Dari Cupu Jadi Ratu

Dari Cupu Jadi Ratu
Musim Ke Tiga Bag 7 ( Edisi Valentine )


__ADS_3

 


 


Mobil yang ditumpangi Maureen dan Rayen terus bergerak


menuju ke Bogor. Lokasi yang menjadi tujuan mereka adalah lokasi wisata Puncak


Bogor. Menjelang akhir pecan ditambah dengan Hari Valentine yang identik dengan


hari kasih sayang bagi muda mudi, membuat suasana jalan menuju kota hujan ini


makin padat dan ramai oleh arus lalu lintas.


Perjalanan yang menyita waktu dan juga tenaga serta kondisi


jalanan yang padat merayap, memberikan  banyak sekali pengalaman bagi mereka berdua. Terlebih


lagi bagi Maureen.


Memang perjalanan ini sangat memberikan makna bagi Maureen,


bagaimana tidak, sebelumnya Maureen nyaris tidak pernah merasakan kemacetan. Maureen


nyaris tidak pernah merasakan kesusahan dalam hal financial ataupun berpanas


panasan. Maureen adalah Big Bos dari perusahaan yang sangat besar. Sebelum itu,


Maureen adalah anak semata wayang dari Big Bos KSM Group. Jadi nyaris tidak


pernah mengalami kemacetan di jalan, ataupun melihat orang orang hilir mudik


sibuk mencari sesuap nasi.


Maureen bahkan hampir tidak pernah melakukan tour atau


liburan ke daerah di sekitar Jakarta atau Indonesia. Sekali liburan, Maureen pasti


ke Paris, Melburne, Singapura, New York dan kota kota terkenal lain di dunia,


itupun dengan pesawat pribadi. Jadi nyaris tidak pernah tahu jika di luar


kantor, ada anak anak kecil yang setelah sekolah seharusnya mereka sudah


bermain main untuk mengisi sore mereka, namun kenyataannya harus bermandi peluh


di jalanan, dengan menjual tissue, kipas kertas, permen, air mineral dan


makanan ringan yang lain untuk menyambung hidup mereka dan keluarga.


Sepanjang perjalanan Maureen dan Rayen sibuk berdikusi


masalah masalah yang dilihatnya di sepanjang perjalanan. Mereka membayangkan,


seandainya nasib mereka menimpa pada keluarganya, pada anaknya, cucunya atau


orang orang terdekat di keluarga mereka.


Kemewahan dan kenyamanan yang dirasakan oleh Maureen selama


ini, dengan fasilitas yang serba ada dan sekolah di sekolah sekolah bonafide


yang dipenuhi oleh mereka mereka yang berkantong tebal, selama ini telah


membutakan hati Maureen dan Rayen dari orang orang yang selama ini kurang


beruntung.


“Ah, mereka tidak pernah minta dilahirkan dalam kekurangan. Jadi


mereka tidak salah Ray. Kita harus memikirkan apa yang bisa kita lakukan untuk


mereka. Meskipun kecil, dan tidak mungkin menampung semua dari mereka, paling

__ADS_1


tidak bisa mengurangi beban mereka jika kita menyisihkan sebagian kecil dari


keuntungan perusahaan kita nantinya” kata Maureen pada Rayen.


“Lalu apa yang akan Bunda lakukan untuk mereka? Apakah Bunda


sudah punya rencana untuk nereka ke depan?”


“Belum Ray, nanti kita pikirkan setelah kita selesai reuni”


Mereka kembali ngobrol tentang kehidupan mereka, tentang


dunia di sekitar mereka. Dunia yang membukakan mata mereka tentang arti


kehidupan.


Menjelang siang hari, mereka sudah hampir sampai di Puncak. Jalanan


yang kian menanjak dan padatnya lalu lintas membuat mereka capek. Akhirnya Maureen


tertidur di pangkuan Rayen. Rayen membiarkan Maureen tidur di pangkuannya. Dibelainya


rambut istrinya itu dengan penuh kasih sayang.


Rayen sadar, sangat berat beban yang dirasakan oleh Maureen.


Ya, Maureen harus mengurusi perusahaan yang sangat besar dan banyak. Belum lagi


memikirkan keluarga. Sungguh sangat egois jika Rayen hanya mengharap Maureen bisa


jadi istri yang baik, tanpa memikirkan beban yang ditanggungnya.


