
Sabtu pagi di New York. Saat itu sekretaris Zhang tengah
mempersiapkan segala perlengkapan untuk pulang ke Jakarta. Maureen Tirta
Kusuma, Presdir KSM Group yang tengah meninjau bisnisnya di Negeri Paman Sam
itu kelihatannya sedang gelisah. Maureen masih memikirkan bagaimana caranya
agar saat ketemu Rayen dan Vivi nanti bisa menjelaskan kesalah fahaman tentang
mereka.
Maureen memang merasa terlalu egois. Tanpa berfikir panjang
langsung melakukan hal yang sangat fatal. Dan akhirnya sekretaris Zhang yang
harus sibuk memperbaiki semua keadaan ini. Untunglah hampir semua kolega bisnis
dari Putra Company mau menyadari kekeliruan ini, sehingga mereka tidak jadi
membatalkan kontrak kerja dengan Putra Company.
Terjawab sudah, kenapa saham Putra Company kembali merangkak
naik, dan kontrak kerja Putra Company kembali.
Maureen menghela nafas panjang. Dia masih ragu, apakah
rencananya nanti akan berjalan mulus.
Maureen berharap semua akan sesuai rencana. Maureen
berencana jika sudah pulang nanti, akan kembali langsung ke hotel miliknya,
setelah itu baru esok harinya Maureen akan langsung menuju kantor. Mauren ingin
menyelesaikan semuanya sekaligus, dihadapan Rayen dan Vivi. Maureen ingin
secepatnya semua kembali seperti biasa. Lelah rasanya harus memendam rasa
bersalah.
Maureen bergegas keluar kamar. Ia menuju ke kamar dimana
sekretaris Zhang menginap.
“Sekretaris Zhang, buka pintunya.”
“Iya, Ibu Presdir. Saya tengah mempersiapkan kepulangan
Presdir hari ini,” kata sekretaris Zhang sambil membuka pintu dan
mempersilahkan Maureen masuk.
“Apakah semua sudah siap?”
“Sudah Presdir, jam berapa kita berangkat.” Tanya sekretaris
Zhang.
“Sebentar lagi kita ke bandara. Saya sudah meminta staf
untuk mengurus keberangkatan kita,” kata Maureen.
“Baiklah Ibu Presdir.”
Dan benar saja, sebentar kemudian mobil staf perusahaan
milik Maureen sudah siap menjemput Maureen ke bandara. Maureen sengaja
menggunakan fasilitas pesawat pribadi untuk penerbangan ini, karena dia ingin
efisiensi waktu. Maureen ingin, minggu malam sudah ada di Jakarta, sehingga
rencananya untuk menyelesaikan masalah hari senin tidak tertunda.
Mobil sport special yang memang khusus dipersiapkan jika
Maureen meninjau perusahaannya di New York melaju meyibak ramainya jalanan
ibukota Negara adikuasa ini. Kondisi jalanan yang bagus dan kepatuhan pengguna
__ADS_1
lalulintas memperlancar perjalanan Maureen menuju bandara. Meski situasi
lalulintas hari itu padat, namun karena setiap pengendara sangat mematuhi
peraturan , maka arus lalu lintas pun berjalan lancar.
Seperempat jam menyusuri jalanan ibukota Amerika Serikat,
dari hotel tempat Maureen beristirahat, akhirnya mereka sampai di bandara.
Tepat waktu, dua puluh menit lagi pesawat milik Maureen saatnya untuk take off.
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya tiba saat pesawat
yang ditumpangi Maureen take off. Ya, saatnya Maureen meninggalkan negeri paman
Sam, bertolak ke tanah air.
.
.
Kita tinggalkan sejenak perjalanan Maureen ke tanah air. Kita
tengok dulu yang lagi galau, lagi sedih, dan lagi bingung. Siapa lagi kalo
bukan Presdir Putra Company, Rayen.
Hari itu Rayen sedang sibuk untuk menghandel semua tugas Vivid
an juga mengerjakan tugas dia sendiri. Sungguh bukan pekerjaan yang ringan. Belum
lagi, pikirannya harus berbagi dengan istrinya yang sampai saat ini belum bisa
dihubungi.
