Dari Cupu Jadi Ratu

Dari Cupu Jadi Ratu
Musim Ke Empat Bag 15


__ADS_3

 


 


Rayen segera memanggil dua taksi sekaligus dari bandara itu,


yang satu digunakan oleh Vivi untuk pulang dan ke kantor Putra Company, sedangkan


yang satunya lagi dipakai Rayen untuk pergi ke rumah sakit XXX untuk menengok


kondisi ayah mertuanya.


Sepanjang perjalanan Vivi masih terngiang kata kata Rayen. Ah,


hidup memang serba misteri. Apa yang terjadi kemarin, hari ini dan esok tidak


ada yang mengetahui kecuali Sang Maha Pencipta. Demikian juga halnya dengan


Vivi. Apa yang akan terjadi besok, apa yang akan dialami oleh Vivi, semua tidak


ada yang tahu.


Manusia hanya merencanakan, dan takdir serta kenyataan


adalah hak Prerogatif dari Tuhan.


Selamat berjuang dengan mimpi mimpi mu ya Vi?


.


.


Kita tinggalkan dulu ya perjalanan Vivi? Kata readers, emang


gue pikirin sih thor, sebeltuh lihat muka si Vivi, muka pelakor? Ah, apa iya


sih Vivi pelakor. Apa bukan nanti malah Rayen yang suka sama Vivi? Atau ada


ending lain dari cerita ini, simak terus ya, babak pertama tinggal tersisa tiga


eopisode lagi kok.


Kini kita ikuti perjalanan Rayen menuju rumah sakit.


Beberapa kali Rayen meminta agar sopir taksi menambah laju


kendaraannya. Meskipun sebenarnya Rayen tahu sendiri bahwa sang sopir sudah


mengemudikan kendaraanya sesuai standar keselamatan dalam mengemudi. Mungkin karena


rasa kawatir yang berlebihan dan rasa ingin segera mengetahui keadaan ayahnya,


sehingga perjalanan dari bandara ke rumah sakit itu terasa sangat lama.


Situasi yang agak lengang di pagi buta itu membuat laju


taksi makin cepat sampai di rumah sakit.


Rayen segera bergegas menuju pavilion vvip rumah sakit


ternama itu. Setelah bertanya sebentar ke penjaga pos di depan pavilion, Rayen


kemudian diantar menuju ruang ICCU tempat dimana Tuan Besar Tito dirawat. Nampak


disana berkumpul Maureen, Pak Rehan, Ibu Kim Nana dan tidak ketinggalan


pengacara Wang. Mereka semua tertunduk lesu, Maureen terlihat sembab di kedua

__ADS_1


bola matanya.


Setelah mencium tangan kedua orang tuanya, dan bersalaman


dengan pengacara Wang, kemudian Rayen menghampiri istrinya yang sedang


menangis. Diciumnya dengan penuh kasih sayang, istrinya yang sedang hamil tua


itu.


“Ayah, Ray….. ayah……..” kata Maureen terbata bata


“Iya, sayang. Aku tahu. Kita harus sabar sayang. Semua manusia


hanya menjalankan apa yng telah digariskan dan ditakdirkan oleh Sang Maha


Pencipta. Manusia tidak bisa menolak takdir” kata Rayen mencoba untuk tegar,


meskipun dalam hati kecilnya juga hancur. Dia tidak hanya seorang ayah dan


mertua bagi Rayen. Lebih dari itu, Pak Tito juga orang yang berjasa


menyelamatkan perusahaan ayahnya yang sekarang menjadi miliknya dan berkembang


pesat itu.


Pak Tito, sosok yang sangat dikaguni dan disegani baik oleh


kolega bisnisnya maupun para pesaing bisnisnya. Semua menaruh hormat padanya. Dan


kini beliau telah tiada.


“Nak Maureen, nak Maureen harus kuat ya. Mungkin sudah


takdir dari Yang Kuasa penderitaan Tuan Tito harus berakhir disini. Ini berarti


dan menerima semua amal kebaikannya, serta menempatkan Tuan Tito di tempat


terbaik di sisi Tuhan” kata Pak Rehan memberikan semangat untuk menantunya, Maureen.


Hati Maureen sebenarnya sangat hancur. Bagaimana tidak,


disaat perusahaannya diambang kebangkrutan, disaat keuangan perusahaan dicuri


oleh orang terdekat dengan keluarganya, di saat Pak Tito berharap bisa menimang


cucunya, disaat Maureen merasa belum bisa membahagiakan ayahnya, kini ayahnya


telah pergi untuk selama lamanya.


.


.


Hari itu benar benar hari yang sangat menyedihkan bagi


semuanya. Big Bos dari KSM group, orang yang paling disegani dalam kancah


bisnis di berbagai bidang, hari ini telah mangkat. Beliau meninggal dunia di


usia yang belum terlalu tua.


Seluruh media cetak dan elektronik baik dalam maupun luar


negeri memasang berita ini di halaman depan. Headlines yang cukup besar


tertulis BIG BOS KSM GROUP TUTUP USIA. Dan banyak lagi tulisan yang mengabarkan

__ADS_1


kepulangan ayahanda Maureen Tirta Kusuma. Di sepanjang jalan menuju rumah


Maureen berjajar karangan bunga karangan bunga dari berbagai instansi baik


pemerintah maupun swasta. Juga dari perusahaan perusahaan mitra bisnis dan juga


relasi dari KSM Group.


Di dalam rumah mewah itu, nampak Maureen sedang menangis,


dirinya sangat kehilangan dengan kepergian ayahnya, Tuan Besar Tito Tirta


Kusuma. Dia tidak kuasa untuk menerima tamu tamu yang sudah datang untuk


melayat di rumah duka. Dia meminta tolong kepada suaminya untuk menggantikan


dirinya menerima mereka yang datang untuk melayat.


Sementara Maureen duduk di dekat jenazah sang ayah. Dirinya sangat


bersedih. Disaat seperti inilah Maureen kembali tersadar, bahwa seberapa pun


besar dan banyaknya harta yang dimiliki oleh seseorang, ternyata tidak mampu


membeli kehidupan. Seberapa tinggi kedudukan seseorang dia tidak akan mampu


mengadakan negosiasi dengan Tuhan.


Ternyata manusia adalah makhluk lemah, sangat lemah di


hadapan Tuhan. Se kaya apapun, se jumawa apapun, manusia tidak aklan berarti


apa apa jika sudah berhadapan dengan takdirNya.


Harta yang melimpah, rumah yang mewah, tanah dan perkebunan


yang luasnya seluas samudra sekalipun, bahkan perusahaan yang tidak terhitung


jumlahnya dan uang yang tidak ternilai totalnyapun, tidak akan ada artinya jika


sudah nyawa diambil oleh Sang Maha Pencipta.


Semua hanya titipan. Harta titipan. Jabatan titipan. Bahkan nyawapun


ternyata hanya titipan.


Semua harta yang bertumpuk tidak ada gunanya setelah nyawa


tiada.


Maureen bersyukur karena ayahnya sempat melakukan kebaikan


yang sangat berarti dan bisa menolong banyak orang di akhir hidupnya. Maureen bertekad


akan terus mengembangkan rumah singgah yang dirintisnya bersama mendiang


ayahnya, walaupun dengan kondisi keuangan perusahaan yang seadanya. Dia berharap


suaminya bisa membantu dirinya.


.


.


Author lagi sedih nih…..


Tuan Tito meninggal dunia. Sabar ya readers. Tunggu episode

__ADS_1


selanjutnya……


__ADS_2