Dari Cupu Jadi Ratu

Dari Cupu Jadi Ratu
Musim Ke Empat Bag 19


__ADS_3

 


 


Suasana  yang awalnya


sudah tegang karena menanti keputusan Vivi tentang lamaran dari Mr. Viencent


menjadi semakin tegang ketika tiba tiba Vivi pingsan. Semua merasa was was


dengan apa yang terjadi pada Vivi.


Setelah menunggu beberapa saat ternyata Vivi belum juga


sadar, mereka memutuskan untuk membawa Vivi ke rumah sakit. Semua harap harap


cemas menanti hasil diagnosa dokter yang menangani Vivi.


Demikian juga halnya dengan Maureen, Rayen dan Mr. Viencent.


Mereka semua berharap tidak ada sesuatu yang serius yang menimpa Vivi,


sekretaris Rayen.


“Semoga Vivi cepat sadar ya yah? Kasihan dia. Dia sudah


banyak membantu kita dalam membesarkan Putra Company. Semoga dia baik baik saja


“ kata Maureen.


“Iya Bunda. Ayah juga berharap demikian. Mudah mudahan tidak


ada penyakit seius yang diderita oleh Vivi Bun” kata Rayen


“Iya, ayah. Bunda juga agak kawatir, sekarang banyak orang


tertulau virus covid 19, makanya Bunda jadilebih kawatir” kata Maureen


“Bunda tidak usah kawatir, virus Covid itu ada tanda tanda


batuk dan demam, sedangkan Vivi tidak pernah ada gejala seperti itu, jadi


sangat kecil kemungkinannya Vivi kena virus Corona” kata Rayen


“Iya Ayah, Bunda juga berharap demikian” kata Maureen


Mereka berdua ngobrol sambil menunggu hasil pemeriksaan dari


Vivi, sementara Vivi berada di ruang pemeriksaan ditemani ibunya yang dijemput


oleh salah satu karyawan Putra Company.


Sudah lebih dari seperempat jam, namun dokter yang menangani


Vivi belum juga kelihatan keluar dari ruang pemeriksaan, tiba tiba Maureen


merasakan akan yang aneh dengan dirinya. Perutnya seperti merasa mual, namun


bukan mulas. Dicoba kakinya diselonjorkan, masih juga terasa sakit, terutama di


bagian pinggang.

__ADS_1


“Yah, perut bunda kok sakit ya? Rasanya seperti melilit, dan


mau buang air” kata Maureen.


“Apa? Mungkinkah sudah waktunya anak kita lahir Bun?” kata


Rayen


“Entahlah Yah, tapi perkiraan dokter masih sekitar lima hari


lagi” kata Maureen.


“Tunggu, sebentar ya Bun. Ayah akan panggilkan perawat. Kita


langsung ke poli kandungan saja. Siapa tahu anak kita ingin lebih cepat melihat


dunia” kata Rayen sambil berlari menghampiri seorang perawat yang kebetulan


sedang membawa kursi roda kosong.


Maureen segera dinaikkan ke kursi roda. Kemudian perawat itu


mendorong menuju ke ruang bersalin, sementara Rayen mengikuti di belakangnya.


Sampai di ruang bersalin.


“Bapak tunggu diluar” kata perawat itu kepada Rayen


“Saya suaminya suster?” kata Rayen


“Iya Pak, saya tahu. Tapi Bapak tunggu di luar dulu. Nanti kalau


Ah, saya kan suaminya, kenapa si tidak diperbolehkan masuk? Maureen


kan sendirian. Rayen tidak tega melihat Maureen berjuang sendirian dalam


menghadapi proses kelahiran.


Rayen mondar mandir berjalan di lorong ruang bersalin. Dia tidak


tahu harus berbuat apa. Dia sangat kawatir kalau terjadi apa apa pada diri


Maureen.


Sungguh sebuah dilema yang sangat luar biasa bagi Rayen hari


ini. dua wanita yang bisa dikatakan sangat istimewa tengah menghadapi sesuatu


yang sangat krusial dalam hidupnya.


Maureen, istrinya, belahan jiwanya yang dulu bahkan sempat


membantu perusahaannya kala sedang bangkrut dan hampir tidak mampu berdiri


lagi, ini sedang sakit. Di sisi lain, Vivi wanita yang telah berjasa


membesarkan Putra Company sedang pingsan. Kamu harus bagaimana sekarang Rayen? Mondar


mandir terus seperti setrikaan, tak kunjung tahu ujung pangkalnya? Ayo Rayen,


berfikirlah sang Presdir tampan, jangan Cuma diam tanpa makna.

__ADS_1


Tiba tiba pintu ruang bersalin terbuka. Nampak perawat tadi


keluar dan dengan tidak sabar, Rayen segera menghampiri sang suster.


“Bagaimana Suster, apa yang terjadi pada istri saya?” tanya


Rayen


“Selamat pak, istri Bapak akan melahirkan. Bapak silahkan


tunggu disini, kalau Ibu Maureen membutuhkan Bapak, akan kami panggil. Sekarang


kami masih akan melakukan persiapan untuk proses persalinan istri Bapak” kata


perawat itu sambil melangkah pergi dan menutup kembali pintu itu.


Ah, Rayen. Istrimu akan melahirkan, sebentar lagi kamu akan


dipanggil ayah. Sebentar lagi kamu akan menimang buah hati kamu.


Rayen terus membayangkan seandainya dia sudah mempunyai


seorang anak. Sampai lupa belum mengabari Pak Rehan dan Ibu Kim Nana. Rayen,


rayen. Bener bener deh kamu.


Setengah jam berlalu, Rayen masih sibuk dengan pikirannya


sendiri. Ketika tiba tiba dia dikejutkan oleh kedatangan seorang perawat yang


menghampiri dirinya.


“Maaf, Pak Rayen. Bapak dipanggil menghadap dokter sekarang”


kata perawat itu


“Apa??? Ada apa dengan istri saya suster?” tanya Rayen kaget


dan sangat kawatir dengan keadaan istrinya


“Maaf Pak. Silahkan langsung bertanya pada dokter nanti. Sekarang


Pak Rayen ditunggu di ruang dokter” kata perawat itu


Dengan perasaan cemas dan kawatir, Rayen melangkah menuju ke


ruang dokter. Dalam hatinya sangat kacau. Pikirannya sangat rancu.


Vivi sedang pingsan belum siuman.


Kini Maureen sedang dalam proses melahirkan, namun dokter


memanggil Rayen, ada apa sebenarnya.


Ingin terus mengikuti kelanjutan cerita ini, jangan lupa


dukung vote untuk cupu ya readers ku tercinta


Selamat membaca. Semoga makin penasaran dengan perjalanan


cinta Ray dan Reen

__ADS_1


__ADS_2