Dari Cupu Jadi Ratu

Dari Cupu Jadi Ratu
Musim ke empat bag 25


__ADS_3

 


 


Siang itu Rayen menyusuri lorong rumah sakit menuju ke ruang


bersalin rumah sakit megah di Jakarta. Ada suasana yang agak lain, dia merasa


bahwa lorong itu sangat jauh dan panjang.


Ah, kamu ini ada ada saja Rayen. Mana ada lorong tiba tiba


kok panjang. Mungkin itu karena perasaan Rayen yang sangat kawatir dengan


keadaan istrinya yang saat ini sedang berjuang untuk melahirkan anaknya ke  alam dunia.


Bahkan, sampai sampai Pak Rehan, ayah Rayen ketinggalan jauh


di belakang karena Rayen berjalan setengah berlari. Maklumlah Pak Rehan, meski


masa mudanya sering menjuarai lomba lari tingkat kampong, tapi itu dulu. Sekarang


sudah mulai menua, semuanya sudah berkurang. Apalagi Pak Rehan masih harus


mengurusi beberapa bisnis kecil lain, setelah perusahaannya diberikan kepada


Rayen.


Suasana rumah sakit yang relative sepi membuat langkah Rayen


semakin cepat.


Tidak berapa lama, dia sudah sampai di ruang tunggu ruang


bersalin. Nampak disana Ibu Kimnana yang sedang duduk dengan gelisah di kursi


panjang ruang tungggu yang tersedia disana.


“Bu…..”


“Rayen? Syukurlah kamu segera datang. Ibu bingung sendirian


disini. Mana ayahmu?” Tanya Ibu Kimnana


“Ada di belakang Bu. Itu ayah, maaf tadi saya agak cepat


berjalan, jadi ayah ketinggalan di belakang. Bagaimana keadaan Maureen Bu? “ Tanya


Rayen tidak sabar ingin tahu keadaan istrinya


“Masih ditangani dokter. Kata perawat yang baru saja keluar


tadi, sudah buka tujuh. Itu artinya mungkin sebentar lagi anak kamu sudah


lahir. Kita berdoa saja Ray, semoga Maureen diberi kekuatan untuk menjalani


persalinan ini” kata Ibu Kimnana


“Iya, bu. Rayen sangat kawatir. Apalagi keadaan Maureen sebelumnya


berada dalam kondisi bayi sungsang, bagaimana ini Bu?”


“Itu tidak masalah nak. Banyak yang mengalami seperti itu. Tapi


asalkan posisi nya sudah dalam keadaan normal, itu tidak berpengaruh apa apa. Kuasa


Tuhan itu melebihi segalanya Ray. Keinginan Maureen untuk melahirkan dengan


normal sangat besar. Dan mudah mudahan itu akan menambah semangat perjuangannya


untuk menjadi seorang ibu.”


“Iya Bu. Saya juga menyadari bahwa Maureen sangat ingin


meniru jejak sahabatnya, Chika. Dia banyak menginspirasi cara pandang Maureen. Dan


saya juga sangat kagum dengan perubahan pada diri Rakha dan Chika bu. Kami ingin


belajar banyak pada mereka. Terutama dalam meneladani sifat sosialnya mereka


yang luar biasa”


“Syukurlah Rayen. Kita memang harus berusaha menata hidup


kita lebih baik lagi. Ibu kadang juga merasa malu jika ingat ketika dulu

__ADS_1


menganggap bahwa kedudukan, kehormatan dan kekayaan adalah segalanya. Ternyata


harta kita tidak akan berguna jika suatu saat kita sudah harus meninggalkan


dunia. Hanya kebaikan dan kedermawanan kita yang akan dikenang oleh orang lain


yang merasa membutuhkan kita” kata Ibu Kimnana


Pak Rehan, yang beberapa saat lalu sudah berada di tempat


itu dan mendengarkan apa yang menjadi pembicaraan mereka, tak terasa menitikkan


air mata. Terbayang bagaimana dia berusaha keras bahkan menghalalkan cara untuk


membesarkan perusahaannya. Kadang harus sikut sana sikut sini, sikat sana sikat


sini, menggunting dalam lipatan, mencari kelemahan lawan bisnis tanpa


memperdulikan apakah mereka akan terugikan dengan kejadian itu.


Pak Rehan kini telah sadar, setelah menua, apa yang akan


bisa dibanggakan.


Kekayaan?


Kedudukan?


Harta?


Rumah, mobil, atau saham?


Semua tidak ada artinya. Semua hanya titipan yang setiap


saat bisa diambil oleh yang Maha Segalanya. Beberapa hari yang lalu, dia


mendengar kabar bahwa kolega bisnisnya di Perancis mengeluh, bisnisnya sudah


tidak jalan karena ada pandemic covid 19. Bahkan rekannya yang ada di Italia,


hari ini belum diketahui nasibnya. Padahal mereka dulu adalah konglomerat kelas


kakap. Apapun bisnis yang dikerjakannnya selalu berhasil.


