Dari Cupu Jadi Ratu

Dari Cupu Jadi Ratu
Musim Ke Tiga Bag 2


__ADS_3

 


 


Hari itu Maureen sengaja datang ke kantor agak siang, Maureen


ingin meluangkan waktunya untuk istirahat. Dan entah kenapa, tiba tiba dia


sangat ingin bertemu Chika. Ya Chika, seorang teman yang sudah membantunya


menjadi pribadi yang elegan. Lama tidak berkomunikasi, sayangnya nomer hp Chika


tidak bisa dihubungi.


Sampai di kantor, Maureen segera menandatangani berkas


kontrak yang disodorkan oleh sekretaris Zhang. Dari sekretarisnya, Maureen mengetahui


jika saham KSM Group sudah kembali stabil.


Setelah menyelesaikan beberapa tugas perusahaan siang ini, Maureen


berniat untuk pulang agak cepat. Maureen ingin ke rumah sahabatnya, Chika


Suroso. Maureen ingin berbagi cerita, sekaligus ingin mengetahui kabar dari


sahabatnya ini. Bukankah setelah menikah sangat jarang sekali mereka bertemu. Apakah


Chika bahagia, dan apa yang dilakukan Chika saat ini?


Semua pertanyaan itu berhimpitan di pikiran Maureen.


Maureen juga ingin minta pendapatnya soal wanita karir. Bagaimana


tanggapan Chika soal dirinya, yang harus mengurusi perusahaan besar sekelas KSM


Group.


Maureen menyadari, jika selama ini Maureen lebih banyak


fokus pada masalah perusahaan. Maureen ingin minta pendapat Chika, apa yang


harus Maureen lakukan. Walaupun Chika bukan seorang Presdir, tapi Chika adalah


seorang wanita. Dan pasti dia tahu apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang


wanita, seorang istri.


Mobil Maureen keluar dari kantornya sekitar pukul 2 siang. Mobil


itu terus meluncur menuju perumahan elit yang tidak terlalu jauh dari Jakarta, sekitar


2 jam perjalanan. Maureen mengarahkan mobilnya menuju rumah Chika.


Setelah menikah, Chika memang memilih rumah agak di


pinggiran kota. Kata Chika, biar nanti anaknya bisa beradaptasi jika kelak


hidup di pedesaan. Waktu itu Maureen tertawa mendengar kata kata Chika. Dan ternyata,


waktu berjalan sangat cepat. Hari ini dia sudah mengandung. Ah, betapa cepatnya


roda berputar.


Maureen mengamati alamat yang ada di dashboard mobilnya. Ya,


tinggal beberapa rumah lagi, nomer 78A, tepatnya Chika tinggal.


Maureen menghentikan mobilnya tepat didepan rumah yang tidak


terlampau besar, tapi tertata rapid an bersih. Ah, Chika memang serba bisa


kalau urusan tata menata.


Maureen kemudian turun dari mobilnya, dan menuju ke pagar

__ADS_1


depan rumah itu. Nampak tulisan BEL dipagar. Kemudian Maureen memencet bel.


Tak berapa lama, terlihat sosok manis keluar dari dalam


rumah. Sosok yang sudah tidak asing lagi bagi Maureen. Dialah Chika Suroso, si


centil yang selalu bikin heboh kampus. Eh, kok perutnya buncit. Wah ternyata si


Chika curang. Dia sudah hamil duluan sebelum Maureen.


“Hai, selamat sore Ibu Presdir KSM Group yang terhormat,


mimpi apa semalam, mau berkunjung ke gubuk reyot ini? Hahaha……” ledek Chika


pada Maureen.


“Eh, awas ya. Berani ngeledek, ku cubit habis kamu nanti……”


sahut Maureen sambil bersungut sungut.


“Hahaha….. iya iya, ibu Presdir. Silahkan masuk”


“Eh, suamimu belum pulang ya Chik?”


“ Belum, paling pulangnya nanti hampir malam. Karena katanya


tadi ada acara kantor yang sangat penting dan selesainya sudah hampir malam. Maklumlah


Reen, cuma bawahan yang harus nurut sama atasan” kata Chika.


“Tapi ternyata enak jadi bawahan lo Chik. Tidak pusing. Kalau


atasan mah semua harus dipikir. Hhh…..”


“O, iya, mau minum apa nih? Kopi apa teh hangat?”


“Teh saja lah Chik. Katanya bagus untuk kesehatan.”


Maureen duduk di kursi sambil memperhatikan ruang tamu rumah


Chika. Diam diam Maureen mengakui jika Chika memang luar biasa. Apa mungkin ada


“Silahkan diminum Ibu Presdir…..”


