
Mobil yang dikendarai oleh Rayen dan maureen sudah ada di pantai kawasan Kecamatan Anyer. Kabupaten Serang, Propinsi Banten. Suasana pantai sudah sangat terasa. Bau khas air laut dan deru ombak sudah mulai terdengar menghiasi gendang telinga.
Nampak nyiur melambai lambai. Sepanjang pinggir pantai dipenuhi dengan pohon pohon kelapa yang mulai berbuah cukup lebat. Angin pantai yang bertiup semilir, menambah suasana makin terasa damai.
Belum banyak pengunjung yang ada di pantai tersebut, suasana masih relative lengang karena memang beberapa protocol kesehatan yang diterapkan oleh pengelola wisata yang membatasi jarak antar pengunjung.
Maureen dan Rayen sengaja mengambil tempat duduk yang agak jauh dari yang lain. Mereka ingin melepaskan penat dan kesibukan mereka selama di kantor dan perusahaan.
“Yah, masih ingat awal pertemuan kita dulu?” Tanya Maureen membuka percakapan.
“Yang mana ya Bun? O, yang saat Bunda nangis di taman dulu?” kata Rayen.
“Iya ayah. Setiap Bunda ada di taman atau di pantai yang ada tamannya, Bunda selalu teringat hal itu. Sungguh pengalaman yang sulit dilupakan”.
Memang, setiap kali Maureen ada di taman, dia selalu teringat akan kenangan saat pertama kali bertemu dan akrab dengan Rayen. Saat itu dia sedang dikerjain oleh Chika sahabatnya yang ternyata itu adalah bagian dari scenario almarhum ayahnya, Tuan Tito. Mereka ingin merubah penampilan Maureen sampai kemudian Maureen bertemu dengan Rayen saat dia pingsan dan ditolong olehnya.
Sungguh pengalaman yang sangat sukar dilupakan.
Rayen tahu, setiap mengingat kejadian itu, hati Maureen menjadi sedih. Akhirnya dia mencoba mengalihkan pembicaraan dengan mengalihkan obrolan seputar pantai yang saat ini mereka kunjungi.
“Bun, tau nggak, pantai ini banyak menyimpan sejarah lo” kata Rayen
“O, ya? Masa sih yah?. Bunda kira sama seperti pantai pantai lain di Indonesia.” Kata Maureen.
Saat itu, kebetulan melintas seorang yang sudah cukup tua, yang merupakan penduduk asli di desa situ. Dialah Ki Renggo. Dia terkenal sangat memahami tentang sejarah Pantai Anyer.
__ADS_1
Rayen mengetahui tentang Ki Renggo dari seorang pedagang yang tadi sempat ditanya oleh Rayen tentang siapa yang mengetahui sejarah Pantai ini. Karena Rayen juga penasaran dengan Pantai yang cukup indah di pesisir utara Banten itu.
“Maaf Ki, bolehkah kita ngobrol ngobrol sebentar?” kata Rayen menghentikan langkah Ki Renggo saat lelaki tua itu sedang berjalan di dekat tempat duduk mereka.
“O, iya nak. Ada apa ya?” Tanya Ki Renggo.
“Maaf Ki. Saya Rayen, dan ini istri saya Maureen. Kalau boleh saya ingin bertanya seputar pantai ini, semoga Aki bersedia memberikan penjelasan.” Kata Rayen.
“O, nama saya Renggo. Orang orang biasa memanggil Ki Renggo. Karena memang umurku yang sudah cukup tua. Apa yang ingin nak Rayen ketahui tentang pantai ini. Kalau saya mengetahui, akan saya jelaskan” kata Ki Renggo sambil memperkenalkan diri.
“Saya ingin tahu ki, kenapa pantai ini bernama Anyer? Namanya kok aneh. Artinya apa ya? Masih terasa asing di telinga kami Ki?” Tanya Rayen.
Ki Renggo, yang memang asli penduduk Anyer kemudian mulai bercerita.
Pantai ini dahulu bernama Pantai sudi mampir. Didirikan oleh Kerajaan Banten pada tahun 1667. Namun ketika tahun 1883, Gunung Krakatau meletus dahsyat dan akhirnya pantai itupun rusak parah. Sampai akhirnya kemudian dibenahi dan dengan penampilan dan bangunan yang baru, dan terkenal dengan sebutan Pantai Anyar, yang akhirnya lama kelamaan, karena orang betawi mempunyai bahasa yang lebih mengarah ke suku kata ‘e’ dibelakang, akhirnya terkenal dengan sebutan ‘anyer’ sampai sekarang.
Pantai ini memang sangat indah. Pasir putih dan birunya laut menjadi salah satu daya tarik bagi pengunjung.
Disinilah awal mula dibangunnya jalan sepanjang 1000 km pada saat pemerintahan Hindia Belanda oleh Herman Wilem Daendles, yang lebih dikenal dengan ‘kerja rodi’. Dan mercusuar yang menjulang tinggi menghiasai pantai itu. Makin menambah asrinya suasana.
Sambil bercerita, Ki Renggo tidak lupa mencicipi kue yang dibeli oleh Maureen dan secangkir kopi hangat. Pertemuan dengan Ki Renggo sesepuh desa itu sungguh menambah wawasan Rayen dan Maureen.
“ada yang mau ditanyakan lagi nak Rayen, nak Maureen? “ Tanya Ki Renggo
“Saya rasa sudah cukup Ki. Terima kasih sudah sudi memberikan penjelasan pada kami”
__ADS_1
Kemudian Rayen memberikan amplop yang berisi uang untuk Ki Renggo. Awalnya lelaki tua itu tidak mau untuk menerima pemberian dari Rayen. Dia cukup senang ada generasi muda yang mau menggali sejarah tempat tempat yang mempunyai nilai histori. Namun akhirnya setelah dengan sedikit memaksa, akhirnya Ki Renggo pun bersedia untuk menerima pemberian dari Rayen itu.
Setelah itu, lelaki tua itupun segera meninggalkan tempat itu.
Rayen dan Maureen kemudian melanjutkan obrolannya dengan topic lain, mereka bak sepasang muda mudi yang sedang berpacaran.
Suasana pantai yang sangat indah, membawa keindahan juga di hati mereka berdua.
Pada saat sedang asyik asyiknya ngobrol, tiba tiba pandangan mata Rayen, tertuju pada sosok yang berada di balik tembok di belakang sebuah warung. Seorang lelaki paruh baya, yang ternyata sudah memperhatikan mereka sejak lama. Walaupun setelah mengetahui bahwa Rayen menoleh ke arahnya, lelaki itu segera bersembunyi, namun Rayen melihat dengan jelas jika lelaki itu adalah lelaki misterius yang ditemuinya di saat perjalanan tadi.
Lelaki itu masih lengkap memakai topi lebar, sehingga Rayen tidak bisa mengenali wajahnya. Entah tidak bisa ataukah memang belum mengenal orang itu.
Perasaan Rayen mendadak menjadi tidak enak. Akhirnya dia segera mengajak Maureen untuk kembali ke tempat dimana Pak Rehan, Ibu Kimnana, Bi Minah dan Rayen kecil sedang beristirahat sambil menikmati suasana pantai.
Orang itu memang cukup mencurigakan dan sepertinya dia membuntuti Rayen sejak dari perjalanan tadi.
.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1