Dari Cupu Jadi Ratu

Dari Cupu Jadi Ratu
Musim Ke Dua Bag 27


__ADS_3

 


 


Pagi itu terasa indah. Seakan semuanya sudah normal kembali.


Tuan Besar Tito pagi ini sudah berkemas untuk menuju ke kantornya, diantar oleh


sopir pribadinya. Mobil metallic keluaran terbaru yang masih sangat mengkilap


itu segera meluncur meninggalkan halaman luas rumah mewah Maureen. Sekejap kemudian


mobil itu sudah lenyap berbaur dengan riuhnya suasana ibukota Negara kita.


Selepas kepergian Tuan Besar Tito, Maureen dan Rayen segera


berkemas untuk menuju ke rumah mendiang Pak Roy. Mereka ingin mengucapkan terima


kasih dan memberikan balas jasa kepada almarhum Pak Roy, sekaligus memberikan


santunan sesuai dengan kesepakatan yang telah dirundingkan bersama ayahnya tadi


malam.


Tidak berapa lama, mobil sport limited edition milik Maureen


sudah bersiap bersama sopir di halaman depan. Hari ini Maureen dan Rayen ingin


duduk di belakang bersama sama. Itulah sebabnya Pak Jay diajak ikut serta ke


rumah mendiang Pak Roy.


Setelah majikannya masuk mobil, Pak Jay segera melajukan


mobilnya menuju ke pinggiran kota, dimana keluarga Pak Roy tinggal. Memasuki pinggiran


kota, jalanan nampak agak sepi. Pak Jay melajukan mobilnya agak kencang agar


cepat segera sampai di rumah mendiang Pak Roy. Perjalanan dipercepat, karena


menurut Vivi, sekretaris Rayen, hari ini akan ada relasi dari Mexico yang akan


mengadakan kontrak kerja sama dengan perusahaan Putra Company.


Setelah menyusuri beberapa jalanan kampong yang agak sempit,


akhirnya mereka sampai di sebuah rumah sederhana yang berada di antara


pemukiman pemukiman lain. Pak Jay hafal betul rumah Pak Roy, karena sebagai sesame


sopir kepercayaan dari Maureen dan Rayen, mereka beberapa kali saling


berkunjung satu sama lain.


Suasana berduka masih nampak di rumah mendiang Pak Roy. Nampak

__ADS_1


istri Pak Roy, Susiana dan kedua anaknya Anin dan Zulfan mempersilahkan Maureen


dan Rayen untuk masuk. Setelah berbasa basi sejenak, Maureen kemudian


mengungkapkan maksud kedatangannya. Nampak Ibu Susiana dan kedua anaknya


menyambut dengan mata berbinar binar, mereka tidak menyangka bahwa majikan


suaminya sangat baik. Berkali kali mereka mengucapkan terima kasih. Mereka berharap


bisa membangun kembali kehidupannya sepeninggal mendiang suaminya.


Setelah dirasa cukup dan semuanya sudah selesai, maka Maureen


dan Rayen segera berpamitan. Mereka meninggalkan rumah sederhana yang kini


dihuni oleh seorang ibu dan dua orang anaknya yang masing masing masih duduk


dibangku kelas 5 SD dab kelas 8 SLTP. Namun mereka sudah bisa sedikit lega. Pendidikan


Anin dan Zulfan, dua putra dan putri mendiang Pak Roy ini pendidikannya


ditanggung oleh Putra Company sampai lulus kuliah.


Hari itu, setelah dari rumah Pak Roy, Pak Jay mengantarkan


Pak Rayen ke kantor terlebih dahulu, sebelum kemudian berlanjut untuk


mengantarkan Maureen ke kantor KSM Group. Hari ini bukan hanya Rayen yang


mempunyai jadwal bertemu relasi di kantor, namun Maureen hari ini juga akan


sekaligus akan membicarakan terkait kesehatan Tuan Besar Tito. Nampaknya ada


yang perlu segera disampaikan oleh Dr. Albert, terbukti melalui sekretaris


Zhang, Dr. Albert meminta bertemu Maureen sore ini.


Jadwal yang cukup padat. Maureen sebenarnya tidak ingin


Rayen bekerja dulu hari ini. Namun karena pertemuan ini sangat penting untuk


kemajuan bisnis dari Putra Company, akhirnya Maureen mengijinkan dengan syarat


Rayen harus diantar jemput olehnya dan Pak Jay. Maureen ingin memastikan bahwa


suaminya sudah mampu untuk bekerja hari ini.


.


.


.


Kita tinggalkan sejenak kesibukan Maureen dan Rayen. Kita lihat

__ADS_1


apa yang dilakukan Tuan Besar Tito soe ini. Dari pagi Tuan Besar Tito sibuk


untuk mengontrol bursa saham dari KSM group dan anak perusahaannya. Pak Tito


memang orang yang jenius dan serba penuh perhitungan. Jika dalam beberapa hari


ini beliau terbaring sakit, artinya ada yang belum sempat dikontrol dalam system


perusahaannya. Makanya begitu beliau sembuh, beliau memastikan kondisi


perusahaannya dalam keadaan sehat.


Dalam hal strategi bisnis, Pal Tito sudah tidak diragukan


lagi. Sayangnya umurnya memang sudah beranjak senja. Namun beberapa ilmu sudah


banyak yang diturunkan untuk anak semata wayangnya, Maureen.


Pak Tito berharap, Maureen tidak hanya mampu meneruskan KSM


Group, tapi lebih dari itu, Pak tito berharap Maureen mampu mengembangkan KSM


Group menjadi gurita raksasa yang merajai bisnis segala bidang di Jakarta dan


kota kota besar dunia lainnya.


Sore itu Pak Tito duduk di kursi kantornya. Ingatannya menerawang


pada sosok istrinya, wanita yang selalu dicintainya, yang memberikan seorang


buah hati cantik yang kini sudah dewasa. Ah, andaikan Ibu masih ada, batin Pak


Tito. Lihat Bu, anakmu sudah tumbuh jadi wanita yang luar biasa. Mampu


bersekolah tinggi dengan nilai brilian, mampu membuat sebuah perusahaan di Negara


adi kuasa yang disegani rival bisnisnya, dan bahkan hari ini akan memberikan


cucu untuk kita.


Ingatan Pak Tito menerawang ke beberapa waktu yang silam. Kala


bisnisnya masih timbul tenggelam. Kala KSM belum dianggap oleh siapa siapa. Ya saat


Maureen masih bayi.


Kelihatan Pak Tito batuk batuk sejenak, sambil mengerutkan


dahi. Waktu berlalu begitu cepat, semua berlalu tanpa terasa. Bagaikan datangnya


siang ketika hilang pagi. Bagaikan datangnya malam, kala sang surya tenggelam. Semua


berlalu, berlalu dan berlalu tanpa terasa, dan takkan pernah terulang lagi


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2