
Maureen masih bingung dengan langkah yang akan ditempuh
selanjutnya. Apakah harus memilih kembali menempatkan Vivi di posisi semula,
ataukah harus mencari pengganti Vivi.
Jika menempatkan Vivi ke posisi semula, siapa yang menjamin
kecurigaannya bahwa ada main di belakang antara Rayen dan Vivi itu tidak benar.
Bukankah setiap hari dia bersama. Apapun masalah perusahaan selalu dipecahkan
bersama. Bukankah setiap hari mereka berdua bertemu.
Apa susahnya mendepak Vivi ke posisi yang jauh dari Rayen,
dan menggantinya dengan sekretaris lain. Agar masalah ini tidak terus berlarut.
Bukankah Putra Company hanya anak perusahaan KSM Group. Jadi Maureen punya
kewenangan penuh mengatur posisi strategis di Putra Company.
Ya, mungkin dengan mengganti Vivid an menggesernya ke posisi
yang jauh dari Rayen, akan menyelesaikan masalah. Begitu piker Maureen.
Tapi, lagi – lagi keputusan itu terbentur oleh kenyataan. Apakah
Rayen akan setuju jika sekretarisnya diganti? Apakah sekretaris pengganti nanti
akan bisa melakukan tugasnya seperti halnya sekretaris Vivi?
Tidak dapat dipungkiri, cara kerja sekretaris Vivi memang
bagus. Dan itulah alasannya kenapa Maureen menerima Vivi menjadi sekretaris
Rayen di perusahaan Putra Company. Salah satu anak cabang dari KSM Group, yang
dulu hampir saja pailit.
Mengganti sekretaris Vivi dengan orang lain, sama saja
resikonya. Bahkan resiko berlipat, pikir Maureen. Pertama, dia akan mempengaruhi
kinerja Putra Company yang sudah berjalan dan bahkan sempat hampir hancur lagi karena
trending topic perselingkuhan Rayen kemarin. Banyak kolega bisnis dari Putra
Company yang hengkang dan membatalkan kontrak bisnisnya karena peristiwa
tersebut.
Kedua, apakah ada yang menjamin jika Vivi digantikan orang
lain, Rayen tidak menjalin perselingkuhan dengan sekretaris barunya tersebut?
Maureen berfikir keras.
Dia bukan wanita bodoh. Pemikirannya yang brilian menyimpan
sebuah strategi dan rencana yang jitu.
Ya, dia sudah dapat keputusan.
Dan keputusannya adalah mempertahankan Vivi di posisi semula dengan segala resikonya.
Itu dilakukan agar masalah bisa diredam dan Maureen bisa fokus
untuk menangani perusahaan KSM Group, agar perjalananya ke New York kali ini
bisa menambah pamor KSM Group menjadi salah satu perusahaan raksasa dan
sahamnya tidak tertandingi.
.
.
Sementara itu, Rayen masih belum tenang. Maureen tetap belum
bisa dihubungi. Ponselnya masih nonaktif. Dicoba menghubungi Vivi, untuk
menanyakan seputar perusahaan dan pergerakan saham Putra Company, serta siapa
tahu Maureen sudah menghubungi Vivi.
Sayangnya, ponsel Vivi pun tak aktif. Mungkin Vivi masih
takut dengan kejadian beberapa hari yang lalu. Ya, mau tidak mau memang dia penyebab
keretakan hubungan Rayen dan Maureen. Meski sebenarnya Rayen yang meminta
tolong Vivi untuk mencarikan kado special untuk Maureen.
“Ah, sial. Kenapa semua tidak bisa dihubungi”, gerutu Rayen
sambil ngedumel.
Dicobanya untuk menghubungi staf kantor perusahaan Putra
Company, Rayen menanyakan apakah Vivi sudah masuk kerja?
“Hallo selamat pagi, dengan Putra Company ada yang bisa kami
bantu?” sapa staf perusahaan dengan lembut di ujung telepon.
“Hallo Silvi, ini Rayen. Apakah Vivi sudah masuk kerja hari
ini?” kata Rayen menyapa staf perusahaan Putra Company yang ternyata bernama
Silvi.
