
Malam itu pukul 21.00 waktu Jakarta, ketika pesawat Maureen
sampai di bandara Soekarno Hatta. Dan malam itu Maureen baru saja terbangun
dari tidurnya. Sedikit hilang penatnya hari ini. Sekretaris Zhang tidak berani
untuk membangunkan ketika Maureen tertidur sepanjang perjalanan Kobe-Jakarta.
Semula Maureen ingin langsung pulang ke rumah. Namun di
tengah perjalanan, Maureen member isyarat pada sopir pribadi yang menjemput dia
di bandara tadi.
“Ya Nyonya, ada yang bisa saya bantu?”
“Kita ke hotel saja pak. Saya ingin beristirahat dulu di
hotel”, kata Maureen.
“Baik, Nyonya”, jawab sopir.
Akhirnya mobil alpard itu melaju membelah malam jalanan
ibukota menuju ke salah satu hotel milik KSM Group. Ia ingin beristirahat
disana malam ini.
Sampai di hotel, nampak recepcionist hotel segera
menyambutnya. Sepertinya dia sudah faham apa yang harus dikerjakan. Seperti biasa,
satu kamar VVIP khusu untuk Maureen sudah tertata rapid an siap untuk digunakan
beristirahat. Sedangkan satu kamar lagi, untuk sekretaris Zhang.
Sebelum beristirahat, Maureen memanggil sekretaris Zhang
untuk menghadap.
“Ya Nyonya Presdir, ada yang perlu saya persiapkan?” Tanya sekretaris
Zhang pada Maureen.
“Sekretaris Zhang, besuk pagi saya ingin pergi ke Putra
Company. Seperti rencana kemarin, tolong dipersiapkan kebutuhan saya. Saya ingin
__ADS_1
memastikan bahwa Putra Company baik baik saja. Sekaligus saya ingin meminta
maaf pada Vivi terkait kesalahan saya kemarin. Saya ingin semuanya berjalan
lancar, sekarang saya ingin istirahat”, kata Maureen.
“Baik Ibu Presdir, semua sudah saya persiapkan, besuk Ibu
Presdir bisa meninjau sekaligus mengecek neraca dan juga fluktuasi saham Putra
Company”, kata sekretaris Zhang.
“Baiklah Zhang, sekarang kamu juga harus istirahat. Jaga kesehatanmu
baik baik. Perjalanan kita seminggu terakhir ini, sangat menguras tenaga dan
pikiran kita.”
“Baik Bu”, jawab Zhang.
Malam itu, Maureen sedikit lega. Dia sudah sampai di
Jakarta. Tinggal satu langkah lagi yang akan dilakukan esok hari. Menuju ke
Putra Company dan memastikan bahwa perusahaan milik suaminya itu dapat berjalan
lebih baik. Malam ini dia ingin istirahat dengan tenang.
.
.
dia masih gelisah. Kedatangan Maureen di Jakarta belum diketahuinya. Bahkan rencana
kunjungan Maureen ke Putra Company besuk pun belum diketahuinya. Rayen masih
bingung memikirkan kabar Maureen.
“Dimana dirimu berada Say? Kenapa tidak member kabar? Tidakkah
kau tahu bahwa Ray sangat mengkawatirkan keadaanmu?’
Rayen terus berusaha menghubungi ponsel Maureen , namun
ribuan kali dicoba, hasilnya tetap tidak aktif. Akhirnya dengan sedikit putus
asa, dia rebahkan tubuhnya di kasur. Dia ingin tidur mala mini. Karena besuk,
tugas perusahaan sudah menumpuk, menunggu tangannya untuk bekerja.
.
__ADS_1
.
Bagaimana dengan Vivi? Ternyata malam itu Vivi juga belum
tidur. Dia masih memikirkan kejadian demi kejadian akhir akhir ini. Sungguh sangat
menguras tenaga dan air mata.
“Apakah Ibu Presdir masih marah saya aku, hingga membatalkan
kunjungannya ke Putra Company tanpa pemberitahuan? Mungkinkah beliau masih
mengira bahwa aku menjalin hubungan dengan Pak Rayen? Sungguh aku tidak habis
fikir. Pak Rayen dan Bu Maureen adalah sosok pasangan yang sempurna. Meski mereka
berdua sangat disibukkan oleh pekerjaan mereka masing masing.
Memang, siapapun pasti akan merasakan hal yang sama. Siapapun
dia, jika dia wanita pasti akan memimpikan sosok Pak Rayen. Sudah tampan, baik
hati, sopan, kaya, seorang presdir pula. Apakah aku tidak suka jika seandainya
saja Pak Rayen menaruh hati pada aku”
Pikiran Vivi menerawang tidak karuan. Kesana kemari bagaikan
laying laying yang putus dari talinya. Dia akan berjalan hanya mengikuti angin,
kekanan, kekiri, keatas kadang juga harus terjungkal ke bawah.
“Tapi mungkinkah Pak Rayen bisa menaruh hati padaku. Bangun Vi,
jangan mimpi terlalu tinggi. Inagt siapa kamu, tidak akan ada apa apanya jika
dibandingkan dengan Maureen. Bangun Vi, lupakan mimpimu. Kamu hanya seorang
wanita yang kebetulan bisa dekat dengan Pak Rayen karena jadi sekretarisnya. Itupun
juga karena jasa Bu Maureen. Bangun.. bangun…. Lupakan mimipi gilamu…”
Batin Vivi bergejolak. Dia tidak tahu apa yang harus
dikerjakan mala mini. Yang dia tahu, mala mini pikirannya kacau, kacau, kacau. Seruwet
wabah corona yang melanda cina.
Semoga kita semua tetap diberikan kesehatan dan keselamatan,
amin.
__ADS_1
.
.