
Rayen berangkat ke kantor lebih awal pagi ini. Dia ingin
menyelesaikan pekerjaannya di Putra Company secepat mungkin. Tentu saja ini
dikarenakan dia makin penasaran dengan apa yang terjadi di tubuh KSM group. Mungkinkah
perusahaan sebesar KSM Group bisa dengan mudah mengalami defisit neraca
keuangan tanpa sebab yang jelas.
Sampai di kantor, Rayen mendapati Silvi dan Vivi sudah ada
di meja kerjanya masing masing. Dua orang yang selama ini sangat setia mengawal
perjalanan Putra Company mengatasi keterpurukannya selama ini, sampai kemudian
perlahan bisa bangkit dan mendapat kepercayaan kembali dari dunia usaha di
Jakarta dan di manca Negara.
“Vi, apakah pesanan saya yang kemarin sudah kamu siapkan?” Tanya
Rayen.
“Sudah pak Presdir. Sudah saya siapkan. Tadi setiba saya di
kantor, saya langsung pesan ke restoran untuk menu sarapan pagi Bapak Presdir. Semua
sudah saya siapkan di ruangan sebelah ruang kerja Bapak Presdir” kata
sekretaris Vivi.
“O, ya? Terima kasih Vi ya? Apa kamu dan Silvi juga sudah
sarapan? Dijaga kondisi badannya ya, pola makan dijaga. Banyak sekali pekerjaan
yang menungu kita kerjakan di minggu minggu dekat ini. Beberapa kolega dari
manca Negara juga sudah mulai menjalin kerjasama. Mudah mudahan dalam waktu
dekat, Putra Company sudah bisa sejajar dengan perusahaan perusahaan lain yang
sudah lebih dulu maju” kata Rayen.
“Siap Pak Presdir. Kami akan berusaha membantu Putra Company
untuk mendukung perusahaan ini lebih maju lagi. Dan itu sudah menjadi kewajiban
kami dan loyalitas kami sebagai karyawan disini Pak Presdir” kata Vivi
“Iya Pak Presdir, kami tadi juga baru saja sarapan bersama
disini. Kebetulan tadi Vivi membawa Gudeg buatan ibunya, dan ternyata rasanya
luar biasa Pak. Saya sampai nambah dua kali, padahal biasanya mau menghabiskan
satu piring saja sudah susah” kata Silvi menambahkan apa yang dikatakan
sekretaris Vivi.
“O, ya? Boleh dong saya minta sedikit? Saya ingin merasakan
masakan khas Jawa, mana itu….. Jogya ya. Siapa tahu masakan khas tradisional
rasanya malah lebih enak disbanding dengan masakan chief dari restoran bintang
lima. Biasanya kadang yang membedakan itu Cuma tempat, masalah rasa kadang
lebih istimewa yang dari khas tradisional” kata Rayen yang sepertinya sangat
tertarik untuk mencicipi masakan dari ibunya Vivi.
“Wah, maaf Pak Presdir. Tinggal sedikit, apalagi ini hanya
masakan kampong Pak, Bapak sudah saya pesankan makanan di ruangan Bapak” kata
__ADS_1
Vivi
“Tidak apa apa. Saya ingin mencicipi masakan khas daerah
kamu Vi. Siapa tahu nanti bisa dkembangkan menjadi makanan favorit di restoran
jika suatu saat Putra Company mengembangkan bisnis dibidang kuliner. Nanti tolong
diantar ke tempat saya ya?” kata Rayen sambil bergegas menuju ke meja kerjanya.
Vivi menjadi kebingungan. Gudeg yang tersisa tinggal
sedikit. Dia tidak menyangka jika Bos besarnya, yaitu Presdir Putra Company
ingin mencicipi masakan khas kampungnya. Memang Vivi berasal dari Jawa. Tepatnya
Jogyakarta. Karena ayahnya sudah meninggal, dan dia Cuma tinggal berdua dengan
ibunya, setelah mendapatkan pekerjaan sebagai sekretaris di Putra Company,
ibunya diajak turut serta tinggal di Jakarta.
“Waduh ini gimana Sil? Kan gudegnya tinggal sedikit? Gimana kita
mau ngasih sama Pak Presdir? Kan malu? Masa Bapak Presdir kita kasih segini?”kata
Vivi sambil menunjukkan sisa gudeg yang sudah dimakan mereka berdua tadi.
“Ya, mau gimana lagi Bu Vivi, Bapak Presdir sendiri yang
berkenan untuk mencicipi gudeg itu. Jika nanti tidak Ibu kasih, malah nanti Ibu
kena marah sama Pak Presdir kan?” kata Silvi member saran pada atasannya Vivi.