Memang hampir semua suami ingin punya istri yang baik,


membina rumah tangga dengan baik, jadi ibu yang baik. Tapi jika kenyataannya


sang istri adalah seorang Presdir dari perusahaan besar? Apalagi di perusahaan,


posisi Rayen masih sangat jauh dibawah Maureen. Ya, Rayen harus menyadari itu.


menanjak dan lalu lintas makin padat. Sebentar lagi mereka sudah akan tiba di


Puncak Bogor.


.


.


Sementara itu, Vivi beberapa hari belakangan ini terus


mengintensifkan komunikasi dengan perusahaan perusahaan mitra dan relasi dari


Putra Company. Vivi ingin membuktikan bahwa dia bisa berbuat yang lebih untuk


perusahaan tempat dia bekerja.


“Aku tidak mau mengecewakan Ibu Maureen. Ibu Maureen orang


baik, jika Ibu Maureen tidak mengangkat aku jadi sekretaris dan bekerja di


kantor Pak Rayen, belum tentu kehidupanku jadi lebih baik seperti saat ini. Aku


harus bisa membuat kerjasama dengan perusahaan perusahaan asing lebih mantap. Apalagi


dengan kemampuanku berbahasa spanyol, mungkin akan bisa meyakinkan perusahaan dari


Mexico itu untuk lebih banyak berinvestasi di Putra Company”, kata Vivi dalam


hati.


Meskipun hari ini adalah hari Valentine, dan perusahaan


memberinya libur, namun Vivi tidak ingin menyia nyiakan kesempatan. Vivi tetap

__ADS_1


memantau saham perusahaaan dan menghubungi beberapa relasi perusahaan. Bagi Vivi,


Valentine akan datang lagi tahun depan, tapi kesempatan Vivi belum tentu


terulang kedua kali.


.


.


Menjelang tengah hari mobil Maureen dan Rayen memasuki


kawasan Puncak Bogor. Suasana asri dan sejuk segera terasa. Nampak rimbunnya dedaunan


di pohon pohon yang ada di sepanjang jalan menuju puncak, menambah asrinya


pemandangan di jalur tertinggi yang ada di kota hujan ini.


Beberapa orang nampak menggembalakan ternak mereka. Ada sapi,


kerbau dan kambing.


Sebenarnya jarak Jakarta menuju Puncak tidaklah jauh. Daerah


yang terletak di kaki dan lereng Gunung Gede Pangranggo atau di perbatasan


Kabupaten Bogor dan Kabupaten Cianjur ini hanya berjarak sekitar 70 km dari


Jakarta. Namun karena hari libur dan jelang akhir pecan, maka kondisi jalan


yang padat merayap membuat waktu tempuh menjadi 3 jam lebih.


Suasana sejuk bahkan nyaris dingin sudah terasa sejak mobil


memasuki Taman Nasional Gede Pangrango. Berada diketinggian 800-1200 meter di


atas permukaan laut, suhu udara disini bisa dibawah 14 derajat celcius.


Maureen dan Rayen sudah bersiap siap untuk turun dari mobil,


ketika mobil mereka sudah sampai ke lokasi tempat reuni. Nampak beberapa teman


alumni kampus mereka sudah ada di tempat tersebut. Hampir semua berpasang


pasangan. Bahkan ada diantara mereka yang sudah membawa anak kecil. Ah, pasti


itu adalah anaknya. Ada yang ngobrol ngobrol dengan teman di dekatnya,


kelihatannya mereka dulu pada saat di kampus teman dekat.


Maureen masih berjalan diantara beberapa orang yang ada


disitu. Mereka adalah teman teman kampus waktu kuliah dulu.


Ada beberapa yang masih mengenal Maureen. Tapi kalau yang


mengenal Rayen kayaknya sih cukup banyak. Terutama yang cewek cewek. Sesekali Maureen


dan Rayen bertegur sapa dengan mereka.


Ada yang sedang dicari oleh Maureen dan Rayen, kesana kemari


Maureen dan Rayen berkeliling. Berharap yang dicarinya ada.


Ya, Maureen dan Rayen tengah mencari sahabatnya Chika dan


Rhaka. Apakah mereka belum datang, atau tidak datang?


Apa saja acara reunion teman teman kampusnya nanti, dan


apakah Chika dan Rhaka tidak hadir di reunion tersebut? Temukan jawabannya di


lanjutan cerita ini.

__ADS_1


Selamat Hari Valentine dari author untuk readers tercinta.


__ADS_2