Dari Cupu Jadi Ratu

Dari Cupu Jadi Ratu
Musim Ke Dua Bagian 08


__ADS_3

Maureen masih bingung dengan langkah yang akan ditempuh


selanjutnya. Apakah harus memilih kembali menempatkan Vivi di posisi semula,


ataukah harus mencari pengganti Vivi.


Jika menempatkan Vivi ke posisi semula, siapa yang menjamin


kecurigaannya bahwa ada main di belakang antara Rayen dan Vivi itu tidak benar.


Bukankah setiap hari dia bersama. Apapun masalah perusahaan selalu dipecahkan


bersama. Bukankah setiap hari mereka berdua bertemu.


Apa susahnya mendepak Vivi ke posisi yang jauh dari Rayen,


dan menggantinya dengan sekretaris lain. Agar masalah ini tidak terus berlarut.


Bukankah Putra Company hanya anak perusahaan KSM Group. Jadi Maureen punya


kewenangan penuh mengatur posisi strategis di Putra Company.


Ya, mungkin dengan mengganti Vivid an menggesernya ke posisi


yang jauh dari Rayen, akan menyelesaikan masalah. Begitu piker Maureen.


Tapi, lagi – lagi keputusan itu terbentur oleh kenyataan. Apakah


Rayen akan setuju jika sekretarisnya diganti? Apakah sekretaris pengganti nanti


akan bisa melakukan tugasnya seperti halnya sekretaris Vivi?


Tidak dapat dipungkiri, cara kerja sekretaris Vivi memang


bagus. Dan itulah alasannya kenapa Maureen menerima Vivi menjadi sekretaris


Rayen di perusahaan Putra Company. Salah satu anak cabang dari KSM Group, yang


dulu hampir saja pailit.


Mengganti sekretaris Vivi dengan orang lain, sama saja


resikonya. Bahkan resiko berlipat, pikir Maureen. Pertama, dia akan mempengaruhi


kinerja Putra Company yang sudah berjalan dan bahkan sempat hampir hancur lagi karena


trending topic perselingkuhan Rayen kemarin. Banyak kolega bisnis dari Putra


Company yang hengkang dan membatalkan kontrak bisnisnya karena peristiwa


tersebut.


Kedua, apakah ada yang menjamin jika Vivi digantikan orang


lain, Rayen tidak menjalin perselingkuhan dengan sekretaris barunya tersebut?


Maureen berfikir keras.


Dia bukan wanita bodoh. Pemikirannya yang brilian menyimpan


sebuah strategi dan rencana yang jitu.


Ya, dia sudah dapat keputusan.


Dan keputusannya adalah mempertahankan Vivi di  posisi semula dengan segala resikonya.


Itu dilakukan agar masalah bisa diredam dan Maureen bisa fokus


untuk menangani perusahaan KSM Group, agar perjalananya ke New York kali ini


bisa menambah pamor KSM Group menjadi salah satu perusahaan raksasa dan


sahamnya tidak tertandingi.


.


.


Sementara itu, Rayen masih belum tenang. Maureen tetap belum


bisa dihubungi. Ponselnya masih nonaktif. Dicoba menghubungi Vivi, untuk


menanyakan seputar perusahaan dan pergerakan saham Putra Company, serta siapa


tahu Maureen sudah menghubungi Vivi.


Sayangnya, ponsel Vivi pun tak aktif. Mungkin Vivi masih


takut dengan kejadian beberapa hari yang lalu. Ya, mau tidak mau memang dia penyebab


keretakan hubungan Rayen dan Maureen. Meski sebenarnya Rayen yang meminta


tolong Vivi untuk mencarikan kado special untuk Maureen.


“Ah, sial. Kenapa semua tidak bisa dihubungi”, gerutu Rayen


sambil ngedumel.


Dicobanya untuk menghubungi staf kantor perusahaan Putra


Company, Rayen menanyakan apakah Vivi sudah masuk kerja?


“Hallo selamat pagi, dengan Putra Company ada yang bisa kami


bantu?” sapa staf perusahaan dengan lembut di ujung telepon.


“Hallo Silvi, ini Rayen. Apakah Vivi sudah masuk kerja hari


ini?” kata Rayen menyapa staf perusahaan Putra Company yang ternyata bernama


Silvi.