“O, ya sudah kalau begitu. Biar ini saya antar ke ruangannya
Pak Presdir. Kamu teruskan pekerjaan ya Sil. Hari ini Pak Presdir ingin
menyelesaikan pekerjaan di kantor ini lebih cepat. Karena nanti siang beliau
akan ke kantor KSM Group” kata Vivi.
berkas kertas yang sudah menunggu untuk dikerjakan pagi ini.
.
.
.
“Wah, enak sekali gudeg buatan ibu kamu Vi? Sampai sampai
sayur dari restoran yang kamu pesan tadi tidak sempat aku sentuh” kata Rayen
“Aduh, Pak Presdir terlalu berlebihan. Ibu saya hanya orang kampong
Pak. Jadi masakannya Cuma sederhana. Cuma cukup dibuat untuk mengganjal perut
saja” kata Vivi merendah. Dia tidak enak makanan buatan ibunya mendapat pujian
dari atasannya.
“Tidak ko Vi, saya serius nih. Makanan hasil buatan ibumu
tidak kalah dengan masakan dari restoran bintang lima. Apakah ibumu dulu pernah
kursus memasak atau koki di sebuah restoran begitu?” Tanya Rayen.
“Tidak Pak. Ibu saya hanya orang kampong biasa. Dulu waktu
masih dikampung, ibu saya membuka warung kecil kecilan yang menjual makanan
khas Jogya, sayur gudeg. Tapi semenjak saya mendapatkan pekerjaan di Jakarta,
terus beliau ikut ke Jakarta, jadi beliau sekarang bersama saya di rumah” kata
Vivi.
“Wah, ini bisa membuka lapangan kerja baru Vi. Doakan proyek
__ADS_1
kita berhasil Vi. Kita coba mendirikan restoran bintang lima yang menyediakan
makanan khas dari daerah jawa. Saya yakin, ini akan merupakan terobosan baru. Saya
lihat di Jakarta belum banyak restoran bintang lima yang menyediakan maskan
khas tradisional dari daerah daerah. Siapa tahu nanti bisa membuka lapangan
pekerjaan bagi mereka mereka yang saat ini butuh pekerjaan” kata Rayen.
Memang di Jakarta belum banyak restoran bintang lima yang
berani menampilkan masakan khas tradisional dari daerah daerah. Kesan masakan
daerah yang masih dianggap masakan kampong membuat para investor kuliner enggan
berspekulasi. Mereka lebih cenderung memilih menjajakan masakan masakan dari
luar negeri. Mungkin menurut mereka lebih menjanjikan.
.
.
Selesai makan, Rayen kemudian sudah disibukkan dengan
pekerjaannya. Satu demi satu tugas dia kerjakan. Rayen ingin melakukan
sesempurna mungkin. Ini adalah kesempatan emas bagi Putra Company untuk
bangkit. Selagi ada peluang, Rayen tidak ingin menyia nyiakan kesempatan ini. Dia
berharap Putra company mampu segera bangkit dan bangkit.
Diliriknya computer yang ada disampingnya, yang menampilkan
kurs rupiah dan bursa saham dari BEJ ( Bursa Efek Jakarta) dan BES (Bursa Efek
Surabaya). Perdagangan di sesi pagi ini menunjukkan kemajuan yang luar biasa. Saham
Putra Company mengalami kenaikan yang signifikan. Itu artinya, kepercayaan public
bisnis terhadap perusahaannya makin besar.
.
Rayen masih berkutat dengan berkas berkas yang disodorkan
Vivi. Diliriknya jam disampingnya. Sudah mendekati pukul 12.00. masih tersisa 1
berkas yang belum diselesaikan. Rayen bergegas meraih berkas itu. Ada yang special
dari berkas itu. Dari beberapa minggu ini, tawaran kontrak kerjasama berasal
dari perusahaan perusahaan rekanan di bidang industry alat berat, bidang
konstruksi, bidang industry. Tapi ini ada proposal kerjasama dari sebuah
restoran? Wah, ini ide Rayen untuk memasukkan kuliner Jogya ke restoran bintang
lima akan bisa lebih cepat terwujud nih. Pikir Rayen.
Tapi Rayen bukan tipe orang yang gegabah dalam mengambil
keputusan. Berkas proposal ini sementara disimpan dulu. Rayen masih ingin
mengadakan pendalaman terkait restoran yang mengajak kerjasama. Jika misalkan
nanti restoran ini bisa mencoba untuk membuat terobosan untuk member porsi
masakan tradisional, mungkin tawaran ini akan ditanggapi.
.
.
Selesai mengerjakan tugas tugasnya di Putra Company, Rayen
segera memacu mobilnya menembus padatnya jalanan ibukota. Dia menuju ke kantor
__ADS_1
KSM Group.