
Rayen segera memanggil dua taksi sekaligus dari bandara itu,
yang satu digunakan oleh Vivi untuk pulang dan ke kantor Putra Company, sedangkan
yang satunya lagi dipakai Rayen untuk pergi ke rumah sakit XXX untuk menengok
kondisi ayah mertuanya.
Sepanjang perjalanan Vivi masih terngiang kata kata Rayen. Ah,
hidup memang serba misteri. Apa yang terjadi kemarin, hari ini dan esok tidak
ada yang mengetahui kecuali Sang Maha Pencipta. Demikian juga halnya dengan
Vivi. Apa yang akan terjadi besok, apa yang akan dialami oleh Vivi, semua tidak
ada yang tahu.
Manusia hanya merencanakan, dan takdir serta kenyataan
adalah hak Prerogatif dari Tuhan.
Selamat berjuang dengan mimpi mimpi mu ya Vi?
.
.
Kita tinggalkan dulu ya perjalanan Vivi? Kata readers, emang
gue pikirin sih thor, sebeltuh lihat muka si Vivi, muka pelakor? Ah, apa iya
sih Vivi pelakor. Apa bukan nanti malah Rayen yang suka sama Vivi? Atau ada
ending lain dari cerita ini, simak terus ya, babak pertama tinggal tersisa tiga
eopisode lagi kok.
Kini kita ikuti perjalanan Rayen menuju rumah sakit.
Beberapa kali Rayen meminta agar sopir taksi menambah laju
kendaraannya. Meskipun sebenarnya Rayen tahu sendiri bahwa sang sopir sudah
mengemudikan kendaraanya sesuai standar keselamatan dalam mengemudi. Mungkin karena
rasa kawatir yang berlebihan dan rasa ingin segera mengetahui keadaan ayahnya,
sehingga perjalanan dari bandara ke rumah sakit itu terasa sangat lama.
Situasi yang agak lengang di pagi buta itu membuat laju
taksi makin cepat sampai di rumah sakit.
Rayen segera bergegas menuju pavilion vvip rumah sakit
ternama itu. Setelah bertanya sebentar ke penjaga pos di depan pavilion, Rayen
kemudian diantar menuju ruang ICCU tempat dimana Tuan Besar Tito dirawat. Nampak
disana berkumpul Maureen, Pak Rehan, Ibu Kim Nana dan tidak ketinggalan
pengacara Wang. Mereka semua tertunduk lesu, Maureen terlihat sembab di kedua
__ADS_1
bola matanya.
Setelah mencium tangan kedua orang tuanya, dan bersalaman
dengan pengacara Wang, kemudian Rayen menghampiri istrinya yang sedang
menangis. Diciumnya dengan penuh kasih sayang, istrinya yang sedang hamil tua
itu.
“Ayah, Ray….. ayah……..” kata Maureen terbata bata
“Iya, sayang. Aku tahu. Kita harus sabar sayang. Semua manusia
hanya menjalankan apa yng telah digariskan dan ditakdirkan oleh Sang Maha
Pencipta. Manusia tidak bisa menolak takdir” kata Rayen mencoba untuk tegar,
meskipun dalam hati kecilnya juga hancur. Dia tidak hanya seorang ayah dan
mertua bagi Rayen. Lebih dari itu, Pak Tito juga orang yang berjasa
menyelamatkan perusahaan ayahnya yang sekarang menjadi miliknya dan berkembang
pesat itu.
Pak Tito, sosok yang sangat dikaguni dan disegani baik oleh
kolega bisnisnya maupun para pesaing bisnisnya. Semua menaruh hormat padanya. Dan
kini beliau telah tiada.
“Nak Maureen, nak Maureen harus kuat ya. Mungkin sudah
takdir dari Yang Kuasa penderitaan Tuan Tito harus berakhir disini. Ini berarti
dan menerima semua amal kebaikannya, serta menempatkan Tuan Tito di tempat
terbaik di sisi Tuhan” kata Pak Rehan memberikan semangat untuk menantunya, Maureen.
Hati Maureen sebenarnya sangat hancur. Bagaimana tidak,
disaat perusahaannya diambang kebangkrutan, disaat keuangan perusahaan dicuri
oleh orang terdekat dengan keluarganya, di saat Pak Tito berharap bisa menimang
cucunya, disaat Maureen merasa belum bisa membahagiakan ayahnya, kini ayahnya
telah pergi untuk selama lamanya.
.
.
Hari itu benar benar hari yang sangat menyedihkan bagi
semuanya. Big Bos dari KSM group, orang yang paling disegani dalam kancah
bisnis di berbagai bidang, hari ini telah mangkat. Beliau meninggal dunia di
usia yang belum terlalu tua.
Seluruh media cetak dan elektronik baik dalam maupun luar
negeri memasang berita ini di halaman depan. Headlines yang cukup besar
tertulis BIG BOS KSM GROUP TUTUP USIA. Dan banyak lagi tulisan yang mengabarkan
__ADS_1
kepulangan ayahanda Maureen Tirta Kusuma. Di sepanjang jalan menuju rumah
Maureen berjajar karangan bunga karangan bunga dari berbagai instansi baik
pemerintah maupun swasta. Juga dari perusahaan perusahaan mitra bisnis dan juga
relasi dari KSM Group.
Di dalam rumah mewah itu, nampak Maureen sedang menangis,
dirinya sangat kehilangan dengan kepergian ayahnya, Tuan Besar Tito Tirta
Kusuma. Dia tidak kuasa untuk menerima tamu tamu yang sudah datang untuk
melayat di rumah duka. Dia meminta tolong kepada suaminya untuk menggantikan
dirinya menerima mereka yang datang untuk melayat.
Sementara Maureen duduk di dekat jenazah sang ayah. Dirinya sangat
bersedih. Disaat seperti inilah Maureen kembali tersadar, bahwa seberapa pun
besar dan banyaknya harta yang dimiliki oleh seseorang, ternyata tidak mampu
membeli kehidupan. Seberapa tinggi kedudukan seseorang dia tidak akan mampu
mengadakan negosiasi dengan Tuhan.
Ternyata manusia adalah makhluk lemah, sangat lemah di
hadapan Tuhan. Se kaya apapun, se jumawa apapun, manusia tidak aklan berarti
apa apa jika sudah berhadapan dengan takdirNya.
Harta yang melimpah, rumah yang mewah, tanah dan perkebunan
yang luasnya seluas samudra sekalipun, bahkan perusahaan yang tidak terhitung
jumlahnya dan uang yang tidak ternilai totalnyapun, tidak akan ada artinya jika
sudah nyawa diambil oleh Sang Maha Pencipta.
Semua hanya titipan. Harta titipan. Jabatan titipan. Bahkan nyawapun
ternyata hanya titipan.
Semua harta yang bertumpuk tidak ada gunanya setelah nyawa
tiada.
Maureen bersyukur karena ayahnya sempat melakukan kebaikan
yang sangat berarti dan bisa menolong banyak orang di akhir hidupnya. Maureen bertekad
akan terus mengembangkan rumah singgah yang dirintisnya bersama mendiang
ayahnya, walaupun dengan kondisi keuangan perusahaan yang seadanya. Dia berharap
suaminya bisa membantu dirinya.
.
.
Author lagi sedih nih…..
Tuan Tito meninggal dunia. Sabar ya readers. Tunggu episode
__ADS_1
selanjutnya……