“Oh, maaf Pak Presdir. Saya kira siapa. Mohon maaf Bapak,


hari ini Ibu Vivi belum hadir. Dan belum memberikan keterangan sebab

__ADS_1


ketidakhadirannya”, jawab Silvi memberikan penjelasan.


“O, begitu. Baiklah Silvi, saya hari ini belum bisa masuk


kantor. Mohon nanti kalau ada hal penting bisa langsung menghubungi saya ya?”


kata Rayen.


“Baik, Bapak. Kami akan menjalankan perintah Bapak. Selamat


pagi.”


“Baik, selamat pagi.”


Rayen menutup gagang telepon dan meraih laptop yang ada


didekatnya. Rayen ingin mengecek pergerakan saham perusahaan Putra Company di


awal pembukaan bursa saham pagi ini.


“Ehm……. Lumayan stabil, meski belum pulih”, guman Rayen.


Kemudian dilanjutkan dengan melihat trending topic hari ini.


Kisah perselingkuhan antara Rayen dan sekretaris pribadinya Vivi, yang


diketahui istri sahnya Maureen yang juga Presdir KSM Group, sudah tidak ada.


Kemudian Rayen melihat deretan kontrak kerja yang kemarin


sempat membatalkan kontrak dengan Putra Company.


Yang kemarin status merah, hari ini hampir semua sudah


hijau, artinya mereka tidak jadi membatalkan kontrak kerja sama dengan Putra


Company. Hanya tinggal satu atau dua yang masih kuning, artinya dalam masa


peninjauan.


Aneh, padahal Rayen beberapa hari ini, sejak peristiwa


kemarin sudah tidak peduli dengan perusahaannya.


Apakah Vivi yang menghandle semuanya? Rasanya tidak mungkin.


Apakah staf perusahaan yang lain, yang menjalankannya? Rasanya


juga mustahil. Hanya orang yang mempunyai pengaruh sangat besar yang mampu


melakukan hal tersebut.


Ya, mungkin Maureen. Itu kesimpulan Rayen. Kalau itu


Maureen, berarti Rayen sudah bisa bernafas lega. Kesalahfahaman ini akan segera


berhasil. Rayen memang mengakui kehebatan dari istrinya yang dulu dikenal cupu.


Ya Maureen memang brilian,itulah kenapa ayahnya mempercayakan KSM Group pada


.


.


Kita tinggalkan Rayen. Kita coba tengok keadaan Vivi. Sosok yang


dalam 2 hari belakangan jadi viral karena diduga menjadi orang ketiga dari


hubungan dua Presdir sebuah perusahaan ternama. Ya  Presdir Putra Company, Tuan Rayen Brilliyan


Putra dan Presdir KSM Group, Nyonya Maureen Tirta Kusuma.


Di sebuah rumah sederhana yang dihiasi dengan taman kecil


dan kolam ikan didepan rumah inilah Vivi tinggal. Ayahnya sudah meninggal 5


tahun yang lalu. Dia tinggal bersama ibu kandungnya. Seorang wanita paruh baya


yang sangat sabar dan penyayang.


Sudah tiga hari ini Vivi kelihatan murung. Jarang keluar


kamar. Ibunya sendiri masih bingung, mau bertanya. Vivi pun belum mau


menceritakan apa yang terjadi.


Sebenarnya Vivi bingung, apa yang akan dilakukan pada saat


dia mulai masuk kantor hari Senin lusa. Maksud hati Vivi ingin menceritakan apa


yang terjadi pada ibunya. Sayangnya, Vivi tidak ingin membebani ibunya dengan


permasalahan yang dihadapi.


“Vi, kamu belum makan nak?” sapa ibunya, ketika sudah jam 9,


Vivi hanya keluar kamar saat pagi hari saja.


“Eh, iya bu. Sebentar ya, Vivi masih belum lapar. Masih ada


kerjaan sedikit, kerjaan kantor” sahut Vivi dari dalam kamar.


“Boleh ibu masuk nak?” tanya ibunya.


“Silahkan bu, masuk saja. Pintunya tidak dikunci.”


Perlahan ibunya membuka pintu dan duduk didekat Vivi yang


sedang memegang laptop di meja kerjanya. Nampak diagram bursa saham yang


dihadapan Vivi. Rupanya Vivi sedang memantau pergerakan harga saham Putra


Company di hari ini.


