Dari Cupu Jadi Ratu

Dari Cupu Jadi Ratu
Musim Ke Empat Bag 10


__ADS_3

 


 


Kita tinggalkan Rayen dan Vivi yang sedang melakukan


perjalanan ke luar negeri tepatnya ke Meksiko untuk menjalin kontrak kerjasama


dengan Castillo Company, sebuah perusahaan raksasa dari Meksiko City, Meksiko. Kita


lihat apa yang terjadi di rumah Maureen. Nampak Maureen sedang duduk diserambi


depan. Beberapa hari ini memang kondisi Maureen agak kurang fit. Ditambah dia


harus berada di rumah sendirian, hanya ditemani Bi Minah.


Hari ini dia berencana ingin ke rumah Chika sahabatnya yang


saat ini sudah mempunyai seorang anak. Maureen ingin tahu lebih banyak tentang


suka dukanya seorang ibu yang akan melahirkan. Maureen tidak ingin terjadi hal


hal yang tidak diinginkan.


Sebenarnya Maureen tahu bahwa kehamilan kehamilan bukanlah


sesuatu yang menakutkan, bahkan banyak diantara wanita yang berulang kali hamil


dan melahirkan. Orang orang tua dahulu ada yang anaknya lebih dari selusin,


semuanya sehat, semuanya tidak kurang suatu apa. Tapi tetap saja, ada


kekawatiran di hati Maureen. Apalagi disaat seperti ini Rayen suaminya tidak


berada di sam[pingnya.


Maureen segera memanggil Pak Jay untuk berangkat. Karena nanti


siang Maureen juga masih harus menengok dua kantor sekaligus seperti biasa.


.


.


Mobil Maureen terus melaju membelah jalanan ibukota menuju


ke rumah Chika. Dalam perjalanan, sesekali Maureen ngobrol dengan Pak Jay. Maureen


belakangan ini baru menyadari bahwa Pak Jay adalah sosok yang bijak, dan banyak


memiliki pengetahuan yang sangat berguna bagi kehidupan.


Dulu Maureen sering salah menduga, Maureen berfikir bahwa


orang yang bisa memberinya wawasan atau pengetahuan adalah orang yang


dianggapnya punya kasta lebih tinggi di masyarakat. Maureen baru menyadari bahwa


sebenarnya luasnya pemikiran seseorang tidak dapat diukur hanya dari baju atau


jabatan seseorang. Tapi lebih dari itu.


Setelah melewati jalanan yang cukup padat dan agak lama,


akhirnya mereka sampai di rumah sederhana. Namun rumah itu terlihat rapi dan


enak dipandang. Itulah rumah milik sahabatnya, Chika Suroso.


Suasana rumah terlihat agak sepi. Lain dari hari kemarin


saat Maureen berkunjung kesini. Maureen memencet tombol vbel yang ada disamping


pagar pintu masuk. Dan sebentar kemudian, muncul sosok yang sudah amat


dikenalinya. Dialah Chika suroso, sahabatnya sedari kecil. Senyum mengembang


dari wajah manisnya.


“Hai, Maureen. Ayo, silahkan masuk.” Kata Chika sambil


membukakan pintu untuk sahabatnya. Pintu pagar sengaja dibuat lebar, Chika


meminta Pak Jay memarkir mobilnya di halaman saja, maklum jalanan di depan


rumah Chika memang agak sempit.


“Pak Jay masuk saja ya. Pak Jay bisa tunggu saya di serambi

__ADS_1


atau di ruang tamu. Saya dan Chika mau ngobrol ngobrol santai dulu” kata Maureen


sambil mengajak Pak Jay untuk masuk ke rumah. karena mungkin Maureen agak lama


di rumah Chika, makanya Maureen minta agar Pak Jay menunggu di dalam rumah


saja.


“Baik Nyonya. Biar saya menunggu di serambi sini saja,


sambil melihat lihat pemandangan” kata Pak Jay sambil duduk di kursi serambi


dekat taman. Pak Jay benar, dari tempat duduk Pak Jay nampak panorama yang


culup indah, karena hiasan taman di halaman rumah Chika sangat terasa jika


dilihat dari sana.


“Pak Jay, saya tinggal masuk dulu ya” kata Chika


“Iya Non”


Chika dan Maureen kemudian masuk ke rumah. namun sebentar


kemudian Chika sudah keluar kembali sambil membawa secangkir kopi dan beberapa


makanan ringan ke hadapan Pak Jay.


“Silahkan diminum Pak, maaf hanya air” kata Chika merendah.


“Terima kasih Non” kata Pak Jay sambil meraih kopi


didepannya. Diteguknya kopi itu dan diteruskannya menikmati indahnya


pemandangan di pagi hari yang cerah itu.


.


