
Sore itu, sejak rencana kedatangan Maureen untuk mengecek
Neraca Perusahaan Rayen gagal, Rayen makin kepikiran. Tidak biasanya Maureen
menunda pekerjaan kantor, apapun alasannya. Tapi ini, Rayen dan seluruh staf
perusahaan sudah menunggu dari siang sampai dengan sore hari, Maureen belum
juga muncul.
Di raihnya ponsel yang ada disampingnya. Dicari nama Maureen
disana……
“Nomer yang anda tuju, sedang tidak aktif atau diluar
jangkauan. Cobalah beberapa saat lagi…….”
Dicoba berkali kali telepon, jawabannya masih sama.
Sementara hari sudah sore, Rayen memutuskan untuk pulang.
Sementara di kantor, staf dan karyawan saling bisik, entah apa yang
dibicarakan. Yang jelas, Nampak wajah wajah mereka menyiratkan sesuatu yang
lain dari biasanya. Vivi yang diberi tugas untuk mengontrol staf dan karyawan
lain, dibantu Silvi kemudian memerintahkan mereka untuk berkemas. Hari sudah
sore, jam kantor sudah habis. Semua karyawan diperbolehkan untuk meninggalkan
kantor, kecuali yang shift malam, bertugas seperti biasa.
.
.
Vivi merebahkan tubuhnya diatas kasur di rumahnya. Dia masih
memikirkan soal batalnya kunjungan Ibu Presdir ke Putra Company tadi siang. Ada
apa gerangan? Tidak biasanya Maureen membatalkan kunjungan sepihak, tanpa pemberitahuan
seperti ini. Ia juga ingat, hari ini adalah ulang tahun Maureen yang ke 24. Menurut
keterangan Rayen, hari ini Rayen berniat membelikan hadiah special untuk
istrinya itu. Yang jelas bukan tas seperti rencana kemarin. Ya, gara gara rencana
ngasih kejutan untuk Maureen inilah awal mula kesalah fahaman antara mereka
bertiga, sampai akhirnya Putra Company juga harus menanggung akibat, sahamnya
harus anjlok dalam beberapa hari terakhir.
Vivi masih disibukkan oleh pikirannya sendiri.
Lucu ya? Kok bisa aku digosipkan dan disangka menjalin
hubungan dengan Pak Rayen? Bukankah Pak Rayen sudah punya Ibu Maureen. Kurang
apa coba istrinya itu. Sudah baik, kaya, cantik, sabar pula. Mungkin Ibu
Maureen adalah impian hampir semua laki laki yang ada di muka bumi ini.
Sedangkan aku, hanya seorang perempuan yang sederhana, yang
kebetulan bernasib baik diterima sebagai sekretaris oleh Ibu Maureen dan diberi
tugas membantu Pak Rayen untuk mengurusi Putra Company yang saat itu diambang
kebangkrutan.
Sungguh cerita kehidupan yang aneh.
Tapi kalo betul Pak Rayen suka sama Vivi, mungkin akan
senang ya? Pak Rayen Presdir Putra Company, hari ini semua sudah dimiliki. Bahkan
__ADS_1
Putra Company sudah mulai menunjukkan perkembangan yang cukup pesat. Hampir
tidak bergantung pada perusahaan induk KSM Group.
Ah, pikiran Vivi jadi ngelantur. Tidak terasa dia sudah
terlelap dalam tidurnya………..
.
.
Sementara itu Rayen yang sudah berada di rumah, pikirannya
makin bertambah kacau. Maureen belum dapat dihubungi. Jika sabtu pagi dia
bertolak dari bandara John F Kennedy Intl., harusnya minggu sore sudah sampai
di Jakarta. Penerbangan Jakarta – New York ataupun sebaliknya, biasanya memakan
waktu sekitar 25-26 jam.
Apakah ada kendala di perjalanan? Kenapa ponselnya, juga
ponsel milik sekretarisnya juga tidak bisa dihubungi.
Pikiran kalut, membuat Rayen tidak bisa berfikir jernih. Dicoba
merebahkan tubuhnya di kasur, dia ingin sejenak melupakan apa yang terjadi. Berharap
semua ini hanya mimpi, yanga akan berakhir saat dia bangun nanti.
Sayang, sudah mendekati pukul 22.00, tapi mata Rayen belum
juga terpejam. Entah sudah berapa ribu kali ponselnya memanggil nama Maureen,
dan jawabannya selalu sama.
