Dari Cupu Jadi Ratu

Dari Cupu Jadi Ratu
Musim Ke Dua Bag 15


__ADS_3

 


 


Malam itu pukul 21.00 waktu Jakarta, ketika pesawat Maureen


sampai di bandara Soekarno Hatta. Dan malam itu Maureen baru saja terbangun


dari tidurnya. Sedikit hilang penatnya hari ini. Sekretaris Zhang tidak berani


untuk membangunkan ketika Maureen tertidur sepanjang perjalanan Kobe-Jakarta.


Semula Maureen ingin langsung pulang ke rumah. Namun di


tengah perjalanan, Maureen member isyarat pada sopir pribadi yang menjemput dia


di bandara tadi.


“Ya Nyonya, ada yang bisa saya bantu?”


“Kita ke hotel saja pak. Saya ingin beristirahat dulu di


hotel”, kata Maureen.


“Baik, Nyonya”, jawab sopir.


Akhirnya mobil alpard itu melaju membelah malam jalanan


ibukota menuju ke salah satu hotel milik KSM Group. Ia ingin beristirahat


disana malam ini.


Sampai di hotel, nampak recepcionist hotel segera


menyambutnya. Sepertinya dia sudah faham apa yang harus dikerjakan. Seperti biasa,


satu kamar VVIP khusu untuk Maureen sudah tertata rapid an siap untuk digunakan


beristirahat. Sedangkan satu kamar lagi, untuk sekretaris Zhang.


Sebelum beristirahat, Maureen memanggil sekretaris Zhang


untuk menghadap.


“Ya Nyonya Presdir, ada yang perlu saya persiapkan?” Tanya sekretaris


Zhang pada Maureen.


“Sekretaris Zhang, besuk pagi saya ingin pergi ke Putra


Company. Seperti rencana kemarin, tolong dipersiapkan kebutuhan saya. Saya ingin

__ADS_1


memastikan bahwa Putra Company baik baik saja. Sekaligus saya ingin meminta


maaf pada Vivi terkait kesalahan saya kemarin. Saya ingin semuanya berjalan


lancar, sekarang saya ingin istirahat”, kata Maureen.


“Baik Ibu Presdir, semua sudah saya persiapkan, besuk Ibu


Presdir bisa meninjau sekaligus mengecek neraca dan juga fluktuasi saham Putra


Company”, kata sekretaris Zhang.


“Baiklah Zhang, sekarang kamu juga harus istirahat. Jaga kesehatanmu


baik baik. Perjalanan kita seminggu terakhir ini, sangat menguras tenaga dan


pikiran kita.”


“Baik Bu”, jawab Zhang.


Malam itu, Maureen sedikit lega. Dia sudah sampai di


Jakarta. Tinggal satu langkah lagi yang akan dilakukan esok hari. Menuju ke


Putra Company dan memastikan bahwa perusahaan milik suaminya itu dapat berjalan


lebih baik. Malam ini dia ingin istirahat dengan tenang.


.


.


dia masih gelisah. Kedatangan Maureen di Jakarta belum diketahuinya. Bahkan rencana


kunjungan Maureen ke Putra Company besuk pun belum diketahuinya. Rayen masih


bingung memikirkan kabar Maureen.


“Dimana dirimu berada Say? Kenapa tidak member kabar? Tidakkah


kau tahu bahwa Ray sangat mengkawatirkan keadaanmu?’


Rayen terus berusaha menghubungi ponsel Maureen , namun


ribuan kali dicoba, hasilnya tetap tidak aktif. Akhirnya dengan sedikit putus


asa, dia rebahkan tubuhnya di kasur. Dia ingin tidur mala mini. Karena besuk,


tugas perusahaan sudah menumpuk, menunggu tangannya untuk bekerja.


.

__ADS_1


.


Bagaimana dengan Vivi? Ternyata malam itu Vivi juga belum


tidur. Dia masih memikirkan kejadian demi kejadian akhir akhir ini. Sungguh sangat


menguras tenaga dan air mata.


“Apakah Ibu Presdir masih marah saya aku, hingga membatalkan


kunjungannya ke Putra Company tanpa pemberitahuan? Mungkinkah beliau masih


mengira bahwa aku menjalin hubungan dengan Pak Rayen? Sungguh aku tidak habis


fikir. Pak Rayen dan Bu Maureen adalah sosok pasangan yang sempurna. Meski mereka


berdua sangat disibukkan oleh pekerjaan mereka masing masing.


Memang, siapapun pasti akan merasakan hal yang sama. Siapapun


dia, jika dia wanita pasti akan memimpikan sosok Pak Rayen. Sudah tampan, baik


hati, sopan, kaya, seorang presdir pula. Apakah aku tidak suka jika seandainya


saja Pak Rayen menaruh hati pada aku”


Pikiran Vivi menerawang tidak karuan. Kesana kemari bagaikan


laying laying yang putus dari talinya. Dia akan berjalan hanya mengikuti angin,


kekanan, kekiri, keatas kadang juga harus terjungkal ke bawah.


“Tapi mungkinkah Pak Rayen bisa menaruh hati padaku. Bangun Vi,


jangan mimpi terlalu tinggi. Inagt siapa kamu, tidak akan ada apa apanya jika


dibandingkan dengan Maureen. Bangun Vi, lupakan mimpimu. Kamu hanya seorang


wanita yang kebetulan bisa dekat dengan Pak Rayen karena jadi sekretarisnya. Itupun


juga karena jasa Bu Maureen. Bangun.. bangun…. Lupakan mimipi gilamu…”


Batin Vivi bergejolak. Dia tidak tahu apa yang harus


dikerjakan mala mini. Yang dia tahu, mala mini pikirannya kacau, kacau, kacau. Seruwet


wabah corona yang melanda cina.


Semoga kita semua tetap diberikan kesehatan dan keselamatan,


amin.

__ADS_1


.


.


__ADS_2