
Sementara itu pesawat yang ditumpangi Rayen sudah mendarat
di bandara John F Kennedy, New York. Suasana
kota yang demikian indah, penuh dengan lampu lampu kota yang tertata rapi
menghiasi bandara terbesar di kota ini. Indah memang. Namun tak membuat hati
Rayen terhibur. Dia masih tetap bersedih, karena belum mengetahui keberadaan
dari istri tercintanya, Maureen.
Setelah turun dari pesawat, dia langsung mencari taxi vvip
dari bandara untuk menuju kantor perusahaan Maureen yang memang tidak terlalu
jauh dari bandara internasional ini. Taxi excutif yang ditumpangi Rayen, melaju
kencang, maklum hari masih malam, jadi suasana jalanan kota masih agak sepi.
Dua jam dalam perjalanan, akhirnya Rayen sampai di kantor Maureen
di New York. Dan diliriknya ponsel yang ada disakunya. Masih belum ada tanda
tanda ada pesan atau panggilan.
Astaga…..
Beberapa saat dia tercenung. Bukankah ponselnya kemarin
dibanting saat kesal dengan Maureen?
Dan yang dibawa sekarang adalah ponsel baru?
Pantas saja tidak ada kabar dari Maureen yang masuk di
ponselnya. Sedang kartu ponsel yang dibanting masih tergeletak di laci meja
Rayen.
Ah, Rayen, Rayen……
Kenapa kamu ini, makin bego saja, apa mungkin karena kamu
terlalu rindu dengan Maureen.
Sampai di kantor Maureen, Rayen segera menuju ke pos
security. Melihat taxi bandara mendekat, seorang petugas security perusahaan
segera bergegas menghampiri, dan menanyakan maksud tujuannya.
“Excusme sir, can I help you”, sapa petugas security itu
dengan ramah.
“O, yes. I am Rayen. Maureen’s husband”, kata Rayen.
“Oh, Pak Rayen. Silahkan masuk Pak. Saya diberi tugas oleh
Ibu Maureen untuk menjemput Bapak, tapi saya tidak tahu jadwal kedatangan Bapak
di bandara, jadi maaf kalau hari ini saya terlambat menjemput Bapak. Perkenalkan
saya Yurhiko, assisten manager STAR KSM New York pak. Mohan maaf jika tadi saya
kurang sopan menyambut Bapak”, kata seorang yang ada di pos security yang
ternyata bernama Yurhiko.
“Tidak apa apa pak Yurhiko. O iya, Bapak asli darimana kok
fasih sekali berbahasa Indonesia?” Tanya Rayen.
“Saya dari Tangerang Banten Pak, tapi sudah hampir setahun
ini bergabung dengan perusahaan Ibu Maureen”.
__ADS_1
“O, kemudian dimana itu Maureen saat ini?”
“Wah, maaf Pak Rayen. Ibu Maureen kemarin mengatakan bahwa
berkali kali menelpon ponsel Bapak, tapi tidak terhubung. Itulah kenapa Ibu
Maureen terpaksa berpesan pada staf perusahaan, jika sewaktu waktu Pak Rayen
tiba di New York untuk menyampaikan.”
“Bgaimana kabarnya Maureen, Pak Yurhiko?”
“Ibu keadaannya baik Pak. Hari ini Ibu Maureen sudah di
Jakarta.”
“Apa? Di Jakarta? “ Tanya Rayen.
“Betul pak, sejak mengetahui bahwa dugaannya soal Pak Rayen
salah, Ibu langsung berkemas dan pulang ke Jakarta. Namun menurut sekretaris
Zhang, ada sedikit kendala sewaktu pesawat pribadi Ibu Maureen terbang diatas
Jepang, sehingga terlambat sehari sampai di Jakarta.”
“Astaga, jadi itu rupanya yang membuat Maureen tidak bisa
datang ke Putra Company seperti yang sudah dijadwalkan.”
“Betul pak, Ibu berpesan, Bapak bisa kembali secepatnya ke
Jakarta. Tiket vvip sudah dipersiapkan untuk berangkat nanti siang. Ada sesuatu
yang penting yang perlu dikerjakan di Jakarta Pak”.
