
Kita tinggalkan Rayen dan Vivi yang sedang melakukan
perjalanan ke luar negeri tepatnya ke Meksiko untuk menjalin kontrak kerjasama
dengan Castillo Company, sebuah perusahaan raksasa dari Meksiko City, Meksiko. Kita
lihat apa yang terjadi di rumah Maureen. Nampak Maureen sedang duduk diserambi
depan. Beberapa hari ini memang kondisi Maureen agak kurang fit. Ditambah dia
harus berada di rumah sendirian, hanya ditemani Bi Minah.
Hari ini dia berencana ingin ke rumah Chika sahabatnya yang
saat ini sudah mempunyai seorang anak. Maureen ingin tahu lebih banyak tentang
suka dukanya seorang ibu yang akan melahirkan. Maureen tidak ingin terjadi hal
hal yang tidak diinginkan.
Sebenarnya Maureen tahu bahwa kehamilan kehamilan bukanlah
sesuatu yang menakutkan, bahkan banyak diantara wanita yang berulang kali hamil
dan melahirkan. Orang orang tua dahulu ada yang anaknya lebih dari selusin,
semuanya sehat, semuanya tidak kurang suatu apa. Tapi tetap saja, ada
kekawatiran di hati Maureen. Apalagi disaat seperti ini Rayen suaminya tidak
berada di sam[pingnya.
Maureen segera memanggil Pak Jay untuk berangkat. Karena nanti
siang Maureen juga masih harus menengok dua kantor sekaligus seperti biasa.
.
.
Mobil Maureen terus melaju membelah jalanan ibukota menuju
ke rumah Chika. Dalam perjalanan, sesekali Maureen ngobrol dengan Pak Jay. Maureen
belakangan ini baru menyadari bahwa Pak Jay adalah sosok yang bijak, dan banyak
memiliki pengetahuan yang sangat berguna bagi kehidupan.
Dulu Maureen sering salah menduga, Maureen berfikir bahwa
orang yang bisa memberinya wawasan atau pengetahuan adalah orang yang
dianggapnya punya kasta lebih tinggi di masyarakat. Maureen baru menyadari bahwa
sebenarnya luasnya pemikiran seseorang tidak dapat diukur hanya dari baju atau
jabatan seseorang. Tapi lebih dari itu.
Setelah melewati jalanan yang cukup padat dan agak lama,
akhirnya mereka sampai di rumah sederhana. Namun rumah itu terlihat rapi dan
enak dipandang. Itulah rumah milik sahabatnya, Chika Suroso.
Suasana rumah terlihat agak sepi. Lain dari hari kemarin
saat Maureen berkunjung kesini. Maureen memencet tombol vbel yang ada disamping
pagar pintu masuk. Dan sebentar kemudian, muncul sosok yang sudah amat
dikenalinya. Dialah Chika suroso, sahabatnya sedari kecil. Senyum mengembang
dari wajah manisnya.
“Hai, Maureen. Ayo, silahkan masuk.” Kata Chika sambil
membukakan pintu untuk sahabatnya. Pintu pagar sengaja dibuat lebar, Chika
meminta Pak Jay memarkir mobilnya di halaman saja, maklum jalanan di depan
rumah Chika memang agak sempit.
“Pak Jay masuk saja ya. Pak Jay bisa tunggu saya di serambi
__ADS_1
atau di ruang tamu. Saya dan Chika mau ngobrol ngobrol santai dulu” kata Maureen
sambil mengajak Pak Jay untuk masuk ke rumah. karena mungkin Maureen agak lama
di rumah Chika, makanya Maureen minta agar Pak Jay menunggu di dalam rumah
saja.
“Baik Nyonya. Biar saya menunggu di serambi sini saja,
sambil melihat lihat pemandangan” kata Pak Jay sambil duduk di kursi serambi
dekat taman. Pak Jay benar, dari tempat duduk Pak Jay nampak panorama yang
culup indah, karena hiasan taman di halaman rumah Chika sangat terasa jika
dilihat dari sana.
“Pak Jay, saya tinggal masuk dulu ya” kata Chika
“Iya Non”
Chika dan Maureen kemudian masuk ke rumah. namun sebentar
kemudian Chika sudah keluar kembali sambil membawa secangkir kopi dan beberapa
makanan ringan ke hadapan Pak Jay.
“Silahkan diminum Pak, maaf hanya air” kata Chika merendah.
“Terima kasih Non” kata Pak Jay sambil meraih kopi
didepannya. Diteguknya kopi itu dan diteruskannya menikmati indahnya
pemandangan di pagi hari yang cerah itu.
.
“Hei, anakmu dimana Chik?” Tanya Maureen sesaat setelah
sampai di ruang tamu
“Tuh, dikamar sedang tidur , biasanya kalau pagi pagi
seperti ini dia tidur sampai jam sebelas baru bangun say” kata Chika
“O, apa kamu sudah mencari babysister untuk anak kamu Chik?”
