
Suasana Kota Jakarta saat itu benar benar fresh. Hawa segar yang jarang dijumpai di kota megapolitan selama beberapa tahun terakhir, nampaknya bisa dinikamati saat itu oleh keluarga Maureen Tirta Kusuma dan Rayen Brilliant Putra.
Tidak ketinggalan, Om Rehan Dan Tante Kimnana. Eh manggilnya om apa ayah ya? Sudahlah, lupakan itu readers, yang jelas hari ini, Pak Rehan dan Ibu Kimnana juga bahagia.
Mereka berniat merayakan kebahagiaan hari ini dengan berlibur ke pantai Anyer. Mereka berharap akan ada secercah harapan baru unutk mereka dan karyawan utnuk kembali membangun bisnisnya yang hampir bangkrut di beberapa sector dan anak perusahaannya.
Lupakan sejenak hiruk pikuk perusahaan dan segala permasalahannya Rayen. Bawalah Rayen kecil dan keluargamu berlibur untuk menyegarkan suasana.
Pagi itu, terlihat suasana di tempat Maureen begitu damai. Sang surya yang menyembul dari ufuk timur, memancarkan cahayanya yang malu malu menyeruak diantara dedaunan pohon pohon yang ada di taman kecil yang ada di halaman rumah tersebut. Burung burung pun beterbangan kian kemari seakan berusaha meluapkan kegembiraan atas kebebasan mereka menghirup udara segar saat ini. Dia hinggap diantara pohon pohon pelindung yang berjajar di pinggir pinggir jalan di depan rumah Maureen.
__ADS_1
Sebuah mobil warna metallic sudah siap di halaman rumah tersebut. Beberapa perlengkapan Nampak disiapkan untuk perbekalan mereka. Ada beberapa pakaian bayi pastinya yang dibawa dan alat alat lain. Mereka berencana ingin menghabiskan siang itu di sebuah pantai yang terletak di Kecamatan Anyer, Kota Serang, Propinsi Banten. Pantai yang berjarak sekitar 126 kilometer dari pusat kota Jakarta ini dipilih oleh Rayen dan Maureen untuk melepas lelah bersama keluarganya. Termasuk Bi Minah, Pak Rehan dan Ibu Kimnana.
“Apa semuanya sudah siap Bun?” Tanya Rayen setelah melihat semua perlengkapan dimasukan ke dalam mobil.
“Sudah Yah. Tinggal beberapa makanan ringan yang sedang di ambil oleh Bi Minah. Rencananya kita nanti menyiapkan bekal dari rumah saja ya. Bunda masih agak trauma dengan kejadian kemarin. Kita lebih baik berjaga jaga karena kita membawa anak kecil, Yah?” kata Maureen.
“Wah, itu lebih bagus Bun. Daripada kita nanti masih harus berfikir dua kali saat mau menyantap makanan, karena wabah yang kemarin sempat melanda kota kita.” Sambung Rayen yang kelihatannya sangat setuju dengan ide Maureen untuk menyiapkan perbekalan yang mereka perlukan dari rumah. Disamping akan menjamin kehigienisan dari makanan mereka, mereka pun tidak perlu repot untuk mencari makanan. Apalagi saat ini belum banyak dari restoran atau warung yang sudah buka setelah wabah kemarin.
Setelah semua perlengkapan dan persiapan selesai, mereka segera memasuki mobil tersebut. Rayen kecil digendong oleh Ibu Kimnana. Nampaknya Ibu Kimnana sangat saying terhadap anak itu, sampai sampai Ibu Kimnana jarang sekali berpisah agak lama dengan cucu kesayangannya tersebut. Sedangkan Pak Rehan duduk di sebelah Ibu Kimnana. Bi Minah ada di kursi paling belakang.
Sementara Maureen menemani Rayen duduk di depan disamping Rayen yang saat ini sedang memegang kemudi.
Rayen dan Maureen sengaja berangkat agak pagi, mereka ingin memanjakan semua keluarga mereka setelah lebih dari 6 bulan mereka tidak kemana mana. Hampir setiap hari mereka menghabiskan waktu di rumah saja.
Sepanjang perjalanan mereka melihat pemandangan yang sungguh indah, hampir satu jam mereka berkendara. Tidak terasa mereka sudah meninggalkan perbatasan Ibukota Jakarta dan memasuki wilayah Propinsi Banten.
Suasana jalan yang sedikit lengang membuat perjalanan mereka terasa makin cepat.
__ADS_1
Pak Rehan dan Ibu Kimnana kelihatan menikmati sekali perjalanan itu. Apalagi sepanjang perjalanan Rayen kecil nampaknya juga sangat bersemangat. Terbukti saat berada di pangkuan Ibu Kimnana, sesekali anak itu tersenyum kecil bahkan kadang tertawa, walaupun tentu saja tawanya masih belum terlalu kedengaran. Maklumlah Rayen kecil baru menginjak usia delapan bulan saat ini.
Nampak Pak Rehan sesekali melirik Ibu Kimnana. Ah, mungkin Pak Rehan teringat masa masa muda saat masih pacaran dengan Ibu Kimnana kali ya?
Demikian juga Ibu Kimnana. Dia juga Nampak senyum senyum sendiri kalau ingat apa yang dilakukannya saat pertama kali Maureen datang ke rumahnya dulu. Ah, Kim? Kamu dulu kok bisa jahat begitu sih? Kenapa dulu semua kamu ukur dengan harta. Dan sekarang, ternyata justru Maureen yang menyelamatkan keluargamu dan perusahaanmu dulu. Kalau ingat hal itu, kadang kadang Ibu Kimnana menangis sendirian menyesali kekhilafannya di masa lalu.
Masing masing mereka seperti tenggelam dalam perasaannya masing masing. Sementara Rayen terus memacu kendaraannya menerobos padatnya lalu lintas di Kota Serang, menuju pantai Anyer.
*
*Mohon maaf untuk readers semua, karena hari ini adalah bertepatan dengan Hari Raya Idul Fitri 1441 H, author dan juga Bharata FM Trenggalek bersama keluarga mengucapkan ‘ Minal aidin wal fa idzin, mohon maaf lahir dan batin’. Tentu saja banyak salah dan khilaf yang author sengaja ataupun tidak. Juga banyak komentar, kritik dan saran yang tidak sempat author balas satu persatu. Tentunya jika ingin merupakan ketidaksengajaan dari author dan keterbatasan author dalam membalas setiap komentar readers, sekali lagi author mohon diberikan samudra maaf yang sebesar besarnya.
Terima kasih juga kepada semua dukungan dari readers untuk novel ini yang sangat luar biasa. Dan juga novel baru Bharata FM Trenggalek yang berjudul BharataYuda. Semoga bisa menjadi salah satu referensi untuk readers semua.
Sekali lagi ‘Selamat Hari Raya Idul Fitri 1441 H mohon maaf lahir dan batin’.
__ADS_1
Selamat membaca………………..