Dari Cupu Jadi Ratu

Dari Cupu Jadi Ratu
Musim Ke Empat Bag 11


__ADS_3

 


 


Langit memerah di cakrawala, suara burung burung liar riuh


rendah diantara derunya mobil mobil yang selalu hilir mudik di atas jalanan


beraspal. Udara dingin mulai terasa, menjelang senja itu Maureen baru saja


menyelesaikan pekerjaan nya di KSM Group.


Di luar ruangan nampak Pak Jay yang masih setia menunggu


sang majikan. Dialah yang diberi tugas oleh Rayen untuk mengantar Maureen selama


Rayen masih berada di Meksiko. Maureen kemudian melangkah keluar dari ruangan


kantornya. Nampak beberapa karyawan yang berpapasan dengan dirinya menunduk


dengan rasa hormat. Tak terkecuali dengan Pak Jay. Dia menunduk hormat ketika Maureen


sudah sampai di dekat mobilnya.


“Maaf Pak Jay, lama menunggu ya” kata Maureen.


“Tidak apa apa Nyonya. Sudah kewajiban saya untuk menunggu


Nyonya Maureen” kata Pak Jay polos.


“Baiklah Pak, mari kita pulang. Hari sudah hampir petang, kasihan


anak anak Bapak nanti lama menunggu” kata Maureen sambil masuk ke dalam mobil.


Sejurus kemudian, mobil Maureen sudah bergerak menuju ke rumahnya.


Jalanan yang sudah agak lengang membuat perjalanan mereka sedikit lancar.


.


.


Menjelang senja, mobil Maureen sudah memasuki pelataran rumahnya


yang mewah. Namun ada yang lain dari biasanya di rumah Maureen. Maureen agak


terkejut ketika melihat dua orang sedang duduk di serambi rumahnya. Siapa orang


itu? Dalam hatinya merasa belum punya janji dengan seseorang hari ini.


Dan ketika sudah dekat, barulah Maureen menyadari siapa orang yang


ada di serambi rumahnya.


“Ibu Kim, Pak Rehan, kenapa kesini tidak ngasih kabar Pak, Buk?”


kata Maureen sambil mencium tangan kedua mertuanya itu. Tidak lupa Ibu Kim Nana


merangkul dan mencium menantunya dengan penuh kasih sayang.


“Maafkan Ibu dan Bapak Nak, Ibu dan Bapak sengaja tidak


memberitahu kedatangan kami karena kami tahu kamu tentu sangat sibuk karena


Rayen sedang pergi” kata Ibu Kim Nana


“Darimana Ibu tahu kalau Mas Rayen ke luar negeri?” Tanya Maureen.


“Rayen yang menelepon kami Reen. Dia bilang agak lama di Meksiko


karena harus mengecek lokasi untuk proyek di sana. Itulah kenapa kami setelah


tiba dari Perancis kemarin langsung kesini, untuk menemani kamu” kata Pak Rehan


menambahkan keterangan yang diberikan oleh Ibu Kim Nana.


Alangkah bahagianya Maureen saat ini. Dirinya yang kemarin merasa


sendiri, karena disaat mengandung dalam kehamilan yang sudah tua, harus sendirian


dirumah, harus menyelesaikan pekerjaan kantor sendiri, hari ini ada ayah dan


ibu mertua yang akan menemaninya.


Dari dalam nampak Bi Minah datang membawa minuman.


“Bi. Kenapa ayah dan ibu tidak Bibi suruh masuk sih?” Tanya Maureen.


“Maaf Nyonya. Bi Minah sudah meminta Bapak dan Ibu untuk masuk. Tapi


kaytanya mau menunggu Nyonya pulang saja dulu” kata Bi Minah


“Bi Minah benar nak. Ayah dan Ibu yang mau duduk disini sambil


menanti kamu” kata Pak Rehan.


Mereka kemudian masuk ke rumah. Pak Rehan dan Ibu Kim Nana sangat


senang melihat Maureen sudah hamil. Artinya bakal segera dikaruniai seorng


cucu. Mereka sudah  membayangkan seorang


anak yang tampan atau cantik yang akan menghiasi rumah tangga anak dan


menantunya.


“Ibu dan Ayah akan tinggal disini kan Bu, menemani Maureen sebelum


Rayen pulang?” Tanya Maureen.


“Iya sayang, Ayah dan Ibu akan menemani kamu, kalau memang nanti


kamu sangat repot ya sampai cucu kita lahir, iya kan Pa?” kata Ibu Kim Nana


sambil mencari persetujuan dari Pak Rehan.


Dan nampaknya Pak Rehan pun mengiyakan apa yang dikatakan oleh Ibu


Kim Nana.


“Betul nak, ayah dan ibu akan menemani kamu sampai kamu


melahirkan. Kebetulan untuk urusan perusahaan semua sudah saya serahkan sama


Rayen, jadi kami cukup memantau dari jauh saja” kata Pak Rehan.

