
Hari itu juga, Rayen dan Maureen segera bergegas menuju kantor polisi. Mereka tidak mau mengambil resiko lebih lanjut, mengingat anaknya sampai dengan menjelang sore ini belum diketemukan. Padahal jelas, anak itu seharusnya tidak mungkin keluar dari kompleks perkantoran Maureen yang dikelilingi oleh pagar yang cukup tinggi dan pintu yang dijaga oleh pos pengamanan. Tapi mau tidak mau kenyataan ini harus diterima oleh Rayen dan Maureen. Sampai saat ini anaknya belum diketahui dimana keberadaannya.
Setelah mempersiapkan diri dan membawa bukti serta mendengarkan keterangan keterangan dari para karyawannya, akhirnya mereka segera berangkat menuju ke kantor polisi. Maureen tak henti hentinya menangis menyadarai keteledorannya dan Rayen pun sepanjang jalan sibuk untuk menenangkan istrinya itu.
Mobil yang berjalan sangat cepat di jalanan yang cukup lengang itu masih terasa lambat bagi Maureen. Dia ingin secepatnya sampai di kantor polisi. Dia sangat kawatir dengan keadaan anaknya. Dia tidak akan bisa tenang sebelum anak itu ditemukan.
…
“Bagaimana kronologi kejadiannya Tuan Rayen ?” kata penyidik kepolisian ingin memperoleh keterangan secara detail tentang kejadian hilangnya anak tersebut.
Rayen dan Maureen bergantian memberikan keterangan yang diperlukan oleh aparat kepolisisan untuk mencari keberadaan anaknya tersebut. Mereka berusaha memberikan keterangan yang selengkap lengkapnya dan sejelas jelasnya. Berharap agar keterangannya segera mampu mengungkap dimana keberadaan dari anaknya itu.
“Baiklah Tuan, Nyonya. Keterangan yang jelas dan lengkap akan dapat membantu kami untuk mencari dimana keberadaan anak anda. Tolong jika ada sesuatu yang bisa menambah keterangan yang kami butuhkan, Tuan dan Nyonya langsung menghubungi kami. Karena keterangan dari Tuan dan Nyonya akan sangat membantu tugas kami”
“Apakah kami sudah bisa pulang Pak?”
“Baiklah Tuan, Nyonya. Saya rasa keterangan Tuan dan Nyonya sudah lengkap. Kami akan segera menurunkan tim ke TKP. Mohon kerjasamanya ya Tuan, Nyonya? “
“Baik Pak. Kami akan tunggu di kantor kami”
Setelah dirasa keterangan yang diberikan sudah cukup, Rayen dan Maureen segera kembali ke kantor nya.
…
Sementara itu, disebuah warung kecil yang sudah tidak digunakan pemiliknya di pinggir jalan, terlihat dua orang lelaki berperawakan pendek dan bertato sedang menenagkan seorang anak kecil yang sedang menangis. Mereka sangat bingung karena anak itu sedari tadi menangis terus terusan. Dan tentu saja mereka sangat was was karena beberapa pengguna jalan ada yang memperlambat kendaraannya untuk memperhatikan dia.
“Cup cup sayang. Jangan menangis terus ya. Jika menangis terus Om jadi bingung nih” kata salah seorang dari mereka.
“Iya nak. Nanti Om Jono belikan permen ya? Jangan menangis terus” kata seorang lagi yang bernama Jono.
Rupanya dua orang itu adalah kembar. Pantas saja dari perawakannya mereka sepertinya mukanya hampir mirip. Joni dan Jono.
Ternyata anak itu tidak berhenti menangis. Anak itu menangis, menangus dan terus menangis.
“Bagaimana ini Jono? Kalau anak ini terus menangis, kita bisa ketahuan.” Kata Joni
“Iya Joni. Aku juga bingung. Jika sampai ketahuan, kita akan berjamur di penjara”
“Lalu apa yang harus kita lakukan?”
__ADS_1
“Kita harus bisa menenangkan anak ini. Jangan biarkan dia menangis terus. Biar tidak mengundang curiga orang orang yang lewat itu”
Berbagai upaya dicoba untuk membujuk anak itu agar tidak menangis. Namun semua usaha itu sia sia.
Akhirnya Jono pun member saran.
“Joni, jika terus begini kita bisa ketahuan”
“Lalu apa yang harus kita lakukan?”
