
Setelah bergelut dengan padatnya jalanan ibukota untuk
beberapa waktu. Sampailah Rayen di kantor KSM Group. Dari jauh nampak Maureen yang
masih berkutat dengan berkas berkas yang menumpuk. Rayen sebenarnya sangat
kasihan pada istrinya. Kehamilannya sudah semakin besar, seharusnya sudah
beristirahat. Tapi Rayen pun belum bisa bertindak lebih jauh, karena masih
harus menyelesaikan kontraknya dengan perusahaan Mexico. Mungkin setelah
kontrak kerja ini rampung, dia baru bisa fokus untuk menangani Putra Company
dan KSM Group sekaligus.
“Hai Bunda sayang, gimana sudah selesai apa belum?”Tanya Rayen
setelah sampai di ruang kerja istrinya.
“Sebentar lagi sayang. Aku masih meneliti berkas yang
diberikan Zang tadi. Banyak kejanggalan yang ada di laporan keuangan beberapa
anak perusahaan ini” kata Maureen.
Sebenarnya Rayen sudah mengetahui apa yang dikatakan oleh Maureen.
Sebelum ini, pada saat Maureen berada di Nevada, Rayen sudah mempelajari
keuangan dari KSM Group. Ada beberapa point yang sengaja di mark up untuk
menambah anggaran pada sektor yang kurang diselidiki dan jarang dikontrol. Ini dilakukan
oleh orang yang ahli dalam bidang keuangan. Dan sebenarnya Rayen sudah memiliki
gambaran siapa yang layak sebagai tertuduh dalam hal ini. Namun untuk sementara
Rayen pura pura belum mengerti hal ini, karena Rayen ingin fokus untuk
menyelesaikan kontrak dengan Castillo Company.
“Ya sudah. Kita tinggalkan dulu kerjaan itu, bunda harus
istirahat sayang. Kasihan anak kita” kata Rayen membujuk Maureen untuk pulang.
Akhirnya merekapun pulang dan meninggalkan berkas yang amsih
ada di meja. Sebelum pulang, Maureen meminta sekretaris Zang untuk menyimpan
kembali berkas berkas itu karena mereka harus pulang.
Sekretaris Zang kemudian menyimpan kembali berkas berkas itu
dan beberapa poin yang menjadi catatan Maureen sekaligus akan menjadi tambahan
keterangan untuk melanjutkan penyelidikan yang dilakukan oleh sekretaris Zang.
Mobil Maureen terus bergerak meninggalkan kantor KSM Group,
menuju ke rumahnya. Dalam perjalanan
pulang, Maureen banyak berbicara tentang perusahaannya, beberapa permasalahan
diceritakan kepada suaminya. Karena sebentar lagi, Maureen berniat akan
menyerahkan pimpinan KSM Group untuk sementara waktu pada suaminya itu.
Rayen lebih banyak diam dan mengiyakan saja apa yang
dikatakan istrinya. Pada dasarnya apa yang disampaikan oleh Maureen sebenarnya
sudah diketahui oleh Rayen secara garis besar. Namun Rayen lebih memikirkan
bagaimana caranya menyampaikan rencana kepergiannya ke Mexico bersama Vivi.
Rayen tidak ingin kesalah fahaman mereka terulang kembali. Jangan sampai ada
__ADS_1
babak ke dua yang justru akan memperuncing masalah mereka.
.
.
.
Sesampai di rumah, Bi Minah sudah menyiapkan makanan untuk
makan malam mereka. Maureen merasa agak ogah ogahan untuk makan.
“Ayolah bunda, makannya harus banyak sayang. Kasihan yang
ada perut dong?” bujuk Rayen.
Namun Maureen tetap merajuk. Dia minta disuapin sama
suaminya. Akhirnya Rayen menyuapi istrinya dengan kasih sayang. Sementara Maureen
dengan manja menerima suapan demi suapan dari suaminya. Ah, dunia serasa
bagaikan milik mereka berdua. Yang lain mah pada ngontak kali……..
Selesai makan, mereka duduk santai di serambi depan sambil
menanti secangkir kopi hangat yang dibikinkan oleh Bi Minah. Maureen sengaja
minta dibuatkan teh hangat saja. Kata orang sih, teh lebih bagus bagi kesehatan
janin disbanding kopi atau minuman lain sejenisnya.
Maureen duduk disamping Rayen sambil menyandarkan kepalanya
di bahu bidang milik Rayen. Sungguh suasana malam yang syahdu menambah
kemesraan antara mereka berdua. Seakan takkan terpisahkan oleh apapun
kebersamaan mereka.
