
Malam itu Maureen duduk di beranda depan, dandanannya yang
anggun dan cantik bak dewi dari kahyangan yang turun kebumi. Sosok wanita yang
anggun dan berwibawa. Memang pantas dia menjadi pewaris tunggal trah keturunan
Tirta Kusuma.
“Sudah hampir jam 19.00. tapi kenapa Rayen belum datang
juga? Seharusnya dia sampai dibandara pukul 17.30. dari bandara ke sini sekitar
satu jam”, kata Maureen dalam hati.
Dia beranjak menuju ke almari pendingin yang terletak di sudut
ruangan. Diraihnya sebotol cola dingin. Namun prank……..!!!! tiba tiba saja
botol itu terlepas.
Hati Maureen mendadak tidak enak. Seperti ada yang tidak
beres menimpa kehidupannya. Entah apa. Apakah kondisi ayahnya, atau yang lain.
Belum sempat Maureen berfikir terlalu jauh.
Tiba tiba kring…. Kriinggg………
Telepon rumah Maureen berbunyi, nampak Bi Minah setengah
berlari dari dapur. Kemudian mengambil gagang telepon, nampaknya ada sesuatu
yang serius.
Dengan tergopoh gopoh, Bi Minah menyerahkan telepon kepada
Maureen.
“Dari siapa Bi?”
“Anu, Nyonya. Dari rumah sakit.”
“Apa, dari rumah sakit. Apa ayah kambuh lagi Bi?”
“Bukan Nyonya, silahkan Nyonya Tanya sendiri.”
Dan benar saja, telepon itu dari rumah sakit langganan
keluarganya. Dan ada kabar yang sangat tidak diduga. Ternyata Rayen mengalami
kecelakaan di jalan tol, saat akan pulang kerumah. Mobil Rayen berusaha
menghindari dumptruck yang sedang oelng karena mengalami gangguan pada system mesinya.
Pihak rumah sakit meminta Maureen untuk secepatnya ke rumah sakit. Untuk sementara
semua sudah ditangani oleh pengacara Pak Tito, sekalian karena Pak Tito juga
dirawat di tempat yang sama.
__ADS_1
Maureen sangat terpukul hatinya. Hari ini adalah hari
istimewa. Maureen sudah memimpikan ingin memberikan kado istimewa untuk Rayen
sekaligus kabar gembira bagi pasangan suami istri. Bahkan acara pribadi
penyambutan Rayen sudah disiapkan. Maureen ingin mala mini menjadi bulan madu
kedua di hari yang istimewa, dan tanggal yang istimewa.
Dalam kondisi sedih dan sangat berduka, Maureen kemudian
memanggil Pak Jay, dia adalah sopir pengganti jika Pak Roy berhalangan.
Maureen meminta Pak Jay untuk secepatnya mengantarkan ke
rumah sakit. Maureen ingin secepatnya mengetahui keadaaan Rayen.
.
.
Mobil Maureen yang dikemudikan Pak Jay membelah jalanan
Jakarta, menuju salah satu rumah sakit terbesar yang merawat Rayen. Jalanan yang
padat, udara yang pengap tidak menyurutkan semangat Maureen untuk secepatnya
malam itu sampai di rumah sakit. Maureen ingin secepatnya bertemu dengan Rayen.
Lelaki yang sempat dicurigai mempunyai hubungan dengan Vivi sekretaris
pribadinya.
bergegas menuju ke ruang vvip tempat dimana Rayen di rawat.
Nampak disana, pengacara keluarga Pak Tito sedang ngobrol
dengan tim dokter keluarga Maureen.
Maureen segera menemui mereka.
“Selamat malam Dok. Apa yang terjadi pada suami saya. Bagaimana
keadaan Rayen Dok?” kata Maureen tidak sabar ingin mendapat keterangan dari tim
dokter.
“Maaf Nyonya Maureen. Nyonya tidak usah kawatir. Keadaan Tuan
Rayen sudah membaik. Tidak ada yang sangat perlu dikawatirkan, sedikit luka di
dahi dan pergelangan tangan akibatbenturan kecil. Sebentar lagi mudah mudahan
segera sadar. Beliau diberi obat penenang agar bisa beristirahat.”
“O, Terima kasih Dok, sudah menyelamatkan nyawa suami saya.”
“Sebenarnya Nyonya harus berterima kasih kepada sopir
Nyonya. Karena berkat dialah Pak Rayen bisa terhindar dari cidera parah.”
“O, dimana Pak Jay, bagaimana keadaannya Dok?” Tanya Maureen.
__ADS_1
“Sayang sekali Nyonya, sopir Pak Rayen nyawanya tidak
tertolong, dia mengambil langkah menabrakkan bodi mobil sebelah kanan, agar
mobil bisa berhenti tanpa menabrak pembatas jalan, dan akibatnya badan sopir
itu harus tergencet body mobil. Maaf sopir Nyonya tidak tertolong”.
“Astaga, Pak Roy. Kebaikanmu akan selalu kukenang. O iya
pak. Nanti saya akan tugaskan orang perusahaan untuk ke rumah beliau sekaligus
menanggung semua keperluan beliau. Bolehkah sekarang saya ketemu Rayen, Dok?”
“Silahkan Nyonya. Tapi maaf, Tuan Rayen masih dalam pengaruh
obat penenang, jadi belum sadar. Tapi sebentar lagi beliau pasti sudah siuman”,
kata Dr. Albert memberi penjelasan tentang kondisi Rayen.
Tak sabar, Maureen begitu mendapat izin dari dokter yang
merawat Rayen. Maureen langsung menuju ke kamar vvip perawatan dari Rayen. Nampak
Rayen berada di sebuah dipan dengan selang infuse yang terpasang ditangannya.
Maureen mendekati suaminya. Dia masih tertidur akibat efek
obat penenang. Maureen kemudian mengecup pipi Rayen, kenangan bebrapa tahun
silam terlihat nyata kembali. Kenangan saat Rayen juga harus terbaring di rumah
sakit, bahkan tidak sadar berhari hari. Maureen tidak ingin itu terulang
kembali. Maureen ingin secepatnya Rayen sadar, dan bisa diajak pulang. Maureen inginsegera
memperbaiki kesalahan kesalahan di masa lalu, dimana dia terlalu sibuk dengan
urusan perusahaan, sampai melupakan tugas dan tanggung jawab seorang istri.
Ya, Maureen ingin menata kehidupannya kembali dengan lebih
baik. Dia meneteskan air mata sambil duduk didekat Rayen, nampak wajah cantik Maureen
yang sendu. Perlahan lahan butiran airmata mengalir tak terbendung menetes di
pipinya yang merah merona. Maureen takut jika dokter tidak mengatakan yang
sesungguhnya. Maureen takut dokter berbohong soal keadaan Rayen. Maureen trauma
kejadian masa lalu terulang lagi…..
Ah… tidak mungkin dokter membohongi Maureen.
Di tengah kekalutan hatinya yang makin menjadi, nampak
perlahan lahan jari Rayen bergerak gerak…..
Ya, Rayen mulai menunjukkan kesadarannya…..
.
.
__ADS_1