
Siang itu Rayen menyusuri lorong rumah sakit menuju ke ruang
bersalin rumah sakit megah di Jakarta. Ada suasana yang agak lain, dia merasa
bahwa lorong itu sangat jauh dan panjang.
Ah, kamu ini ada ada saja Rayen. Mana ada lorong tiba tiba
kok panjang. Mungkin itu karena perasaan Rayen yang sangat kawatir dengan
keadaan istrinya yang saat ini sedang berjuang untuk melahirkan anaknya ke alam dunia.
Bahkan, sampai sampai Pak Rehan, ayah Rayen ketinggalan jauh
di belakang karena Rayen berjalan setengah berlari. Maklumlah Pak Rehan, meski
masa mudanya sering menjuarai lomba lari tingkat kampong, tapi itu dulu. Sekarang
sudah mulai menua, semuanya sudah berkurang. Apalagi Pak Rehan masih harus
mengurusi beberapa bisnis kecil lain, setelah perusahaannya diberikan kepada
Rayen.
Suasana rumah sakit yang relative sepi membuat langkah Rayen
semakin cepat.
Tidak berapa lama, dia sudah sampai di ruang tunggu ruang
bersalin. Nampak disana Ibu Kimnana yang sedang duduk dengan gelisah di kursi
panjang ruang tungggu yang tersedia disana.
“Bu…..”
“Rayen? Syukurlah kamu segera datang. Ibu bingung sendirian
disini. Mana ayahmu?” Tanya Ibu Kimnana
“Ada di belakang Bu. Itu ayah, maaf tadi saya agak cepat
berjalan, jadi ayah ketinggalan di belakang. Bagaimana keadaan Maureen Bu? “ Tanya
Rayen tidak sabar ingin tahu keadaan istrinya
“Masih ditangani dokter. Kata perawat yang baru saja keluar
tadi, sudah buka tujuh. Itu artinya mungkin sebentar lagi anak kamu sudah
lahir. Kita berdoa saja Ray, semoga Maureen diberi kekuatan untuk menjalani
persalinan ini” kata Ibu Kimnana
“Iya, bu. Rayen sangat kawatir. Apalagi keadaan Maureen sebelumnya
berada dalam kondisi bayi sungsang, bagaimana ini Bu?”
“Itu tidak masalah nak. Banyak yang mengalami seperti itu. Tapi
asalkan posisi nya sudah dalam keadaan normal, itu tidak berpengaruh apa apa. Kuasa
Tuhan itu melebihi segalanya Ray. Keinginan Maureen untuk melahirkan dengan
normal sangat besar. Dan mudah mudahan itu akan menambah semangat perjuangannya
untuk menjadi seorang ibu.”
“Iya Bu. Saya juga menyadari bahwa Maureen sangat ingin
meniru jejak sahabatnya, Chika. Dia banyak menginspirasi cara pandang Maureen. Dan
saya juga sangat kagum dengan perubahan pada diri Rakha dan Chika bu. Kami ingin
belajar banyak pada mereka. Terutama dalam meneladani sifat sosialnya mereka
yang luar biasa”
“Syukurlah Rayen. Kita memang harus berusaha menata hidup
kita lebih baik lagi. Ibu kadang juga merasa malu jika ingat ketika dulu
__ADS_1
menganggap bahwa kedudukan, kehormatan dan kekayaan adalah segalanya. Ternyata
harta kita tidak akan berguna jika suatu saat kita sudah harus meninggalkan
dunia. Hanya kebaikan dan kedermawanan kita yang akan dikenang oleh orang lain
yang merasa membutuhkan kita” kata Ibu Kimnana
Pak Rehan, yang beberapa saat lalu sudah berada di tempat
itu dan mendengarkan apa yang menjadi pembicaraan mereka, tak terasa menitikkan
air mata. Terbayang bagaimana dia berusaha keras bahkan menghalalkan cara untuk
membesarkan perusahaannya. Kadang harus sikut sana sikut sini, sikat sana sikat
sini, menggunting dalam lipatan, mencari kelemahan lawan bisnis tanpa
memperdulikan apakah mereka akan terugikan dengan kejadian itu.
Pak Rehan kini telah sadar, setelah menua, apa yang akan
bisa dibanggakan.
Kekayaan?
Kedudukan?
Harta?
Rumah, mobil, atau saham?
Semua tidak ada artinya. Semua hanya titipan yang setiap
saat bisa diambil oleh yang Maha Segalanya. Beberapa hari yang lalu, dia
mendengar kabar bahwa kolega bisnisnya di Perancis mengeluh, bisnisnya sudah
tidak jalan karena ada pandemic covid 19. Bahkan rekannya yang ada di Italia,
hari ini belum diketahui nasibnya. Padahal mereka dulu adalah konglomerat kelas
kakap. Apapun bisnis yang dikerjakannnya selalu berhasil.