“Mulai deh, ngeledek lagi.”


“Ah, endak. Kan memang Ibu Presdir. O iya, bagaimana kabar


kamu Reen.”


“Kabar baik. Kamu kok ndak bilang bilang Chik, jika kamu


hamil? Sudah berapa bulan?”


“Baru jalan bulan keempat Reen, karena tubuh gue kecil, jadi


gampang kelihatan. Kamu juga sudah hamil kan?” Tanya Chika.


“Iya Chik. Tapi baru jalan beberapa minggu ini”


“O, baguslah kalau begitu”


“Kita jalan yo Chik, makan makan kek, kemana gitu? Ada banyak


yang ingin kubicarakan sama kamu”


“Ndak usahlah Reen. Disini saja, lagian ndak ada yang suruh


jaga rumah. Saya sengaja tidak pengin ada pembantu, biar bisa banyak bergerak,


sekalian untuk olahraga. Nanti kalau sudah jalan bulan ketujuh, baru nyari


pembantu.” Kata Chika.


“Ah, benarkah ini? Chika Suroso tukang belanja tas branded,

__ADS_1


hari ini tidak punya pembantu dan tidak mau diajak ke mall atau restoran?” Tanya


Maureen kaget melihat perubahan 180 derajat dari Chika.


“Iya Chika, kedewasaan menyadarkan aku tentang arti


kehidupan. Banyak yang dulu kita tidak tahu, ketika sudah berumah tangga


menjadi tahu. Ternyata tanggung jawab seorang istri demikian besar. Bukan hanya


kepada suami, tapi juga kepada anak anak kita nantinya”


“Nah, inilah yang ingin kubicarakan sama kamu Chik. Mungkin orang


mengira kehidupanku sangat bahagia. Semua serba cukup. Punya perusahaan banyak,


harta berlimpah. Tapi Chik, kami seakan akan terpisah. Aku dan Rayen hanya


bertemu sekilas saja, itupun kadang sudah sama sama capek. Belum perusahaanku


yang ada di New York. Kadang butuh waktu berminggu minggu disana. Belum lagi


ayah sudah beranjak tua, ah semua betul betul penuh drama” kata Maureen.


Chika mendengarkan dengan seksama cerita dari Maureen. Hatinya


sebenarnya sedih. Apa yang dilihatnya, ternyata tidak sam dengan kenyataannya. Ingatan


Chika melayang kemana mana. Dia ingat seorang tuna wisma yang dia temui saat


baru saja menikah, yang menyadarkannya akan arti kehidupan. Ya mereka tidak


punya rumah, bahkan untuk makan saja harus mencari dulu baru bisa makan. Setelah


itu, entah apa yang akan dimakan nanti juga belum tahu. Tapi ketika mendapati


sepotong karton, dengan mudahnya dia rebahkan tubuhnya disitu. Selimutnya awan


dilangit, temannya nyamuk nyamuk malam. Tapi bisa terlelap sampai pagi.


“Hei….. Chika sayang, aku minta pendapatmu……” teriak Maureen


membuyarkan lamunan Chika.


“Semua butuh proses Reen. Kamu tahu siapa aku sebelumnya


siapa. Penggemar barang barang branded. Jika tidak bermerk siapa yang mau. Hari


ini kamu kaget kan lihat Chika yang sekarang. Tapi semua itu bisa terjadi jika


kita sudah bisa memahami arti kehidupan. Ibarat sebuah cabe dan sebuah tomat. Sama


sama merah, tapi yang satu berasa manis, yang satu berasa pedas. Jika dimakan


satu persatu tak ada rasa nikmat. Tapi jika jadi sambal, mereka saling


melengkapi. Dan itulah hidup. Ternyata tidak harus miskin jika ingin hidup


sederhana. Dan tidak harus kaya jika ingin bahagia.” Jelas Chika.


“Heh, sahabatku ternyata jadi sangat arif dan bijkasana


sekarang” puji Maureen.


“Eh, jangan ngeledek. Tuh sudah sore, pulang dulu sana. Nanti


kalau kamu punya waktu, akan kutunjukkan siapa orang yang sudah bisa membuat


aku seperti ini” kata Chika.


“Benar ya Chik. Aku pengin seperti kamu. Bahagia dan bisa


menikmati kehidupan.”


Maureen kemudian pamit untuk pulang. Dan dia berjanji akan

__ADS_1


datang kembali untuk menagih janji Chika, menunjukkan siapa yang dapat merubah


Chika yang dulu menjadi Chika yang sekarang……


__ADS_2