Dari Cupu Jadi Ratu

Dari Cupu Jadi Ratu
Musim Ke Dua Bag 12


__ADS_3

 


 


Sore itu, sejak rencana kedatangan Maureen untuk mengecek


Neraca Perusahaan Rayen gagal, Rayen makin kepikiran. Tidak biasanya Maureen


menunda pekerjaan kantor, apapun alasannya. Tapi ini, Rayen dan seluruh staf


perusahaan sudah menunggu dari siang sampai dengan sore hari, Maureen belum


juga muncul.


Di raihnya ponsel yang ada disampingnya. Dicari nama Maureen


disana……


“Nomer yang anda tuju, sedang tidak aktif atau diluar


jangkauan. Cobalah beberapa saat lagi…….”


Dicoba berkali kali telepon, jawabannya masih sama.


Sementara hari sudah sore, Rayen memutuskan untuk pulang.


Sementara di kantor, staf dan karyawan saling bisik, entah apa yang


dibicarakan. Yang jelas, Nampak wajah wajah mereka menyiratkan sesuatu yang


lain dari biasanya. Vivi yang diberi tugas untuk mengontrol staf dan karyawan


lain, dibantu Silvi kemudian memerintahkan mereka untuk berkemas. Hari sudah


sore, jam kantor sudah habis. Semua karyawan diperbolehkan untuk meninggalkan


kantor, kecuali yang shift malam, bertugas seperti biasa.


.


.


Vivi merebahkan tubuhnya diatas kasur di rumahnya. Dia masih


memikirkan soal batalnya kunjungan Ibu Presdir ke Putra Company tadi siang. Ada


apa gerangan? Tidak biasanya Maureen membatalkan kunjungan sepihak, tanpa pemberitahuan


seperti ini. Ia juga ingat, hari ini adalah ulang tahun Maureen yang ke 24. Menurut


keterangan Rayen, hari ini Rayen berniat membelikan hadiah special untuk


istrinya itu. Yang jelas bukan tas seperti rencana kemarin. Ya, gara gara rencana


ngasih kejutan untuk Maureen inilah awal mula kesalah fahaman antara mereka


bertiga, sampai akhirnya Putra Company juga harus menanggung akibat, sahamnya


harus anjlok dalam beberapa hari terakhir.


Vivi masih disibukkan oleh pikirannya sendiri.


Lucu ya? Kok bisa aku digosipkan dan disangka menjalin


hubungan dengan Pak Rayen? Bukankah Pak Rayen sudah punya Ibu Maureen. Kurang


apa coba istrinya itu. Sudah baik, kaya, cantik, sabar pula. Mungkin Ibu


Maureen adalah impian hampir semua laki laki yang ada di muka bumi ini.


Sedangkan aku, hanya seorang perempuan yang sederhana, yang


kebetulan bernasib baik diterima sebagai sekretaris oleh Ibu Maureen dan diberi


tugas membantu Pak Rayen untuk mengurusi Putra Company yang saat itu diambang


kebangkrutan.


Sungguh cerita kehidupan yang aneh.


Tapi kalo betul Pak Rayen suka sama Vivi, mungkin akan


senang ya? Pak Rayen Presdir Putra Company, hari ini semua sudah dimiliki. Bahkan

__ADS_1


Putra Company sudah mulai menunjukkan perkembangan yang cukup pesat. Hampir


tidak bergantung pada perusahaan induk KSM Group.


Ah, pikiran Vivi jadi ngelantur. Tidak terasa dia sudah


terlelap dalam tidurnya………..


.


.


Sementara itu Rayen yang sudah berada di rumah, pikirannya


makin bertambah kacau. Maureen belum dapat dihubungi. Jika sabtu pagi dia


bertolak dari bandara John F Kennedy Intl., harusnya minggu sore sudah sampai


di Jakarta. Penerbangan Jakarta – New York ataupun sebaliknya, biasanya memakan


waktu sekitar 25-26 jam.


Apakah ada kendala di perjalanan? Kenapa ponselnya, juga


ponsel milik sekretarisnya juga tidak bisa dihubungi.


Pikiran kalut, membuat Rayen tidak bisa berfikir jernih. Dicoba


merebahkan tubuhnya di kasur, dia ingin sejenak melupakan apa yang terjadi. Berharap


semua ini hanya mimpi, yanga akan berakhir saat dia bangun nanti.


Sayang, sudah mendekati pukul 22.00, tapi mata Rayen belum


juga terpejam. Entah sudah berapa ribu kali ponselnya memanggil nama Maureen,


dan jawabannya selalu sama.