“Seperti yang kubilang kemarin, aku ingin mengasuh anakku
dengan tanganku sendiri Reen, aku tidak mengambil babysister. Cuma kemarin mas
Rakha mengambil Bi Surti untuk membantu memasak dan mencuci” kata Chika
“O, ternyata sahabatku betul betul punya komitmen yang luar
biasa ya” kata Maureen.
“Ah, kamu Reen, kalau memuji selalu berlebihan. Kamu juga
sudah luar biasa sekarang, bisa bantu anak anak terlantar lagi. Kalau aku Reen,
untuk mengerjakan semua itu hanya mimpi. Hidup kami masih serba pas pasan. Jauh
untuk bisa seperti kamu” kata Chika
“Manusia dibekali kelebihan dan kekurangan masing masing
Chik, dalam hal harta mungkin aku berlebih. Tapi dalam lain hal, aku sangat
jauh dibawah kamu kok” kata Maureen.
Merekapun ngobrol kesana kemari. Berbagai macam topic dibahas
bersama sama. Maureen sangat senang bisa bertukar pikiran dengan sahabatnya
yang sangat berarti dalam hidupnya.
“Eh, Rayen jadi berangkat ke Meksiko ya Reen?”Tanya Chika
“Iya, jadi. Itulah yang bikin aku sebel Chik. Masa ke
Meksiko saja harus ngajak Vivi?” kata Maureen ketus
“Princesku sayang, ngapain manyun? Memangnya ada apa dengan
Vivi? Bukankah dia itu pilihan kamu sendiri to dulu?” Tanya Chika
__ADS_1
“Iya sih, tapi dia kan cewek.” Kata Maureen masih ketus.
“Tau lah dia cewek. Haha….. kalau jengki mah mana mau kamu
memperkerjakan dia? Ada ada saja. Eh, yang minta Vivi ikut itu Rayen apa orang
Meksiko sana?” Tanya Chika.
“Itu lah yang bikin sebel Chik. Orang Meksiko itu minta Vivi
untuk kesana menemani Rayen” kata Maureen
“Nah tuh kan. Itu artinya, Rayen tidak bersalah dalam hal
ini. Kamu saja yang rasa cemburumu terlalu berlebihan. Bukankah Rayen melakukan
ini juga demi kamu dan keluargamu?”kata Chika
“Iya sih…..”
“Maureenku sayang, Tuhan itu maha adil. Jika kita member kebebasan
kepada suami kita, dan tidak gampang berprasangka yang bukan bukan, keluarga
kita juga akan baik baik saja Reen” kata Chika
“Benarkah?” Tanya Maureen
“Iya sayang, kebanyakan suami yang selingkuh itu karena
terlalu besar kecurigaan kita terhadap mereka. Akhirnya setiap kali pulang,
yang ada kita saling curiga. Sehingga tiap hari yang ada saling bertengkar. Setelah
itu, suami akan tidak betah di rumah. makin nyaman ketika di kantor. Ketika nongkrong
sama temannya. Ketika di tempat kerja. Dan hal seperti ini gampang dimanfaatkan
oleh yang ingin meruak rumah tangga kita” kata Chika
Maureen kemudian merenung. Memang benar apa yang dikatakan
sahabatnya itu. Bagaimana suami akan betah di rumah jika di rumah selalu
dicurigai dan diajak bertengkar?
“Reen, saran ku sebagai sahabat. Kubur jauh jauh prasangka
jlekmu pada suamimu. Beri kebebasan dia untuk mengembangkan karirnya. Berikan kepercayaan
penuh terhadapnya. Jika kita baik, Tuhan juga akan memberikan pasangan yang
baik buat kita. Percayalah akan keadilan Tuhan” kata Chika panjang lebar.
Maureen mencermati kata demi kata yang diucapkan oleh
sahabatnya. Memang benar, mungkin selama ini Maureen terlalu overposesif
terhadap suaminya. Rasa cintanya pada Rayen dan rasa sayangnya yang tak
terhingga itulah yang mungkin membuat Maureen sangat cemburu jika ada wanita
lain yang dekat dengan suaminya.
Banyak sekali hal hal yang diobrolkan oleh dua sahabat karib
itu. Dan banyak juga nasehat nasehat yang diperoleh oleh Maureen dari sahabat
karibnya ini.
Termasuk juga tentang berbagai hal, suka dan duka nya ketika
Chika sedang mengandung anak pertamanya.
.
Setelah banyak bertukar pikiran dengan sahabatnya, menjelang
siang Maureen melanjutkan menuju ke kantor untuk melksanankan aktivitas nya
pagi ini………
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa dukung vote ya readers ku tercinta
.