Dari Cupu Jadi Ratu

Dari Cupu Jadi Ratu
Rencana Pak Rehan


__ADS_3

“Hahaha… sang Presdir yang terhormat. Kau boleh bangga dengan apa yang kau miliki. Tapi ingat, aku akan menghancurkanmu dan seluruh keluargamu… hahaha….”


Suara pria itu menggema dan menggaung sangat menakutkan. Bahkan sampai saat ini, Rayen masih terngiang ngiang kata kata dari lelaki paruh baya itu. Wajahnya memang sepertinya pernah Rayen kenal. Namun sampai saat ini, Rayen masih belum bisa mengingat siapa dia sebenarnya.


Sungguh, mimpi itu benar benar seperti meneror dirinya. Pria misterius itu seakan akan selalu ada di pelupuk matanya. Benar benar sangat menyebalkan.


Rayen sebenarnya ingin menceritakan perihal mimpinya itu kepada Maureen. Namun hal itu diurungkan karena dia tidak ingin membebani pikiran dari istrinya tersebut.


Lama sekali Rayen tidak bisa memejamkan mata. Sampai tidak terasa, dia baru bisa terlelap setelah menjelang fajar menyingsing.


Rayen tertidur tapi masih dalam bayang bayang pria misterius itu…


Baru juga Rayen berhasil memejamkan matanya, terdengar suara ayam berkokok bersahut sahutan dari kandang yang sengaja dibuat olehnya untuk menghilangkan jenuh di saat banyak pekerjaan kantor. Tidak lama berselang, kemudian terdengar kumandang adzan subuh dari masjid kompleks perumahan elit itu.


Lama sekali suara adzan itu tidak terdengar dari masjid itu. Karena masa pandemic ini memaksa mereka untuk membatasi aktivitas di luar rumah, termasuk ke masjid.


Suara adzan itu terasa sangat menyejukkan hati, membuat Rayen merasa selama ini sudah begitu jauh dari Sang Pencipta. Dia ingat masa masa di kala dia masih kecil, dibawah bimbingan Pak Rehan dia diajari untuk mengerjakan sholat. Dan itu sangat membekas sekali.


Apalagi, setelah tadi malam dia mendapati mimpi yang bisa dikatakan sangat buruk. Entah mimpi itu karena pikirannya sedang kacau karena selalu memikirkan pria misterius kemarin, ataukah memang ada hal hal yang bisa di bilang aneh dalam hidupnya.


Rayen pernah mendengar ada ‘orang pintar’ yang bisa membuat seseorang bisa memasuki alam bawah sadar seseorang dan membuat sesuatu yang bisa menakut nakuti orang lain. Tapi Rayen bukan orang yang gampang percaya hal hal seperti itu. Baginya, saat ini tidak relevan jika memahami hal hal mistik seperti itu di era yang serba modern seperti sekarang ini.


Rayen adalah sosok yang lebih berfikir kea rah realistis. Baginya semua harus bisa diterima oleh akal sehat manusia.


_______


Pukul 06.00 WIB

__ADS_1


Suasana di rumah megah itu sudah begitu ramai. Semua sibuk dengan tugasnya masing masing. Pak Rehan dan Ibu Kimnana nampak  duduk di serambi depan sambil menggendong cucu kesayangannya.


Hari ini mereka berencana untuk kembali ke rumahnya,karena sebentar lagi Pak Rehan akan berangkat kembali ke Eropa untuk menyelesaikan urusan bisnisnya. Dan tentu saja Ibu Kimnana juga akan ikut kesana karena beliau sudah agak lama tidak mengunjungi rumahnya disana.


Sementara itu Rayen dan Maureen sedang sibuk menyiapkan beberapa berkas yang akan dibawa ke kantor hari ini.


Situasi new normal memaksa mereka belum bisa mengoperasikan kantor secara penuh. Beberapa kegiatan kantor masih dikontrol dari rumah.


Tapi beberapa kegiatan yang sifatnya umum dan bisa mengikuti protocol kesehatan yang diterapkan berdasarkan panduan dari dinas terkait.


Setelah semua nya beres, mereka bergegas menuju ruang makan, mereka ingin menikmati sarapan bersama sebelum berangkat menuju aktivitas mereka masing masing,


“Apakah ayah tidak ingin tinggal lebih lama lagi disini, si kecil kangen lo sama neneknya?” Tanya Maureen membuka obrolan sambil menikmati sarapan pagi itu.


