
Pagi itu, Maureen diantar oleh dua orang perawat menuju ke ruang
USG, untuk memeriksa kondisi bayi di dalam rahimnya sebelum dilakukan operasi
di siang hari nanti.
Dengan duduk diatas kursi roda, ditemani oleh sang ibu
mertua, Ibu Kimnana yang selalu setia menemani Maureen di rumah sakit. Spanjang
jalan, Maureen tidak henti hentinya berdoa agar keajaiban terjadi pada dirinya.
Dia ingin si jabang bayi ini sudah berada pada posisi normalnya.
Walaupun Maureen sudah menyadari bahwa melahirkan anak, baik
secara normal maupun Caesar itu tidak ada bedanya, namun jika dibolehkan
memilih, Maureen tetap memilih melahirkan secara normal. Ini karena kondisi
akhir akhir ini yang sangat tidak stabil. Melihat berita di tv dan internet,
Presiden telah mengumumkan secara resmi, bahwa di Indonesia ada 2 orang yang
positif terkena virus covid 19. Untunglah, rumah sakit temat Maureen melakukan
persalinan, walaupun ditunjuk sebagai rumah sakit rujukan, namun belum ada
pasien yang dirawat disana yang positif terkena wabah ini.
Dan hal ini jugalah yang menyebabkan pagi ini, kedatangan
Rayen di rumah sakit agak terlambat. Seharusnya, suaminya akan menemani Maureen
untuk melakukan USG pagi ini. Namun karena ada beberapa titik di Jakarta yang
dilakukan pemeriksaan untuk mencegah virus ini berkembang tidak terkendali,
akhirnya kedatangan Rayen harus agak siang.
Sepanjang malam, Maureen dan Ibu Kimnana tak henti hentinya
berdoa, agak mukjizat Tuhan hadir di keluarganya. Mereka ingin Tuhan memberikan
karuniaNya dan membuat posisi bayi berada dalam posisi normal. Mereka ingin
secepatnya bisa pulang, sebelum rencana kebijakan pembatasan aktivitas di luar
rumah diberlakukan.
Bahkan sampai kursi roda Maureen di dorong oleh perawatpun, Maureen
masih terus berdoa, mohon keajaiban,
“Maaf, Ibu tunggu disini saja ya, biar Nyonya Maureen bersama
kami di ruang USG. Nanti jika diperlukan, Ibu kami panggil” kata perawat itu
kepada Ibu Kimnana dengan ramah.
“Baik suster” jawab Ibu Kimnana sambil kemudian duduk di
kursi tunggu yang tersedia di ruang tunggu kamar USG.
Kemudian perawat itu mendorong kursi roda menuju ke ruang
USG, tidak lupa, menutup kembali pintu itu. Ibu Kimnana menunggu dengan
perasaan cemas, sambil terus berdoa, namun apapun yang terjadi dia sudah
ikhlas, dipasrahkan semua kepada Yang Maha Kuasa. Ibu Kimnana yakin, bahwa
sebaik apapun rencana yang diiinginkan oleh manusia, akan kalah baik dengan apa
yang telah menjadi keputusan Tuhan.
.
.
Didalam ruang USG. Maureen dibaringkan di meja tempat pasien
yang akan dilihat kondisi janinnya. Dengan harap harap cemas, Maureen menantikan
tampilan layar monitor yang memperlihatkan posisi janin yang ada di ruangan itu
__ADS_1
menyala. Dan dua orang perawat yang bertugas memeriksa pasien dan petugas USG
itu dibuat takjub dab bingung. Posisi bayi yang kemarin nyata nyata kepalanya
berada di atas, hari ini janin itu berada pada posisi siap dilahirkan. Bahkan beberapa
saat kemudian, tanda tanda bahwa bayi itu akan segera lahir sudah muncul. Nampak
beberapa tetes cairan sudah keluar dari tubuh Maureen.
Mengetahui hal itu, Maureen sangat senang hatinya. Syukur
Alhamdulillah. Puji syukur kepada Allah, Tuhan penguasa alam. mukjizatMu benar
benar nyata.
Ingin rasanya Maureen segera meraih handphone nya untuk
mengabari suaminya, bahwa akhirnya dia akan melahirkan secara normal. Namun kelihatannya
hal itu sudah tidak mungkin, karena dia harus segera menuju ke ruang bersalin,
untuk mempersiapkan persalinan anak pertamanya.
Dia kemudian meminta tolong kepada perawat yang membawanya
tadi untuk memberitahukan hal ini pada ibu mertuanya. Sekaligus minta tolong
untuk menelepon suaminya, bahwa dia akan segera melahirkan.
Perawat itupun pergi meninggalkan Maureen yang sedang
bersiap menuju ke ruang bersalin diantarkan oleh perawat yang lain.
.
.
