
Pagi itu terasa indah. Seakan semuanya sudah normal kembali.
Tuan Besar Tito pagi ini sudah berkemas untuk menuju ke kantornya, diantar oleh
sopir pribadinya. Mobil metallic keluaran terbaru yang masih sangat mengkilap
itu segera meluncur meninggalkan halaman luas rumah mewah Maureen. Sekejap kemudian
mobil itu sudah lenyap berbaur dengan riuhnya suasana ibukota Negara kita.
Selepas kepergian Tuan Besar Tito, Maureen dan Rayen segera
berkemas untuk menuju ke rumah mendiang Pak Roy. Mereka ingin mengucapkan terima
kasih dan memberikan balas jasa kepada almarhum Pak Roy, sekaligus memberikan
santunan sesuai dengan kesepakatan yang telah dirundingkan bersama ayahnya tadi
malam.
Tidak berapa lama, mobil sport limited edition milik Maureen
sudah bersiap bersama sopir di halaman depan. Hari ini Maureen dan Rayen ingin
duduk di belakang bersama sama. Itulah sebabnya Pak Jay diajak ikut serta ke
rumah mendiang Pak Roy.
Setelah majikannya masuk mobil, Pak Jay segera melajukan
mobilnya menuju ke pinggiran kota, dimana keluarga Pak Roy tinggal. Memasuki pinggiran
kota, jalanan nampak agak sepi. Pak Jay melajukan mobilnya agak kencang agar
cepat segera sampai di rumah mendiang Pak Roy. Perjalanan dipercepat, karena
menurut Vivi, sekretaris Rayen, hari ini akan ada relasi dari Mexico yang akan
mengadakan kontrak kerja sama dengan perusahaan Putra Company.
Setelah menyusuri beberapa jalanan kampong yang agak sempit,
akhirnya mereka sampai di sebuah rumah sederhana yang berada di antara
pemukiman pemukiman lain. Pak Jay hafal betul rumah Pak Roy, karena sebagai sesame
sopir kepercayaan dari Maureen dan Rayen, mereka beberapa kali saling
berkunjung satu sama lain.
Suasana berduka masih nampak di rumah mendiang Pak Roy. Nampak
__ADS_1
istri Pak Roy, Susiana dan kedua anaknya Anin dan Zulfan mempersilahkan Maureen
dan Rayen untuk masuk. Setelah berbasa basi sejenak, Maureen kemudian
mengungkapkan maksud kedatangannya. Nampak Ibu Susiana dan kedua anaknya
menyambut dengan mata berbinar binar, mereka tidak menyangka bahwa majikan
suaminya sangat baik. Berkali kali mereka mengucapkan terima kasih. Mereka berharap
bisa membangun kembali kehidupannya sepeninggal mendiang suaminya.
Setelah dirasa cukup dan semuanya sudah selesai, maka Maureen
dan Rayen segera berpamitan. Mereka meninggalkan rumah sederhana yang kini
dihuni oleh seorang ibu dan dua orang anaknya yang masing masing masih duduk
dibangku kelas 5 SD dab kelas 8 SLTP. Namun mereka sudah bisa sedikit lega. Pendidikan
Anin dan Zulfan, dua putra dan putri mendiang Pak Roy ini pendidikannya
ditanggung oleh Putra Company sampai lulus kuliah.
Hari itu, setelah dari rumah Pak Roy, Pak Jay mengantarkan
Pak Rayen ke kantor terlebih dahulu, sebelum kemudian berlanjut untuk
mengantarkan Maureen ke kantor KSM Group. Hari ini bukan hanya Rayen yang
mempunyai jadwal bertemu relasi di kantor, namun Maureen hari ini juga akan
sekaligus akan membicarakan terkait kesehatan Tuan Besar Tito. Nampaknya ada
yang perlu segera disampaikan oleh Dr. Albert, terbukti melalui sekretaris
Zhang, Dr. Albert meminta bertemu Maureen sore ini.
Jadwal yang cukup padat. Maureen sebenarnya tidak ingin
Rayen bekerja dulu hari ini. Namun karena pertemuan ini sangat penting untuk
kemajuan bisnis dari Putra Company, akhirnya Maureen mengijinkan dengan syarat
Rayen harus diantar jemput olehnya dan Pak Jay. Maureen ingin memastikan bahwa
suaminya sudah mampu untuk bekerja hari ini.
.
.
.
Kita tinggalkan sejenak kesibukan Maureen dan Rayen. Kita lihat
__ADS_1
apa yang dilakukan Tuan Besar Tito soe ini. Dari pagi Tuan Besar Tito sibuk
untuk mengontrol bursa saham dari KSM group dan anak perusahaannya. Pak Tito
memang orang yang jenius dan serba penuh perhitungan. Jika dalam beberapa hari
ini beliau terbaring sakit, artinya ada yang belum sempat dikontrol dalam system
perusahaannya. Makanya begitu beliau sembuh, beliau memastikan kondisi
perusahaannya dalam keadaan sehat.
Dalam hal strategi bisnis, Pal Tito sudah tidak diragukan
lagi. Sayangnya umurnya memang sudah beranjak senja. Namun beberapa ilmu sudah
banyak yang diturunkan untuk anak semata wayangnya, Maureen.
Pak Tito berharap, Maureen tidak hanya mampu meneruskan KSM
Group, tapi lebih dari itu, Pak tito berharap Maureen mampu mengembangkan KSM
Group menjadi gurita raksasa yang merajai bisnis segala bidang di Jakarta dan
kota kota besar dunia lainnya.
Sore itu Pak Tito duduk di kursi kantornya. Ingatannya menerawang
pada sosok istrinya, wanita yang selalu dicintainya, yang memberikan seorang
buah hati cantik yang kini sudah dewasa. Ah, andaikan Ibu masih ada, batin Pak
Tito. Lihat Bu, anakmu sudah tumbuh jadi wanita yang luar biasa. Mampu
bersekolah tinggi dengan nilai brilian, mampu membuat sebuah perusahaan di Negara
adi kuasa yang disegani rival bisnisnya, dan bahkan hari ini akan memberikan
cucu untuk kita.
Ingatan Pak Tito menerawang ke beberapa waktu yang silam. Kala
bisnisnya masih timbul tenggelam. Kala KSM belum dianggap oleh siapa siapa. Ya saat
Maureen masih bayi.
Kelihatan Pak Tito batuk batuk sejenak, sambil mengerutkan
dahi. Waktu berlalu begitu cepat, semua berlalu tanpa terasa. Bagaikan datangnya
siang ketika hilang pagi. Bagaikan datangnya malam, kala sang surya tenggelam. Semua
berlalu, berlalu dan berlalu tanpa terasa, dan takkan pernah terulang lagi
.
__ADS_1
.
.