Dari Cupu Jadi Ratu

Dari Cupu Jadi Ratu
Musim Ke Tiga Bag 4


__ADS_3

 


 


Malam itu, Maureen sengaja menunggu Rayen pulang kantor. Maureen


sudah memasak masakan yang istimewa kesukaan Rayen. Dan luar biasanya, masakan Maureen


punya cita rasa yang sangat istimewa bahkan Bi Minah yang biasanya masak untuk


mereka saja, memuji masakan Maureen.


Mobil metallic mengkilap memasuki halaman rumah mewah itu,


siapa lagi kalau bukan Rayen. Setelah menyerahkan kunci mobil pada penjaga agar


memarkir mobil di garasi, Rayen segera masuk ke rumah.


Nampak Maureen dengan senyum yang lebar, bahagia karena


Rayen sudah pulang malam itu.


“Selamat malam sayang, maaf Ray agak telat pulang. Banyak pekerjaan


kantor hari ini”, kata Rayen sembari mencium kening istrinya dengan mesra.


“Ndak apa apa sayang, ini tadi Maureen juga baru saja


selesai memasak. Masakan soesial untuk suami tercinta. Maureen sengaja pulang


cepat hari ini. Biar bisa masak”, kata Maureen.


“O, iya? Pasti masakan istriku sangat lezat. Dari depan tadi


Ray sudah mencium aroma yang luar biasa dari masakan yang dibuat istriku yang


paling cantik”, kata Rayen.


“Ah, kamu dari dulu memang paling pinter ngegombal. Ingat nih,


dah hampir jadi Bapak, kurangi ngegombalnya!!!” kata Maureen.


“Ngegombal ke istri mah sah sah saja kali. Eh, Ray yakin


masakan istriku pasti paling enak. Iya kan Bi?” kata Rayen sambil menoleh pada


Bi Minah yang saat itu sedang berjalan menuju ruang tamu.


“Eh, benar Tuan Rayen. Masakan Nyonya muda memang sangat special.


Bi Minah tadi nyicipin lo, benar benar lezat. Kayak masakan restoran bintang


lima mungkin. Sayangnya Bi Minah belum pernah ke restoran bintang lima”, kata


Bi Minah.


Mendengar kata kata Bi Minah Maureen tersenyum senyum.


“Hahaha… Bi… bibi.. Bi Minah ini ada ada saja. La wong belum


pernah ke restoran bintang lima kok bisa tahu rasanya masakan restoran bintang


lima.” Kata Maureen.


“ya barangkali nyonya?” kata Bi Minah sambil tersenyum malu.


“Baiklah, saya ganti baju dulu, terus kita makan sama sama.”


Kata Rayen sambil melangkah menuju ke kamar untuk berganti pakaian.


Sementara Maureen bergegas ke ruang makan untuk menyiapkan


santap malam untuk mereka berdua.


Suasana yang sudah lama dirindukan Maureen. Makan bersama


suami tercinta. Akhir akhir ini memang sangat jarang mereka bisa berkumpul seperti


ini. Apalagi ketika perusahaan mengalami beberapa masalah, baik masalah


internal maupun dampak dari ekonomi yang kian tidak menentu. Ah, ingin rasanya Maureen


jadi orang biasa saja, jadi istri yang baik untuk suami, jadi ibu dari anak


anaknya. Tidak perlu sangat pusing dalam mengurus perusahaan.


Tak berselang lama, Rayen sudah kembali ke ruang makan


setelah berganti pakaian. Maureen menyiapkan piring untuk Rayen. Dan mereka


berdua makan dengan lahap.


Nampak Rayen sangat menikmati masakan Maureen hari ini. Dalam


hati Rayen, sangat memuji masakan istrinya itu. Luar biasa. Memang benar kata


Bi Minah. Rasa masakan Maureen seperti restoran bintang lima. Delicious, very

__ADS_1


very delicious.


“Maureen This is very delicious. My favorites food. Kamu pintar


sekali membuat masakan sayang.” Puji Rayen pada masakan istrinya.


“Terima kasih sayang, Maureen hanya ingin membuat sesuatu


yang special untuk suami tercinta”, kata Maureen.


“O ya, gimana dengan kandunganmu. Apa dedek bayinya nakal di


kandungan sayang?” Tanya Rayen.


“Ah, ndak kok sayang. Beberapa hari ini sudah jarang merasa


mual mual. Cuma kadang malas saja untuk melakukan sesuatu. Bawaannya pengin


nyantai saja. Jadi kadang Maureen pulang lebih awal dari kantor” kata Maureen.


“Ya, itu kan lebih baik. Jadi Maureen bisa istirahat. Pekerjaan


kantor kan bisa diurus sama sekretaris dan staf, Maureen fokus pada kesehatan


dan buah hati kita”


“Sebenarnya sih maksud Maureen begitu sayang. Tapi kan kalau


tidak dipantau, kita tidak tahu apakah perusahaan berjalan baik baik saja atau


tidak.”


Maureen dan Rayen berbincang bincang mesra, sambil mencicipi


hidangan pencuci mulut malam itu. Banyak hal yang diperbincangkan. Mulai dari


kondisi perusahaan, sampai rencana mereka nanti jika sudah punya anak.


Dari perbincangan itu, Maureen mengetahui bahwa Putra


Company sudah mulai menjalin kerjasama dengan beberapa perusahaan luar negeri. Dan


ternyata untuk mengurusi semua ini Rayen sudah sangat sibuk.


