Dari Cupu Jadi Ratu

Dari Cupu Jadi Ratu
Musim Ke Empat Bag 24


__ADS_3

 


 


Pagi itu, Maureen diantar oleh dua orang perawat menuju ke ruang


USG, untuk memeriksa kondisi bayi di dalam rahimnya sebelum dilakukan operasi


di siang hari nanti.


Dengan duduk diatas kursi roda, ditemani oleh sang ibu


mertua, Ibu Kimnana yang selalu setia menemani Maureen di rumah sakit. Spanjang


jalan, Maureen tidak henti hentinya berdoa agar keajaiban terjadi pada dirinya.


Dia ingin si jabang bayi ini sudah berada pada posisi normalnya.


Walaupun Maureen sudah menyadari bahwa melahirkan anak, baik


secara normal maupun Caesar itu tidak ada bedanya, namun jika dibolehkan


memilih, Maureen tetap memilih melahirkan secara normal. Ini karena kondisi


akhir akhir ini yang sangat tidak stabil. Melihat berita di tv dan internet,


Presiden telah mengumumkan secara resmi, bahwa di Indonesia ada 2 orang yang


positif terkena virus covid 19. Untunglah, rumah sakit temat Maureen melakukan


persalinan, walaupun ditunjuk sebagai rumah sakit rujukan, namun belum ada


pasien yang dirawat disana yang positif terkena wabah ini.


Dan hal ini jugalah yang menyebabkan pagi ini, kedatangan


Rayen di rumah sakit agak terlambat. Seharusnya, suaminya akan menemani Maureen


untuk melakukan USG pagi ini. Namun karena ada beberapa titik di Jakarta yang


dilakukan pemeriksaan untuk mencegah virus ini berkembang tidak terkendali,


akhirnya kedatangan Rayen harus agak siang.


Sepanjang malam, Maureen dan Ibu Kimnana tak henti hentinya


berdoa, agak mukjizat Tuhan hadir di keluarganya. Mereka ingin Tuhan memberikan


karuniaNya dan membuat posisi bayi berada dalam posisi normal. Mereka ingin


secepatnya bisa pulang, sebelum rencana kebijakan pembatasan aktivitas di luar


rumah diberlakukan.


Bahkan sampai kursi roda Maureen di dorong oleh perawatpun, Maureen


masih terus berdoa, mohon keajaiban,


“Maaf, Ibu tunggu disini saja ya, biar Nyonya Maureen bersama


kami di ruang USG. Nanti jika diperlukan, Ibu kami panggil” kata perawat itu


kepada Ibu Kimnana dengan ramah.


“Baik suster” jawab Ibu Kimnana sambil kemudian duduk di


kursi tunggu yang tersedia di ruang tunggu kamar USG.


Kemudian perawat itu mendorong kursi roda menuju ke ruang


USG, tidak lupa, menutup kembali pintu itu. Ibu Kimnana menunggu dengan


perasaan cemas, sambil terus berdoa, namun apapun yang terjadi dia sudah


ikhlas, dipasrahkan semua kepada Yang Maha Kuasa. Ibu Kimnana yakin, bahwa


sebaik apapun rencana yang diiinginkan oleh manusia, akan kalah baik dengan apa


yang telah menjadi keputusan Tuhan.


.


.


Didalam ruang USG. Maureen dibaringkan di meja tempat pasien


yang akan dilihat kondisi janinnya. Dengan harap harap cemas, Maureen menantikan


tampilan layar monitor yang memperlihatkan posisi janin yang ada di ruangan itu

__ADS_1


menyala. Dan dua orang perawat yang bertugas memeriksa pasien dan petugas USG


itu dibuat takjub dab bingung. Posisi bayi yang kemarin nyata nyata kepalanya


berada di atas, hari ini janin itu berada pada posisi siap dilahirkan. Bahkan beberapa


saat kemudian, tanda tanda bahwa bayi itu akan segera lahir sudah muncul. Nampak


beberapa tetes cairan sudah keluar dari tubuh Maureen.


Mengetahui hal itu, Maureen sangat senang hatinya. Syukur


Alhamdulillah. Puji syukur kepada Allah, Tuhan penguasa alam. mukjizatMu benar


benar nyata.


Ingin rasanya Maureen segera meraih handphone nya untuk


mengabari suaminya, bahwa akhirnya dia akan melahirkan secara normal. Namun kelihatannya


hal itu sudah tidak mungkin, karena dia harus segera menuju ke ruang bersalin,


untuk mempersiapkan persalinan anak pertamanya.


Dia kemudian meminta tolong kepada perawat yang membawanya


tadi untuk memberitahukan hal ini pada ibu mertuanya. Sekaligus minta tolong


untuk menelepon suaminya, bahwa dia akan segera melahirkan.


Perawat itupun pergi meninggalkan Maureen yang sedang


bersiap menuju ke ruang bersalin diantarkan oleh perawat yang lain.


.


.


