
Malam itu udara Jakarta yang biasanya panas dan bisik,
terasa agak sejuk. Apalagi di rumah Maureen. Suasana kehangatan yang luar
biasa. Ya, Pak Tito, Maureen dan Rayen duduk bersama di ruang santai rumah
mewah kepunyaan Maureen. Suasana yang sangat jarang terjadi, karena ketiga
orang ini adalah orang orang penting yang selalu harus ada di perusahaannya
masing masing. Ketiganya adalah Presdir dari perusahaan perusahaan besar. Apalagi
Maureen adalah Presdir dari KSM Group. Yang membawahi semua perusahaan dari
milik KSM. Tentu akan sangat sibuk dan sibuk sekali.
Sengaja malam ini mereka berkumpul, Pak Tito ingin
memastikan kondisi perusahaan yang ditangani Maureen berjalan baik baik saja.
“Maureen, apakah ada kendala selama kamu memimpin KSM Group,
Nak?”
“Tidak, Ayah. Selama ini belum ada kendala yang berarti. Memang
ada beberapa masalah, namun masih sebatas masalah ringan dan bisa saya atasi
ayah”.
“Syukurlah nak jika begitu. Ingat Nak, dalam berbisnis kita
harus betul betul jeli memilih mana kawan dan mana lawan. Tidak semua kawan itu
baik. Dan tidak semua lawan itu jelek. Setiap pribadi mempunyai sisi baik dan
sisi buruk. Maureen harus bisa membedakan dan memilih mana yang baik dan mana
__ADS_1
yang kurang baik, untuk menjaga dan menambah kekuatan bisnis perusahaan kita”.
“Iya Ayah. Maureen akan selalu ingat pesan ayah. Dari dulu
apapun yang Ayah katakan, selalu Maureen catat. Agar nantinya bisa jadi
pegangan saat Maureen membutuhkan”.
“Nak Rayen?”
“Iya Ayah.”
“Ayah sudah beranjak tua. Sudah saatnya sebentar lagi harus
istirahat. Tugasmu untuk membantu istrimu mengurus KSM Group. Meski kamu
Presdir Putra Company, tapi kamu harus bisa membantu Maureen mengurus
perusahaan. Apalagi saat ini Maureen sedang mengandung. Jadi Maureen harus
banyak istirahat. Walaupun perusahaan sudah mempekerjakan tenaga tenaga ahli
dan orang yang dipercaya, tapi kewaspadaan itu sangat penting, agar nantinya
“Iya, Ayah. Meskipun kami mempercayakan pengelolaan
perusahaan pada staf dan karyawan, tapi kami selalu rutin mengecek dan
mengontrol laju perusahaan, agar terus terkendali.”
“Baguslah kalo begitu. O, iya. Kemarin ada karyawanmu yang
meninggal karena kecelakaan bersama kamu, apa sudah kamu pertimbangkan untuk member
santunan?”
“Iya Ayah. Rayen dan Maureen sudah memikirkan yang pantas
untuk memberikan penghargaan atas pengorbanan Pak Roy.”
“O, ya? Apa itu?”
__ADS_1
“Saya dan Maureen sepakat untuk memberikan bantuan modal 50
juta untuk istri Pak Roy dan menanggung biaya sekolah dua anak Pak Roy sampai
lulus kuliah. Nanti setelah lulus kuliah, jika pretasinya bagus, akan kami
angkat menjadi karyawan di perusahaan ini Ayah”.
“Baiklah, Ayah kira itu sudah sedikit bisa meringankan beban
mereka. Kapan rencananya kamu akan kesana?”
“Besuk Ayah. Kami kira lebih cepat lebih baik”
“Baiklah, salam ayah untuk mereka besuk. Sekarang sudah
malam, mari kita istirahat. Besuk ayah harus ke perusahaan, ada pertemuan
dengan relasi.”
“Iya, ayah. Selamat malam, selamat istirahat”.
Waktu beranjak malam, mereka bertiga segera beranjak untuk
beristirahat. Tidak terkecuali Maureen dan Rayen. Mereka berdua juga berangkat
ke kamarnya. Dan Maureen memberikan semangat kepada Rayen agar menjaga
kesehatan supaya cepat pulih dan melakukan aktivitas seperti biasa.
Sejurus kemudian rumah itupun sepi. Seluruh penghuni
tenggelam dalam mimpinya masing masing, hanya beberapa orang yang ada di pos
jaga yang kelihatan masih tetap siaga untuk menjaga keamanan rumah sang
bilioner.
.
.
__ADS_1
.