Dari Cupu Jadi Ratu

Dari Cupu Jadi Ratu
Musim Ke Dua Bagian 09


__ADS_3

Sabtu pagi di New York. Saat itu sekretaris Zhang tengah


mempersiapkan segala perlengkapan untuk pulang ke Jakarta. Maureen Tirta


Kusuma, Presdir KSM Group yang tengah meninjau bisnisnya di Negeri Paman Sam


itu kelihatannya sedang gelisah. Maureen masih memikirkan bagaimana caranya


agar saat ketemu Rayen dan Vivi nanti bisa menjelaskan kesalah fahaman tentang


mereka.


Maureen memang merasa terlalu egois. Tanpa berfikir panjang


langsung melakukan hal yang sangat fatal. Dan akhirnya sekretaris Zhang yang


harus sibuk memperbaiki semua keadaan ini. Untunglah hampir semua kolega bisnis


dari Putra Company mau menyadari kekeliruan ini, sehingga mereka tidak jadi


membatalkan kontrak kerja dengan Putra Company.


Terjawab sudah, kenapa saham Putra Company kembali merangkak


naik, dan kontrak kerja Putra Company kembali.


Maureen menghela nafas panjang. Dia masih ragu, apakah


rencananya nanti akan berjalan mulus.


Maureen berharap semua akan sesuai rencana. Maureen


berencana jika sudah pulang nanti, akan kembali langsung ke hotel miliknya,


setelah itu baru esok harinya Maureen akan langsung menuju kantor. Mauren ingin


menyelesaikan semuanya sekaligus, dihadapan Rayen dan Vivi. Maureen ingin


secepatnya semua kembali seperti biasa. Lelah rasanya harus memendam rasa


bersalah.


Maureen bergegas keluar kamar. Ia menuju ke kamar dimana


sekretaris Zhang menginap.


“Sekretaris Zhang, buka pintunya.”


“Iya, Ibu Presdir. Saya tengah mempersiapkan kepulangan


Presdir hari ini,” kata sekretaris Zhang sambil membuka pintu dan


mempersilahkan Maureen masuk.


“Apakah semua sudah siap?”


“Sudah Presdir, jam berapa kita berangkat.” Tanya sekretaris


Zhang.


“Sebentar lagi kita ke bandara. Saya sudah meminta staf


untuk mengurus keberangkatan kita,” kata Maureen.


“Baiklah Ibu Presdir.”


Dan benar saja, sebentar kemudian mobil staf perusahaan


milik Maureen sudah siap menjemput Maureen ke bandara. Maureen sengaja


menggunakan fasilitas pesawat pribadi untuk penerbangan ini, karena dia ingin


efisiensi waktu. Maureen ingin, minggu malam sudah ada di Jakarta, sehingga


rencananya untuk menyelesaikan masalah hari senin tidak tertunda.


Mobil sport special yang memang khusus dipersiapkan jika


Maureen meninjau perusahaannya di New York melaju meyibak ramainya jalanan


ibukota Negara adikuasa ini. Kondisi jalanan yang bagus dan kepatuhan pengguna

__ADS_1


lalulintas memperlancar perjalanan Maureen menuju bandara. Meski situasi


lalulintas hari itu padat, namun karena setiap pengendara sangat mematuhi


peraturan , maka arus lalu lintas pun berjalan lancar.


Seperempat jam menyusuri jalanan ibukota Amerika Serikat,


dari hotel tempat Maureen beristirahat, akhirnya mereka sampai di bandara.


Tepat waktu, dua puluh menit lagi pesawat milik Maureen saatnya untuk take off.


Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya tiba saat pesawat


yang ditumpangi Maureen take off. Ya, saatnya Maureen meninggalkan negeri paman


Sam, bertolak ke tanah air.


.


.


Kita tinggalkan sejenak perjalanan Maureen ke tanah air. Kita


tengok dulu yang lagi galau, lagi sedih, dan lagi bingung. Siapa lagi kalo


bukan Presdir Putra Company, Rayen.


Hari itu Rayen sedang sibuk untuk menghandel semua tugas Vivid


an juga mengerjakan tugas dia sendiri. Sungguh bukan pekerjaan yang ringan. Belum


lagi, pikirannya harus berbagi dengan istrinya yang sampai saat ini belum bisa


dihubungi.