“Bunda, boleh ayah ngomong sesuatu?” kata Rayen memulai
pembicaraan
penting yang ingin disampaikan suaminya hingga Rayen harus mengawali apa yang
akan disampaikan dengan sikap kebingungan.
“Ada apa Ray sayang. Katakan saja, tidak usah bingung. Aku akan
mendengarkannya” kata Maureen meyakinkan suaminya.
Kemudian Rayen mengeluarkan selembar kertas dari balik
kantong bajunya. Telegram? Maureen agak terkejut. Tapi sebelumnya Maureen sudah
mendengar jika dalam beberapa hari mendatang ada perusahaan asing yang ingin
mengundang Rayen untuk penandatangan kontrak yang nilainya fantastis.
“Ini tadi aku dapat telegram dari Castello Company Bun. Bunda
silahkan baca sendiri” kata Rayen sambil menyerahkan telegram itu pada
istrinya.
Maureen menerima kertas itu, kemudian membacanya.
Dear
Mr. Rayen. Presdir Putra Company in
Jakarta
Following up on our
collaboration a few months ago, we
look forward to Mr Rayen's presence in our
office as soon as possible. don't
__ADS_1
forget to be with Miss Vivi. From : CASSTILO
COMPANY
Maureen sebenarnya sangat senang
mendengar kabar ini. Namun setelah menbaca surat ini sampai akhir, ada yang
menyesakkan dada. Kenapa sih harus dengan Vivi? Apa mungkin ini yang membuat
Rayen sangat berat untuk berbicara kepadanya? Ah, Rayen. Aku tahu kamu sangat
ingin menjaga perasaan istrimu, aku tahu jika kamu tidak ingin istrimu
berprasangka yang bukan bukan. Tapi ini amat penting bagi masa depan perusahaanmu. Batin Maureen bergejolak.
“Inilah bunda yang membingungkan
aku. Di satu sisi kita sangat membutuhkan kontrak ini. Di sisi lain, mereka
meminta aku datang bersama Vivi. Bagaimana menurut pendapat bunda?” Tanya Rayen.
Sebenarnya dalam hati kecil Maureen
juga berat untuk melepas kepergian Rayen. Karena itu terjadi disaat Maureen tengah
hamil tua, ditambah dengan kepergian Rayen yang bersama Vivi, wanita yang
pernah dicemburuinya. Siapapun orangnya tidak akan menyangkal bahwa Vivi adalah
wanita yang banyak diidamkan oleh laki laki. Dia cantik, pintar dan pandai
bergaul. Tapi Maureen juga harus menyadari posisi perusahaannya saat ini. Harapan
satu satunya yang bisa menolong membangkitkan kembali KSM Group hanyalah
kesuksesan Putra Company. Star Company milik Maureen bagaimana? Memang sih
dalam skala kecil Star Company masih bisa memback up kerugian KSM Group. Tapi kasusnya
kali ini lain. Maureen sendiri belum yakin jika uang yang hilang itu masih bisa
diambil lagi meski nanti ketahuan siapa yang mengambil.
Jadi pilihan Maureen sebenarnya
hanya satu, demi kelangsungan perusahaan dan masa depan mereka. Mau tidak mau,
dia harus merelakan Rayen ke Mexico meski harus bersama Vivi.
Setelah berfikir beberapa saat
lamanya, akhirnya Maureen pun mengambil sikap dan berkata, “ Ray, aku tahu ini
adalah keputusan berat. Sebenarnya sebagai seorang istri yang tengah hamil tua,
aku ingin suamiku selalu disampingku. Tapi, kita juga harus ingat, perusahaan
kita sedang mengalami masalah. Dan kemungkinan besar, yang bisa menolong adalah
kontrak ini. Istrimu hanya minta, kamu jangan pernah mengkhianati
kepercayaanku. Aku percaya kamu pasti bisa menjaga keutuhan keluarga kita. Aku merelakan
kamu ke Mexico walaupun bersama Vivi”
Kata kata Maureen membuat hati
Rayen trenyuh. Seakan akan ini adalah belati yang menusuk ke ulu jantung. Ya,
sangat tajam. Namun sebenarnya itulah yang diinginkan oleh Rayen. Rayen ingin
walaupun istrinya melepas kepergiannya, namun harus disertai dengan tanggung
jawab. Dan rayen bertekad mempertanggung jawabkan kepercayaan yang diberikan
oleh Maureen. Demi Maureen, demi keluarganya dan demi masa depan perusahaan
mereka.
.
__ADS_1
.
.