Dari Cupu Jadi Ratu

Dari Cupu Jadi Ratu
Musim Ke Tiga Bag 14


__ADS_3

 


 


Semua masih diam membisu, menantikan apa yang akan dikatakan


oleh Dr, Albert. Maureen dan Rayen memperhatikan gambar kepala manusia yang ada


di layar monitor. Nampak ada bintik seperti gambar bintang yang samar samar


terlihat di area otak. Maureen dan Rayen tidak berani menduga duga. Tapi yang


pasti mereka faham, mungkin inilah yang menyebabkan sakitnya Pak Tito.


Pantas saja harus melalui riset dan peralatan canggih untuk


melihatnya, karena letaknya ada di dalam area otak. Perlu alat super canggih


yang mampu mendeteksi dan menganalisa hal ini.


“Maaf Tuan Rayen, Nyonya Maureen. Apakah bisa saya mulai


sekarang?” kata Dr. Albert.


“Silahkan Dokter” kata Maureen.


“Tapi maaf Nyonya, mungkin apa yang akan saya sampaikan ini


adalah hal yang bisa jadi cukup mengagetkan Tuan dan Nyonya. Tapi bagaimanapun,


ini harus segera diberitahukan kepada pihak keluarga dan secepatnya mendapatkan


penanganan agar bisa diatasi” kata Dr. Albert.


“Silahkan Dok. Tolong diberikan keterangan yang sejelas


jelasnya. Dan apapun langkah yang harus diambil akan kami lakukan. Keselamatan ayah


diatas segalanya” kata Maureen.


Dr. Albert nampak menghela nafas sebentar. Memang sebuah


beban berat menjelaskan kondisi pasien yang gawat kepada pihak keluarga. Namun Dr.


Albert adalah dokter yang sudah cukup berpengalaman. Jadi walaupun berat, namun


Dr. Albert mampu untuk menguasai keadaan.


“Maaf Tuan Rayen dan Nyonya Maureen, Tuan Besar Tito


menderita penyakit glioblastoma” kata Dr. Albert.


Maureen dan Rayen sangat kaget. Mereka hampir memekik


bersamaan.


“Apa dokter? Glioblastoma?”Tanya Rayen.


“Apa Dok? Ayah menderita kanker otak?” Tanya Maureen tidak


kalah kagetnya mendengar apa yang disampaikan oleh Dr. Albert.


Dr. Albert menarik nafas panjang. Kemudian melanjutkan


keterangannya.

__ADS_1


“Betul Tuan Rayen dan Nyonya Maureen. Tuan Tito menderita


kanker otak stadium 4” kata Dr. Albert.


“Tapi selama ini ayah jarang mengeluh sakit dok. Hanya kadang


ayah terlihat murung, seperti ada yang dipikirkan” kata Maureen.


“Menurut keterangan pengacara pribadi Tuan Tito, sebenarnya


Tuan Tito sering mengeluh merasakan sakit kepala berlebih, kadang juga mual


mual. Itu adalah salah satu gejala yang umum terjadi pada penderita


Glioblastoma. Cuma Tuan Tito tidak ingin membuat Nyonya Maureen kawatir. Itulah


kenapa Tuan Tito tidak mengatakan pada Nyonya dan Tuan.” Kata Dr. Albert


memberikan penjelasan.


“Ah, ayah. Ayah selalu memikirkan orang lain lebih dahulu


daripada dirinya sendiri. Terus bagaimana dok. Apa yang bisa kita lakukan saat


ini” Tanya Maureen.


Dr. Albert terdiam sebentar, kemudian melanjutkan kata


katanya.


“Glioblastoma adalah kanker otak stadium 4 yang menyerang


sel astrosit. Sel ini berbentuk bintang pada otak. Seperti yang Tuan Rayen dan


Nyonya lihat pada slide ini. Sel sel kanker pada glioblastoma memiliki pembuluh


glioblastoma ini tumbuh di otak besar bagian luar. Tapi dalam kasus Tuan Tito


ini lain. Dia tumbuh diantara otak besar dan kecil. Itulah kenapa pada


pemeriksaan awal dengan alat di rumah sakit Jakarta belum mampu terdeteksi”


kata Dr. Albert.


“Lalu apa yang harus kita lakukan dok?” Tanya Rayen.


“Kita harus mencegah sel sel kanker ini terus berkembang. Jangan


sampai sel sel kanker ini terus menginfiltrasi jaringan otak sehat disekitarnya”


kata Dr. Albert.


“Tindakan apa yang harus kami lakukan dokter?” Tanya Maureen.


Dr. Abert, Dr. John dan Dr. Himawan saling pandang. Mereka tahu,


jalan ini sangat berat. Karena menyangkut orang orang besar yang super sibuk.


“Maaf Tuan Rayen dan Nyonya Maureen, sebenarnya kami di


Jakarta sudah bisa melakukan operasi untuk glioblastoma yang kondisi nya wajar.


Tapi untuk kasus Pak Tito, kami tidak berani ambil resiko. Lebih baik ditangani


oleh pihak rumah sakit di Nevada saja” kata Dr. Albert.

__ADS_1


“Terserah yang terbaik, kami menunggu apa yang akan


dilakukan oleh Dr. Albert dan rekan rekan dokter yang lain” kata Maureen.


“Baiklah Nyonya. Kami akan secepatnya minta rekomendasi dari


Rumah Sakit di Nevada Amerika, untuk segera merujuk Tuan Besar Tito ke sana. Tapi


kami mohon ada salah satu dari pihak keluarga yang mendampingi pada saat Tuan


Tito melakukan operasi disana” kata Dr. Albert.


“Baiklah Dok. Nanti kami akan mendampingi ayah untuk ke


Nevada” kata Maureen.


Cukup jelas apa yang disampaikan oleh Dr. Albert hari itu. Sungguh


diluar dugaan. Seorang Tito yang demikian gagah, ternyata menderita penyakit


yang sangat berbahaya. Setelah selesai, Dr Albert dan kawan kawannya sesama


dokter segera mohon diri, untuk mengurus kelengkapan operasi dan pengiriman


pasien ke Rumah Sakit terbesar di Nevada Amerika Serikat. Mereka tidak ingin


menyia nyiakan waktu. Glioblastoma adalah penyakit ayng berpacu dengan waktu. Jika


terlambat penganganannya, maka jiwanya akan sulit diselamatkan.


.


.


.


Sore itu, nampak Maureen duduk termenung di serambi depan


rumah mewahnya. Sementara itu, Rayen sudah berangkat ke kantor untuk mengurusi


bisnis di Putra Company. Sekaligus menengok KSM Group, karena Maureen mungkin


beberapa hari yang akan datang tidak bisa langsung memantau KSM Group, karena


harus menemani Tuan Besar Tito menjalani operasi di Nevada. Apalagi ditambah


usia kehamilan Maureen yang semakin besar.


Maureen masih tidak habis fikir, bagaimana bisa, ayahnya


yang sehat dan beraktivitas normal bisa terkena penyakit ganas seperti itu. Dia


ingat betul, memang penyakit ini jarang diketahui secara dini. Maureen teringat


salah satu artis terkenal yang punya badan kekar dan otot seorang bina raga. Agung


Hercules, ternyata juga mengidap penyakit yang sama dengan yang diderita oleh


ayahnya. Maureen hanya berharap ada keajaiban pada diri ayahnya. Sehingga ayahnya


bisa melewati ujian yang sangat berat ini.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2