Dari Cupu Jadi Ratu

Dari Cupu Jadi Ratu
Musim Ke Dua Bag 23


__ADS_3

 


 


Maureen terhenyak kaget, dia tersadar dari lamunannya ketika


tiba tiba dia melihat tangan Rayen mulai bergerak. Tangan kekar yang dulu


selalu membelai rambutnya yang ikal, tangan kekar yang selalu menolong dan


menjadi pelindung tatkala ada yang mencoba mengganggu Maureen.


“Ray, apa kamu bias mendengar suaraku, Say?” bisik Maureen di


telinga Rayen.


Namun mata Rayen masih terpejam, seolah tidak mendengar


suara apapun. Tubuh itu masih lemas, ya masih lemas. Tubuh yang kekar dan tegap


perkasa itu masih terbaring lemas, tak berdaya.


“Ray, kau dengar aku?” bisik Maureen lebih keras.


Namun lagi lagi Rayen masih membisu. Apa mungkin efek obat


penenangnya belum hilang. Atau….


Ah, Maureen makin takut jika kekawatirannya akan terjadi


pada Rayen. Maureen masih trauma dengan kejadian beberapa tahun yang lalu. Apa yang


harus kulakukan, pikir Maureen. Saran dokter disuruh menunggu, ya menunggu. Sampai


kapan?


Maureen kembali duduk di kursi dekat Rayen terbaring. Maureen


kembali tenggelam dalam lamunannya. Lamunan seorang milyarder yang harus


bersedih dan tak berdaya ketika diterpa musibah dan bencana.


Maureen kini sadar, harta dan kedudukan tidak ada artinya


jika dibandingkan dengan keluarga. Hari ini apa yang tidak bias terbeli


olehnya? Bahkan kalau perlu mobil yang masih dalam rancangan saja bisa dibeli


beserta pabrikannya. Tapi menghadapi suaminya yang terbaring lemah, dia tidak


mampu berbuat apa apa.


Dua jam sudah berlalu, ketika itu jarum jam di rumah sakit


menunjukkan pukul 22.30. Saat itulah Rayen membuka matanya perlahan.


Bibirnya terasa kering dan haus. Dia berusaha menggerakkan

__ADS_1


bibirnya untuk berkata. Saat itu Maureen tertidur karena capeknya menunggui


Rayen. Dan ketika tangan Rayen bergerak menyentuh tangan Maureen. Maureen terbangun


dan sadar.


Maureen melihat Rayen sudah membuka mata dan berusaha untuk


berbicara.


“Ray, kamu sudah bangun saying?”


“A…a..ku… dimana……”


“Ray, kamu di rumah sakit. Ini aku istrimu, Maureen. Kamu ingat


Ray?”


“Maure… e..n? say …. yang….ku?”


“Iya sayang, Maureen ada disini. Maafkan Maureen say. Gara gara


Maureen, Ray jadi seperti ini”, kata Maureen.


“Ke…na…pa a…ku….. di si….ni…..?”


“Kamu kecelakaan say, saat kamu pulang dari bandara, mobil


yang kamu kendarai menabrak dumptruck. Untunglah kamu tidak apa apa say. Bagaimana


keadaanmu, apa kamu merasakan sakit Ray?”


kiri terasa sakit.”


Nampak bebrapa petugas medis sibuk mengontrol perkembangan


kesehatan Rayen, begitu mengetahui Rayen sudah sadar. Dan semuanya menunjukkan


angka normal. Artinya secara medis, dalam pemeriksaan awal Rayen tidak apa apa,


hanya perlu waktu sehari dua hari untuk memulihkan staminanya kembali.


Benar saja, Nampak Dr. Albert, sebagai ketua tim dokter yang


menangani Rayen, menemui Maureen untuk menjelaskan tentang kesehatan Rayen.


“Nyonya, untuk sementara hasil analisa kami menunjukkan


bahwa Tuan Rayen dalam keadaan baik. Jadi besuk pagi Tuan Rayen sudah boleh


meninggalkan rumah sakit. Hanya saja karena riwayat kecelakaan yang diderita


oleh Tuan Rayen beberapa tahun yang lalu, mungkin saja sekecil apapun benturan


yang terjadi aka nada efeknya bagi kesehatan Tuan Rayen. Untuk itu, jika


sewaktu waktu nanti ada keluhan sekecil apapun, mohon untuk segera

__ADS_1


berkonsultasi dengan kami” kata Dr. Albert memberikan penjelasan terkait


kondisi terkini dari Rayen.


“Baik Dok.”


Setelah mendapat penjelasan dari dokter yang menangani


Rayen, bahwa Rayen baik baik saja, Maureen segera menemui Rayen lagi. Pukul 23.45,


masih di tanggal 02 bulan 02 tahun 2020, Maureen ingin menyampaikan kabar


gembira untuk Rayen.


“Say, ada kabar gembira yang ingin aku sampaikan buat kamu”,


kata Maureen.


“Kabar berita apa? Maafkan aku say, di hari ulang tahunmu


aku belum bisa ngasih sesuatu yang special”, kata Rayen


“Tidak apa apa say. Sudah ada yang lebih spesial di ulang


tahunku dan di hari ini. Aku hamil Ray”, kata Maureen dengan mata berbinar binary.


“Apa….. ha….mil……”


“Iya say, aku hamil. Kita akan punya anak.”


“Senangnya hatiku say, aku hamper tak percaya ini. Mudah mudahan


aku cepat pulang dari rumah sakit ya? Kita rayakan berkah yang luar biasa ini.”


“Jangan kawatir say. Dokter sudah bilang jika besuk Ray


sudah boleh pulang, kita rayakan bersama”


“Iya sayang”


Lampu rumah sakit seakan jadi saksi, dua insan yang tengah


diselimuti rasa bahagia. Bahagia karena hari ini mereka mendapat anugrah yang


istimewa yaitu kehamilan Maureen.


Mereka berdua bergenggaman tangan erat, seakan tak kan


pernah mau dilepaskan oleh takdir sekalipun.


.


.


O iya readers. Author punya channel youtube yang saat ini


masih berisi seputar budaya jawa, rencananya author ingin membuat konten untuk

__ADS_1


tutorial menjadi penulis di MT, jika setuju, disa tinggalkan jejajk di koment.


Terima kasih.


__ADS_2