“Ada apa nak, tidak biasanya kamu tidak masuk kantor lebih

__ADS_1


dari sehari tanpa sebab,” Tanya ibunya.


“Tidak apa-apa bu. Cuma agak tidak enak badan saja sedikit.”


Jawab Vivi berusaha menyembunyikan masalahnya.


“Apa ada masalah?” Tanya ibu.


“Tidak ada bu, semua baik baik saja.” Jawaban Vivi masih


sama.


“Lalu kenapa dengan saham perusahaan tempatmu bekerja,


kenapa terus kamu lihat?” Tanya ibu.


“Kemarin ada sedikit masalah. Sehingga membuat saham


perusahaan sedikit anjlok. Itulah sebabnya Vivi mendapat tugas untuk memantau


fluktuasi nilai saham perusahaan bu.” Jawab Vivi berusaha menyembunyikan


kegundahan hatinya terhadap masalah yang dihadapi.


“O begitu. Ibu kira kamu ada masalah nak, karena dari


kemarin kamu banyak mengurung diri di kamar. Jika memang begitu, lakukan yang


terbaik nak. Buktikan bahwa kamu bisa diandalkan di perusahaan tempat kamu


bekerja”, kata ibu Vivi mamberi nasehat kepada putrid semata wayangnya.


“Baik bu. Vivi akan selalu ingat pesan ibu, dimana Vivi


berada harus menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya.” Kata Vivi.


“Baiklah jika begitu nak, ibu percaya padamu. Anak ibu pasti


mampu melaksanakan tugas dengan baik”, timpal ibunya.


“iya, bu” jawab Vivi sedikit lega karena ibunya percaya


keterangannya dan tidak memaksa dirinya untuk menceritakan permasalahannya.


“Ibu akan beristirahat dulu nak, segeralah makan. Jaga kesehatanmu.”


“Iya, bu.”


Sejurus kemudian ibunya sudah beranjak meninggalkan kamar. Tinggalah


Vivi yang kembali termenung seorang diri.


“salahkah aku, jika aku berniat membantu Pak Rayen? Bukankah


dia atasanku, sekaligus orang yang menggaji aku selama ini? Aku cuma ingin


membantu Pak Rayen memilih kado terbaik untuk istrinya.”


Batin Vivi terus bergejolak. Meski Maureen sudah menelpon


dia, dan meminta maaf atas kesalahfahaman terhadapnya, namun hati Vivi tetap


tidak enak. Vivi masih berusaha untuk menata hatinya agar pada hari Senin lusa,


saat dia menghadap Presdir KSM Group Nyonya Maureen Tirta Kusuma, dia sudah


siap dengan segala resikonya.


Vivi sadar, walaupun Nyonya Maureen mengatakan tidak apa-apa


dan meminta maaf atas kesalah fahaman terhadap dirinya, tapi apapun alasannya,


dia adalah orang yang paling berkuasa di KSM Group. Dan sebagai wanita, istri


sah dari Tuan Rayen, Presdir Putra Company, tentu akan punya rasa tersinggung


dan marah jika seorang sekretaris sampai bergandengan tangan dengan bosnya,


apalagi di tempat umum.


Ah, semua serba sulit.


Semua serba susah.


Semua penuh dengan misteri.


Dan Vivi sudah pasrah, yang akan terjadi biarlah terjadi. Apapun


keputusan akhir dari Presdir KSM Group Nyonya Maureen Tirta Kusuma, akan


diterima Vivi dengan lapang dada. Ibarat nasi sudah menjadi bubur, takkan


mungkin mengharap bisa berubah jadi beras lagi.


Vivi merebahkan tubuhnya diatas kasur sederhana di kamarnya,


tidak terasa matanya terpejam. Ya, dia terlelap dalam tidur yang penuh dengan


drama kehidupan.


Vivi tidak pernah menyangka, akan mewarnai kisah rumah


tangga dua orang hebat, Presdir dari dua perusahaan raksasa pemegang saham


terbesar di saat ini………


.


.


.


Bantu doa sahabat, biar Vivi bisa melalui cobaan dalam


hidupnya dengan baik.

__ADS_1


Semoga.


__ADS_2