
Maureen menghentikan mobilnya dirumah yang cukup mewah, rumah yang sudah setahun dia tempati bersama Rayen suaminya, dia mengetuk pintu dan tak lama kemudian seorang pembantu membukakan pintu.
" Bi, apakah tuan sudah pulang?" tanya Maureen kepada pembantunya itu.
" Tuan sudah pulang dari tadi nyonya, cuma masih didalam kamar tidak mau keluar walau sudah kuketuk beberapa kali untuk makan!" jawab Bi Minah, Pembantu Maureen.
" Kata lain, tuan belum makan bi!" jawab Maureen.
" I-ya Nyonya!" jawab Bi Minah.
" Panaskan masakannya bi, aku akan keatas dan mengajaknya makan setelah mandi!" ucap Maureen sambil berlalu pergi menaiki tangga.
Maureen menghela nafas ketika sudah berada didepan pintu kamarnya dia memberanikan diri untuk mengetuk pintu itu.
Tok, , Tok, , Tok, ,
" Mas buka pintu!" ucap Maureen dari balik pintu, samar-samar dia mendengar Rayen sedang menelfon seorang wanita.
deg, , deg, , deg, ,
Sudah setengah jam Maureen berada didepan pintu dan beberapa kali memanggil Rayen tetapi Rayen sama sekali tidak mengidahkan panggilannya, dia justru asik berbicara ditelfon entah dengan siapa itu
Karena lelah Maureen menelfon Pak Adi yang merupakan penjaga rumah Maureen dan Rayen. Dia berinisiatif meminta kunci cadangan kamarnya,
Setelah mendapatkan kunci kamarnya, Maureen membuka pintu dengan perlahan kemudian dia masuk kedalam kamaer, Rayen tidak menyadari kedatangan istrinya dia asik-asik menelfon seorang wanita dibalkon,
Maureen geram dia melemparkan tasnya kearah ranjang dan menghampiri Rayen, dengan cepat Maureen merebut ponsel Rayen, dan mendengarkan apa yang diucapkan oleh wanita tadi.
__ADS_1
' Ray ada barang baru, besok belikan aku ya!" ucap wanita dalam telefon.
" Makan barang baru" hanya itu yang diucapkan Maureen, didepan Rayen, Maureen menjatuhkan benda persegi kemudian dia menginjak ponsel Rayen dengan ujung Hellsnya.
Krak, , Ponsel itu menancap diujung Hells Maureen.
" Apa yang kamu lakukan dengan poselku?" ucap Rayen dengan begitu geram,
" Lalu apa yang kau lakukan dengan perasaanku, ingat Rayen Brilliyan Putra aku tidak sudi berbagi suami dengan wanita lain!" Jawab Maureen sambil terus menggilas ponsel Rayen hingga hancur.
Rayen melotot dengan penuh emosi tetapi dia tidak pernah main tangan dengan wanita, dia hanya mengepal kesal. Kemudian berlalu pergi meninggalkan Maureen dibalkon, Maureen menangis terisak dia pikir apa yang dia lakukan benar wajar jika seorang istri cemburu suaminya telefonan dengan wanita begitu mesra.
Maureen meyandarkan tubuhnya didinding, dia menerawang jauh kedepan melihat cahaya bintang yang mulai redup tersapu kabut hitam.
Setelah itu Maureen kembali kekamar dia melihat Rayen sedang menonton tv, tanpa menyapa dia berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Dia keluar kamar mandi dengan pakaian tidurnya seperti biasa cukup sexy,
dia tidak melihat Rayen dikamar jadi dia memutuskan menunggu Rayen kembali.
Pukul 01.30 Rayen sama sekali belum menampakkan batang hidungnya dikamar, Maureen bermaksud keluar untuk mengambil beberapa botol anggur, Saat dia keluar kamar Maureen melihat Rayen fokus dengan komputernya, dia sama sekali tidak menghiraukan Maureen yang melwatinya.
Maureen kesal dia terus saja berjalan menuju tempat Bi Minah menyimpan anggur merah.
Dia membawa sebotol anggur dan sebotol wine dan gelas kedalam kamar, kemudian dia duduk lesehan di balkon.
Lupakan yang tejadi hari ini dan fokus untuk hari esok, itu yang diucapkan Maureen sambil menyesap wine nya.
__ADS_1
Setelah matanya cukup berat dia menutup mata melupakan sejenak masalahnya, tetapi dia justru tertidur di balkon, angin berhembus menerpa tubuh Maureen, tapi sayangnya tubuh sempurna itu tidak merasakan kedinginan, sehingga dia tidur dengan nyenyaknya.
Pukul 03.00 Rayen masuk kedalam kamar dia tidak mendapati Maureen diatas Ranjang, dia mencari Maureen dan menemukan tubuh Maureen tergeletak di balkon,
" Dia tidak pernah mabuk sebelumnya,apakah beban hidupnya cukup berat!" hanya itu yang dipikirkan Rayen.
Rayen mengangkat tubuh istrinya itu dan membaringkannya diatas ranjang mereka, dia menyibak Rambut Maureen yang menutupi Wajah Maureen, dan mengecup pelan keningnya.
Saat Rayen hendak membaringkan diri Maureen mengigau,
' Seandainya aku punya adik ataupun kakak, aku akan menyerahkan jabatan presdirku kepada mereka, Begitu beratnya menyadi Presdir harus mengurus dan menjalankan perusahaan besar dengan peluh dan otak, Jika aku dapat memilih aku tentu memilih menjadi seperti wanita lainnya yang hidup mengandalkan gaji suaminya, yang tidak perlu bertengkar setiap hari dengan suaminya, tidak perlu berselisih paham, aku lelah dengan semua ini, Bunda jemput aku bersamamu!"
itu kata-kata yang keluar dari mulut Maureen, Rayen membulatkan mata ketika Maureen mengucapkan itu dalam tidurnya, apalagi kata-kata terakhir dalam kalimatnya 'Bunda jemput aku bersamamu!" membuat hati Rayen begitu nyeri mendengarnya, Dia tidak mengira jika beban yang ditanggung istrinya begitu berat bahkan lebih berat dari bebannya.
Pada akhirnya Rayen tertidur memeluk Maureen.
.
.
.
.
.
Mau dilanjut ga, Jika mau berikan Like dan Vote sebanyak banyaknya.
__ADS_1