
Malam itu terasa sangat lamban bagi Maureen dan Rayen. Mereka
ingin segera menjemput pagi. Mereka ingin segera meninggalkan rumah sakit,
kembali kerumah mereka. Dan tentunya kembali menjalankan rutinitas serta menata
keluarga mereka.
Maureen berkomitmen untuk lebih memberikan waktu untuk
keluarga. Demikian juga Rayen, ia juga ingin lebih mengutamakan keluarga. Mereka
sepakat memanggil dengan kata sayang, dan panggilan mesra mereka Ray dan Reen. Sungguh
indah apa yang mereka rencanakan. Mereka akan merubah panggilan itu ketika
telah lahir buah hatinya. Ya, buah kasih sayang diantara mereka.
Maureen hari ini sungguh bahagia. Karena bukan hanya Rayen
yang sudah boleh pulang, bahkan Pak Tito, yang biasa disapa akrab Tuan Besar
Tito, pagi ini juga diperbolehkan pulang, sambil menunggu hasil lab secara
lengkap yang dilakukan oleh dokter spesialis yang masih dikerjakan, mungkin
butuh waktu sekitar 3 – 4 hari.
Itulah sebabnya Maureen ingin pagi segera datang. Maureen ingin
semuanya kembali normal. Bisa bercanda dengan Rayen. Dan bisa bermanja dengan
ayahnya, Tuan Besar Tito Tirta Kusuma.
Maureen ingin mengajak Pak Tito untuk sementara waktu
tinggal di rumah Maureen sambil menunggu keputusan dokter.
Sungguh rencana yang indah. Tapi apakah nantinya Pak Tito
akan bersedia? Maureen belum yakin. Ayahnya adalah seorang pekerja keras. Maureen
pasti akan sangat bersusah payah membujuk Pak Tito untuk bisa tinggal di
rumahnya.
.
.
.
Pagi ini udara cukup cerah, suasana rumah sakit yang cukup
megah itu sedikit agak riuh. Ya, banyak pasien yang hari ini diperbolehkan
__ADS_1
pulang. Tapi tidak di ruang pavilion vvip tempat Tuan Besar Tito dan Rayen di
rawat. Disana tetap tenang, suasananya benar benar nyaman.
Maureen sengaja menemani Rayen bermalam di rumah sakit. Bahkan
Maureen rela tidur di kursi disamping tempat tidur Rayen.
Pukul 06.00, Nampak dokter keluarga yang diketuai Dr. Albert
sudah berkumpul. Mereka ingin memastikan kesehatan Rayen dan Pak Tito benar
benar aman untuk pulang. Mereka bekerja sangat cekatan. Mereka tahu dengan
siapa mereka berhadapan. Itulah kenapa mereka tidak ingin gegabah dalam
bertindak.
Selang sekitar setengah jam, pemeriksaan Rayen sudah
selesai. Dengan cekatan perawat segera mencopot selang infuse yang ada di
tangan Rayen.
Maureen dan Rayen ingin segera pulang, dan istirahat di
rumah. Sementara pengacara keluarga mereka juga sudah siap disana, Pak Tito
akan pulang bersama pengacaranya. Pak Tito berencana untuk ke rumah Maureen terlebih
dahulu. Itulah sebabnya Maureen dan Rayen diminta langsung pulang saja, tanpa
akan disampaikan oleh Pak Tito untuk mereka berdua.
Selain itu, Maureen dan Rayen juga punya tanggung jawab
untuk ke rumah Pak Roy, seorang karyawan yang telah mengorbankan jiwanya demi
menyelamatkan Rayen.
Maureen dan Rayen sudah merencanakan sesuatu yang walaupun
tidak bisa menebus nyawa Pak Roy, namun mereka berharap akan bisa meringankan beban
istri dan dua orang anaknya yang masih bersekolah.
Pagi itu seorang staf perusahaan mengantarkan mobil Maureen ke
rumah sakit. Pagi ini Maureen sengaja ingin menyetir sendiri. Maureen ingin
hanya berdua saja di mobil saat pulang dari rumah sakit.
Setelah semuanya selesai, Maureen memapah Rayen turun dari
tempat tidur. Nampak seorang perawat datang sambil membawa kursi roda. Namun dengan
halus Rayen menolak. Rayen merasa sudah pulih dan dapat berjalan sendiri.
Akhirnya mereka sampai di mobil. Sementara sekretaris Zhang
__ADS_1
yang sedari tadi sudah ada di rumah sakit, segera menemui bagian pelayanan
untuk menyelesaikan semua terkait perawatan dari Rayen dan Pak Tito.
Mobil Maureen pelan pelan melaju meninggalkan area parker vvip
pavilion rumah sakit terbesar di Jakarta ini. Maureen sengaja tidak terlalu
cepat mengemudikan kendaraannya. Maureen masih takut jika terjadi apa apa pada
kondisi Rayen, walaupun Rayen sudah memastikan bahwa dirinya baik baik saja.
Mobil Maureen terus meluncur melewati tol, kecepatan standar
60-70 km/jam, sangat jauh dari biasanya. Sehingga jika biasanya Cuma memerlukan
waktu setengah jam untuk sampai dirumah, hari ini hamper satu jam Maureen dan
Rayen berada di dalam mobil.
Jelang jam 10.00, mereka sudah tiba di rumah Maureen. Ah,
bukan rumah Maureen lah, rumah mereka berdua. Upz, bukan mereka berdua, tapi
bertiga dengan buah hatinya yang sekarang tengah meringkuk di perut cantiknya Maureen.
Begitu mobil Maureen Nampak memasuki halaman yang cukup luas
rumh mereka, Nampak satpam pribadi dan seorang karyawan mendekat. Mereka sudah
faham tugas mereka. Maureen dan Rayen segera turun dari mobil, sementara
seorang karyawan segera masuk mobil dam memarkir kendaraan sport limited edition
yang harganya bisa dibuat untuk membeli tanah seluas satu kampong itu ke tempat
biasanya.
Maureen dan Rayen kemudian melangkah menuju ke rumah. Di depan
pintu Nampak bebrapa pembantu diantaranya adalah Bi Minah yang merupakan orang
kepercayaan Maureen yang menyambut mereka. Samapi di ruang tengah mata Rayen
tertuju pada atas meja kerja. Nampaknya ada sesuatu yang dicari. Ah, aku tidak
lupa, tapi kok tidak ada? Pikir Rayen sambil terus melangkah. Rayen tidak
berani menduga duga. Perjalanan panjangnya seminggu terakhir ini menyita
pikirannya ditambah dengan kecelakaan yang dialaminya, mungkin membuat Rayen
lupa menaruhnya……
Ya, mungkin Rayen lupa menaruhnya.
.
.
__ADS_1
.