“O, iya Pak Yurhiko. Saya memang ingin secepatnya untuk
pulang”.
“Baiklah pak. Biarkan kami yang mengatur semuanya, Bapak
berangkat, saya beritahu. Semua sudah kami siapkan”.
“Terima kasih Pak Yurhiko”.
Rayen segera melangkah menuju rumah mewah yang ada di dekat
kantor utama STAR KSM, ya, itulah rumah milik Maureen. Yang biasanya digunakan
untuk beristirahat sekaligus mengendalikan roda perusahaan saat Maureen ada di
New York.
Rayen kemudian membersihkan diri sejenak, setelah itu ia
ingin beristirahat sejenak. Melepaskan semua beban difikirannya. Hari ini dia
sudah agak tenang, Maureen istri tercintanya sudah ada di Jakarta. Bahkan kata
staf perusahaan tadi, Maureen sudah sempat mengontrol Putra Company.
Rayen merebahkan tubuh kekarnya di peraduan. Sejenak ia
ingin tidur, dan tidur. Mungkin 2 – 3 jam sebelum bertolak ke Jakarta, dia bisa
mengistirahatkan badannya……
.
.
.
Kita menuju rumah sakit, tempat dimana Tuan Tito Kusuma
dirawat. Nampak Maureen masih disana, dia sengaja menyempatkan diri untuk
menemani ayahnya yang sedang sakit. Banyak hal yang dibicarakan oleh ayah dan
anak ini. Mulai dari pekerjaan, sampai kehidupan sehari hari. Rupanya Pak Tito
__ADS_1
ingin memastikan bahwa putrid semata wayangnya dalam keadaan baik baik saja dan
langkah yang diambil sudah tepat untuk kebahagiaannya dan kemajuan KSM Group.
Saat asyik asyiknya ngobrol, Nampak ponsel canggih keluaran
terbaru milik Maureen berdering.
“Siapa Maureen, Rayen kah itu?” Tanya Pak Tito.
“Zhang, Ayah. Sekretaris Maureen di kantor. Sebentar ya
Ayah, mungkin ada berita penting yang ingin disampaikan oleh sekretris Zhang”,
kata Maureen, seraya menggeser tempat duduknya untuk menerima telepon agar
tidak menggangu istirahat ayahnya.
“Iya Zhang, ada perkembangan apa?”
“Maaf Ibu, baru saja ada kabar dari Pak Yurhiko assisten
manager STAR KSM New York bahwa Pak Rayen sudah tiba disana. Dan rencananya
nanti akan bertolak ke Jakarta”
“O, bagitu. Apakah kamu sudah mengatakan perihal kondisi
ayah saat ini pada Pak Rayen?”
“Belum Bu”.
“Baiklah, jangan dulu. Biar nanti saya sendiri yang akan
menjelaskan setelah sampai di Jakarta”
“Baik Bu.”
Maureen kemudian kembali duduk di sebelah ayahnya.
“ada kabar apa Maureen?”
“Rayen sudah tiba di New York, ayah. Dan nanti akan bertolak
ke Jakarta”
“O, syukurlah jika begitu, pesan ayah, hadapi semua
persoalan dengan kepala dingin. Jangan pernah berbuat sembrono. Ingat, salah
langkah hanya akan membuat penyesalan berkepanjangan”
“Baik ayah. Ayah silahkan istirahat. Maureen akan tidur dulu
sebentar.”
“Iya anakku sayang”.
Maureen kemudian beranjak menuju kamar penunggu pasien yang
ada di ruangan itu. Ia sengaja ingin istirahat di rumah sakit saja, agar bisa
menemani ayahnya saat ini.
Tubuh indah Maureen dihempaskan di kasur rumah sakit. Ah,
beberapa hari ini tubuh ini tidak pernah bisa beristirahat. Masalah demi
masalah silih berganti.
Baru saja Maureen akan memejamkan mata, tiba tiba dia
kembali merasakan mual mual. Ah, mual lagi…..
Mudah mudahan harapan Maureen menjadi kenyataan.
.
.
.
__ADS_1