“Sial, amburadul semua pekerjaanku dalam dua hari ini. Saham


yang anjlok, kontrak kerja yang dicancel, yang masih dalam peninjauan, belum


lagi soal beberapa media local yang setiap saat setiap waktu memburu untuk


mengorek berita demi popularitas medianya” gerutu Rayen dalam hati.


super sibuk dan belum tentu ketemu setiap hari, mungkin hidupnya akan enak. Istri


yang mengurus rumah tangga, mengurus anak dan suaminya ketika pulang kerja. Ah,


kenapa kamu ngelantur Rayen? Ada apa dengan dirimu… Bukankah kamu sudah punya


segalanya. Istri cantik, kaya, punya jabatan tinggi. Berhentilah mengigau


Rayen, hadapi kenyataan.


Seandainya Vivi ada disini, dia pasti bisa mengatasi semua


ini. Ahay, kenapa Rayen tidak berfikir kesitu sedari tadi? Bukankah selama ini


Rayen mempercayakan hampir semua urusan perusahaan kepada dia. Kenapa tidak


mencoba menelpon kembali Vivi, barangkali HP nya sudah aktif.


Diraihnya ponsel baru yang barusan dikirim oleh staf


perusahaannya kemarin. Ya, ponselnya kemarin hancur gara gara dia kesal. Dicarinya


nomer Vivi, sekretaris kepercayaannya.


Tut….. tut…… tut……


Terdengar nada tersambung. Ah, sudah aktif rupanya HP si


Vivi.


“Selamat siang Pak Presdir, ada yang bisa saya bantu?”


terdengar suara yang tidak asing lagi bagi Rayen, ya suara Vivi di ujung


telepon.


“Eh, Vivi. Bagaimana kabarmu, beberapa hari nomermu

__ADS_1


kuhubungi tidak bisa,” kata Rayen memulai pembicaraan.


“Kabar saya baik Pak Presdir, maaf saya agak kurang enak


badan, jadi HP sengaja saya matikan,” jelas Vivi.


“O, syukurlah jika begitu. O iya Vi, apakah Ibu Maureen ada


menghubungi kamu?” Tanya Rayen.


“O, iya Pak Presdir, kemarin Ibu Presdir sempat menghubungi


saya. Beliau meminta saya untuk masuk kerja mulai besuk Senin,” jawab Vivi.


“Benarkah? Lalu dimana Ibu sekarang Vi?” Tanya Rayen.


“Maaf Pak Presdir, Ibu Presdir tidak mengatakan beliau ada


dimana, cuma minta saya untuk kembali bekerja mulai hari Senin. Dan beliau juga


minta maaf atas kesalah fahaman beliau selama ini” jawab Vivi.


“OK lah jika begitu, kebetulan hari ini sangat banyak tugas


perusahaan. Saya tidak mungkin mengcover semua, saya masih harus memikirkan


Maureen. Sampai saya tahu keberadaannya. Coba kamu buka langsung dari situ Vi,


banyak kolega yang harus kontrak ulang karena peristiwa kemarin,” jelas Rayen.


“Baiklah pak, akan saya coba untuk  mempersiapkan file dan membuat kontrak baru


untuk kolega yang perlu memperbarui kontrak,” kata Vivi


“Terima kasih Vi. Selamat bekerja” kata Rayen


“Baik Pak Presdir. Selamat beristirahat,” jawab Vivi sambil


menutup telepon.


Rayen menghela nafas panjang. Dia sedikit bisa bernafas


lega. Setidaknya walaupun dia belum mengetahui keberadaan Maureen, tapi jika


sudah menelepon Vivid an meminta maaf, artinya Maureen menyadari bahwa


tuduhannya salahdan percaya bahwa antara Rayen dan Vivi tidak ada hubungan


apapun selain atasan dan bawahan.


Dari jauh Bi Minah kelihatan membawa secangkir kopi,


kemudian meletakkan di meja dekat Rayen.


“Kopinya Tuan Rayen?”


“Iya Bi Minah. Terima kasih” kata Rayen


“Iya Tuan. Sama-sama” jawab Bi Minah.


Setelah menyeruput kopi sedikit, Rayen kembali tenggelam


dengan pekerjaannya. Ya, sungguh hari yang sangat melelahkan.


Akankah hari ini segera berlalu?


Bagaimana dengan perjalanan Maureen dan rencananya, akankah


berjalan mulus?


Apakah Vivi akan mampu membantu Rayen menstabilkan kendali


roda Putra Company?


.


.


.


Sabar ya

__ADS_1


Nantikan episode selanjutnya


Selamat malam.


__ADS_2