“Hei, anakmu dimana Chik?” Tanya Maureen sesaat setelah


sampai di ruang tamu


“Tuh, dikamar sedang tidur , biasanya kalau pagi pagi


seperti ini dia tidur sampai jam sebelas baru bangun say” kata Chika


“O, apa kamu sudah mencari babysister untuk anak kamu Chik?”


“Seperti yang kubilang kemarin, aku ingin mengasuh anakku


dengan tanganku sendiri Reen, aku tidak mengambil babysister. Cuma kemarin mas


Rakha mengambil Bi Surti untuk membantu memasak dan mencuci” kata Chika


“O, ternyata sahabatku betul betul punya komitmen yang luar


biasa ya” kata Maureen.


“Ah, kamu Reen, kalau memuji selalu berlebihan. Kamu juga


sudah luar biasa sekarang, bisa bantu anak anak terlantar lagi. Kalau aku Reen,


untuk mengerjakan semua itu hanya mimpi. Hidup kami masih serba pas pasan. Jauh


untuk bisa seperti kamu” kata Chika


“Manusia dibekali kelebihan dan kekurangan masing masing


Chik, dalam hal harta mungkin aku berlebih. Tapi dalam lain hal, aku sangat


jauh dibawah kamu kok” kata Maureen.


Merekapun ngobrol kesana kemari. Berbagai macam topic dibahas


bersama sama. Maureen sangat senang bisa bertukar pikiran dengan sahabatnya


yang sangat berarti dalam hidupnya.


“Eh, Rayen jadi berangkat ke Meksiko ya Reen?”Tanya Chika


“Iya, jadi. Itulah yang bikin aku sebel Chik. Masa ke


Meksiko saja harus ngajak Vivi?” kata Maureen ketus


“Princesku sayang, ngapain manyun? Memangnya ada apa dengan


Vivi? Bukankah dia itu pilihan kamu sendiri to dulu?” Tanya Chika

__ADS_1


“Iya sih, tapi dia kan cewek.” Kata Maureen masih ketus.


“Tau lah dia cewek. Haha….. kalau jengki mah mana mau kamu


memperkerjakan dia? Ada ada saja. Eh, yang minta Vivi ikut itu Rayen apa orang


Meksiko sana?” Tanya Chika.


“Itu lah yang bikin sebel Chik. Orang Meksiko itu minta Vivi


untuk kesana menemani Rayen” kata Maureen


“Nah tuh kan. Itu artinya, Rayen tidak bersalah dalam hal


ini. Kamu saja yang rasa cemburumu terlalu berlebihan. Bukankah Rayen melakukan


ini juga demi kamu dan keluargamu?”kata Chika


“Iya sih…..”


“Maureenku sayang, Tuhan itu maha adil. Jika kita member kebebasan


kepada suami kita, dan tidak gampang berprasangka yang bukan bukan, keluarga


kita juga akan baik baik saja Reen” kata Chika


“Benarkah?” Tanya Maureen


“Iya sayang, kebanyakan suami yang selingkuh itu karena


terlalu besar kecurigaan kita terhadap mereka. Akhirnya setiap kali pulang,


yang ada kita saling curiga. Sehingga tiap hari yang ada saling bertengkar. Setelah


itu, suami akan tidak betah di rumah. makin nyaman ketika di kantor. Ketika nongkrong


sama temannya. Ketika di tempat kerja. Dan hal seperti ini gampang dimanfaatkan


oleh yang ingin meruak rumah tangga kita” kata Chika


Maureen kemudian merenung. Memang benar apa yang dikatakan


sahabatnya itu. Bagaimana suami akan betah di rumah jika di rumah selalu


dicurigai dan diajak bertengkar?


“Reen, saran ku sebagai sahabat. Kubur jauh jauh prasangka


jlekmu pada suamimu. Beri kebebasan dia untuk mengembangkan karirnya. Berikan kepercayaan


penuh terhadapnya. Jika kita baik, Tuhan juga akan memberikan pasangan yang


baik buat kita. Percayalah akan keadilan Tuhan” kata Chika panjang lebar.


Maureen mencermati kata demi kata yang diucapkan oleh


sahabatnya. Memang benar, mungkin selama ini Maureen terlalu overposesif


terhadap suaminya. Rasa cintanya pada Rayen dan rasa sayangnya yang tak


terhingga itulah yang mungkin membuat Maureen sangat cemburu jika ada wanita


lain yang dekat dengan suaminya.


Banyak sekali hal hal yang diobrolkan oleh dua sahabat karib


itu. Dan banyak juga nasehat nasehat yang diperoleh oleh Maureen dari sahabat


karibnya ini.


Termasuk juga tentang berbagai hal, suka dan duka nya ketika


Chika sedang mengandung anak pertamanya.


.


Setelah banyak bertukar pikiran dengan sahabatnya, menjelang


siang Maureen melanjutkan menuju ke kantor untuk melksanankan aktivitas nya


pagi ini………


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa dukung vote ya readers ku tercinta


.


__ADS_2