
Suasana yang awalnya
sudah tegang karena menanti keputusan Vivi tentang lamaran dari Mr. Viencent
menjadi semakin tegang ketika tiba tiba Vivi pingsan. Semua merasa was was
dengan apa yang terjadi pada Vivi.
Setelah menunggu beberapa saat ternyata Vivi belum juga
sadar, mereka memutuskan untuk membawa Vivi ke rumah sakit. Semua harap harap
cemas menanti hasil diagnosa dokter yang menangani Vivi.
Demikian juga halnya dengan Maureen, Rayen dan Mr. Viencent.
Mereka semua berharap tidak ada sesuatu yang serius yang menimpa Vivi,
sekretaris Rayen.
“Semoga Vivi cepat sadar ya yah? Kasihan dia. Dia sudah
banyak membantu kita dalam membesarkan Putra Company. Semoga dia baik baik saja
“ kata Maureen.
“Iya Bunda. Ayah juga berharap demikian. Mudah mudahan tidak
ada penyakit seius yang diderita oleh Vivi Bun” kata Rayen
“Iya, ayah. Bunda juga agak kawatir, sekarang banyak orang
tertulau virus covid 19, makanya Bunda jadilebih kawatir” kata Maureen
“Bunda tidak usah kawatir, virus Covid itu ada tanda tanda
batuk dan demam, sedangkan Vivi tidak pernah ada gejala seperti itu, jadi
sangat kecil kemungkinannya Vivi kena virus Corona” kata Rayen
“Iya Ayah, Bunda juga berharap demikian” kata Maureen
Mereka berdua ngobrol sambil menunggu hasil pemeriksaan dari
Vivi, sementara Vivi berada di ruang pemeriksaan ditemani ibunya yang dijemput
oleh salah satu karyawan Putra Company.
Sudah lebih dari seperempat jam, namun dokter yang menangani
Vivi belum juga kelihatan keluar dari ruang pemeriksaan, tiba tiba Maureen
merasakan akan yang aneh dengan dirinya. Perutnya seperti merasa mual, namun
bukan mulas. Dicoba kakinya diselonjorkan, masih juga terasa sakit, terutama di
bagian pinggang.
__ADS_1
“Yah, perut bunda kok sakit ya? Rasanya seperti melilit, dan
mau buang air” kata Maureen.
“Apa? Mungkinkah sudah waktunya anak kita lahir Bun?” kata
Rayen
“Entahlah Yah, tapi perkiraan dokter masih sekitar lima hari
lagi” kata Maureen.
“Tunggu, sebentar ya Bun. Ayah akan panggilkan perawat. Kita
langsung ke poli kandungan saja. Siapa tahu anak kita ingin lebih cepat melihat
dunia” kata Rayen sambil berlari menghampiri seorang perawat yang kebetulan
sedang membawa kursi roda kosong.
Maureen segera dinaikkan ke kursi roda. Kemudian perawat itu
mendorong menuju ke ruang bersalin, sementara Rayen mengikuti di belakangnya.
Sampai di ruang bersalin.
“Bapak tunggu diluar” kata perawat itu kepada Rayen
“Saya suaminya suster?” kata Rayen
“Iya Pak, saya tahu. Tapi Bapak tunggu di luar dulu. Nanti kalau
Ah, saya kan suaminya, kenapa si tidak diperbolehkan masuk? Maureen
kan sendirian. Rayen tidak tega melihat Maureen berjuang sendirian dalam
menghadapi proses kelahiran.
Rayen mondar mandir berjalan di lorong ruang bersalin. Dia tidak
tahu harus berbuat apa. Dia sangat kawatir kalau terjadi apa apa pada diri
Maureen.
Sungguh sebuah dilema yang sangat luar biasa bagi Rayen hari
ini. dua wanita yang bisa dikatakan sangat istimewa tengah menghadapi sesuatu
yang sangat krusial dalam hidupnya.
Maureen, istrinya, belahan jiwanya yang dulu bahkan sempat
membantu perusahaannya kala sedang bangkrut dan hampir tidak mampu berdiri
lagi, ini sedang sakit. Di sisi lain, Vivi wanita yang telah berjasa
membesarkan Putra Company sedang pingsan. Kamu harus bagaimana sekarang Rayen? Mondar
mandir terus seperti setrikaan, tak kunjung tahu ujung pangkalnya? Ayo Rayen,
berfikirlah sang Presdir tampan, jangan Cuma diam tanpa makna.
__ADS_1
Tiba tiba pintu ruang bersalin terbuka. Nampak perawat tadi
keluar dan dengan tidak sabar, Rayen segera menghampiri sang suster.
“Bagaimana Suster, apa yang terjadi pada istri saya?” tanya
Rayen
“Selamat pak, istri Bapak akan melahirkan. Bapak silahkan
tunggu disini, kalau Ibu Maureen membutuhkan Bapak, akan kami panggil. Sekarang
kami masih akan melakukan persiapan untuk proses persalinan istri Bapak” kata
perawat itu sambil melangkah pergi dan menutup kembali pintu itu.
Ah, Rayen. Istrimu akan melahirkan, sebentar lagi kamu akan
dipanggil ayah. Sebentar lagi kamu akan menimang buah hati kamu.
Rayen terus membayangkan seandainya dia sudah mempunyai
seorang anak. Sampai lupa belum mengabari Pak Rehan dan Ibu Kim Nana. Rayen,
rayen. Bener bener deh kamu.
Setengah jam berlalu, Rayen masih sibuk dengan pikirannya
sendiri. Ketika tiba tiba dia dikejutkan oleh kedatangan seorang perawat yang
menghampiri dirinya.
“Maaf, Pak Rayen. Bapak dipanggil menghadap dokter sekarang”
kata perawat itu
“Apa??? Ada apa dengan istri saya suster?” tanya Rayen kaget
dan sangat kawatir dengan keadaan istrinya
“Maaf Pak. Silahkan langsung bertanya pada dokter nanti. Sekarang
Pak Rayen ditunggu di ruang dokter” kata perawat itu
Dengan perasaan cemas dan kawatir, Rayen melangkah menuju ke
ruang dokter. Dalam hatinya sangat kacau. Pikirannya sangat rancu.
Vivi sedang pingsan belum siuman.
Kini Maureen sedang dalam proses melahirkan, namun dokter
memanggil Rayen, ada apa sebenarnya.
Ingin terus mengikuti kelanjutan cerita ini, jangan lupa
dukung vote untuk cupu ya readers ku tercinta
Selamat membaca. Semoga makin penasaran dengan perjalanan
cinta Ray dan Reen
__ADS_1