Dari Cupu Jadi Ratu

Dari Cupu Jadi Ratu
Ronald Aditya


__ADS_3

Pukul 09.30 wib


Sebuah sepeda motor memasuki pelataran kantor Putra Company. Mengenakan helm dan berjaket hitam, membuat beberapa satpam dan karyawan kesulitan untuk melihat siapa dia. Namun ketika memasuki ruang pemeriksaan tamu dan orang itu membuka helmnya, barulah mereka tahu bahwa yang mengendarai sepeda motor itu adalah seorang pemuda yang berumur sekitar 25 tahunan.


Kemudian pemuda itu segera menunjukkan kartu nama yang diserahkan kepada petugas jaga di pos depan kantor. Kartu nama itu milik Tuan Rayen, Presdir Putra Company.


Setelah memperkenalkan diri, ternyata pemuda itu bernama Ronald Aditya. Dan bermaksud melamar pekerjaan.


Akhirnya seorang petugas jaga bergegas menuju ke ruang lobi. Sementara Ronald masih menunggu di ruang tunggu pos penjagaan.


Agak lama petugas jaga itu masuk ke lobi, sementara itu Ronald masih menunggu di pos itu sambil berharap harap cemas. Bagaimanapun ini adalah kali pertama dia masuk ke perusahaan ini. Bahkan bertemu dengan Tuan Rayen pun baru satu kali kemarin. Walaupun dia datang kesini atas rekomendasi dari Tuan Rakha yang merupakan bekas majikan dari Pak Dirgo, ayahnya, tapi tidak dapat dipungkiri bahwa jangankan dia, Pak Dirgo saja belum pernah sekalipun akrab dengan Presdir Putra Company.


Antara harap harap cemas, Ronald menunggu sambil sesekali menghela nafas panjang. Hatinya benar benar kawatir dan was was jika kedatangannya untuk melamar pekerjaan kali ini tidak mendapatkan sambutan dengan baik.


Sementara itu, petugas jaga yang menghubungi lobi untuk melaporkan kedatangan Ronald saat itu tengah berbincang dengan Silvi. Salah satu staf perusahaan yang bertugas di lobi kantor saat ini.


“Apa pak, ada yang ingin melamar pekerjaan? Seingat saya, perusahaan ini tidak membuka lowongan pekerjaan” kata Silvi setelah mendengar penjelasan dari Reno, salah satu security yang bertugas untuk melaporkan tentang keberadaan Ronald.


“Barangkali Bu Silvi lupa mungkin perusahaan ini pernah membuat iklan lowongan pekerjaan?” kata Reno.


“Tidak Pak Satpam, setiap publikasi perusahaan ini, baik iklan ataupun lowongan pekerjaan hampir semua yang menangani saya. Apalagi beberapa bulan ini bahkan perusahaan terpaksa mengambil  laba dari keuntungan beberapa bulan lalu untuk menutupi gaji karyawan agar tidak ada yang dirumahkan. Bagaimana mungkin malah membuka lowongan pekerjaan?” kata Silvi dengan heran.


Pak Reno, security itupun saat ini menjadi heran dan bingung. Bagaimana mungkin pemuda itu membuat surat lamaran lengkap jika dia tidak mendapatkan info tentang lowongan pekerjaan? Beberapa saat kemudian dia teringat kalau Ronald membawa kartu nama milik Pak Rayen, Presdir Putra Company.


“Bu Silvi, pemuda itu membawa kartu nama Pak Rayen. Apa tidak sebaiknya Bu Silvi bertanya kepada Bu Vivi dulu. Barangkali Pak Rayen ada pesan atau keterangan tentang pemuda bernama Ronald itu” kata Pak Reno mencoba menghubungkan antara surat lamaran dan kartu nama Pak Rayen.


“O, begitu ya. Baiklah Pak Reno. Tunggu disini sebentar ya. Saya akan coba tanyakan pada Vivi” kata Silvi sambil berlalu menuju ruangan Vivi.


___

__ADS_1


“Siapa? Ronald?” Tanya Vivi.


“Iya Bu Vivi. Ada seorang pemuda bernama Ronald yang membawa surat lamaran datang ke antor ini. Dan saya bingung, karena seingat saya perusahaan ini belum membuka lowongan pekerjaan untuk menambah karyawan. Itulah sebabnya saya menemui Ibu. Karena orang itu membawa kartu nama Pak Rayen” kata Silvi menjelaskan.


Mendengar hal itu, Vivi ingat pesan dari Pak Rayen tadi pagi. Bahwa jika ada seseorang bernama Ronald datang membawa surat lamaran, agar dibawa langsung menghadap dia. Akhirnya Vivi pun memerintahkan Silvi untuk membawa Ronald ke ruangannya.