“Oh, maaf Pak Presdir. Saya kira siapa. Mohon maaf Bapak,
hari ini Ibu Vivi belum hadir. Dan belum memberikan keterangan sebab
__ADS_1
ketidakhadirannya”, jawab Silvi memberikan penjelasan.
“O, begitu. Baiklah Silvi, saya hari ini belum bisa masuk
kantor. Mohon nanti kalau ada hal penting bisa langsung menghubungi saya ya?”
kata Rayen.
“Baik, Bapak. Kami akan menjalankan perintah Bapak. Selamat
pagi.”
“Baik, selamat pagi.”
Rayen menutup gagang telepon dan meraih laptop yang ada
didekatnya. Rayen ingin mengecek pergerakan saham perusahaan Putra Company di
awal pembukaan bursa saham pagi ini.
“Ehm……. Lumayan stabil, meski belum pulih”, guman Rayen.
Kemudian dilanjutkan dengan melihat trending topic hari ini.
Kisah perselingkuhan antara Rayen dan sekretaris pribadinya Vivi, yang
diketahui istri sahnya Maureen yang juga Presdir KSM Group, sudah tidak ada.
Kemudian Rayen melihat deretan kontrak kerja yang kemarin
sempat membatalkan kontrak dengan Putra Company.
Yang kemarin status merah, hari ini hampir semua sudah
hijau, artinya mereka tidak jadi membatalkan kontrak kerja sama dengan Putra
Company. Hanya tinggal satu atau dua yang masih kuning, artinya dalam masa
peninjauan.
Aneh, padahal Rayen beberapa hari ini, sejak peristiwa
kemarin sudah tidak peduli dengan perusahaannya.
Apakah Vivi yang menghandle semuanya? Rasanya tidak mungkin.
Apakah staf perusahaan yang lain, yang menjalankannya? Rasanya
juga mustahil. Hanya orang yang mempunyai pengaruh sangat besar yang mampu
melakukan hal tersebut.
Ya, mungkin Maureen. Itu kesimpulan Rayen. Kalau itu
Maureen, berarti Rayen sudah bisa bernafas lega. Kesalahfahaman ini akan segera
berhasil. Rayen memang mengakui kehebatan dari istrinya yang dulu dikenal cupu.
Ya Maureen memang brilian,itulah kenapa ayahnya mempercayakan KSM Group pada
.
.
Kita tinggalkan Rayen. Kita coba tengok keadaan Vivi. Sosok yang
dalam 2 hari belakangan jadi viral karena diduga menjadi orang ketiga dari
hubungan dua Presdir sebuah perusahaan ternama. Ya Presdir Putra Company, Tuan Rayen Brilliyan
Putra dan Presdir KSM Group, Nyonya Maureen Tirta Kusuma.
Di sebuah rumah sederhana yang dihiasi dengan taman kecil
dan kolam ikan didepan rumah inilah Vivi tinggal. Ayahnya sudah meninggal 5
tahun yang lalu. Dia tinggal bersama ibu kandungnya. Seorang wanita paruh baya
yang sangat sabar dan penyayang.
Sudah tiga hari ini Vivi kelihatan murung. Jarang keluar
kamar. Ibunya sendiri masih bingung, mau bertanya. Vivi pun belum mau
menceritakan apa yang terjadi.
Sebenarnya Vivi bingung, apa yang akan dilakukan pada saat
dia mulai masuk kantor hari Senin lusa. Maksud hati Vivi ingin menceritakan apa
yang terjadi pada ibunya. Sayangnya, Vivi tidak ingin membebani ibunya dengan
permasalahan yang dihadapi.
“Vi, kamu belum makan nak?” sapa ibunya, ketika sudah jam 9,
Vivi hanya keluar kamar saat pagi hari saja.
“Eh, iya bu. Sebentar ya, Vivi masih belum lapar. Masih ada
kerjaan sedikit, kerjaan kantor” sahut Vivi dari dalam kamar.
“Boleh ibu masuk nak?” tanya ibunya.
“Silahkan bu, masuk saja. Pintunya tidak dikunci.”
Perlahan ibunya membuka pintu dan duduk didekat Vivi yang
sedang memegang laptop di meja kerjanya. Nampak diagram bursa saham yang
dihadapan Vivi. Rupanya Vivi sedang memantau pergerakan harga saham Putra
Company di hari ini.
