
Hari itu Maureen sengaja datang ke kantor agak siang, Maureen
ingin meluangkan waktunya untuk istirahat. Dan entah kenapa, tiba tiba dia
sangat ingin bertemu Chika. Ya Chika, seorang teman yang sudah membantunya
menjadi pribadi yang elegan. Lama tidak berkomunikasi, sayangnya nomer hp Chika
tidak bisa dihubungi.
Sampai di kantor, Maureen segera menandatangani berkas
kontrak yang disodorkan oleh sekretaris Zhang. Dari sekretarisnya, Maureen mengetahui
jika saham KSM Group sudah kembali stabil.
Setelah menyelesaikan beberapa tugas perusahaan siang ini, Maureen
berniat untuk pulang agak cepat. Maureen ingin ke rumah sahabatnya, Chika
Suroso. Maureen ingin berbagi cerita, sekaligus ingin mengetahui kabar dari
sahabatnya ini. Bukankah setelah menikah sangat jarang sekali mereka bertemu. Apakah
Chika bahagia, dan apa yang dilakukan Chika saat ini?
Semua pertanyaan itu berhimpitan di pikiran Maureen.
Maureen juga ingin minta pendapatnya soal wanita karir. Bagaimana
tanggapan Chika soal dirinya, yang harus mengurusi perusahaan besar sekelas KSM
Group.
Maureen menyadari, jika selama ini Maureen lebih banyak
fokus pada masalah perusahaan. Maureen ingin minta pendapat Chika, apa yang
harus Maureen lakukan. Walaupun Chika bukan seorang Presdir, tapi Chika adalah
seorang wanita. Dan pasti dia tahu apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang
wanita, seorang istri.
Mobil Maureen keluar dari kantornya sekitar pukul 2 siang. Mobil
itu terus meluncur menuju perumahan elit yang tidak terlalu jauh dari Jakarta, sekitar
2 jam perjalanan. Maureen mengarahkan mobilnya menuju rumah Chika.
Setelah menikah, Chika memang memilih rumah agak di
pinggiran kota. Kata Chika, biar nanti anaknya bisa beradaptasi jika kelak
hidup di pedesaan. Waktu itu Maureen tertawa mendengar kata kata Chika. Dan ternyata,
waktu berjalan sangat cepat. Hari ini dia sudah mengandung. Ah, betapa cepatnya
roda berputar.
Maureen mengamati alamat yang ada di dashboard mobilnya. Ya,
tinggal beberapa rumah lagi, nomer 78A, tepatnya Chika tinggal.
Maureen menghentikan mobilnya tepat didepan rumah yang tidak
terlampau besar, tapi tertata rapid an bersih. Ah, Chika memang serba bisa
kalau urusan tata menata.
Maureen kemudian turun dari mobilnya, dan menuju ke pagar
__ADS_1
depan rumah itu. Nampak tulisan BEL dipagar. Kemudian Maureen memencet bel.
Tak berapa lama, terlihat sosok manis keluar dari dalam
rumah. Sosok yang sudah tidak asing lagi bagi Maureen. Dialah Chika Suroso, si
centil yang selalu bikin heboh kampus. Eh, kok perutnya buncit. Wah ternyata si
Chika curang. Dia sudah hamil duluan sebelum Maureen.
“Hai, selamat sore Ibu Presdir KSM Group yang terhormat,
mimpi apa semalam, mau berkunjung ke gubuk reyot ini? Hahaha……” ledek Chika
pada Maureen.
“Eh, awas ya. Berani ngeledek, ku cubit habis kamu nanti……”
sahut Maureen sambil bersungut sungut.
“Hahaha….. iya iya, ibu Presdir. Silahkan masuk”
“Eh, suamimu belum pulang ya Chik?”
“ Belum, paling pulangnya nanti hampir malam. Karena katanya
tadi ada acara kantor yang sangat penting dan selesainya sudah hampir malam. Maklumlah
Reen, cuma bawahan yang harus nurut sama atasan” kata Chika.
“Tapi ternyata enak jadi bawahan lo Chik. Tidak pusing. Kalau
atasan mah semua harus dipikir. Hhh…..”
“O, iya, mau minum apa nih? Kopi apa teh hangat?”
“Teh saja lah Chik. Katanya bagus untuk kesehatan.”
Maureen duduk di kursi sambil memperhatikan ruang tamu rumah
Chika. Diam diam Maureen mengakui jika Chika memang luar biasa. Apa mungkin ada
“Silahkan diminum Ibu Presdir…..”
