Dari Cupu Jadi Ratu

Dari Cupu Jadi Ratu
Tuan Ming


__ADS_3

Hujan rintik-rintik namun Vanno masih bersama dengan Zanna. Kalau tidak karena perintah ayahnya, mana mungkin Vanno mau menemui seorang gadis walaupun gadis itu nyaris celaka karena mobilnya.


Alasannya tentu saja karena gadis itu yang menabrak mobilnya, bukan dia yang menabrak gadis itu, walaupun tidak ada salahnya minta maaf namun itu tidak sesuai dengan hati nurani Vanno.


Putra dari Rayen dan Maureen itu masih nampak duduk di samping Zanna, dia tidak tau apa yang hendak di ucapkan kepada gadis muda tersebut.


"apa kamu baik-baik saja?" lirih Vanno dengan sedikit canggung, karena dia tidak pernah se-dekat ini dengan wanita selain ibunya atau ibu baptisnya.


"saya tidak apa-apa tuan, maaf sudah menjadi masalah buatmu,"


Zanna tersenyum dengan indahnya, pipinya yang tembam memerah begitu saja walaupun tidak dicubit. Kenapa Vanno mesti melihat hal itu, ada rasa sakit dan kecewa dihatinya karena hal itu.


"Bagaimana kondisi ayahmu? Apakah kamu perlu bantuan."


"Ayahku terlalu syok karena perusahaan kami hampir gulung tikar tuan. Entahlah kemana aku harus mencari bala bantuan, semua sudah menolak."

__ADS_1


Wanita muda itu mendesis pelan, di usia yang seharusnya dia menikmati hidup dengan baik dia justru harus menghadapi situasi yang tidak menguntungkan untuk dirinya, ya memang tidak semua orang selalu beruntung seperti dirinya.


Kalau biasanya dirinya mengeluh karena tidak bisa mengejar mimpinya, berbeda dengan Zanna yang harus berjuang untuk terus bertahan demi ayahnya.


"salah satu bawahan ayahku menggelapkan dana, ayah kesulitan menutup kekurangan dana itu yang menyebabkan perusahaan kami jatuh, ayah terbawa emosi sampai akhirnya........."


Cerita panjang itu tidak dilanjutkan, gadis itu nampak tidak kuat untuk melanjutkannya air matanya menetes sederas hujan diluar sana. Vanno yang tidak tau apa-apa apalagi cara menghibur wanita hanya diam, sesekali dia melihat gadis yang menangis tanpa suara itu.


Dering suara ponsel Vanno, siapa yang menelfon disaat seperti itu. Dia menatap layar ponsel tersebut, nampak nama bunda di layar benda pipih tersebut.


Zanna mengangguk, dia mempersilahkan Vanno menjawab panggilan ibunya tersebut. Setelah itu Vanno beranjak menjauh dari tempat duduknya, jika dia mendengar suara tangisan wanita pasti akan ada drama baru yang dimulai.


Vanno menggeser tombol hijau "Hallo Bun ada apa?"


"kamu dimana nak? hujan sangat deras di luar, aku khawatir,"

__ADS_1


"ibu aku masih dirumah sakit menemui Zanna, jangan khawatir aku akan pulang ketika hujan reda,"


Belum sempat panggilan itu berakhir, seseorang dengan baju perawat tiba-tiba memanggil seseorang.


"Keluarga tuan Ming?"


Zanna yang tengah terduduk lemas menangis beranjak bangun, hal itu membuat Vanno mengerti jika tuan Ming adalah ayah dari Zanna melihat marga yang melekat di nama Zanna Kirania Ming.


"ibu apakah kamu kenal dengan tuan Ming? Setidaknya ayah pasti kenal," ucap Vanno.


"ya ada apa?"


"beliau ayah Zanna, kini dirawat di rumah sakit. Nanti akan kuceritakan semuanya, ibu aku tutup dulu telponnya. Dah ibu, love u."


Setelah mengatakan itu Vanno menatap benda pipih tersebut kemudian bergerak mengikuti Zanna, ternyata perawat itu mengajak Zanna keruang resepsionis dimana Zanna bukan hanya harus mengurus surat surat namun harus membayar biaya rawat inap di rumah sakit itu.

__ADS_1


"tidak bisa menunggu lagi nona, operasi harus dijalankan," itulah salah satu kalimat yang terdengar sampai ke telinga Vanno.


__ADS_2