Dari Cupu Jadi Ratu

Dari Cupu Jadi Ratu
Musim Ke Dua Bag 22


__ADS_3

 


 


Malam itu Maureen duduk di beranda depan, dandanannya yang


anggun dan cantik bak dewi dari kahyangan yang turun kebumi. Sosok wanita yang


anggun dan berwibawa. Memang pantas dia menjadi pewaris tunggal trah keturunan


Tirta Kusuma.


“Sudah hampir jam 19.00. tapi kenapa Rayen belum datang


juga? Seharusnya dia sampai dibandara pukul 17.30. dari bandara ke sini sekitar


satu jam”, kata Maureen dalam hati.


Dia beranjak menuju ke almari pendingin yang terletak di sudut


ruangan. Diraihnya sebotol cola dingin. Namun prank……..!!!! tiba tiba saja


botol itu terlepas.


Hati Maureen mendadak tidak enak. Seperti ada yang tidak


beres menimpa kehidupannya. Entah apa. Apakah kondisi ayahnya, atau yang lain.


Belum sempat Maureen berfikir terlalu jauh.


Tiba tiba kring…. Kriinggg………


Telepon rumah Maureen berbunyi, nampak Bi Minah setengah


berlari dari dapur. Kemudian mengambil gagang telepon, nampaknya ada sesuatu


yang serius.


Dengan tergopoh gopoh, Bi Minah menyerahkan telepon kepada


Maureen.


“Dari siapa Bi?”


“Anu, Nyonya. Dari rumah sakit.”


“Apa, dari rumah sakit. Apa ayah kambuh lagi Bi?”


“Bukan Nyonya, silahkan Nyonya Tanya sendiri.”


Dan benar saja, telepon itu dari rumah sakit langganan


keluarganya. Dan ada kabar yang sangat tidak diduga. Ternyata Rayen mengalami


kecelakaan di jalan tol, saat akan pulang kerumah. Mobil Rayen berusaha


menghindari dumptruck yang sedang oelng karena mengalami gangguan pada system mesinya.


Pihak rumah sakit meminta Maureen untuk secepatnya ke rumah sakit. Untuk sementara


semua sudah ditangani oleh pengacara Pak Tito, sekalian karena Pak Tito juga


dirawat di tempat yang sama.

__ADS_1


Maureen sangat terpukul hatinya. Hari ini adalah hari


istimewa. Maureen sudah memimpikan ingin memberikan kado istimewa untuk Rayen


sekaligus kabar gembira bagi pasangan suami istri. Bahkan acara pribadi


penyambutan Rayen sudah disiapkan. Maureen ingin mala mini menjadi bulan madu


kedua di hari yang istimewa, dan tanggal yang istimewa.


Dalam kondisi sedih dan sangat berduka, Maureen kemudian


memanggil Pak Jay, dia adalah sopir pengganti jika Pak Roy berhalangan.


Maureen meminta Pak Jay untuk secepatnya mengantarkan ke


rumah sakit. Maureen ingin secepatnya mengetahui keadaaan Rayen.


.


.


Mobil Maureen yang dikemudikan Pak Jay membelah jalanan


Jakarta, menuju salah satu rumah sakit terbesar yang merawat Rayen. Jalanan yang


padat, udara yang pengap tidak menyurutkan semangat Maureen untuk secepatnya


malam itu sampai di rumah sakit. Maureen ingin secepatnya bertemu dengan Rayen.


Lelaki yang sempat dicurigai mempunyai hubungan dengan Vivi sekretaris


pribadinya.


bergegas menuju ke ruang vvip tempat dimana Rayen di rawat.


Nampak disana, pengacara keluarga Pak Tito sedang ngobrol


dengan tim dokter keluarga Maureen.


Maureen segera menemui mereka.


“Selamat malam Dok. Apa yang terjadi pada suami saya. Bagaimana


keadaan Rayen Dok?” kata Maureen tidak sabar ingin mendapat keterangan dari tim


dokter.


“Maaf Nyonya Maureen. Nyonya tidak usah kawatir. Keadaan Tuan


Rayen sudah membaik. Tidak ada yang sangat perlu dikawatirkan, sedikit luka di


dahi dan pergelangan tangan akibatbenturan kecil. Sebentar lagi mudah mudahan


segera sadar. Beliau diberi obat penenang agar bisa beristirahat.”


“O, Terima kasih Dok, sudah menyelamatkan nyawa suami saya.”


“Sebenarnya Nyonya harus berterima kasih kepada sopir


Nyonya. Karena berkat dialah Pak Rayen bisa terhindar dari cidera parah.”


“O, dimana Pak Jay, bagaimana keadaannya Dok?” Tanya Maureen.

__ADS_1


“Sayang sekali Nyonya, sopir Pak Rayen nyawanya tidak


tertolong, dia mengambil langkah menabrakkan bodi mobil sebelah kanan, agar


mobil bisa berhenti tanpa menabrak pembatas jalan, dan akibatnya badan sopir


itu harus tergencet body mobil. Maaf sopir Nyonya tidak tertolong”.


“Astaga, Pak Roy. Kebaikanmu akan selalu kukenang. O iya


pak. Nanti saya akan tugaskan orang perusahaan untuk ke rumah beliau sekaligus


menanggung semua keperluan beliau. Bolehkah sekarang saya ketemu Rayen, Dok?”


“Silahkan Nyonya. Tapi maaf, Tuan Rayen masih dalam pengaruh


obat penenang, jadi belum sadar. Tapi sebentar lagi beliau pasti sudah siuman”,


kata Dr. Albert memberi penjelasan tentang kondisi Rayen.


Tak sabar, Maureen begitu mendapat izin dari dokter yang


merawat Rayen. Maureen langsung menuju ke kamar vvip perawatan dari Rayen. Nampak


Rayen berada di sebuah dipan dengan selang infuse yang terpasang ditangannya.


Maureen mendekati suaminya. Dia masih tertidur akibat efek


obat penenang. Maureen kemudian mengecup pipi Rayen, kenangan bebrapa tahun


silam terlihat nyata kembali. Kenangan saat Rayen juga harus terbaring di rumah


sakit, bahkan tidak sadar berhari hari. Maureen tidak ingin itu terulang


kembali. Maureen ingin secepatnya Rayen sadar, dan bisa diajak pulang. Maureen inginsegera


memperbaiki kesalahan kesalahan di masa lalu, dimana dia terlalu sibuk dengan


urusan perusahaan, sampai melupakan tugas dan tanggung jawab seorang istri.


Ya, Maureen ingin menata kehidupannya kembali dengan lebih


baik. Dia meneteskan air mata sambil duduk didekat Rayen, nampak wajah cantik Maureen


yang sendu. Perlahan lahan butiran airmata mengalir tak terbendung menetes di


pipinya yang merah merona. Maureen takut jika dokter tidak mengatakan yang


sesungguhnya. Maureen takut dokter berbohong soal keadaan Rayen. Maureen trauma


kejadian masa lalu terulang lagi…..


Ah… tidak mungkin dokter membohongi Maureen.


Di tengah kekalutan hatinya yang makin menjadi, nampak


perlahan lahan jari Rayen bergerak gerak…..


Ya, Rayen mulai menunjukkan kesadarannya…..


.


.

__ADS_1


__ADS_2