vivi.
__ADS_1
“O, baiklah kalau begitu. O, iya. Sudah jam segini kok saya
belum melihat Pak Rayen, apa beliau belum datang ke kantor Vi?” Tanya Maureen.
“Ehm, anu Bu. Maaf, Pak Rayen tidak berada di kantor”, kata
Vivi.
“Lo, kemana?” Tanya Maureen.
“Maaf bu, sejak kepergian Ibu Presdir, Pak Rayen sangat
kawatir, apalagi ketika Ibu Presdir batal kesini kemarin. Pak Rayen sangat
mengkhawatirkan keberadaan dan keselamatan Ibu. Sehingga tadi malam beliau
menugaskan saya dan Silvi untuk mengurus keberangkatan beliau ke New York,
menyusul Ibu Presdir”, jelas Vivi.
“Apa? Ke New York? Apakah Bapak sudah berangkat Vi?”
“Sudah bu. Pesawatnya take off sekitar jam 7 pagi tadi bu”,
jawab Vivi.
“Astaga, semua memang salahku. Kenapa aku tidak menghubungi
Rayen dari kemarin” batin Maureen.
Kemudian dia memanggil sekretaris Zhang untuk menghubungi
staf perusahaan New York, agar sewaktu waktu Rayen sampai ke New York bisa
langsung menhubungi Maureen atau staf perusahaan disini.
“Baik Ibu Presdir. Akan saya laksanakan”, kata sekretaris
Zhang.
“Segera ya sekretaris Zhang? Setelah itu kita lanjutkan
untuk kerja kita hari ini. Masih banyak pekerjan lain yang sudah menunggu. Belum
lagi kondisi ayah yang agak kurang fit, setelah pekerjaan selesai saya ingin
bertemu ayah bebrapa hari. Nanti sementara kendali perusahaan kamu yang handel”,
kata Maureen.
“Iya Bu.”
Sekretaris Zhang segera mengfhubungi staf perusahaan Maureen
yang berada di New York. Kemudian pesan Maureen disampaikan kepada staf yang
ada disana.
Setelah semua dirasa cukup, sekretaris Zhang segera menemui
Maureen yang tengah sibuk meneliti laporan keuangan perusahaaan Putra Company. Menjelang
tengah hari, semua sudah hamper selesai. Ketika tiba tiba seorang staf
perusahaan KSM Group menghubungi sekretaris Zhang, minta disambungkan langsung
ke Maureen.
Ada apa gerangan, kenapa harus disambungkan langsung ke Maureen.
Seberapa pentingkah info ini? Apakah menyangkut perusahaan Maureen?
.
Jawabannya ada di episode selanjutnya.
Selamat siang, selamat beraktivitas. Salam damai dan bahagia
selalu menyertai sahabar ray dan reen.
__ADS_1
.