__ADS_1


Mereka pun ngobrol dengan santai. Banyak hal yang diceritakan oleh


kedua orang tua itu kepada mantunya. Sementara Maureen mendengarkan dengan


seksama. Memang banyak hal yang harus dipelajari oleh Maureen sebagai calon ibu


muda. Dan Maureen bersyukur mendapatkan mertua yang mau dan sudi untuk


memberikan banyak petuah petuah yang sangat berharga bagi dia.


Dan nampaknya Pak Rehan dan Ibu Kim Nana juga sangat menyayangi


menantunya ini.


“Nak, wanita yang sedang hamil itu jangan terlalu banyak berfikir


yang berat berat. Harus dibuat rileks dan santai. Jangan banyak berfikiran yang


macam macam. Fokus untuk menjaga buah hati yang masih dalam kandungan” kata Ibu


Kim Nana.


“Iya Bu, tapi kadang kadang Maureen merasa cemburu jika Mas Rayen


dekat dengan wanita lain, meskipun itu Cuma temannya, apa itu berlebihan Bu?” Tanya


Maureen


“Tidak anakku, rasa cemburu itu tandanya cinta. Jika nak Maureen


tidak merasa cemburu jika Rayen dekat dengan wanita malah bahaya, berarti nak


Maureen tidak cinta dong sama Rayen. Dan wanita yang hamil di usia hamil muda


atau hampir melahirkan, biasanya rasa cemburunya semakin besar. Tapi nak Maureen


harus yakin, beri kepercayaan terhadap Rayen. Makin besar kepercayaan seorang


wanita terhadap suaminya, maka akan makin besar tanggung jawab suaminya dalam


menjaga kepercayaan yang diberikan oleh istrinya” kata Ibu Kim Nana menjelaskan


panjang lebar tentang masalah Maureen saat ini.


Perbincangan mereka terhenti ketika dari belakang muncul Bi Minah


yang mengatakan bahwa makan malam sudah siap.


Mereka pun segera beranjak menuju ke meja makan. Mereka makan


bersama sama. Sungguh kebersamaan yang sangat Maureen impikan. Sayang, Rayen


belum ada di rumah.


.


.


Sementara itu, di Meksiko hari sudah pagi. Nampak orang orang


sudah tenggelam dalam kesibukannya masing masing. Demikian juga di kantor


Castillo Company. Nampak beberapa staf karyawan sedang mempersiapkan segala


keperluan bagi Tuan Castillo, Mr, Viencent, Rayen dan Vivi untuk melihat lokasi


Setelah semuanya dirasa cukup, mereka berempat segera menuju ke


mobil. Mr. Viencent mengemudikan mobil sedangkan Vivi duduk disamping Mr.


Viencent sedangkan Rayen duduk bersama Tuan Castillo di kursi belakang.


Di sepanjang jalan, mereka asyik ngobrol. Dan yang aneh adalah Mr.


Viencent ngobrol dengan Vivi menggunakan bahasa Spanyol. Sedangkan Rayen


berbincang bincang dengan Tuan Castillo menggunakan bahasa Inggris.


Setelah satu jam perjalanan, sampailah mereka ke sebuah tanah


lapang yang ditengahnya masih ada gundukan berbentuk bukit kecil. Inilah tempat


yang akan digunakan untuk mendirikan mega proyek yang akan diserahkan


pengerjaannya kepada Putra Company.


Sampai di tempat proyek, nampak Mr. Viencent sedang menjelaskan


apa saja yang akan dilakukan di pengerjaan proyek ini. Menurut dia dana


terbesar adalah menggusur gundukan tanah ini untuk menjadi rata. Namun menurut


Rayen hal itu tidak perlu dilakukan, gundukan tanah ini bisa disulap menjadi


taman ditengah gedung gedung yang didirikan di sekitarnya. Jadi bisa menghemat


dana namun juga menambah estetika keindahan dalam proyek tersebut. Dan Tuan


Castilo sependapat dengan apa yang diusulkan oleh Rayen.


Selesai pemaparan, Mr. Viencent kemudian mengajak mereka untuk


meninjau sudut lain dari lokasi tersebut. Namun Tuan Castillo mengajak Rayen


untuk berjalan agak lambat. Ternyata ada hal yang penting yang ingin


disampaikan Tuan Castillo kepada Rayen. Tentu saja mungkin ini adalah sesuatu


yang dirahasiakan dari Vivi dan Mr. Viencent.


Nampak Rayen dan Tuan Castillo berbincang bincang dengan serius. Semua


tidak ada yang tahu, kecuali mereka berdua. Sebenarnya apa sih yang


direncanakan oleh mereka? Apakah author juga tidak tahu rencana mereka sebenarnya


apa? Ya tahu dong. Tapi itu rahasia author. Nanti pada saatnya readers akan


mengetahuinya.


.