Apa yang terjadi pada Maureen? Apakah Maureen masih ingin


menuji kesetiaannya lagi, dengan membuat rencana yang aneh, sehingga dia yakin


Rayen masih tetap Rayen yang dulu, yang mencintai dan dicintainya? Ah, rasanya


akan bercanda sampai sekonyol ini.


Rayen berfikir keras untuk menyibak misteri ini. Dia masih


berharap ini semua hanya mimpi, ya hanya mimpi yang akan berakhir tatkala dia


terbangun.


Dia ingat perjuangaannya dulu mendapatkan Maureen. Dari awal


yang dulu Maureen dipandang sebelah mata oleh teman teman kuliahnya, karena


terlalu lugu. Dibilang cupu lah, dibilang kuper lah. Dan ternya itu terjadi


karena dia sangat sibuk belajar untuk menjadi seorang pemimpin yang dapat


diandalkan. Dan terbukti, saat ini mengalami kemajuan yang luar biasa, belum


lagi perusahaan di yang ada di New York, yang juga tumbuh pesat.


Disamping peminpin perusahaan yang handal, Maureen juga


seorang istri yang sangat perhatian pada suami. Rayen tau, betapa capeknya


Maureen saat pulang kantor, tapi disaat Rayen pulang, Maureen selalu


menyempatkan diri untuk member secangkir kopi. Dan itulah kopi ternikmat bagi


Rayen. Ya ternikmat karena dihidangkan oleh istri tercantik yang seorang


Presdir KSM Group yang super sibuk.


.


.


Kita tinggalkan sejenak Vivi dan Rayen yang masih kebingungan


mencari keberadaan Maureen. Kita kembali ke Minggu pagi. Perjalanan Maureen dan

__ADS_1


sekretaris Zhang. Ada yang aneh dalam perjalanan kali ini. Pesawat pribadi


milik Maureen berjalan serasa di jalan berbatu. Ada apa sebenarnya, apa yang


terjadi pada pesawat Maureen.


Nampak di ruang kokpit pilot dan copilot sedang mendapatkan


pesan radio dari bandara terdekat. Ah sampai dimana ini, pikir Maureen. Sudah lebih


dari separo perjalanan kali ini.


Dari perbincangan pilot dengan bandara terdekat lewat radio


tadi didapatkan informasi bahwa badai yang sedang melanda wilayah perairan


Jepang dan Korea. Dihimbau untuk semua penerbangan untuk menghindari area


tersebut atau membatalkan perjalananya terlebih dahulu.


Maureen memanggil sekretaris Zhang, untuk menghubungi staf


perusahaan. Namun ternyata tidak ada signal sama sekali. Semua ponsel diluar


jangkauan. Pilot dan copilot berusaha menghubungi bandara terdekat, namun lagi


lagi gagal, mungkin badai yang ada dibawah pesawat yang mengacaukan signal. Dan


yang lebih fatal lagi, pesawat kali ini tidak melalui rute yang biasa dilewati


seperti biasa,


Pilot dan co pilot hanya mengandalkan kompas, sambil


menunggu gps, radio dan alat komunikasi lain bisa stabil. Tujuan utamanya kali


adalah menghindari badai terlebih dahulu. Karena jika sampai kena badai atau


terjadi turbulensi pada pesawat akibatnya akan sangat fatal.


Pilot dan copilot sibuk mengontrol navigasi pesawat, menjaga


keseimbangan jangan sampai masuk dalam pusaran badai yang kelihatannya memang


sangat kuat kali ini.


Maureen dan sekretaris Zhang masih berusaha menghubungi


perusahaan. Namun semua belum menampakkan hasil. Sementara copilot memeriksa Arthur/bahan


bakar pesawat. Untuk penerbangan 15 jam masih aman. Artinya, jika tidak


mendapatkan bandara terdekat, jalan satu satunya adalah mencari pendaratan


darurat. Untung pesawat Maureen sudah dilengkapi dengan fasilitas pendaratan


darurat. Akhirnya pilot mengambil inisiatif untuk menghindari badai dulu dan


mencari pendaratan darurat, sambil menanti kontrol navigasi komunikasi kembali


lancar.


Permasalahannya adalah, untuk mencari tempat pendaratan


darurat, harus maksimal ketinggian 2000 m, sedang saat ini ketinggian aman dari


badai adalah 3000 m. Pilot tidak mau mengambil resiko besar, pesawat berjalan


menjauh untuk menghindari badai.


Semua berharap harap cemas, sementara badai belum juga


menunjukkan tanda tanda akan berhenti.


.


.


Yuk sahabat, bantu Maureen lepas dari badai.


Semoga masalah cepat teratasi dan Maureen kembali berkumpul


dengan Rayen.

__ADS_1


__ADS_2