“Sial, amburadul semua pekerjaanku dalam dua hari ini. Saham
yang anjlok, kontrak kerja yang dicancel, yang masih dalam peninjauan, belum
lagi soal beberapa media local yang setiap saat setiap waktu memburu untuk
mengorek berita demi popularitas medianya” gerutu Rayen dalam hati.
super sibuk dan belum tentu ketemu setiap hari, mungkin hidupnya akan enak. Istri
yang mengurus rumah tangga, mengurus anak dan suaminya ketika pulang kerja. Ah,
kenapa kamu ngelantur Rayen? Ada apa dengan dirimu… Bukankah kamu sudah punya
segalanya. Istri cantik, kaya, punya jabatan tinggi. Berhentilah mengigau
Rayen, hadapi kenyataan.
Seandainya Vivi ada disini, dia pasti bisa mengatasi semua
ini. Ahay, kenapa Rayen tidak berfikir kesitu sedari tadi? Bukankah selama ini
Rayen mempercayakan hampir semua urusan perusahaan kepada dia. Kenapa tidak
mencoba menelpon kembali Vivi, barangkali HP nya sudah aktif.
Diraihnya ponsel baru yang barusan dikirim oleh staf
perusahaannya kemarin. Ya, ponselnya kemarin hancur gara gara dia kesal. Dicarinya
nomer Vivi, sekretaris kepercayaannya.
Tut….. tut…… tut……
Terdengar nada tersambung. Ah, sudah aktif rupanya HP si
Vivi.
“Selamat siang Pak Presdir, ada yang bisa saya bantu?”
terdengar suara yang tidak asing lagi bagi Rayen, ya suara Vivi di ujung
telepon.
“Eh, Vivi. Bagaimana kabarmu, beberapa hari nomermu
__ADS_1
kuhubungi tidak bisa,” kata Rayen memulai pembicaraan.
“Kabar saya baik Pak Presdir, maaf saya agak kurang enak
badan, jadi HP sengaja saya matikan,” jelas Vivi.
“O, syukurlah jika begitu. O iya Vi, apakah Ibu Maureen ada
menghubungi kamu?” Tanya Rayen.
“O, iya Pak Presdir, kemarin Ibu Presdir sempat menghubungi
saya. Beliau meminta saya untuk masuk kerja mulai besuk Senin,” jawab Vivi.
“Benarkah? Lalu dimana Ibu sekarang Vi?” Tanya Rayen.
“Maaf Pak Presdir, Ibu Presdir tidak mengatakan beliau ada
dimana, cuma minta saya untuk kembali bekerja mulai hari Senin. Dan beliau juga
minta maaf atas kesalah fahaman beliau selama ini” jawab Vivi.
“OK lah jika begitu, kebetulan hari ini sangat banyak tugas
perusahaan. Saya tidak mungkin mengcover semua, saya masih harus memikirkan
Maureen. Sampai saya tahu keberadaannya. Coba kamu buka langsung dari situ Vi,
banyak kolega yang harus kontrak ulang karena peristiwa kemarin,” jelas Rayen.
“Baiklah pak, akan saya coba untuk mempersiapkan file dan membuat kontrak baru
untuk kolega yang perlu memperbarui kontrak,” kata Vivi
“Terima kasih Vi. Selamat bekerja” kata Rayen
“Baik Pak Presdir. Selamat beristirahat,” jawab Vivi sambil
menutup telepon.
Rayen menghela nafas panjang. Dia sedikit bisa bernafas
lega. Setidaknya walaupun dia belum mengetahui keberadaan Maureen, tapi jika
sudah menelepon Vivid an meminta maaf, artinya Maureen menyadari bahwa
tuduhannya salahdan percaya bahwa antara Rayen dan Vivi tidak ada hubungan
apapun selain atasan dan bawahan.
Dari jauh Bi Minah kelihatan membawa secangkir kopi,
kemudian meletakkan di meja dekat Rayen.
“Kopinya Tuan Rayen?”
“Iya Bi Minah. Terima kasih” kata Rayen
“Iya Tuan. Sama-sama” jawab Bi Minah.
Setelah menyeruput kopi sedikit, Rayen kembali tenggelam
dengan pekerjaannya. Ya, sungguh hari yang sangat melelahkan.
Akankah hari ini segera berlalu?
Bagaimana dengan perjalanan Maureen dan rencananya, akankah
berjalan mulus?
Apakah Vivi akan mampu membantu Rayen menstabilkan kendali
roda Putra Company?
.
.
.
Sabar ya
__ADS_1
Nantikan episode selanjutnya
Selamat malam.