Dari Cupu Jadi Ratu

Dari Cupu Jadi Ratu
Musim Ke Empat Bag 22


__ADS_3

Rayen masih menunggu keputusan dari Chika, apakah Chika akan


bersedia untuk membujuk Maureen ataukah tidak. Harapan Rayen tinggal Chika


seorang, karena Maureen sudah tidak punya siapa siapa. Sedangkan orang yang


paling akrab dan terbukti sudah mampu melunakkan hati Maureen hanya Chika,


teman akrabnya sedari kecil.


“Ray, sebenarnya berat untuk meninggalkan rumah hari ini. Karena


disamping anakku masih kecil dan belum bisa ditinggal lama, suamiku juga tidak


ada dirumah. Jadi yang dirumah ini Cuma aku dan Bi Surti. Tapi keselamatan Maureen


pun bagiku juga sangat penting. Kamu tunggu disini ya, aku coba telepon Raka


dulu” kata Chika


“Apakah Raka masih lama pulangnya Chik?” Tanya Rayen


“Rakha ada tugas kantor, mungkin besok sore baru pulang,


Ray. Jadi lama kalau nunggu Rakha pulang” kata Chika


“Apakah kamu tidak bisa, jika pergi ke rumah sakit sebentar,


kemudian balik lagi kesini, kan perjalanan kesini Cuma setengah jam, artinya


kita butuh waktu sekitar dua jam saja untuk pulang pergi” kata Rayen


“Bisa Ray, tapi aku harus minta ijin suamiku dulu, karena


seorang istri tidak baik bepergian tanpa ijin suami, apalagi dengan pria lain,


meskipun kamu sahabatku” kata Chika


Rayen tertegun, banyak sekali perubahan pada diri Chika yang


belum diketahui oleh Rayen dan Maureen. Rupanya mereka sudah banyak belajar


menata hidupnya sesuai dengan agama yang dianutnya, sementara Rayen? Apa karena


Rayen terlalu sibuk memikirkan perusahaannya, sehingga masih sangat sulit untuk


memahami arti dan makna hidup yang sebenarnya seperti halnya mereka.


Rayen membiarkan Chika melangkah ke ruang belakang. Dia ingin


menelepon Rakha suaminya untuk meminta ijin pergi ke rumah sakit membujuk Maureen


agar mau di operasi Caesar karena kondisi bayinya yang sungsang, sehingga


sangat beresiko jika harus dipaksakan untuk lahir normal.


Dengan harap harap cemas, Rayen duduk gelisah di kursi ruang


tamu rumah Chika. Lama sekali Chika menelepon suaminya. Lama atau karena Rayen


terlalu sibuk memikirkan Maureen, sehingga waktu yang sebentar pun terasa lama.


Ah, masa bodoh lah, yang penting Chika bersedia membujuk Maureen ke rumah


sakit.


.


Beberapa saat kemudian, Chika muncul dari ruang belakang. Sudah


berganti pakaian dengan busana santai namun anggun.


“Ray, aku hanya punya waktu sebentar, karena anakku tidak


ikut dan setiap 4-5 jam sekali harus menyusui. Lebih baik kita segera berangkat”


kata Chika


“Apakah Rakha mengijinkan kamu untuk pergi Chika?” Tanya Rayen


“Ya jelas mengijinkan lah Ray, ini kan menyangkut


keselamatan Maureen. Rakha itu orangnya sangat perhatian dan kasih sayang. Selama


ini saya banyak belajar dari dia dan puji syukur, rumah tangga kami makin


bahagia” kata Chika


Ah, ingin rasanya Rayen menimba ilmu dari rumah kecil ini. Banyak


sekali ilmu yang belum dia pelajari, ternyata harta benda berlimpah tidak


menjamin hidup akan selalu bahagia.

__ADS_1


“Ray, ayo berangkat. Kasihan Maureen lam menunggu”


Kata kata Chika membuyarkan lamunan Rayen. Dia segera


melangkah menuju ke mobil, dibukakan pintu untuk Chika. Setelah Chika masuk,


dia buru buru menuju ke samping kanan mobil, lalu masuk ke mobil dan sejurus


kemudian, mengemudikan mobilnya menembus jalanan ibukota yang sedikit lengang,


karena beberapa kantor dan orang orang banyak yang membatasi aktivitas. Ini disebabkan


karena santernya isu wabah korona yang merambah ke kota Jakarta dan bahka sudah


ditetapkan sebagai kasus pandemic oleh badan kesehatan dunia.


Suasana jalanan yang tidak begitu ramai, mempercepat laju


kendaraan Rayen. Kurang dari setengah jam, mereka sudah sampai di pelataran


rumah sakit. Nampak Pak Rehan dan Ibu Kimnana sedang duduk duduk di serambi


ruang pavilion rumah sakit itu. Rupanya mereka sedang terlibat pembicaraan


serius, pastinya masih seputar persalinan Maureen.


.


Melihat kedatangan Rayen dan Chika, serentak Pak Rehan dan


Ibu Kimnana berdiri menyambut mereka. Rayen dan Chika segera bersalaman, tidak


lupa mereka mencium tangan Pak Rehan dan Ibu Kimnana sebagai rasa hormat mereka


pada orang tua.