“Benar kata ibumu, Rayen. Saatnya kita belajar untuk menata


menata perusahaan, biarlah nanti ayah dan ibu yang akan membantu momong anakmu,


cucu kita. Iya kan Bu?” kata Pak Rayen sambil berusaha menahan airmatanya yang


meluncur tak terkendali dari wajah yang mulai mengeriput itu.


“Iya Rayen. Aku yakin,kamu bisa membawa perusahaanmu menuju


ke perusahaan bonafide yang diperhitungkan” kata Ibu Kimnana


“Baik Pak, Bu. Rayen akan berusaha semaksimal mungkin


mewujudkan impian Ibu dan Bapak, juga impian dari keluarga Kusuma. O, iya bu. Apakah


kita sudah diperbolehkan masuk bu?”


“Belum Rayen. Dokter masih menangani persalinan. Biasanya keluarga


diperbolehkan masuk jika pasien menginginkan didampingi keluarga saat


melahirkan. Jika tidak, kita menunggu disini sambil berdoa, semoga persalinan


ini berjalan lancar.”


Sebenarnya Rayen ingin sekali mendampingi Maureen pada saat


saat krusial seperti ini. Namun jika tidak ada ijin dari dokter, mau gimana


lagi?


Rayen berjalan kesana kemari di beranda ruang tunggu ruang


bersalin itu. Pikirannya entah sudah melayang kemana. Yang jelas, dia sangat


kawatir dan was was. Ini adalah kelahiran anak yang pertama. Sesuatu yang baru


dialaminya sekali dalam seumur hidup.


.

__ADS_1


.


.


Sementara itu, diruang bersalin. Nampak beberapa orang


perawat dan seorang dokter spesialis sedang menjalankan tugasnya. Maureen tiduran


di kursi bersalin. Ah, kursi apa meja ya, intinya tempat bagi orang yang akan


melahirkan.


Pikiran Maureen hari itu sangat bahagia. Mukjizat Tuhan


telah diberikan kepadanya. Dia sangat ingin melahirkan anaknya dengan kelahiran


normal. Dan itu terwujud saat ini.


“aduhh” jerit Maureen lirih. Dia merasakan di seluruh


tubuhnya ada rasa agak sakit. Terutama di daerah perut dan pinggang. Dia juga


merasakan seperti hendak buang air besar, namun sangat terasa sakit.


“Tahan bu, tenang ya. Ambil nafas panjang. Tenangkan pikiran


Nyonya ya. Fokus pada kelahiran anak ibu” kata perawat itu sambil memegangi


paha Maureen.


Memang pikiran Maureen saat itu agak rancu. Tiba tiba semua


seperti terpampang di depan matanya. Mulai dari soal pekerjaan, kantornya,


bisnisnya. Ah, semuanya.


“Coba ibu Maureen tarik nafas panjang, kemudian keluarkan


dulu, beberapa kali. Setelah itu coba ibu mengejan ya.  Lakukan berulang ulang dulu. Yang sabar ya bu”


kata perawat itu memberikan arahan pada Maureen


“ehn…. Apakah masih lama suster” Tanya Maureen sambil


mengejan.


“Tidak bu, sebentar lagi anak ini sudah waktunya lahir”


Maureen kemudian berusaha menfokuskan pikirannya untuk


melahirkan anaknya. Di tariknya nafas kuat kuat. Dalam hatinya berkata, aku


harus bisa. Maureen kamu adalah orang kuat. Perusahaan sekelas KSM Group saja


bisa kamu pimpin, apalagi Cuma melahirkan, yang setiap wanita pasti mampu


melakukannya. Batin Maureen terus berteriak member semangat pada Maureen.


Dan saat itulah seorang suster memberikan aba aba agar Maureen


mengejan dengan sekuat tenaga, ya sekuat tenaga. Maureen merasakan ada yang


keluar dari bagian diantara dua pahanya.


Dan sesaat kemudian, terdengar sayup suara tangis bayi.


Namun, Maureen hanya sebentar mendengar tangis itu, karena


pandangannya mendadak gelap. Dan kemudian dia tidak ingat apa apa lagi.


.


.


Bersambung


Terimakasih readers, sudah mendukung program pemerintah untuk


melaksanakan #sosialdistancing dan program #stayhome untuk mencegah penularan


covid 19.


Semoga kita semua tetap diberi kesehatan dan keselamatan.


Amin

__ADS_1


Jangan lupa, mohon dukungan vote dari readers ya, agar novel


ini tetap terus berjalan


__ADS_2