Dari Cupu Jadi Ratu

Dari Cupu Jadi Ratu
Musim Ke Tiga Bag 22


__ADS_3

 


 


Rayen berangkat ke kantor lebih awal pagi ini. Dia ingin


menyelesaikan pekerjaannya di Putra Company secepat mungkin. Tentu saja ini


dikarenakan dia makin penasaran dengan apa yang terjadi di tubuh KSM group. Mungkinkah


perusahaan sebesar KSM Group bisa dengan mudah mengalami defisit neraca


keuangan tanpa sebab yang jelas.


Sampai di kantor, Rayen mendapati Silvi dan Vivi sudah ada


di meja kerjanya masing masing. Dua orang yang selama ini sangat setia mengawal


perjalanan Putra Company mengatasi keterpurukannya selama ini, sampai kemudian


perlahan bisa bangkit dan mendapat kepercayaan kembali dari dunia usaha di


Jakarta dan di manca Negara.


“Vi, apakah pesanan saya yang kemarin sudah kamu siapkan?” Tanya


Rayen.


“Sudah pak Presdir. Sudah saya siapkan. Tadi setiba saya di


kantor, saya langsung pesan ke restoran untuk menu sarapan pagi Bapak Presdir. Semua


sudah saya siapkan di ruangan sebelah ruang kerja Bapak Presdir” kata


sekretaris Vivi.


“O, ya? Terima kasih Vi ya? Apa kamu dan Silvi juga sudah


sarapan? Dijaga kondisi badannya ya, pola makan dijaga. Banyak sekali pekerjaan


yang menungu kita kerjakan di minggu minggu dekat ini. Beberapa kolega dari


manca Negara juga sudah mulai menjalin kerjasama. Mudah mudahan dalam waktu


dekat, Putra Company sudah bisa sejajar dengan perusahaan perusahaan lain yang


sudah lebih dulu maju” kata Rayen.


“Siap Pak Presdir. Kami akan berusaha membantu Putra Company


untuk mendukung perusahaan ini lebih maju lagi. Dan itu sudah menjadi kewajiban


kami dan loyalitas kami sebagai karyawan disini Pak Presdir” kata Vivi


“Iya Pak Presdir, kami tadi juga baru saja sarapan bersama


disini. Kebetulan tadi Vivi membawa Gudeg buatan ibunya, dan ternyata rasanya


luar biasa Pak. Saya sampai nambah dua kali, padahal biasanya mau menghabiskan


satu piring saja sudah susah” kata Silvi menambahkan apa yang dikatakan


sekretaris Vivi.


“O, ya? Boleh dong saya minta sedikit? Saya ingin merasakan


masakan khas Jawa, mana itu….. Jogya ya. Siapa tahu masakan khas tradisional


rasanya malah lebih enak disbanding dengan masakan chief dari restoran bintang


lima. Biasanya kadang yang membedakan itu Cuma tempat, masalah rasa kadang


lebih istimewa yang dari khas tradisional” kata Rayen yang sepertinya sangat


tertarik untuk mencicipi masakan dari ibunya Vivi.


“Wah, maaf Pak Presdir. Tinggal sedikit, apalagi ini hanya


masakan kampong Pak, Bapak sudah saya pesankan makanan di ruangan Bapak” kata

__ADS_1


Vivi


“Tidak apa apa. Saya ingin mencicipi masakan khas daerah


kamu Vi. Siapa tahu nanti bisa dkembangkan menjadi makanan favorit di restoran


jika suatu saat Putra Company mengembangkan bisnis dibidang kuliner. Nanti tolong


diantar ke tempat saya ya?” kata Rayen sambil bergegas menuju ke meja kerjanya.


Vivi menjadi kebingungan. Gudeg yang tersisa tinggal


sedikit. Dia tidak menyangka jika Bos besarnya, yaitu Presdir Putra Company


ingin mencicipi masakan khas kampungnya. Memang Vivi berasal dari Jawa. Tepatnya


Jogyakarta. Karena ayahnya sudah meninggal, dan dia Cuma tinggal berdua dengan


ibunya, setelah mendapatkan pekerjaan sebagai sekretaris di Putra Company,


ibunya diajak turut serta tinggal di Jakarta.


“Waduh ini gimana Sil? Kan gudegnya tinggal sedikit? Gimana kita


mau ngasih sama Pak Presdir? Kan malu? Masa Bapak Presdir kita kasih segini?”kata


Vivi sambil menunjukkan sisa gudeg yang sudah dimakan mereka berdua tadi.


“Ya, mau gimana lagi Bu Vivi, Bapak Presdir sendiri yang


berkenan untuk mencicipi gudeg itu. Jika nanti tidak Ibu kasih, malah nanti Ibu


kena marah sama Pak Presdir kan?” kata Silvi member saran pada atasannya Vivi.