Semula Maureen berencana menyerahkan urusan perusahaan di KSM


Group pada suaminya. Namun ketika mengetahui kesibukan suaminya di Putra


Company, Maureen mengurungkan niatnya. Maureen tidak sampai hati melihat


suaminya terlalu sibuk. Maureen tahu betul seberapa kemampuan suaminya. Maureen


berdiri sendiri, dan tidak perlu menjadi anak perusahaan dari KSM Group.


“O iya sayang, tadi ada titipan dari kawan kawan alumni


kampus. Untuk menyambut Hari Valentine tahun ini, alumni kampus angkatan kita


bakal mengadakan reuni. Gimana sayang, Maureen ikut?”


“Rencananya dimana reuninya sayang?”


“Kalau tidak salah, mau ke Puncak Bogor say. Kata ketua


panitia sih sebenarnya niatnya mau ke luar negeri. Tapi banyak dari alumni


angkatan kita yang sedang hamil. Jadi usulan mereka akhirnya diputuskan untuk


reuni di sekitar Jakarta saja. Gimana?” Tanya Rayen.


“Kalau aman untuk ibu hamil, mungkin Maureen mau ikut


sayang. Tapi tunggu dulu, biar nanti Maureen Tanya dulu sama Chika. Dia mau


ikut apa ndak. Soalnya Chika juga lagi mengandung, bahkan sudah jalan 4 bulan


sayang”.


“Apa? Chika sudah mau punya anak? Kok Maureen ndak bilang


bilang?” Tanya Rayen.


“Waduh, gimana mau bilang. Kamu tiap hari sibuk sibuk dan


sibuk terus?”


“Iya deh. Tapi Rayen sibuk kan juga untuk buah hati kita”.


Obrolan makin hangat dengan rencana reuni dari alumni


angkatan mereka. Akhirnya mereka berdua melanjutkan obrolannya ke dalam kamar. Dan


candaan mereka diselingi dengan cubitan mesra, kecupan mesra, dan mereka


bermesraan sampai pagi.


.

__ADS_1


.


Kring… kring…. Kring……


Alarm diatas meja di kamar Maureen entah sudah berapa puluh


kali bordering. Tapi Rayen dan Maureen masih tertidur pulas dalam satu selimut.


Rupanya mereka kecapekan bermesraan semalam.


Tiba tiba Rayen menggeliat. Dia sudah terbangun. Jam berapa


ini pikirnya.


Betapa kagetnya, ketika diliriknya jam dinding.


“Astaga, sudah jam 8.00”


Diliriknya istrinya masih terlelap tidur. Rayen sengaja


tidak sampai hati membangunkan Maureen. Rayen kemudian menuju kamar mandi,


membersihkan diri dan bersiap siap untuk menuju ke kantor.


Saat Rayen sudah selesai bersiap siap, saat itulah Maureen kelihatan


menggeliat bangun.


“Ah, sudah siang sayang? Kok ndak dibangunin sih?”


“Iya sayang, Rayen harus ke kantor pagi ini. Banyak pekerjaan,


Maureen gimana? Nanti ke kantor apa ndak?” Tanya Rayen


“Ndak sayang. Kemarin Maureen sudah menyuruh sekretaris


Zhang untuk mengurus jadwal hari ini. Sedang yang penting saya suruh cancel


untuk dikerjakan besuk. Rencananya Maureen akan ke tempat Chika. Ingin tahu


apakah Chika ikut reuni apa tidak?”


“O, ya sudah. Kalau begitu Rayen berangkat dulu ya sayang? Baik


baik di rumah. Jaga dedek dalam kandungan.”


“Iya sayang, pasti.”


Rayen bergegas melangkah ke depan. Nampak seprang karyawan


sudah siap di halaman dengan sebuah mobil. Kemudian dimenyerahkan kunci


mobilnya pada Rayen. Sejurus kemudian, mobil itu sudah berbaur dengan riuhnya


jalanan ibukota menuju ke kantor Putra Company.


Sementara Maureen setelah mengantarkan suaminya sampai di


pintu depan, kembali ke kamar. Dia masih malas bangun. Maureen masih


membayangkan apa yang dilakukan kemarin sampai hari ini. Ternyata jadi istri


itu bahagia sekali ya?


Sayangnya tuntutan perusahaan membuat Maureen harus jadi


wanita karir yang super sibuk.


Maureen masih berfikir keras. Maureen ingin menjalankan


perusahaan, tapi tidak melupakan tugasnya tugasnya sebagai seorang istri. Maureen


tahu, bahwa ratu dalam rumah tangga itu adalah wanita yang mampu menjaga dan


mengurus suami dan anak anaknya. Ratu sesungguhnya adalah yang mampu


membahagiakan suami dan menjadi ibu dari anak anaknya. Bukan yang sukses dalam


karirnya.


Maureen ingin menjalankan keduanya.


Tapi mampukah? Mampukah Maureen menjadi RATU dalam rumah


tangga, sementara dia juga harus jadi pemimpin di perusahaannya?


Bantu Maureen berfikir dong readers, bagaimana agar Maureen bisa


menjadi istri yang baik tanpa melalaikan perusahaannya.


.


.


Terima kasih readers, selamat mempersiapkan Valentine’s Day.


Siapkan kado special untuk orang orang terkasih anda. Semoga bulan ini menjadi

__ADS_1


bulan kasih sayang bagi kita semua.


__ADS_2