Apa yang terjadi pada Maureen? Apakah Maureen masih ingin
menuji kesetiaannya lagi, dengan membuat rencana yang aneh, sehingga dia yakin
Rayen masih tetap Rayen yang dulu, yang mencintai dan dicintainya? Ah, rasanya
akan bercanda sampai sekonyol ini.
Rayen berfikir keras untuk menyibak misteri ini. Dia masih
berharap ini semua hanya mimpi, ya hanya mimpi yang akan berakhir tatkala dia
terbangun.
Dia ingat perjuangaannya dulu mendapatkan Maureen. Dari awal
yang dulu Maureen dipandang sebelah mata oleh teman teman kuliahnya, karena
terlalu lugu. Dibilang cupu lah, dibilang kuper lah. Dan ternya itu terjadi
karena dia sangat sibuk belajar untuk menjadi seorang pemimpin yang dapat
diandalkan. Dan terbukti, saat ini mengalami kemajuan yang luar biasa, belum
lagi perusahaan di yang ada di New York, yang juga tumbuh pesat.
Disamping peminpin perusahaan yang handal, Maureen juga
seorang istri yang sangat perhatian pada suami. Rayen tau, betapa capeknya
Maureen saat pulang kantor, tapi disaat Rayen pulang, Maureen selalu
menyempatkan diri untuk member secangkir kopi. Dan itulah kopi ternikmat bagi
Rayen. Ya ternikmat karena dihidangkan oleh istri tercantik yang seorang
Presdir KSM Group yang super sibuk.
.
.
Kita tinggalkan sejenak Vivi dan Rayen yang masih kebingungan
mencari keberadaan Maureen. Kita kembali ke Minggu pagi. Perjalanan Maureen dan
__ADS_1
sekretaris Zhang. Ada yang aneh dalam perjalanan kali ini. Pesawat pribadi
milik Maureen berjalan serasa di jalan berbatu. Ada apa sebenarnya, apa yang
terjadi pada pesawat Maureen.
Nampak di ruang kokpit pilot dan copilot sedang mendapatkan
pesan radio dari bandara terdekat. Ah sampai dimana ini, pikir Maureen. Sudah lebih
dari separo perjalanan kali ini.
Dari perbincangan pilot dengan bandara terdekat lewat radio
tadi didapatkan informasi bahwa badai yang sedang melanda wilayah perairan
Jepang dan Korea. Dihimbau untuk semua penerbangan untuk menghindari area
tersebut atau membatalkan perjalananya terlebih dahulu.
Maureen memanggil sekretaris Zhang, untuk menghubungi staf
perusahaan. Namun ternyata tidak ada signal sama sekali. Semua ponsel diluar
jangkauan. Pilot dan copilot berusaha menghubungi bandara terdekat, namun lagi
lagi gagal, mungkin badai yang ada dibawah pesawat yang mengacaukan signal. Dan
yang lebih fatal lagi, pesawat kali ini tidak melalui rute yang biasa dilewati
seperti biasa,
Pilot dan co pilot hanya mengandalkan kompas, sambil
menunggu gps, radio dan alat komunikasi lain bisa stabil. Tujuan utamanya kali
adalah menghindari badai terlebih dahulu. Karena jika sampai kena badai atau
terjadi turbulensi pada pesawat akibatnya akan sangat fatal.
Pilot dan copilot sibuk mengontrol navigasi pesawat, menjaga
keseimbangan jangan sampai masuk dalam pusaran badai yang kelihatannya memang
sangat kuat kali ini.
Maureen dan sekretaris Zhang masih berusaha menghubungi
perusahaan. Namun semua belum menampakkan hasil. Sementara copilot memeriksa Arthur/bahan
bakar pesawat. Untuk penerbangan 15 jam masih aman. Artinya, jika tidak
mendapatkan bandara terdekat, jalan satu satunya adalah mencari pendaratan
darurat. Untung pesawat Maureen sudah dilengkapi dengan fasilitas pendaratan
darurat. Akhirnya pilot mengambil inisiatif untuk menghindari badai dulu dan
mencari pendaratan darurat, sambil menanti kontrol navigasi komunikasi kembali
lancar.
Permasalahannya adalah, untuk mencari tempat pendaratan
darurat, harus maksimal ketinggian 2000 m, sedang saat ini ketinggian aman dari
badai adalah 3000 m. Pilot tidak mau mengambil resiko besar, pesawat berjalan
menjauh untuk menghindari badai.
Semua berharap harap cemas, sementara badai belum juga
menunjukkan tanda tanda akan berhenti.
.
.
Yuk sahabat, bantu Maureen lepas dari badai.
Semoga masalah cepat teratasi dan Maureen kembali berkumpul
dengan Rayen.
__ADS_1