Setelah selesai meninjau lokasi proyek, mereka kembali ke kantor. Rayen


kemudian meminta Vivi untuk melihat draft perjanjian kerjasama antara Putra Company

__ADS_1


dan Castillo Company.


“Vi, tolong coba kamu cek dulu draft perjanjian kita ya. Nanti kalau


sudah selesai, kamu kabari saya ya. Pastikan semua sesuai dengan isi perjanjian


kita. Nanti saya tunggu di ruangan saya” kata Rayen


“Baik pak” kata sekretaris Vivi.


Vivi kemudian meneliti draft perjanjian yang akan ditandatangani


pada pertemuan nanti malam. Rayen kemudian bergegas menuju ke kamarnya. Dirinya


ingin membersihkan badan dulu sebelum nanti malam melanjutkan pertemuannya


dengan pihak Castillo Company.


Setelah selesai mandi, dia melirik kea rah handphone nya. Dia ingin


menelepon Maureen. Namun baru saja dia mau memencet nomer di hp nya, tiba tiba


Vivi sudah membuka pintu dan muncul masuk ke kamar.


“Maaf Pak, saya tadi mau mengetuk pintu, ternyata pintunya tidak


dikunci dan terbuka sendiri” kata Vivi. Pintu kamar tadi memang lupa tidak


dikunci oleh Rayen. Bukan hanya tidak dikunci, tapi malah tidak ditutup dengan


benar, sehingga ketika tersentuh tangan Vivi yang sedang membawa berkas pintu


itu sudah terbuka.


“Tidak apa apa Vi, silahkan masuk saja. Apakah ada yang perlu


direvisi untuk draft yang diajukan oleh Castillo Company Vi?” Tanya Rayen


“Saya kira semua sudah sesuai dengan perjanjian kontrak kita Pak


Presdir. Mungkin nanti sudah bisa langsung ditanda tangani. Silahkan Pak


Presdir teliti kembali, poin poin penting sudah saya beri tanda di draft nya


Pak” kata Vivi.


“Terima kasih Vi. Siapkan diri kamu, sebentar lagi kita akan


menghadiri pertemuan terakhir yaitu penandatanganan kontrak. Mudah mudahan


semua lancar, sehingga besok kita bisa pulang ke Jakarta”kata Rayen.


“Baik Pak, saya juga sudah kangen sama simbok…..” kata Vivi dengan


wajah sedikit melucu.


“Hahaha…. Iyalah, kamu kan masih kekanak kanakan. Tapi tidak usah


kawatir Vi, nanti kita akan mendirikan restoran bintang lima yang menggunakan


arsitektur khas jawa. Menu andalannya gudeg. Chiefnya ibu kamu. Ada perusahaan


rekanan yang sudah menawarkan itu” kata Rayen


“Betul itu Pak Presdir?” Tanya Vivi setengah tidak percaya


“Benar, kemarin proposalnya sudah saya terima” kata Rayen


Bukan main bahagianya Vivi. Betapa tidak, ibunya akan mendapat


pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya, sebagai penjual gudeg khas jogya,


tapi bukan lagi di warteg atau di di warung pinka yang lagi ngetrend saat ini. Kata


orang sih, pinka itu artinya pinggir kali. Jadi saat ini banyak warung yang


didirikan di dekat kali atau sungai sehingga disebut warung pinka. Tapi di


restoran bintang lima, yang tentunya gajinya ya bisa 20 kali lipat dibandingkan


jadi penjual gudeg di warteg.


Dengan langkah girang seperti anak kecil yang mendapatkan permen,


Vivi bergegas menuju ke kamarnya. Dia ingin secepatnya menuntaskan pekerjaan


ini, dan kembali ke Jakarta, yang pasti ketemu simbok dong. Kabar gembira ini


bakal jadi kado istimewa untuk simboknya. Apa simboknya si Vivi ulang tahun ya


kok kado istimewa. Ah, itu mah nggak penting. Yang penting hari ini Vivi happy.


.


“Thank you for your cooperation,  I


am very happy to be able to collaborate with you” kata Tuan Castillo


“I am also happy to


be working with you” kata Rayen sambil memberikan apresiasi terhadap apa


yang telah dilakukan oleh Tuan Castillo.


Mereka berbincang bincang hangat


setelah selesai penandatangan kerjasama antara Castillo Company dan Putra


Company. Sekaligus Rayen mohon ijin pamit pulang ke Jakarta esok hari.


Tidak lupa Tuan Castillo juga


titip salam untuk istri dari Rayen. Dan pesam Tuan Castillo jangan sampai lupa


apa yang telah diputuskan oleh Rayen dan Tuan Castillo. Mr. Viencent dan Vivi


saling pandang. Ada apa sebenarnya. Apa yang diputuskan oleh dua bos besar


mereka yang tanpa sepengetahuan mereka berdua.


Semua pasti bertanya Tanya……


.


.

__ADS_1


Jawabanya tunggu episode


selanjutnya ya……..


__ADS_2