“O, ya sudah kalau begitu. Biar ini saya antar ke ruangannya


Pak Presdir. Kamu teruskan pekerjaan ya Sil. Hari ini Pak Presdir ingin


menyelesaikan pekerjaan di kantor ini lebih cepat. Karena nanti siang beliau


akan ke kantor KSM Group” kata Vivi.


berkas kertas yang sudah menunggu untuk dikerjakan pagi ini.


.


.


.


“Wah, enak sekali gudeg buatan ibu kamu Vi? Sampai sampai


sayur dari restoran yang kamu pesan tadi tidak sempat aku sentuh” kata Rayen


“Aduh, Pak Presdir terlalu berlebihan. Ibu saya hanya orang kampong


Pak. Jadi masakannya Cuma sederhana. Cuma cukup dibuat untuk mengganjal perut


saja” kata Vivi merendah. Dia tidak enak makanan buatan ibunya mendapat pujian


dari atasannya.


“Tidak ko Vi, saya serius nih. Makanan hasil buatan ibumu


tidak kalah dengan masakan dari restoran bintang lima. Apakah ibumu dulu pernah


kursus memasak atau koki di sebuah restoran begitu?” Tanya Rayen.


“Tidak Pak. Ibu saya hanya orang kampong biasa. Dulu waktu


masih dikampung, ibu saya membuka warung kecil kecilan yang menjual makanan


khas Jogya, sayur gudeg. Tapi semenjak saya mendapatkan pekerjaan di Jakarta,


terus beliau ikut ke Jakarta, jadi beliau sekarang bersama saya di rumah” kata


Vivi.


“Wah, ini bisa membuka lapangan kerja baru Vi. Doakan proyek

__ADS_1


kita berhasil Vi. Kita coba mendirikan restoran bintang lima yang menyediakan


makanan khas dari daerah jawa. Saya yakin, ini akan merupakan terobosan baru. Saya


lihat di Jakarta belum banyak restoran bintang lima yang menyediakan maskan


khas tradisional dari daerah daerah. Siapa tahu nanti bisa membuka lapangan


pekerjaan bagi mereka mereka yang saat ini butuh pekerjaan” kata Rayen.


Memang di Jakarta belum banyak restoran bintang lima yang


berani menampilkan masakan khas tradisional dari daerah daerah. Kesan masakan


daerah yang masih dianggap masakan kampong membuat para investor kuliner enggan


berspekulasi. Mereka lebih cenderung memilih menjajakan masakan masakan dari


luar negeri. Mungkin menurut mereka lebih menjanjikan.


.


.


Selesai makan, Rayen kemudian sudah disibukkan dengan


pekerjaannya. Satu demi satu tugas dia kerjakan. Rayen ingin melakukan


sesempurna mungkin. Ini adalah kesempatan emas bagi Putra Company untuk


bangkit. Selagi ada peluang, Rayen tidak ingin menyia nyiakan kesempatan ini. Dia


berharap Putra company mampu segera bangkit dan bangkit.


Diliriknya computer yang ada disampingnya, yang menampilkan


kurs rupiah dan bursa saham dari BEJ ( Bursa Efek Jakarta) dan BES (Bursa Efek


Surabaya). Perdagangan di sesi pagi ini menunjukkan kemajuan yang luar biasa. Saham


Putra Company mengalami kenaikan yang signifikan. Itu artinya, kepercayaan public


bisnis terhadap perusahaannya makin besar.


.


Rayen masih berkutat dengan berkas berkas yang disodorkan


Vivi. Diliriknya jam disampingnya. Sudah mendekati pukul 12.00. masih tersisa 1


berkas yang belum diselesaikan. Rayen bergegas meraih berkas itu. Ada yang special


dari berkas itu. Dari beberapa minggu ini, tawaran kontrak kerjasama berasal


dari perusahaan perusahaan rekanan di bidang industry alat berat, bidang


konstruksi, bidang industry. Tapi ini ada proposal kerjasama dari sebuah


restoran? Wah, ini ide Rayen untuk memasukkan kuliner Jogya ke restoran bintang


lima akan bisa lebih cepat terwujud nih. Pikir Rayen.


Tapi Rayen bukan tipe orang yang gegabah dalam mengambil


keputusan. Berkas proposal ini sementara disimpan dulu. Rayen masih ingin


mengadakan pendalaman terkait restoran yang mengajak kerjasama. Jika misalkan


nanti restoran ini bisa mencoba untuk membuat terobosan untuk member porsi


masakan tradisional, mungkin tawaran ini akan ditanggapi.


.


.


Selesai mengerjakan tugas tugasnya di Putra Company, Rayen


segera memacu mobilnya menembus padatnya jalanan ibukota. Dia menuju ke kantor

__ADS_1


KSM Group.


__ADS_2