“Apa? Cucuku akhirnya akan lahir tanpa operasi?” Tanya Ibu


Kimnana kaget, setengah tidak percaya setelah diberitahu oleh perawat yang


mengantarkan Maureen ke ruang USG tadi, bahwa posisi bayi Maureen ternyata


sudah pada posisi normal, bahkan saat ini sedang menghadapi proses persalinan.


“Benar Bu, dan Nyonya Maureen minta tolong agar ibu memberitahukan


persalinan” kata perawat itu


“Baiklah, sebentar lagi akan saya hubungi Rayen. Terima kasih


suster?” kata Ibu KImnana


“Sama sama Ibu, saya permisi dulu untuk melanjutkan tugas”


kata perawat itu sambil beranjak pergi meninggalkan Ibu Kimnana.


Sementara itu, Ibu Kimnana kemudian segera mengambil


handphone nya yang diletakkan didalam tas yang dibawanya. Kemudian dia


menelepon Rayen. Dia ingin secepatnya Rayen mengetahui hal ini.


“Halo, iya Bu. Ada apa ? “ kata Rayen yang berada di ujung


telepon.


“Halo Nak. Ini Ibu, kamu lagi ada dimana sekarang?” Tanya Ibu


Kimnana.


“Ini masih ada di perjalanan Bu, akan ke rumah sakit. Tadi


baru saja ke kantor sebentar karena ada kemungkinan beberapa hari kedepan aka


nada kebijakan untuk bekerja dari rumah. jadi saya bersama staf ingin


memastikan tekhnologi yang dimiliki perusahaan kita mampu untuk mengunakan system


itu. Ada apa ya Bu?” Tanya Rayen.


“Apakah ayahmu juga sudah ikut bersama kamu?” Tanya Ibu


Kimnana.


“Iya Bu, ayah juga sudah ikut bersama saya. “ kata Rayen


“Ada kabar bagus untuk kamu Rayen”

__ADS_1


“Kabar apa Bu, apakah operasi Maureen akan dipercepat?”


“Lebih dari itu Nak. Saat ini Maureen malah sedang dalam


proses persalinan. Anaknya bisa lahir dalam persalinan normal.”


“Apa Bu? Maureen ? persalinan normal? Anakku ? “ Tanya Rayen


campur aduk tidak karuan. Dia tidak bisa membayangkan anugrah yang diterima


pagi ini.


“Benar anakku, hari ini hasil tes menunjukkan bahwa posisi


anak kamu sudah pada posisi normal. Bahkan saat ini tengah menghadapi


persalinan. Kamu harus segera kesini. Sebentar lagi anakmu akan lahir” kata Ibu


Kimnana.


“Baiklah Bu, sebentar lagi kami sudah akan sampai di rumah


sakit”


Ibu Kimnana kemudian menutup pembicaraan telepon dengan


Rayen. Kemudian dia melangkah menuju ke ruang bersalin, yang kebetulan letaknya


tidak terlalu jauh dari ruang tempat Maureen melakukan USG tadi.


.


.


Di dalam perjalanan, rayen yang baru saja menerima telepon


dari Ibunya yang memberitahukan bahwa saat ini Maureen sedang menghadapi


persalinan, segera memacu mobilnya lebih cepat.


Jalanan ibukota yang sedikit agak lengang karena beberapa


perusahaan swasta mengambil kebijakan social distancing dan work from home


membuat laju kendaraan Rayen berjalan lebih cepat.


Setengah jam berselang. Rayen sudah memasuki kawasan rumah


sakit tempat Maureen dirawat. Di pintu masuk menuju rumah sakit itu, akses


masuk diperketat. Rayen dan ayahnya harus menjalani serangkaian tes kesehatan,


mulai suhu tubuh sampai kondisi kesehatannya. Dan tidak lupa juga dilakukan


penyemprotan desinfektan kea rah mobilnya.


Setelah pemeriksaan selesai, maka mobil Rayen dipersilahkan


untuk menuju ke tempat parkir, dan mereka diperbolehkan untuk memasuki areal


rumah sakit.


Rayen sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan


istrinya. Dia bersama ayahnya segera bergegas menyusuri lorong rumah sakit itu


menuju ke ruang bersalin vvip yang berada di sudut komplek rumah sakit itu.


Langkahnya kelihatan tergesa gesa, bahkan ayahnya sampai


agak ketinggalan karena tidak lagi sekuat dulu dalam berjalan.


Mereka terus melangkah, menuju ke ruang bersalin, tempat


dimana Maureen tengah berjuang melahirkan anaknya. Anak dari buah kasih sayang


mereka.


.


.


bersambung


jangan lupa ya, untuk yang lagi #stayhome ayo nikmati konten konten menarik dari Youtube BHARATA FM TRENGGALEK dan tetap #staywithme untuk terus mengikuti perjalanan hidup Rayen dan Maureen


terus dukung sosialdistancing dan program #stayhome agar kita bisa bersama mencegah penyebaran covid 19


terimakasih

__ADS_1


salam author untuk readers semua, semoga tetap diberi kesehatan dan keselamatan


amin


__ADS_2