Dari Cupu Jadi Ratu

Dari Cupu Jadi Ratu
Musim Ke Dua Bag 24


__ADS_3

 


 


Malam itu terasa sangat lamban bagi Maureen dan Rayen. Mereka


ingin segera menjemput pagi. Mereka ingin segera meninggalkan rumah sakit,


kembali kerumah mereka. Dan tentunya kembali menjalankan rutinitas serta menata


keluarga mereka.


Maureen berkomitmen untuk lebih memberikan waktu untuk


keluarga. Demikian juga Rayen, ia juga ingin lebih mengutamakan keluarga. Mereka


sepakat memanggil dengan kata sayang, dan panggilan mesra mereka Ray dan Reen. Sungguh


indah apa yang mereka rencanakan. Mereka akan merubah panggilan itu ketika


telah lahir buah hatinya. Ya, buah kasih sayang diantara mereka.


Maureen hari ini sungguh bahagia. Karena bukan hanya Rayen


yang sudah boleh pulang, bahkan Pak Tito, yang biasa disapa akrab Tuan Besar


Tito, pagi ini juga diperbolehkan pulang, sambil menunggu hasil lab secara


lengkap yang dilakukan oleh dokter spesialis yang masih dikerjakan, mungkin


butuh waktu sekitar 3 – 4 hari.


Itulah sebabnya Maureen ingin pagi segera datang. Maureen ingin


semuanya kembali normal. Bisa bercanda dengan Rayen. Dan bisa bermanja dengan


ayahnya, Tuan Besar Tito Tirta Kusuma.


Maureen ingin mengajak Pak Tito untuk sementara waktu


tinggal di rumah Maureen sambil menunggu keputusan dokter.


Sungguh rencana yang indah. Tapi apakah nantinya Pak Tito


akan bersedia? Maureen belum yakin. Ayahnya adalah seorang pekerja keras. Maureen


pasti akan sangat bersusah payah membujuk Pak Tito untuk bisa tinggal di


rumahnya.


.


.


.


Pagi ini udara cukup cerah, suasana rumah sakit yang cukup


megah itu sedikit agak riuh. Ya, banyak pasien yang hari ini diperbolehkan

__ADS_1


pulang. Tapi tidak di ruang pavilion vvip tempat Tuan Besar Tito dan Rayen di


rawat. Disana tetap tenang, suasananya benar benar nyaman.


Maureen sengaja menemani Rayen bermalam di rumah sakit. Bahkan


Maureen rela tidur di kursi disamping tempat tidur Rayen.


Pukul 06.00, Nampak dokter keluarga yang diketuai Dr. Albert


sudah berkumpul. Mereka ingin memastikan kesehatan Rayen dan Pak Tito benar


benar aman untuk pulang. Mereka bekerja sangat cekatan. Mereka tahu dengan


siapa mereka berhadapan. Itulah kenapa mereka tidak ingin gegabah dalam


bertindak.


Selang sekitar setengah jam, pemeriksaan Rayen sudah


selesai. Dengan cekatan perawat segera mencopot selang infuse yang ada di


tangan Rayen.


Maureen dan Rayen ingin segera pulang, dan istirahat di


rumah. Sementara pengacara keluarga mereka juga sudah siap disana, Pak Tito


akan pulang bersama pengacaranya. Pak Tito berencana untuk ke rumah Maureen terlebih


dahulu. Itulah sebabnya Maureen dan Rayen diminta langsung pulang saja, tanpa


akan disampaikan oleh Pak Tito untuk mereka berdua.


Selain itu, Maureen dan Rayen juga punya tanggung jawab


untuk ke rumah Pak Roy, seorang karyawan yang telah mengorbankan jiwanya demi


menyelamatkan Rayen.


Maureen dan Rayen sudah merencanakan sesuatu yang walaupun


tidak bisa menebus nyawa Pak Roy, namun mereka berharap akan bisa meringankan beban


istri dan dua orang anaknya yang masih bersekolah.


Pagi itu seorang staf perusahaan mengantarkan mobil Maureen ke


rumah sakit. Pagi ini Maureen sengaja ingin menyetir sendiri. Maureen ingin


hanya berdua saja di mobil saat pulang dari rumah sakit.


Setelah semuanya selesai, Maureen memapah Rayen turun dari


tempat tidur. Nampak seorang perawat datang sambil membawa kursi roda. Namun dengan


halus Rayen menolak. Rayen merasa sudah pulih dan dapat berjalan sendiri.


Akhirnya mereka sampai di mobil. Sementara sekretaris Zhang

__ADS_1


yang sedari tadi sudah ada di rumah sakit, segera menemui bagian pelayanan


untuk menyelesaikan semua terkait perawatan dari Rayen dan Pak Tito.


Mobil Maureen pelan pelan melaju meninggalkan area parker vvip


pavilion rumah sakit terbesar di Jakarta ini. Maureen sengaja tidak terlalu


cepat mengemudikan kendaraannya. Maureen masih takut jika terjadi apa apa pada


kondisi Rayen, walaupun Rayen sudah memastikan bahwa dirinya baik baik saja.


Mobil Maureen terus meluncur melewati tol, kecepatan standar


60-70 km/jam, sangat jauh dari biasanya. Sehingga jika biasanya Cuma memerlukan


waktu setengah jam untuk sampai dirumah, hari ini hamper satu jam Maureen dan


Rayen berada di dalam mobil.


Jelang jam 10.00, mereka sudah tiba di rumah Maureen. Ah,


bukan rumah Maureen lah, rumah mereka berdua. Upz, bukan mereka berdua, tapi


bertiga dengan buah hatinya yang sekarang tengah meringkuk di perut cantiknya Maureen.


Begitu mobil Maureen Nampak memasuki halaman yang cukup luas


rumh mereka, Nampak satpam pribadi dan seorang karyawan mendekat. Mereka sudah


faham tugas mereka. Maureen dan Rayen segera turun dari mobil, sementara


seorang karyawan segera masuk mobil dam memarkir kendaraan sport limited edition


yang harganya bisa dibuat untuk membeli tanah seluas satu kampong itu ke tempat


biasanya.


Maureen dan Rayen kemudian melangkah menuju ke rumah. Di depan


pintu Nampak bebrapa pembantu diantaranya adalah Bi Minah yang merupakan orang


kepercayaan Maureen yang menyambut mereka. Samapi di ruang tengah mata Rayen


tertuju pada atas meja kerja. Nampaknya ada sesuatu yang dicari. Ah, aku tidak


lupa, tapi kok tidak ada? Pikir Rayen sambil terus melangkah. Rayen tidak


berani menduga duga. Perjalanan panjangnya seminggu terakhir ini menyita


pikirannya ditambah dengan kecelakaan yang dialaminya, mungkin membuat Rayen


lupa menaruhnya……


Ya, mungkin Rayen lupa menaruhnya.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2