“Mulai deh, ngeledek lagi.”
“Ah, endak. Kan memang Ibu Presdir. O iya, bagaimana kabar
kamu Reen.”
“Kabar baik. Kamu kok ndak bilang bilang Chik, jika kamu
hamil? Sudah berapa bulan?”
“Baru jalan bulan keempat Reen, karena tubuh gue kecil, jadi
gampang kelihatan. Kamu juga sudah hamil kan?” Tanya Chika.
“Iya Chik. Tapi baru jalan beberapa minggu ini”
“O, baguslah kalau begitu”
“Kita jalan yo Chik, makan makan kek, kemana gitu? Ada banyak
yang ingin kubicarakan sama kamu”
“Ndak usahlah Reen. Disini saja, lagian ndak ada yang suruh
jaga rumah. Saya sengaja tidak pengin ada pembantu, biar bisa banyak bergerak,
sekalian untuk olahraga. Nanti kalau sudah jalan bulan ketujuh, baru nyari
pembantu.” Kata Chika.
“Ah, benarkah ini? Chika Suroso tukang belanja tas branded,
__ADS_1
hari ini tidak punya pembantu dan tidak mau diajak ke mall atau restoran?” Tanya
Maureen kaget melihat perubahan 180 derajat dari Chika.
“Iya Chika, kedewasaan menyadarkan aku tentang arti
kehidupan. Banyak yang dulu kita tidak tahu, ketika sudah berumah tangga
menjadi tahu. Ternyata tanggung jawab seorang istri demikian besar. Bukan hanya
kepada suami, tapi juga kepada anak anak kita nantinya”
“Nah, inilah yang ingin kubicarakan sama kamu Chik. Mungkin orang
mengira kehidupanku sangat bahagia. Semua serba cukup. Punya perusahaan banyak,
harta berlimpah. Tapi Chik, kami seakan akan terpisah. Aku dan Rayen hanya
bertemu sekilas saja, itupun kadang sudah sama sama capek. Belum perusahaanku
yang ada di New York. Kadang butuh waktu berminggu minggu disana. Belum lagi
ayah sudah beranjak tua, ah semua betul betul penuh drama” kata Maureen.
Chika mendengarkan dengan seksama cerita dari Maureen. Hatinya
sebenarnya sedih. Apa yang dilihatnya, ternyata tidak sam dengan kenyataannya. Ingatan
Chika melayang kemana mana. Dia ingat seorang tuna wisma yang dia temui saat
baru saja menikah, yang menyadarkannya akan arti kehidupan. Ya mereka tidak
punya rumah, bahkan untuk makan saja harus mencari dulu baru bisa makan. Setelah
itu, entah apa yang akan dimakan nanti juga belum tahu. Tapi ketika mendapati
sepotong karton, dengan mudahnya dia rebahkan tubuhnya disitu. Selimutnya awan
dilangit, temannya nyamuk nyamuk malam. Tapi bisa terlelap sampai pagi.
“Hei….. Chika sayang, aku minta pendapatmu……” teriak Maureen
membuyarkan lamunan Chika.
“Semua butuh proses Reen. Kamu tahu siapa aku sebelumnya
siapa. Penggemar barang barang branded. Jika tidak bermerk siapa yang mau. Hari
ini kamu kaget kan lihat Chika yang sekarang. Tapi semua itu bisa terjadi jika
kita sudah bisa memahami arti kehidupan. Ibarat sebuah cabe dan sebuah tomat. Sama
sama merah, tapi yang satu berasa manis, yang satu berasa pedas. Jika dimakan
satu persatu tak ada rasa nikmat. Tapi jika jadi sambal, mereka saling
melengkapi. Dan itulah hidup. Ternyata tidak harus miskin jika ingin hidup
sederhana. Dan tidak harus kaya jika ingin bahagia.” Jelas Chika.
“Heh, sahabatku ternyata jadi sangat arif dan bijkasana
sekarang” puji Maureen.
“Eh, jangan ngeledek. Tuh sudah sore, pulang dulu sana. Nanti
kalau kamu punya waktu, akan kutunjukkan siapa orang yang sudah bisa membuat
aku seperti ini” kata Chika.
“Benar ya Chik. Aku pengin seperti kamu. Bahagia dan bisa
menikmati kehidupan.”
Maureen kemudian pamit untuk pulang. Dan dia berjanji akan
__ADS_1
datang kembali untuk menagih janji Chika, menunjukkan siapa yang dapat merubah
Chika yang dulu menjadi Chika yang sekarang……