“Hmm… Sebenarnya ayah ingin sekali berlama lama tinggal disini. Tapi bisnis ayah yang dulu jika terlalu lama tidak diurus, tentu akan nanti malah bisa bisa harus mulai dari awal lagi. Jadi terpaksa ayah harus segera berangkat ke Eropa dalam minggu minggu ini” kata Pak Rehan.


Sementara itu Rayen tidak bisa mengatakan apa apa, keputusan Pak Rehan memang tidak ada pilihan lain. Bisnis yang dibangunnya di Eropa yang sempat jatuh bangun karena wabah covid 19 ini memang secepatnya harus segera ditangani. Jika tidak,bisnis itu mungkin tidak akan dapat diselamatkan.


“Nanti tunggu Rayen dan Maureen pulang ya yah. Kami hanya sebentar kok di kantor, tengah hari nanti kami sudah pulang. Biar nanti Rayen mengantar Ayah ke rumah Bekasi” kata Rayen.


“Sebenarnya kami bisa minta tolong biar diantarkan sopir saja atau naik taksi Rayen. Kasihan jika kalian saat ini sedang sibuk, “ kata Ibu Kimnana.


Rupanya Ibu Kimnana dan Pak Rehan tidak enak hati karena kelihatannya Rayen dan Maureen sangat sibuk hari hari ini.


“O, tidak apa apa Ibu, sekalian biar si kecil tahu rumah kita yang ada di Bekasi. Kan belum pernah diajak ke sana?” kata Maureen.


Setelah berfikir agak lama, akhirnya mereka pun setuju untuk menunggu sampai Rayen dan Maureen pulang, sekaligus sambil menemani cucu tercintanya.

__ADS_1


PUKUL 07.00


Akhirnya Rayen dan Maureen pun berangkat ke kantor. Mereka sengaja tidak membawa mobil sendiri sendiri karena mereka berencana hanya sampai tengah hari di kantor itu. Bahkan hari ini mereka juga hanya ingin ke kantor Putra Company saja.


Rayen segera menuju garasi dan mengeluarkan mobilnya, sementara Maureen menunggu didepan pintu di halaman depan.


Setelah sampai di halaman depan, Rayen segera membukakan pint untuk istrinya dan setelah Maureen masuk, dia segera bergegas mengemudikan mobil itu menuju ke kantor. Laju mobil membelah padatnya jalanan ibukota. Suasana new normal sudah sedikit membuat jalan jalan di sekitar Jakarta mulai padat lagi. Jalanan yang dulu sepi dan nyaris lengang karena pembatasan akses keluar masuk kota dan beberapa pembatasan yang lain, kini sudah mulai padat merayap lagi.


Satu bulan yang lalu. Jarak antara rumahnya dan kantor Putra Company bisa ditempuh kurang dari seperempat jam. Namun hari ini kelihatannya hal itu tidak berlaku lagi. Mungkin butuh setengah hingga satu jam seperti biasanya untuk sampai di kantor Putra Company.


Sepanjang perjalanan, mereka memperbincangkan mengenai orang tua ataupun mertua mereka.


Sebenarnya mereka ingin agar Pak Rehan dan Ibu Kimnana tidak lagi bekerja. Mereka ingin orang tua itu beristirahat saja di rumah. Tidak lagi memikirkan hal hal yang berat. Sudah saatnya mereka beristirahat. Tapi apa mungkin mereka mau? Pandangan orang orang yang lahir diantara tahun 1950an sampai 1970an lain dengan anak anak sekarang. Mereka tidak suka jika hanya berpangku tangan atau menganggur. Semuanya ingin dilakukan.


Ini akan berbeda sekali dengan generasi 1990an, yang kadang sebagian besar lebih sering suka malas malasan.


Ada anekdot yang kadang cukup menggelitik. ORANG TUA BIASANYA TIDAK MAU KALAU DISURUH TIDAK BEKERJA, TAPI ANAK MUDA JUSTRU TIDAK MAU JIKA DISURUH BEKERJA.


Dan itu terbukti, generasi Rayen dan Maureen yang memang membangun bisnis dari awal bisa dihitung jari. Mereka kebanyakan meneruskan usaha dari orang tuanya. Tidak terkecuali dengan Rayen dan Maureen, walaupun tidak dapat dipungkiri bahwa Rayen kali ini sudah berhasil memajukan perusahaan itu.


Tapi terlepas dari itu semua, memang mereka kebanyakan hanya meneruskan bisnis yang sudah dijalankan oleh orang tuanya atau pendahulunya…


.


.


.

__ADS_1


Bersambung . . .


__ADS_2