
Maureen terhenyak kaget, dia tersadar dari lamunannya ketika
tiba tiba dia melihat tangan Rayen mulai bergerak. Tangan kekar yang dulu
selalu membelai rambutnya yang ikal, tangan kekar yang selalu menolong dan
menjadi pelindung tatkala ada yang mencoba mengganggu Maureen.
“Ray, apa kamu bias mendengar suaraku, Say?” bisik Maureen di
telinga Rayen.
Namun mata Rayen masih terpejam, seolah tidak mendengar
suara apapun. Tubuh itu masih lemas, ya masih lemas. Tubuh yang kekar dan tegap
perkasa itu masih terbaring lemas, tak berdaya.
“Ray, kau dengar aku?” bisik Maureen lebih keras.
Namun lagi lagi Rayen masih membisu. Apa mungkin efek obat
penenangnya belum hilang. Atau….
Ah, Maureen makin takut jika kekawatirannya akan terjadi
pada Rayen. Maureen masih trauma dengan kejadian beberapa tahun yang lalu. Apa yang
harus kulakukan, pikir Maureen. Saran dokter disuruh menunggu, ya menunggu. Sampai
kapan?
Maureen kembali duduk di kursi dekat Rayen terbaring. Maureen
kembali tenggelam dalam lamunannya. Lamunan seorang milyarder yang harus
bersedih dan tak berdaya ketika diterpa musibah dan bencana.
Maureen kini sadar, harta dan kedudukan tidak ada artinya
jika dibandingkan dengan keluarga. Hari ini apa yang tidak bias terbeli
olehnya? Bahkan kalau perlu mobil yang masih dalam rancangan saja bisa dibeli
beserta pabrikannya. Tapi menghadapi suaminya yang terbaring lemah, dia tidak
mampu berbuat apa apa.
Dua jam sudah berlalu, ketika itu jarum jam di rumah sakit
menunjukkan pukul 22.30. Saat itulah Rayen membuka matanya perlahan.
Bibirnya terasa kering dan haus. Dia berusaha menggerakkan
__ADS_1
bibirnya untuk berkata. Saat itu Maureen tertidur karena capeknya menunggui
Rayen. Dan ketika tangan Rayen bergerak menyentuh tangan Maureen. Maureen terbangun
dan sadar.
Maureen melihat Rayen sudah membuka mata dan berusaha untuk
berbicara.
“Ray, kamu sudah bangun saying?”
“A…a..ku… dimana……”
“Ray, kamu di rumah sakit. Ini aku istrimu, Maureen. Kamu ingat
Ray?”
“Maure… e..n? say …. yang….ku?”
“Iya sayang, Maureen ada disini. Maafkan Maureen say. Gara gara
Maureen, Ray jadi seperti ini”, kata Maureen.
“Ke…na…pa a…ku….. di si….ni…..?”
“Kamu kecelakaan say, saat kamu pulang dari bandara, mobil
yang kamu kendarai menabrak dumptruck. Untunglah kamu tidak apa apa say. Bagaimana
keadaanmu, apa kamu merasakan sakit Ray?”
kiri terasa sakit.”
Nampak bebrapa petugas medis sibuk mengontrol perkembangan
kesehatan Rayen, begitu mengetahui Rayen sudah sadar. Dan semuanya menunjukkan
angka normal. Artinya secara medis, dalam pemeriksaan awal Rayen tidak apa apa,
hanya perlu waktu sehari dua hari untuk memulihkan staminanya kembali.
Benar saja, Nampak Dr. Albert, sebagai ketua tim dokter yang
menangani Rayen, menemui Maureen untuk menjelaskan tentang kesehatan Rayen.
“Nyonya, untuk sementara hasil analisa kami menunjukkan
bahwa Tuan Rayen dalam keadaan baik. Jadi besuk pagi Tuan Rayen sudah boleh
meninggalkan rumah sakit. Hanya saja karena riwayat kecelakaan yang diderita
oleh Tuan Rayen beberapa tahun yang lalu, mungkin saja sekecil apapun benturan
yang terjadi aka nada efeknya bagi kesehatan Tuan Rayen. Untuk itu, jika
sewaktu waktu nanti ada keluhan sekecil apapun, mohon untuk segera
__ADS_1
berkonsultasi dengan kami” kata Dr. Albert memberikan penjelasan terkait
kondisi terkini dari Rayen.
“Baik Dok.”
Setelah mendapat penjelasan dari dokter yang menangani
Rayen, bahwa Rayen baik baik saja, Maureen segera menemui Rayen lagi. Pukul 23.45,
masih di tanggal 02 bulan 02 tahun 2020, Maureen ingin menyampaikan kabar
gembira untuk Rayen.
“Say, ada kabar gembira yang ingin aku sampaikan buat kamu”,
kata Maureen.
“Kabar berita apa? Maafkan aku say, di hari ulang tahunmu
aku belum bisa ngasih sesuatu yang special”, kata Rayen
“Tidak apa apa say. Sudah ada yang lebih spesial di ulang
tahunku dan di hari ini. Aku hamil Ray”, kata Maureen dengan mata berbinar binary.
“Apa….. ha….mil……”
“Iya say, aku hamil. Kita akan punya anak.”
“Senangnya hatiku say, aku hamper tak percaya ini. Mudah mudahan
aku cepat pulang dari rumah sakit ya? Kita rayakan berkah yang luar biasa ini.”
“Jangan kawatir say. Dokter sudah bilang jika besuk Ray
sudah boleh pulang, kita rayakan bersama”
“Iya sayang”
Lampu rumah sakit seakan jadi saksi, dua insan yang tengah
diselimuti rasa bahagia. Bahagia karena hari ini mereka mendapat anugrah yang
istimewa yaitu kehamilan Maureen.
Mereka berdua bergenggaman tangan erat, seakan tak kan
pernah mau dilepaskan oleh takdir sekalipun.
.
.
O iya readers. Author punya channel youtube yang saat ini
masih berisi seputar budaya jawa, rencananya author ingin membuat konten untuk
__ADS_1
tutorial menjadi penulis di MT, jika setuju, disa tinggalkan jejajk di koment.
Terima kasih.