“Kok diluar, Pak, Bu? Siapa yang menemani Maureen?” Tanya Rayen


“Tadi ada pemeriksaan dari dokter Ray, Ibu dan Bapak diminta


untuk menunggu di luar. Mungkin sekarang sudah selesai. Eh, nak Chika? Rakha


dimana?” Tanya Ibu Kimnana


“Maaf Tante, Ayahnya Cindy masih ada tugas kantor sampai


besuk siang. Jadi tidak bisa ikut kesini” kata Chika


“Waduh waduh, terus ini tadi anak kamu siapa yang jagain


“Tadi saya minta Bi Surti untuk menjaganya Om. Jadi ini


nanti saya tidak bisa lama, karena si kecil ada di rumah” kata Chika


“O, terima kasih nak Chika. Maaf ya, merepotkan nak Chika”


kata Ibu Kimnana


“Tidak apa apa Tante. Maureen juga teman saya sedari kecil. Jadi


wajar jika saya juga harus ikut menjaga dia, seperti pesan mendiang Om Tito,


ayahnya Maureen” kata Chika


“Pak, Bu saya tinggal kedalam dulu ya, Ayo Chika kita masuk”


kata Rayen sambil mengajak Chika masuk ke ruangan tempat dimana Maureen di


rawat.


Sedangkan pak Rehan dan Ibu Kimnana kembali duduk di kursi,


kemudian melanjutkan obrolan mereka yang tertunda.


.


.


.


“Aku ingin menjadi Ibu sepenuhnya Chik, aku ingin anakku


lahir tanpa operasi” kata Maureen ketika Chika sudah membujuknya untuk mau


dioperasi agar persalinannya cepat.


“Princesku sayang, menjadi ibu dengan jalan operasi dan


persalinan normal itu sama saja, tidak ada bedanya” kata Chika


“Tapi, apa perjuanganku untuk anakku Chik, jika dia lahir


melalui operasi yang dilakukan oleh dokter” Tanya Maureen.

__ADS_1


“Reen, apa kamu lupa. Siapa yang selama ini mengandung


dengan susah payah, membawanya kesana kemari, dengan keadaan yang semakin


berat, berat dan berat. Apakah orang lain? Bukan Reen. Itu kamu. Calon ibu dari


bayi yang sekarang ada di dalam kandunganmu”


“Iya sih Chik”


“Apakah kamu merasa kecil, hanya karena tidak bisa


melahirkan secara normal Reen? Padahal melahirkan secara operasi Caesar itu


resikonya justru lebih besar dari persalinan biasa Reen. Kamu harus bertaruh


nyawa. Memang, kata orang saat dilakukan operasi, kita tidak merasakan sakit. Tapi


Reen, setelah operasi, setelah obat penawarnya hilang, lebih sakit daripada


yang melahirkan secara normal. Bahkan beberapa minggu harus menjaga agar jangan


sampai bekerja terlalu berat, untuk menjaga jahitan bekas operasi, itu


perjuangan yang sangat berat. Lebih berat dari persalinan normal Reen”


“Benarkah demikian?”


“Belum lagi perjuangan seorang ibu selanjutnya Reen, kamu


harus menyusui anakmu selama 2 tahun. Itu hanya bisa dilakukan oleh seorang


ibu. Kenapa kamu berkecil hati  hanya


karena harus melahirkan secara operasi? Kamu akan tetap Princes, kamu akan


tetap Ratu. Ratu bagi dirimu, anakmu dan keluargamu Reen”


Maureen terdiam. Dia meresapi setiap kata kata sahabatnya


ini. Memang benar apa yang dikatakan oleh Chika. Perjuangannya untuk menjadi


Ratu tidak berhenti sampai disini. Justru ini adalah awal, pintu menuju


pengabdian seorang ibu yang sesungguhnya. Seorang ibu yang dituntut untuk bisa


menjadi Ratu dalam rumah tangga, untuk suami dan anak anaknya.


Tidak ada gunanya Maureen bersikukuh untuk tetap pada


pendiriannya tidak mau dioperasi. Toh kenyataannya memang kondisi yang memaksa


demikian. Seberapapun bagusnya rencana kita, kita tidak akan mampu melawan


takdir. Seberapapun kekayaan kita, kita juga tidak akan mampu membeli takdir. Semua


takdir sudah digariskan untuk Sang Maha Berkuasa.


Akhirnya Maureen pun luluh. Lagi lagi, luluhnya si cupu yang


keras kepala ini adalah berkat Chika Suroso.


Akhirnya hari itu, Maureen memutuskan untuk siap dioperasi. Sementara


Chika harus segera kembali pulang, karena sudah agak lama meninggalkan bayinya


di rumah.


Setelah mendapat keputusan dari Maureen, Rayen kemudian


memenui dokter, dan mengatakan bahwa Maureen sudah siap untuk menjalani


operasi. Akhirnya diputuskan bahwa Maureen akan menjalani operasi Caesar pada besok


pagi jam 10.00.


.


.


.


Apakah yang akan terjadi pada Maureen?


Ikuti kisah selanjutnya………


Terima kasih untuk readers yang telah memberikan vote dan


like. Tanpa kalian, tulisan ini hanya akan jadi tulisan tnpa makna. Author akan


tetap menunggu dukungan dari reader semua.


juga terima kasih untuk reader yang sudah menyempatkan diri berkunjung ke youtube BHARATA FM TRENGGALEK

__ADS_1


Dukung juga dubber Bharata FM Trenggalek dengan like ya, biar novel favorit readers bisa didubbing oleh kang Bharata


Semoga cerita ini bisa menginspirasi kita semua. Amin.


__ADS_2