“Kita harus memberitahukan ini pada bos besar”
“Iya, kamu benar. Kita tidak boleh mengambil resiko yang lebih besar”
Akhirnya Joni pun segera mengeluarkan ponselnya dan menelepon seseorang yang disebut sebagai bos besar.
“Halo….. “ terdengar suara seeorang di dalam telepon genggam milik Joni.
“I.. iya.. bos. Ini saya Joni”
“Iya. Ada apa Jon. Gimana pekerjaanmu?”
“Bujuk dia dong, biar tidak menangis”
“Sudah bos, tapi tetap saja tidak mau diam. Saya sampai bingung dibuatnya”
“Apa kamu masih di posisi tadi?”
“Iya bos, masih di warung pinggir jalan tadi. Belum kemana mana. Anaknya masih nangis terus, dan banyak orang yang lewat yang memperhatikan kami”
“Dengar, aku tidak mau sampai terjadi masalah. Sekarang kembalikan anak itu ke tempatnya dulu. Jangan sampai timbul masalah. Dan jangan sampai ada orang yang tahu. Jika sudah, kamu lekas menyingkir dari tempat itu. Saya yakin keluarganya sudah menghubungi polisi saat ini” kata orang yang disebut bos besar dalam telepon terasa berat.
“Baik bos” kata Joni sambil menutup teleponnya.
Joni dan Jono kemudian bersiap untuk mengembalikan anak itu ke posisinya semula. Sesuai dengan instruksi dari sang bos besar. Posisi tersebut sebenarnya tidak terlalu jauh, hanya berkisar sekitar 500 meter. Hanya saja melewati beberapa ruas jalan yang sepi jadi tidak gampang diketahui oleh warga sekitar.
…
“Gawat Joni. Banyak anggota polisi yang menyisir tempat ini. Jika kita ketahuan bisa gawat”
__ADS_1
“Iya. Kita harus mencari akal, agar tidak ketahuan”
“Apa anak ini kita tinggalkan disini saja?”
“Gila. Jika sampai terjadi hal buruk pada anak ini, matilah kita. Kita disuruh mengembalikan anak ini. Bukan mencelakainya”
“Lalu apa yang harus kita lakukan”
Nampak Joni berfikir cukup keras.
Setelah beberapa saat, dia kemudian tersenyum. “Jono. Liat polisi yang berdiri sendirian itu. Di sebelahnya sekitar 100 meter ada gang kecil. Kita bawa anak itu dari gang kecil itu. Lalu kita tinggalkan anak ini disana. Polisi itu akan mendengar tangisan anak ini. Tapi kita harus segera pergi setelah anak ini kita lepaskan”
Joni mengerti maksud dari Jono. Akhirnya mereka segera melaksanakan rencananya tersebut.
…
“He, ada anak menangis dari ujung gang itu?” kata salah seorang polisi yang menyisir lokasi di sekitar kantor Maureen.
“Iya benar. Mari kita lihat. Hati hati, tingkatkan kewaspadaan. Semua kemungkinan bisa terjadi” kata anggota yang lain.
Kemudian dua orang anggota polisi itupun segera bergegas menuju tempat anak itu menangis. Tidak lupa menghubungi komandan mereka untuk melaporkan yang terjadi.
…
Saat itu Kepala Kepolosian Sektor sedang bersama Rayen dan Maureen, mereka sedang menyelidiki segala kemungkinan yang terjadi.
Saat mereka tengah berbincang, tiba tiba ada panggilan masuk dari anak buah nya.
“Iya, panggilan diterima”
“Komandan,izin melaporkan. Kami menemukan anak tersebut di dekat pagar samping kantor. Mohon petunjuk” kata salah satu petugas polisi.
“Tetap ditempat, kami akan segera menuju kesana” kata Komandan polisi itu kemudian mengajak Rayen dan Maureen untuk ikut serta menuju lokasi yang disebutkan oleh anak buahnya itu.
Rayen dan Maureen yang sangat mengkawatirkan keadaan anaknya tidak mau menyia nyiakan waktunya. Dia segera bergegas berlari menuju ke samping kantornya. Terlebih lagi Maureen yang sedari tadi terus menangis tiada henti hentinya. Mereka berharap tidak ada sesuatu yang menimpa anaknya itu
.
.
__ADS_1
Bersambung . . .