“Ada apa nak, tidak biasanya kamu tidak masuk kantor lebih
__ADS_1
dari sehari tanpa sebab,” Tanya ibunya.
“Tidak apa-apa bu. Cuma agak tidak enak badan saja sedikit.”
Jawab Vivi berusaha menyembunyikan masalahnya.
“Apa ada masalah?” Tanya ibu.
“Tidak ada bu, semua baik baik saja.” Jawaban Vivi masih
sama.
“Lalu kenapa dengan saham perusahaan tempatmu bekerja,
kenapa terus kamu lihat?” Tanya ibu.
“Kemarin ada sedikit masalah. Sehingga membuat saham
perusahaan sedikit anjlok. Itulah sebabnya Vivi mendapat tugas untuk memantau
fluktuasi nilai saham perusahaan bu.” Jawab Vivi berusaha menyembunyikan
kegundahan hatinya terhadap masalah yang dihadapi.
“O begitu. Ibu kira kamu ada masalah nak, karena dari
kemarin kamu banyak mengurung diri di kamar. Jika memang begitu, lakukan yang
terbaik nak. Buktikan bahwa kamu bisa diandalkan di perusahaan tempat kamu
bekerja”, kata ibu Vivi mamberi nasehat kepada putrid semata wayangnya.
“Baik bu. Vivi akan selalu ingat pesan ibu, dimana Vivi
berada harus menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya.” Kata Vivi.
“Baiklah jika begitu nak, ibu percaya padamu. Anak ibu pasti
mampu melaksanakan tugas dengan baik”, timpal ibunya.
“iya, bu” jawab Vivi sedikit lega karena ibunya percaya
keterangannya dan tidak memaksa dirinya untuk menceritakan permasalahannya.
“Ibu akan beristirahat dulu nak, segeralah makan. Jaga kesehatanmu.”
“Iya, bu.”
Sejurus kemudian ibunya sudah beranjak meninggalkan kamar. Tinggalah
Vivi yang kembali termenung seorang diri.
“salahkah aku, jika aku berniat membantu Pak Rayen? Bukankah
dia atasanku, sekaligus orang yang menggaji aku selama ini? Aku cuma ingin
membantu Pak Rayen memilih kado terbaik untuk istrinya.”
Batin Vivi terus bergejolak. Meski Maureen sudah menelpon
dia, dan meminta maaf atas kesalahfahaman terhadapnya, namun hati Vivi tetap
tidak enak. Vivi masih berusaha untuk menata hatinya agar pada hari Senin lusa,
saat dia menghadap Presdir KSM Group Nyonya Maureen Tirta Kusuma, dia sudah
siap dengan segala resikonya.
Vivi sadar, walaupun Nyonya Maureen mengatakan tidak apa-apa
dan meminta maaf atas kesalah fahaman terhadap dirinya, tapi apapun alasannya,
dia adalah orang yang paling berkuasa di KSM Group. Dan sebagai wanita, istri
sah dari Tuan Rayen, Presdir Putra Company, tentu akan punya rasa tersinggung
dan marah jika seorang sekretaris sampai bergandengan tangan dengan bosnya,
apalagi di tempat umum.
Ah, semua serba sulit.
Semua serba susah.
Semua penuh dengan misteri.
Dan Vivi sudah pasrah, yang akan terjadi biarlah terjadi. Apapun
keputusan akhir dari Presdir KSM Group Nyonya Maureen Tirta Kusuma, akan
diterima Vivi dengan lapang dada. Ibarat nasi sudah menjadi bubur, takkan
mungkin mengharap bisa berubah jadi beras lagi.
Vivi merebahkan tubuhnya diatas kasur sederhana di kamarnya,
tidak terasa matanya terpejam. Ya, dia terlelap dalam tidur yang penuh dengan
drama kehidupan.
Vivi tidak pernah menyangka, akan mewarnai kisah rumah
tangga dua orang hebat, Presdir dari dua perusahaan raksasa pemegang saham
terbesar di saat ini………
.
.
.
Bantu doa sahabat, biar Vivi bisa melalui cobaan dalam
hidupnya dengan baik.
__ADS_1
Semoga.