Mendengar hal itu, Silvi segera berlalu dan menemui Pak Reno, untuk selanjutnya bersama sama menuju pos jaga atau pos security yang ada di halaman depan kantor.


____


Sementara itu, di ruang tunggu pos security  perusahaan, Ronald yang sedang harap harap cemas menanti keputusan dari security yang melaporkan perihal kedatangannya.


Memang dalam masa new normal ini semua harus serba preventif. Untuk menerima tamu yang belum dikenal harus melalui prosedur yang dilakukan secara ketat. Harapannya adalah untuk menjaga semua karyawan dan staf perusahaan dalam posisi yang aman dan terbebas dari pandemic.


Setelah menunggu agak lama, akhirnya security yang menyampaikan kedatangan Ronald pun kembali ke pos jaga. Dan ternyata dia tidak sendiri. Dia didampingi seorang perempuan cantik berambut sebahu yang berjalan dengan anggun.


“Apakah anda yang bernama Ronald?” Tanya Silvi setelah sampai di pos jaga.


“Eh,iya mbak. Eh Bu? Saya Ronald” kata Ronald yang sedikit terkejut karena mendapatkan pertanyaan yang tiba tiba.


Setelah berbasa basi sejenak, akhirnya mereka segera masuk untuk menuju ke ruangan Vivi. Tentu saja walaupun sudah agak lega perasaan Ronald, namun dalam hati kecilnya masih was was tentang keputusan mengenai lamarannya. Dia sangat berharap bisa diterima di perusahaan ini.


Sesampainya di ruangan Vivi, Ronald segera diajak Vivi untuk menuju ke ruangan Presdir Putra Company, Tuan Rayen Briliant Putra. Hal itu adalah seperti pesan Pak Rayen pada Vivi beberapa saat yang  lalu, bahwa jika seorang pemuda bernama Ronald datang, disuruhnya langsung menemui dirinya.


Dengan ditemani Vivi, Ronald melangkahkan kaki menuju ke sebuah ruangan kantor yang luas dan megah. Nampak semua perabotan tertata dengan rapid an elegant, cocok dengan charisma yang terpancar dari seorang pria tampan dan seorang wanita cantik yang merupakan pasangan suami istri. Dialah Rayen dan Maureen.


Thok thok thok …


Terdengar pintu diketuk perlahan. Rayen dan Maureen yang sedang asyik berbincang seputar permasalahan perusahaan serentak menoleh kea rah pintu.

__ADS_1


“Masuk !!” kata Rayen.


“Maaf Pak Rayen, ada seorang pemuda bernama Ronald ingin bertemu dengan Bapak” kata Vivi.


“O, Iya Vi. Suruh dia masuk. “ kata Rayen sambil memandang seorang pemuda ang berada agak jauh di belakang Vivi.


Vivi kemudian mengajak Ronald untuk masuk sambil membawa cv dari Ronald yang sudah diserahkan padanya pada saat di ruangan Vivi tadi.


Kemudian mereka duduk tepat di kursi yang tersedia di depan kursi yang diduduki Rayen dan Maureen. Sejenak Rayen memandang wajah Ronald. Dalam hati Rayen melihat kepolosan dan kesungguhan dalam diri pemuda itu. Namun Rayen juga tidak mau gegabah dalam mengambil keputusan.


Di raihnya cv yang diserahkan Vivi padanya tadi. Dilihatnya daftar riwayah hidup dari pemuda yang ada di depan dia saat ini. Pernah kuliah di universitas ternama di Australia, merupakan alumni dari SMP dan SMA favorit di Jakarta. ‘ehm, sebuah prestasi yang patut di apresiasi.


Namun tentunya selain dari daftar riwayat hidup, tentu juga ada beberapa hal yang di tanyakan kepada pemuda itu.


“Saudara Ronald Aditya, benar?” Tanya Rayen.


“Iya Pak Rayen. Saya Ronald Aditya yang dikenalkan oleh ayah saya kemarin” jawab Ronald.


Rayen terdiam sejenak, kemudian memandang kembali kea rah pemuda itu. Ada sedikit perasaan ganjil yang ada dalam pikirannya. Tapi apa? Rayen bingung. Dalam perasaan dia, pemuda ini mungkin sangat diperlukan dalam mengembangkan perusahaannya yang saat ini sedang dalam kondisi kurang baik akibat dampak dari pandemic covid 19.


Namun dalam hati kecilnya merasa ada yang harus dikaji ulang jika ingin menerima pemuda ini. Ada apa sebenarnya?


Rayen ingin  mengorek keterangan lebih banyak dari Ronald sebelum mengambil keputusan.


.


.


Bersambung . . .

__ADS_1


__ADS_2