“Benar kata ibumu, Rayen. Saatnya kita belajar untuk menata
menata perusahaan, biarlah nanti ayah dan ibu yang akan membantu momong anakmu,
cucu kita. Iya kan Bu?” kata Pak Rayen sambil berusaha menahan airmatanya yang
meluncur tak terkendali dari wajah yang mulai mengeriput itu.
“Iya Rayen. Aku yakin,kamu bisa membawa perusahaanmu menuju
ke perusahaan bonafide yang diperhitungkan” kata Ibu Kimnana
“Baik Pak, Bu. Rayen akan berusaha semaksimal mungkin
mewujudkan impian Ibu dan Bapak, juga impian dari keluarga Kusuma. O, iya bu. Apakah
kita sudah diperbolehkan masuk bu?”
“Belum Rayen. Dokter masih menangani persalinan. Biasanya keluarga
diperbolehkan masuk jika pasien menginginkan didampingi keluarga saat
melahirkan. Jika tidak, kita menunggu disini sambil berdoa, semoga persalinan
ini berjalan lancar.”
Sebenarnya Rayen ingin sekali mendampingi Maureen pada saat
saat krusial seperti ini. Namun jika tidak ada ijin dari dokter, mau gimana
lagi?
Rayen berjalan kesana kemari di beranda ruang tunggu ruang
bersalin itu. Pikirannya entah sudah melayang kemana. Yang jelas, dia sangat
kawatir dan was was. Ini adalah kelahiran anak yang pertama. Sesuatu yang baru
dialaminya sekali dalam seumur hidup.
.
__ADS_1
.
.
Sementara itu, diruang bersalin. Nampak beberapa orang
perawat dan seorang dokter spesialis sedang menjalankan tugasnya. Maureen tiduran
di kursi bersalin. Ah, kursi apa meja ya, intinya tempat bagi orang yang akan
melahirkan.
Pikiran Maureen hari itu sangat bahagia. Mukjizat Tuhan
telah diberikan kepadanya. Dia sangat ingin melahirkan anaknya dengan kelahiran
normal. Dan itu terwujud saat ini.
“aduhh” jerit Maureen lirih. Dia merasakan di seluruh
tubuhnya ada rasa agak sakit. Terutama di daerah perut dan pinggang. Dia juga
merasakan seperti hendak buang air besar, namun sangat terasa sakit.
“Tahan bu, tenang ya. Ambil nafas panjang. Tenangkan pikiran
Nyonya ya. Fokus pada kelahiran anak ibu” kata perawat itu sambil memegangi
paha Maureen.
Memang pikiran Maureen saat itu agak rancu. Tiba tiba semua
seperti terpampang di depan matanya. Mulai dari soal pekerjaan, kantornya,
bisnisnya. Ah, semuanya.
“Coba ibu Maureen tarik nafas panjang, kemudian keluarkan
dulu, beberapa kali. Setelah itu coba ibu mengejan ya. Lakukan berulang ulang dulu. Yang sabar ya bu”
kata perawat itu memberikan arahan pada Maureen
“ehn…. Apakah masih lama suster” Tanya Maureen sambil
mengejan.
“Tidak bu, sebentar lagi anak ini sudah waktunya lahir”
Maureen kemudian berusaha menfokuskan pikirannya untuk
melahirkan anaknya. Di tariknya nafas kuat kuat. Dalam hatinya berkata, aku
harus bisa. Maureen kamu adalah orang kuat. Perusahaan sekelas KSM Group saja
bisa kamu pimpin, apalagi Cuma melahirkan, yang setiap wanita pasti mampu
melakukannya. Batin Maureen terus berteriak member semangat pada Maureen.
Dan saat itulah seorang suster memberikan aba aba agar Maureen
mengejan dengan sekuat tenaga, ya sekuat tenaga. Maureen merasakan ada yang
keluar dari bagian diantara dua pahanya.
Dan sesaat kemudian, terdengar sayup suara tangis bayi.
Namun, Maureen hanya sebentar mendengar tangis itu, karena
pandangannya mendadak gelap. Dan kemudian dia tidak ingat apa apa lagi.
.
.
Bersambung
Terimakasih readers, sudah mendukung program pemerintah untuk
melaksanakan #sosialdistancing dan program #stayhome untuk mencegah penularan
covid 19.
Semoga kita semua tetap diberi kesehatan dan keselamatan.
Amin
__ADS_1
Jangan lupa, mohon dukungan vote dari readers ya, agar novel
ini tetap terus berjalan