“Apa? Cucuku akhirnya akan lahir tanpa operasi?” Tanya Ibu
Kimnana kaget, setengah tidak percaya setelah diberitahu oleh perawat yang
mengantarkan Maureen ke ruang USG tadi, bahwa posisi bayi Maureen ternyata
sudah pada posisi normal, bahkan saat ini sedang menghadapi proses persalinan.
“Benar Bu, dan Nyonya Maureen minta tolong agar ibu memberitahukan
persalinan” kata perawat itu
“Baiklah, sebentar lagi akan saya hubungi Rayen. Terima kasih
suster?” kata Ibu KImnana
“Sama sama Ibu, saya permisi dulu untuk melanjutkan tugas”
kata perawat itu sambil beranjak pergi meninggalkan Ibu Kimnana.
Sementara itu, Ibu Kimnana kemudian segera mengambil
handphone nya yang diletakkan didalam tas yang dibawanya. Kemudian dia
menelepon Rayen. Dia ingin secepatnya Rayen mengetahui hal ini.
“Halo, iya Bu. Ada apa ? “ kata Rayen yang berada di ujung
telepon.
“Halo Nak. Ini Ibu, kamu lagi ada dimana sekarang?” Tanya Ibu
Kimnana.
“Ini masih ada di perjalanan Bu, akan ke rumah sakit. Tadi
baru saja ke kantor sebentar karena ada kemungkinan beberapa hari kedepan aka
nada kebijakan untuk bekerja dari rumah. jadi saya bersama staf ingin
memastikan tekhnologi yang dimiliki perusahaan kita mampu untuk mengunakan system
itu. Ada apa ya Bu?” Tanya Rayen.
“Apakah ayahmu juga sudah ikut bersama kamu?” Tanya Ibu
Kimnana.
“Iya Bu, ayah juga sudah ikut bersama saya. “ kata Rayen
“Ada kabar bagus untuk kamu Rayen”
__ADS_1
“Kabar apa Bu, apakah operasi Maureen akan dipercepat?”
“Lebih dari itu Nak. Saat ini Maureen malah sedang dalam
proses persalinan. Anaknya bisa lahir dalam persalinan normal.”
“Apa Bu? Maureen ? persalinan normal? Anakku ? “ Tanya Rayen
campur aduk tidak karuan. Dia tidak bisa membayangkan anugrah yang diterima
pagi ini.
“Benar anakku, hari ini hasil tes menunjukkan bahwa posisi
anak kamu sudah pada posisi normal. Bahkan saat ini tengah menghadapi
persalinan. Kamu harus segera kesini. Sebentar lagi anakmu akan lahir” kata Ibu
Kimnana.
“Baiklah Bu, sebentar lagi kami sudah akan sampai di rumah
sakit”
Ibu Kimnana kemudian menutup pembicaraan telepon dengan
Rayen. Kemudian dia melangkah menuju ke ruang bersalin, yang kebetulan letaknya
tidak terlalu jauh dari ruang tempat Maureen melakukan USG tadi.
.
.
Di dalam perjalanan, rayen yang baru saja menerima telepon
dari Ibunya yang memberitahukan bahwa saat ini Maureen sedang menghadapi
persalinan, segera memacu mobilnya lebih cepat.
Jalanan ibukota yang sedikit agak lengang karena beberapa
perusahaan swasta mengambil kebijakan social distancing dan work from home
membuat laju kendaraan Rayen berjalan lebih cepat.
Setengah jam berselang. Rayen sudah memasuki kawasan rumah
sakit tempat Maureen dirawat. Di pintu masuk menuju rumah sakit itu, akses
masuk diperketat. Rayen dan ayahnya harus menjalani serangkaian tes kesehatan,
mulai suhu tubuh sampai kondisi kesehatannya. Dan tidak lupa juga dilakukan
penyemprotan desinfektan kea rah mobilnya.
Setelah pemeriksaan selesai, maka mobil Rayen dipersilahkan
untuk menuju ke tempat parkir, dan mereka diperbolehkan untuk memasuki areal
rumah sakit.
Rayen sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan
istrinya. Dia bersama ayahnya segera bergegas menyusuri lorong rumah sakit itu
menuju ke ruang bersalin vvip yang berada di sudut komplek rumah sakit itu.
Langkahnya kelihatan tergesa gesa, bahkan ayahnya sampai
agak ketinggalan karena tidak lagi sekuat dulu dalam berjalan.
Mereka terus melangkah, menuju ke ruang bersalin, tempat
dimana Maureen tengah berjuang melahirkan anaknya. Anak dari buah kasih sayang
mereka.
.
.
bersambung
jangan lupa ya, untuk yang lagi #stayhome ayo nikmati konten konten menarik dari Youtube BHARATA FM TRENGGALEK dan tetap #staywithme untuk terus mengikuti perjalanan hidup Rayen dan Maureen
terus dukung sosialdistancing dan program #stayhome agar kita bisa bersama mencegah penyebaran covid 19
terimakasih
__ADS_1
salam author untuk readers semua, semoga tetap diberi kesehatan dan keselamatan
amin